Dari dua puluh mahasiswa jurusan tari modern, hanya lima yang ikut serta dalam kompetisi menari nasional. Salah satunya, Nada. Jangan tanya apakah dia sudah memikirkan cara lain agar tak bisa ikut. Karena mau bagaimanapun ia memikirkannya, Instruktur Anna selalu tepat dua langkah di depannya.
Sore itu, di dalam kamar, Nada sudah meraung-raung. Seolah-olah dirinyalah manusia paling malang. Rencananya, ia akan mengatakan bahwa dirinya sakit sehingga tidak bisa mengikuti latihan. Namun, sebelum niat itu tercapai, Instruktur Anna sudah lebih dulu mengiriminya pesan ancaman bahwa jika ia tak datang latihan pada malam ini, ia tak segan-segan memberikan tinta merah di buku absen, yang mana itu sangat berpengaruh pada masa depannya.
Malam ini, Nada duduk di pinggir podium. Ia menatapi kursi penonton yang kosong selagi yang lainnya berlatih di belakangnya. Tak ada yang dipikirkannya, kecuali kapan jam latihan ini segera berakhir.
Tak lama, ponselnya berdering. Itu ibunya. Karena terlalu ramai dengan latihan, Nada meminta izin instruktur untuk ke toilet yang ada di samping ruang pertunjukkan teater. Ia berjalan melewati lorong panjang dan remang-remang, kemudian berbelok ke arah toilet. Di sana ia mengangkat teleponnya.
“Ya, Ma?”
“Lagi ngapain? Kok, lama angkatnya?”
“Lagi latihan, Ma. Kan mau ada kompetisi nasional,” kata Nada murung.
“Oh iya, itu bagus!” Sial, dia pikir ibunya akan berubah pikiran. “Jadi kapan kompetisinya?”
Gadis itu mengingat-ingat, karena tadi ia tak terlalu fokus dengan perkataan instruktur. “Dua minggu lagi, mungkin, jadi latihannya ekstra keras.”
“Mau Mama bawain apa ke kampus?” tanya ibunya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi bip-bip tanda baterai habis. Ia tak terlalu khawatir karena teleponnya tak akan lama lagi. “Bawain surat dokter aja, Ma.”
“Loh? Buat apa?”
“Buat mengakhiri semuanya.” Dia menjawab asal yang disusul tawa oleh ibunya.
“Ada-ada aja. Yaudah, latihan yang bener, ya. Itung-itung nambah piala di rumah. Mama jadi harus beli lemari baru, deh, buat pialamu yang overload itu,” kekehnya. “Papamu habis menang di persidangan.”
Nada hanya mengangguk. Ia tak terlalu antusias mendengar tentang ayahnya. Kemudian, setelah berpamitan, ia memutus teleponnya. Nada mengeluarkan lipbalm dari saku celananya dan memoles sedikit di bibir. Setelah itu, ponselnya berbunyi lagi.
[Apakah tadi itu ayahmu?]
Tubuhnya menegang. Lipbalm-nya langsung terjatuh dari genggamannya. Jantungnya mulai berdegup kencang seolah-olah menyuruhnya untuk segera meninggalkan toilet. Bodohnya, di sana ia sendirian. Tak lama, ponselnya berbunyi lagi.
[Bagaimana kabarnya? Sepertinya ia menang lagi di persidangan, seperti lima tahun yang lalu.]
Nada tak tahu harus apa. Pikirannya tiba-tiba kacau. Rasanya seperti seseorang sedang berada di salah satu bilik toilet yang siap menerkamnya kalau-kalau ia bergerak sedikit saja. Napasnya menderu. Kakinya mulai gemetar tatkala mendengar bunyi pintu yang dikunci.
Ia mengintip melalui pantulan di cermin. Seseorang telah menguncinya di dalam toilet. Gadis itu segera menuju pintu dan mencoba membukanya berkali-kali, namun tak bisa. Ia hendak menelepon bantuan, namun tiba-tiba lampu toilet padam. Gadis itu terkejut dan terdorong ke pintu. Ponselnya terjatuh.
Ingin rasanya menjerit, jika saja tenggorokannya tak tercekik. Tidak ada siapa pun di situ. Tak ada yang mencekiknya. Namun, mengapa ia merasa bahwa seseorang sedang mencengkeram kuat lehernya?
Nada akhirnya meluruh ke lantai berusaha menemukan ponselnya. Layarnya mati. Berulang-kali ia berusaha menyalakannya, tetap tak ada yang berubah. Sial, ia baru ingat bahwa baterainya habis.
Gadis itu tak punya pilihan lain selain menggedor-gedor pintu toilet, berharap seseorang mendengarnya.
“Tolong! Ada yang di luar?!” Ia hampir menangis histeris. Salah satu ketakutannya adalah gelap. Karena bisa-bisa ia berada di sana untuk membunuhnya!
“To-tolong! Siapa pun, tolong!”
Sementara itu di ruang pertunjukkan, tak ada yang menyadari bahwa Nada belum kembali. Begitu pula instruktur yang sibuk mengatur posisi untuk para penari. Tak ada harapan bagi Nada selain menikmati kegelapan itu sendiri.
Pintu toilet tak terdengar suara lagi. Nada menekuk lututnya sambil menangis. Hal inilah yang tak bisa ia jelaskan kepada orang lain. Semenjak kejadian lima tahun yang lalu, hidupnya selalu dihantui oleh teror. Gadis itu seperti terkunci. Ia tak bisa bergerak bebas ke mana pun karena pesan-pesan k*****t itu selalu memenuhi ponselnya kapan saja.
Nada memejamkan matanya rapat-rapat saat mendengar langkah kaki di balik pintu toilet. Sebisa mungkin ia mengatur isakkannya agar tak mengundang siapa pun itu untuk masuk ke toilet. Itu bukan manusia, itu iblis!
Suara itu berhenti tepat di balik pintu. Kemudian, disusul dengan tendangan keras yang membuat gadis itu memekik. Nada masih tetap pada posisinya. Bukan karena dia berani, hanya saja tubuhnya mendadak kaku untuk digerakkan.
Tiba-tiba tercium bau amis dari sela-sela pintu. Nada menunduk. Ia menemukan sepucuk kertas meluncur di sampingnya. Bau itu berasal dari kertas ini. Walaupun gelap, ia berusaha untuk membacanya.
[Bagaimana rasanya terkunci sendirian di ruang gelap?]
Tertulis dengan tinta darah.
Nada hanya bisa menangis tanpa suara. Demi Tuhan, ia ingin berteriak saat ini. Kemudian, kertas kedua meluncur lagi.
[Seperti déjà vu, kan?]
Ia tak tahan lagi. Akhirnya ia membuka mulut dan memohon dengan suara yang lirih. Sesekali terisak.
“Maaf, apa pun itu yang pernah kulakukan, maaf. Tolong aku.”
Seseorang di balik pintu bagaikan baja. Tak mempan dengan lirihan Nada. Ia justru semakin gencar menyakiti gadis itu seakan-akan adalah harga yang harus dibayar.
“Katakan itu lima tahun yang lalu.” Ia kemudian menggelindingkan sesuatu yang kecil melalui sela-sela toilet dan bum! Asap menggempul secara perlahan, namun reaksinya cepat menghambat saluran pernapasan.
Nada terbatuk-batuk dan matanya terasa sangat perih. Itu adalah gas karbondioksida dan nitrogen. Gadis itu merobek bajunya dan berusaha membasahinya dengan air wastafel. Ia tak bisa membuka matanya dengan jelas, lalu terjatuh dan membentur tembok. Kepalanya pusing bukan main. Dan saat ia berusaha bangun, suatu cairan membasahi pelipisnya dan menetes di tangannya. Kepalanya berdarah.
Asap semakin memenuhi ruangan. Dengan kain basah itu, ia menutupi hidungnya dan kembali menggedor pintu sambil memohon. Kali ini sambil terbatuk-batuk. Ia ambruk tepat di balik pintu dengan kepala dan hidung yang mengucurkan darah. Tangannya berusaha menyentuh gagang pintu dengan tenaga yang tersisa.
Sebelum ia benar-benar memejamkan mata, suara itu kembali terdengar. Lirih namun penuh rasa dendam.
“Tetaplah di situ sampai besok pagi.”
Setelah itu, ia tak mengingat apa pun lagi.