MEREKA berdua sedang makan siang di kantin.
Menu hari ini kebanyakan adalah daging yang disajikan dalam bervarian rasa tradisional, seperti rawon, daging bumbu Bali, daging kambing masak tumis, dan beberapa menu lainnya. Wajar saja jika kantin cukup padat karena berulang-kali kehabisan masakan.
Semua orang menikmati, kecuali kedua gadis di dekat jendela. Wajah mereka tampak lesu dan kehilangan selera makan.
Bella mendesah dan mendorong nampan makanannya. “Aku nggak kuat lagi deh, Kris.”
“Sama,” kata Krista.
“Kenapa kita harus capek-capek lari sana lari sini hanya untuk melindungi Nada? Ya, kan? Sedangkan kita nggak dapet apa-apa.”
Krista mengangguk. “Kamu mikir nggak sih, kalau Nada lagi kena karma?”
“Maksudnya?” tanya Bella tak mengerti.
“Ya, gitu. Coba liat sikapnya. Suka ngejatuhin orang, ngerendahin orang, nge-bully orang, yang begitu itu.”
“Nggak usah ngomongin karma deh, Kris. Kita juga bakal kena kalo gitu,” sahut Bella tak setuju.
Krista membela diri lagi. “Iya sih, tapi kita kan begitu nggak karena keinginan sendiri. Karena kita butuh sesuatu, makanya kita nempel terus sama Nada,” katanya. “Ups, aku keliatan jahat, ya?”
Bella mengangguk. “Banget, tapi emang begitu niat kita.”
“Aku mau berhenti di sini aja, Bel. Percuma temenan sama anak jaksa nggak mengubah fakta kedua ayah kita di penjara. Pada akhirnya kita sendiri yang sakit nanti.”
“Iya, deh. Terserah Nada mau diculik, hilang, atau apa pun itu masalahnya dengan kuliah atau keluarganya, aku nggak peduli lagi.”
Krista tertawa dan mengangkat telapak tangannya, high five.
“Semacam friend with benefits?” tanya Leo tiba-tiba.
Dia dan Grizzly sudah mendengar semuanya dan tak menyangka bahwa ada maksud tersembunyi dari pertemanan mereka.
Bella dan Krista langsung terdiam saat kedua laki-laki itu menaruh nampan makanannya di atas meja dan duduk bergabung dengan mereka.
Leo tak mengatakan apa-apa lagi. Mereka sibuk memakan makanannya dengan wajah datar. Sedangkan Bella dan Krista saling melemparkan tatapan harus bagaimana ini?
“Ng-nggak seperti yang kalian pikir,” kata Krista, mencoba menghilangkan atmosfir menyeramkan di sekitar mereka.
Leo menjawab dengan nada rendah tanpa mengalihkan pandangan dari makanannya, “Terus yang seperti apa?”
Krista tak berani menjawab. Melihat sikap Leo yang jauh dari biasanya benar-benar meyakinkan dirinya berada dalam situasi yang serius.
Grizzly menaruh sendok di atas nampan hingga menimbulkan dentingan keras. Dia berbicara seperti Leo, tak menatap kepada siapa dia berbicara. “Melihat kalian sekarang rasanya jauh lebih rendah dari amuba. Menyedihkan.”
Bella tertohok. Dia ingin menyangkal perkataan Grizzly namun mereka berdua sudah terlanjur berdiri.
“Makasih sudah pernah membantu. Tapi untuk sekarang dan seterusnya, jangan pernah muncul lagi di sekitar kami dan Nada,” kata Leo dingin.
“Kalo ingin selamat,” tambah Grizzly.
Kemudian mereka pergi.
***
Di atas bukit sana, tempat dia beristirahat.
Sejuk, tenang, dan sepi. Hanya dedaunan kering yang beterbangan memenuhi rerumputan hijau. Hingga ketenangan itu terusik tatkala suara langkah kaki menginjak setiap dedaunan kering yang jatuh. Ketika sampai di atas bukit, dia berjongkok di bawah pohon yang rindang.
Dia sendirian. Wajahnya sedih seperti kebanyakan orang normal lainnya yang mengunjungi perkuburan. Tangannya bergerak untuk mengusap nama di batu nisan tersebut. Kepalanya menunduk, kemudian mengamati lahan di sekelilingnya.
“Lahannya cukup luas buat nambah satu kuburan lagi,” katanya setelah mengubah ekspresinya menjadi dingin. “Mereka benar-benar membuatku kesal. Jadi nggak ada salahnya aku ngasih teman buat kamu, kan?”
Dia tertawa singkat. “Coba tebak siapa yang akan jadi temanmu di sini.” Dia kemudian berdiri tanpa melepaskan pandangannya dari batu nisan itu. “Kakakmu.”
“Awalnya aku nggak pernah ada pikiran buat nyingkirin dia, tapi kemudian tingkahnya bikin aku muak. Kakakmu benar-benar berbakat jadi pengkhianat. Sebenernya bukan pengkhianat juga, sih, cuma nggak bisa nolak apa kata hati nuraninya.
“Sayangnya, aku nggak bisa kerja sama dengan orang yang selalu lemah nuraninya. Akhirnya terpaksa deh, dia harus segera kusingkirkan. Nggak papa, kan?”
Denial mengangguk sendiri. “Toh, aku yakin kamu juga kangen sama kakakmu. Pengin cepet-cepet ketemu dia. Nggak lama, kok.
“Setelah Hatra kusingkirkan, barulah Nada menyusul. Rame deh, kuburan.” Dia bertepuk tangan sendiri lagi.
Denial membuka payungnya. Memasukkan tangannya ke saku celana, dia berjalan tenang tanpa dosa dan penyesalan keluar perkuburan.
Di jalan, dia mendapatkan telepon. Dari Pak Kim. Denial langsung memakai earphone bluetooth dan kembali fokus ke jalanan.
“Halo?”
“Siang, Pak Denial. Rumah sudah kami kosongkan. Boleh dicek dulu.”
“Terima kasih banyak, Pak. Saya sedang menuju lokasi.”
“Baik. Selamat siang.”
Setelah sambungan telepon terputus, Denial tertawa lepas. Hari ini menjadi hari terbaiknya sepanjang hidup. Satu per satu masalah yang mengusiknya perlahan menghilang. Denial langsung menancapkan gas tak sabar ingin melihat bagaimana reaksi Hatra mengenai kondisi keluarganya yang baru.
It will be so much fun!
Mobil hitam itu berhenti di sebuah tempat tinggal kecil di perempatan jalan. Itu rumah orangtua Hatra. Denial sering mengunjunginya—bukan mengunjungi secara langsung, melainkan mengunjungi dalam cara diam-diam membayar tagihan hidup mereka—terkadang bersama Hatra.
Mereka sering melakukannya. Diam berdiri sambil menatap dari luar. Hatra hanya ingin melihat rumahnya dan membayangkan masa-masa di mana keluarga mereka masih hangat. Sedangkan Denial masih mempertahankan topeng pahlawannya.
Pak Kim menyeru dari dalam, menyuruh Denial segera masuk. Beberapa hari yang lalu, Denial berniat membeli rumah tersebut melalui agen kenalannya, Pak Kim. Beliau mengurus semuanya dengan baik. Seperti saat ini.
“Mereka pindah ke mana?” tanya Denial usai berkeliling di dalam rumah yang sempit itu.
“Saya kurang tau,” kata Pak Kim.
Denial mengangguk. “Oke. Terima kasih atas bantuannya, Pak Kim.” Mereka berjabat tangan dan Pak Kim pamit untuk kembali bekerja.
Denial menutup pintu rumah dan menancapkan tulisan “DIJUAL” di pekarangan. Kemudian memotret rumah tersebut dan mengirimkannya sebagai unknown kepada Hatra.
Foto terkirim.
***
Gadis itu menunggu di ruang yang telah disiapkan.
Kepalanya menunduk dan kedua tangannya saling mengait di atas paha. Dia kelihatan tenggelam dalam pikirannya sehingga tak menyadari orang yang sejak tadi ditunggu telah duduk di hadapannya.
Pria itu diam, mengamati wajah yang dirin-dukannya. Dalam bayangannya saat berjalan di lorong tadi adalah melihat keceriaan di wajah itu, tetapi kini yang didapatkannya hanyalah wajah yang lesu.
Karena waktu sedang tak begitu baik kepada mereka, akhirnya pria itu menyapa, “Bella.”
Gadis itu mengangkat kepalanya dan terkejut. “Ayah?”
Ayah Bella berusaha tersenyum saat melihat kedua mata anaknya memerah. Dia tahu sesuatu tengah terjadi.
Bella bukanlah gadis manja dan cengeng. Dia hanya akan menangis jika hatinya merasa bersalah. Dia akan marah jika hatinya merasa tak adil. Dia akan tertawa jika hatinya merasa sedih. Dan dia akan tersenyum lebar saat hatinya membaik.
Bella berdiri dari kursinya dan memeluk ayahnya erat. Dia menenggelamkan wajahnya di pundak ayahnya dan perlahan air mata itu mengalir. Sungguh, dia tak ingin menunjukkan suasana hatinya saat ini kepada ayahnya. Sudah cukup penderitaan yang dirasakan ayahnya, dia tak ingin menambahnya dengan permasalahan pribadinya. Tetapi Bella sangat membutuhkan ayahnya. Dia ingin bersandar padanya, seperti yang biasa mereka lakukan dulu.
“Ayah,” kata Bella lirih. Mereka melepas pelukan dan memandang satu sama lain.
Ayah menuntun Bella kembali ke kursinya. Dia ingin menatap wajah anaknya, membayangkan apa yang tengah dia rasakan, dan apa permasalahannya. Bella menggenggam kedua tangan ayahnya.
“Maaf, Ayah. Bella belum bisa bantu Ayah segera keluar dari sini,” kata Bella sambil menunduk. “Padahal Bella udah janji.”
Ayah tersenyum. “Itukah yang mengganggu pikiranmu?”
Bella hanya diam.
“Terus apa lagi?”
“Bella,” dia terdiam sejenak, “merasa rendah, Yah.”
Ayah mengangguk. Dia memberi Bella kesempatan untuk bercerita lebih banyak.
Gadis itu menatap ayahnya memohon. Matanya basah. Genggaman tangan mereka menguat. Dia mengguncang pelan tangan ayahnya. “Ayah, tolong bilang Bella nggak salah. Bella melakukan hal yang benar. Bella cuma ingin Ayah keluar dari sini. Bella hanya sedang berusaha. Bella sengaja berteman dengan anak jaksa berharap dia bisa bantu Ayah keluar dari sini. Tapi justru Bella nggak dapet apa-apa. Bella marah. Tolong, Ayah, bilang Bella nggak salah.”
Bella kembali menangis tersedu-sedu. Tubuhnya terasa panas dan sesak, seolah-olah ada ratusan orang berada di dalam tubuhnya. Dia ingin menjerit, kepalanya sakit, pundaknya terasa berat. Otaknya tak lagi mampu berpikir jernih.
“Bella nggak salah,” kata Ayah. “Bella nggak salah.”
Gadis itu berhenti menangis dan ditatapnya kedua mata ayahnya. Begitu tenang dan damai. Ayah mengusap tangan Bella. “Bella nggak salah.”
Itu adalah kalimat yang dia butuhkan. Tapi mengapa rasanya semakin salah? Mengapa hatinya terus memberontak?
Bella berkata lirih, “Bella salah.”
Akhirnya dia mengaku. Baginya percuma menyangkal hal itu, jika ternyata mengakuinya membuat hatinya sedikit tenang. “Bella salah, Yah.”
Ayahnya tersenyum. Dia tak lagi berusaha mene-nangkan anaknya.
Dia selalu tahu, bahwa hati anaknya pernah membeku. Saat dirinya mulai sadar, hati itu mencair, seperti saat ini. Anaknya pernah dibutakan sesuatu, dan kini dia tengah berusaha keluar dari kegelapan itu. Dia tahu, anaknya sedang berusaha membersihkan hatinya, mencairkannya.
“Bella benci sama Nada, Yah. Bella marah,” katanya. “Dia bukan orang yang baik. Dia cuma orang jahat sama orang lain, dia punya banyak pembenci, nggak punya teman. Tapi sekalinya punya teman, mereka benar-benar setia sama dia. Dibandingkan dia, Bella jauh lebih baik. Tapi kenapa Bella nggak merasa begitu? Apa yang harus Bella lakuin?”
Dahi Ayah berkerut karena berpikir. “Kalo menurut Ayah, Bella marah karena Bella merasa nggak adil. Ya, kan? Kenapa dia bisa berteman tulus sama Bella sedangkan Bella enggak. Itu nggak adil bagi dia. Hati Bella tau itu dan merasa bersalah. Ketika Bella mengabaikan hati nurani sendiri, akhirnya dia membeku, mengeras, sehingga Bella merasa dibutakan,” kata Ayah. “Tapi Ayah bangga sama Bella.”
“Bangga?” tanya Bella tak mengerti.
“Iya, Bella mau mengakui kesalahan Bella. Bella mau mencairkan hati Bella. Bella sudah berusaha. Dan Ayah mau berterima kasih.” Ayah tersenyum lebar. Benar-benar menenangkan sebagai sosok Ayah.
“Ayah nggak minta kamu keluarkan Ayah dari sini. Ayah baik-baik aja. Ini adalah hukuman bagi Ayah dan Ayah harus terima itu. Begitu juga dengan Bella. Bella melakukan kesalahan dan Bella harus menerima hukumannya. Lebih baik lagi kalau bisa memper-baikinya.”
Penjaga menghampiri mereka berdua, mengatakan bahwa jam kunjungan telah habis. Bella merasa kecewa, begitu pula dengan ayahnya. Mereka ingin menghabiskan waktu lebih banyak lagi. Dua tahun lagi mungkin?
Bella akhirnya tersenyum. “Bella bakal nunggu Ayah.”
Penjaga tersebut menuntun Ayah keluar ruang besuk. Ayah segera memutar badan.
“Fighting!” Kedua tangannya terangkat di udara.
“Fighting!” balas Bella. Dia melihat ayahnya perlahan keluar ruang besuk. Sebelum ayahnya menghilang di balik tembok, Bella memanggil, “Ayah!”
Ayah berhenti dan menengok ke belakang. Bella sudah tersenyum. Dia tahu hati anaknya telah membaik. Dan dia bangga karenanya.
Bella melambaikan tangan setengah berbisik, “Terima kasih.”
Dan selamat berjuang, Ayah.
Ayah mengangguk kecil dan kemudian menghilang dari tatapannya.