Chapter 18: Di Balik Topeng Denial

2112 Kata
It's you, I already know. It's you, that you feel the same way. |It's You - Jeong Se Woon| . . “DATANYA sudah kami kirimkan lewat email.” “Terima kasih banyak.” Grizzly menggeser kursinya ke meja. Matanya meneliti satu per satu data yang ada di email-nya. Dia membuka folder dari fitur pesan terlebih dahulu dan di sana terdapat ratusan atau lebih pesan dihapus yang kebanyakan dari nomor tak dikenal. Kalau dilihat-lihat, semua nomor tak dikenal itu adalah nomor  yang sama. Grizzly membaca satu per satu pesan yang dikirimkan dari nomor tak dikenal tersebut.   [Harimu menyenangkan ya.] [Mau lari kmn?] [I SEE YOU!] [GOTCHA!] [Smg harimu mnyenangkn!] [Dsr smph!] [Org nggk brguna kyk km perlu dimusnahkn.] [Oops, mti lmpu.] [I’ll kill u right there!]   Sekarang Grizzly merasa terganggu dengan pesan-pesan teror tersebut. Memang apa yang dilakukan Nada sehingga dia mendapatkan semua pesan ini? Ataukah ini semacam pesan random? Grizzly rasa tidak. Dia menggeser dan membaca pesan-pesan terakhir yang dikirimkan oleh orang asing itu, kemudian dia menyadari bahwa nomor tersebut berbeda dengan yang sebelumnya. Kira-kira nomor itu berganti sejak dua minggu yang lalu.   [Apakah tadi itu ayahmu?] [Bagaimana kabar Beliau? Sepertinya Beliau menang lagi di persidangan, seperti lima tahun yang lalu.] [Menikmati makan malamnya?] [Coming right to you.] [Ke asrama? Ok.]   Itu pesan-pesan yang dikirim tepat sebelum Nada mengalami kecelakaan. Mungkinkah orang itu yang menabrak Nada? Bisa jadi. Begitulah spekulasi Grizzly saat ini. Kemudian dia berpikir lagi, apa yang terjadi lima tahun yang lalu? Apakah teror ini saling berhubungan dengan teror dari nomor sebelumnya? Apakah orangnya sama? Dia perlu menemukan jawabannya satu per satu. Dia akan melacak siapa pemilik nomor-nomor itu. Setelah itu, Grizzly akan memikirkan apakah harus membunuhnya atau bagaimana. Ponselnya berdering. Sebuah telepon dari Krista. “Griz! Gawat!” Krista menyeru. “Apa? Kenapa?” “Mamanya Nada mau ke kampus!” “Kok bisa?!” Grizzly panik dan langsung mengambil kunci mobilnya. “Hari ini kan, kompetisinya Nada. Mamanya dateng ke sana, terus Nada nggak ada. Aduh, pokoknya cepet deh, ke sini! Gawat!” Grizzly menyalakan mobilnya. “Masih di jalan, kan? Plat mobilnya apa?” “Nggak tau,” balas Krista cepat-cepat. “Pokoknya mobil putih.” “Mobil putih banyak!” sahut Grizzly sambil mengendarai mobil kencang. “Bella mana Bella?” “Lagi sama instruktur. Cepetan!” “Suruh Bella terus alihin perhatian instruktur. Jangan angkat telepon dari mamanya Nada. Aku lagi di jalan, bentar lagi sampe.” “Oke.” Selanjutnya, Grizzly menelepon Leo. “Tunggu aku di pintu masuk utama.” “Got it!” Grizzly memarkir mobilnya di samping pintu masuk utama Institut Van Gogh. Leo masuk ke mobil dan menggantikan posisi Grizzly di sana. Barulah, Grizzly turun begitu mobil putih dari seberang jalan hendak masuk. Dirinya hanya mendapatkan feeling bahwa itu adalah ibunya Nada. Kemudian Grizzly melintas secara tiba-tiba dan menabrak mobil putih itu. Dia pura-pura jatuh tersungkur. Pemilik mobil segera keluar dan mendekati Grizzly. “Nak, kamu nggak papa?!” Grizzly berusaha bangun dan mengusap lengannya. “Ugh, agak perih di lengan, tapi nggak papa.” Lalu dia menatap wanita itu. “Loh, tante mamanya Nada, ya?” Semoga iya, semoga iya, batinnya berkata. “Iya, kok tau?” Bagus, ujarnya dalam hati. Wanita itu membantu Grizzly berdiri. “Nak, kenal sama Nada?” “Saya temannya Nada. Tante ke sini mau ketemu Nada, ya?” tanya Grizzly sambil tersenyum ramah. Wanita itu mengangguk. “Iya. Hari ini dia mau kompetisi menari, tapi di sana nggak ada. Instrukturnya juga nggak angkat telepon.” “Iya, Nada katanya mengundurkan diri. Soalnya kompetisinya nggak sesuai seleranya, Tante,” kata Grizzly. “Kok Nada nggak ngomong apa-apa sama saya, ya?” “Uh,” Grizzly berpikir. “A-aduh, lengan saya ngilu.” Wanita itu kembali panik. “Ayo, masuk mobil saya. Saya antar ke klinik!” “Jangan!” kata Grizzly cepat-cepat. “Eh, maksud saya, klinik yang di luar aja, Tante. Yang di sini lagi tutup.” “Tutup?” Wanita itu sekilas tampak curiga. “A-aduh!” rintih Grizzly lagi. “Ayo, ayo!” Wanita itu membantu Grizzly masuk ke mobil dan segera pergi ke klinik yang jauh dari institut. Sementara itu, Bella dan Krista kewalahan mengalihkan perhatian Instruktur Anna dari ponselnya. Beliau sudah terlanjur melihat notifikasi telepon tak terjawab dari ibunya Nada, sehingga beliau berusaha untuk menelepon kembali, tetapi kedua anak didiknya terus bertingkah aneh. “Coach, saya ada teknik dance baru. Coba perhatikan, Coach!” Krista memeluk tubuhnya dan berputar seolah-olah itu adalah teknik. Padahal yang dia lakukan hanyalah berputar-putar. “Nanti dulu. Ini ibunya Nada telepon. Penting.” Instruktur Anna mengabaikan Krista. Beliau kembali berkutat pada ponselnya. Tiba-tiba Bella berteriak. “Aduh, Coach! Perut saya kram! Saya harus gimana? Saya harus gimana?” Bella merintih memegang perutnya. “Aduh!” Instruktur Anna meletakkan ponselnya di atas meja dan berlari ke arah Bella. Krista mengambil ponsel Instruktur Anna dan mengubahnya dalam mode silent. Kemudian tak lupa untuk menghapus nomor ibunya Nada. Di dalam fitur pesan sudah aman, karena setelah diperiksa sepertinya beliau dan ibunya Nada belum pernah saling bertukar pesan. Bella sudah mendapatkan pertolongan pertama setelah beberapa menit kemudian. Instruktur Anna kembali mengambil ponselnya dan langsung terkejut. “Loh, mana nomornya?” “Nomor apa, Coach?” tanya Krista pura-pura tak tahu. “Ibunya Nada. Aduh!” Instruktur Anna terus mengotak-atik ponselnya. Kemudian ponsel itu berdering singkat, tanda pesan masuk. Mampus, batin Krista. Dia menggigit bibirnya saat Instruktur Anna membuka pesan itu.   [Selamat siang. Saya ibunya Nada. Saya hanya ingin menginformasikan nomor baru saya jika ada apa-apa dengan Nada karena nomor lama saya sudah tidak aktif. Mohon maaf sebelumnya. Untuk saat ini saya hanya bisa berkomunikasi via pesan. Terima kasih.] Krista mengintip isi pesannya dan menghela napas lega. Entah benar pengirimnya ibunya Nada atau bukan, dia sangat bersyukur atas situasi ini. Instuktur Anna mengetikkan balasan dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. “Jadi, mana teknikmu yang tadi?” tanya Instruktur menatap Krista dengan serius. Krista mendelik. Mampus! Di tempat lain, Grizzly sedang dalam perjalanan pulang dari klinik. Lengan yang sebenarnya tidak apa-apa akhirnya dibalut perban. Ibu Nada benar-benar merasa bersalah, sehingga ketika melewati coffee shop, beliau berhenti dan menanyakan apakah Grizzly menyukai kopi. Grizzly mengangguk dan menunggu ibu Nada di dalam mobil. Keberuntungan kembali berpihak padanya. Sepeninggalan ibu Nada, Grizzly mengambil ponselnya dan menelepon Leo. Setelah itu ibu Nada masuk dan memberikan satu cup besar Iced Americano kepada Grizzly. “Oh, ini ada pesan dari Nada.” Beliau membacanya.   [Ma, katanya ke kampus, ya? Jangan ke kampus, dong. Aku jadi nggak fokus latihan kalo ada Mama. Mama tunggu aku duluan yang ngabarin. Oke? Dah Mama, love you.]   Beliau tertawa. “Nggak biasanya Nada SMS kayak gini. Biasanya judes, galak.” Grizzly memaksakan tawanya. Dia benar-benar lupa mengingatkan Leo tentang karakter Nada sebenarnya. Laki-laki itu merutuki kecerobohannya dalam hati. “Kita balik ke kampus, ya.” “Iya, Tante.” Grizzly tersenyum. “Oh, ya. Ini makasih banyak, ya, Tante. Maaf sudah ngerepotin.” “Saya yang salah udah nabrak kamu. Tapi kamu udah nggak papa, kan?” “Ini udah baikan, Tante.” Wanita itu mengangguk. “Kamu dari fakultas menari juga?” Grizzly menggeleng. “Saya fakultas bela diri, jurusan taekwondo.” “Loh, terus kenal Nada dari mana?” Wanita itu menatap Grizzly sekilas, lalu kembali fokus menyetir. “Eng, kalau nggak salah waktu itu nggak sengaja ketemu aja, terus jadi kenalan.” Grizzly tertawa. Tak mungkin, kan, dia mengatakan malam itu mereka semua kabur dari asrama dan makan di warung kepiting pinggir kota. “Oh, gitu. Terus, Nak Grizzly udah punya pacar belum?” tanya wanita itu, bercanda. Grizzly merasa tertohok. “Be-belum, Tante. Hehe.” “Pacaran aja sama Nada,” kata beliau sambil terkekeh. “Ganteng begini, kok, nggak punya pacar.” “Ah....” Grizzly menggaruk tengkuknya sambil tertawa salah tingkah. “Tante bisa aja.” Setelah itu, Grizzly turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih sekali lagi. Ibu Nada pamit dan mengendarai mobilnya keluar institut. Di sana, barulah Grizzly dapat bernapas lega. Tadi itu … hampir saja. ***   Grizzly duduk di sofa saat Denial datang menyambutnya. Untuk beberapa bulan ke depan, Denial akan tinggal sementara di rumah bersama keluarganya. Katanya, ada urusan yang harus diselesaikan dahulu sebelum dia pergi. “Kenapa capek begitu?” tanya Denial. Grizzly menghela napas panjang. “Kak, terakhir kali aku peduli sama cewek kapan, ya?” Denial berpikir, lalu tertawa. “Waktu SD?” “Right! You know we well,” kata Grizzly tertawa. “Ada masalah sama cewekmu?” tanya Denial. “Kayaknya kamu capek begini gara-gara dia, ya?” Grizzly spontan terbahak miris saat kakaknya mengatakan ceweknya. “Aku, eh, kami abis ngelakuin aksi heroik.” “Apa, tuh?” Denial tampak penasaran. Grizzly menceritakan semua dari awal, termasuk lengannya yang masih diperban, hingga laporan dari Krista bahwa Bella sempat dilarikan ke klinik perihal perut kram. Niatnya berbohong, tetapi kejadian sungguhan. Krista bercerita pada Grizzly dengan merinding. Mendengar itu Denial tertawa. “Makanya jangan suka bohong,” katanya. “Terus si Nada di mana sekarang?” “Itu dia. Aku masih mau ngelacak nomor telepon orang asing yang kuduga nyulik Nada.” Denial masih tersenyum. “Oh, ya? Sini kubantu,” katanya bersemangat. “Gimana?” tanya Grizzly, yang saat ini tampak sangat polos. Denial mengulurkan tangannya. “Kasih aja nomornya ke aku. Nanti kalau udah ketemu lokasinya, aku kasih tau.” Grizzly terdiam sejenak. Dia berpikir. Memang lebih baik jika kakaknya turun tangan dalam masalah ini, sehingga Nada bisa cepat terselamatkan. Tak seperti dirinya, Denial benar-benar bisa diandalkan. Memiliki koneksi ribuan membuat hidupnya seperti tak pernah ada masalah. Mungkin kejadian ini hanya memakan waktu sehari atau kurang bagi Denial untuk menyelesaikan semuanya. Dia benar-benar salut dan sangat menghormati kakaknya. Akhirnya Grizzly berdiri. “Nggak usah deh, Kak. Aku bisa sendiri. Nanti kalo aku butuh apa-apa, baru.” Denial memasang ekspresi ambigu. Dia menarik uluran tangannya dan mengepalkan di belakang punggung. Lalu tersenyum. “Oke, deh. Sukses, ya.” Grizzly mengangguk dan berjalan ke kamarnya. Tanpa perlu menoleh, dia bisa merasakan tatapan tajam dari Denial. Sesuatu yang tak pernah dirasakannya. Denial tak mungkin begitu. Hanya sekadar membentak Grizzly saja Denial tak pernah, apalagi memberi tatapan tajam seperti itu. Tetapi Grizzly tahu dan perlahan mulai menyadari sejak dia mengamati kedua nomor asing di ponsel Nada. Dia menyalakan shower dan terjun di bawahnya. Ketika otak dan hatinya mulai takut menerima sesuatu, di bawah guyuran air hangat di atas kepalanya membuatnya merasa lebih tenang. Sehingga dia mampu menghabisnya waktu berlama-lama diam di bawah air shower. Saat itu dia merasa asing dengan kedua nomor di ponsel Nada. Namun saat perjalanan pulang dari kampus, dia tiba-tiba teringat sesuatu. Nomor itu terlintas di benaknya. Dia pernah melihatnya. Mungkin dulu sekali saat dia masih memakai ponselnya yang lama. Grizzly akhirnya ingat, nomor itu pernah masuk sekali ke ponsel lamanya mengatakan bahwa dia akan pulang ke rumah. Grizzly memutar kenop shower agar semakin deras. Dia tidak ingin memikirkannya, tetapi otaknya menolak. Dia menggeram dan berulang kali memukul dinding dengan tangannya. “Aish!” Denial masuk ke kamarnya. Dia duduk dan merenung di belakang meja kerjanya. Wajahnya tenang tapi penuh siasat. Dia menghabiskan waktu satu jam di kamar hanya untuk diam dan berputar-putar dengan kursinya. Di mana dia simpan dokumen itu? Harus diakui, Nada benar-benar pintar dalam menyembunyikan sesuatu. Bahkan Denial pernah menyuruh orang menyamar sebagai pembasmi kutu untuk menggeledah kamar Nada dan mencari dokumen-dokumen yang selama ini diincarnya tapi tetap tak ditemukan apa pun. Dokumen itu adalah segalanya bagi Denial. Bagi masa depannya dan juga perusahaannya. Dokumen itu juga merupakan kunci masa lalunya. Sekalinya kunci itu terbuka, hancur sudah hidup Denial. Maka dari itu, dia harus berupaya untuk membuatnya tetap terkunci. Tak peduli apa dan siapa yang dipertaruhkan. Kemudian, Denial tertawa. Demi membuatnya tetap terkunci, dia harus mengerahkan orang yang tak disangkanya begitu bodoh. Bagaimana mungkin mereka tak menyadari bahwa Denial-lah pelaku sebenarnya atas kematian Insi? Orang bodoh itu justru mengubah pelaku pembunuhan menjadi seorang pahlawan. “Aku pahlawan?” Dia tertawa lagi. “Bodoh.” Tak disangkanya pula, orang bodoh itu akan mengkhianatinya. Bukannya segera membunuh gadis itu, dia malah menyimpannya sendiri. Denial menjadi semakin geram. Dalam daftar orang-orang yang perlu disingkirkannya, akhirnya bertambah satu. Hatra. Denial mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. “Lacak posisi orang ini,” katanya dengan nada rendah. “Terus, Bos?” “Bunuh.” Terdengar kekehan dari ujung telepon, kemudian telepon terputus. Satu masalah selesai. Kini, masalah selanjutnya. Dia menghubungi sederet nomor lainnya. “Ah, selamat siang Pak Kim. Ada waktu sebentar?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN