Kalau saja tidak ingat bahwa seorang Randu Mahardika dalam waktu 6 bulam ke depan bakalan jadi suami, udah aku tendang piaraannya sampai gak bisa dia pake lagi. Tapi ya karena inget dia calon suami makanya, secapek apa pun bela-belain aku turutin maunya dia.
Bebs, gimana gak kesel coba? kerjaan udah hampir satu bulan ini padat banget. Hampir tiap hari aku pulang di atas jam delapan malam. Bisa pulang saat matahari lagi berwarna jingga itu ya cuma hari Jumat doang. Tapi pagi tadi dia malah dengan tidak tahu dirinya membawa motorku ke kantornya, dengan alasan mobil dia lagi di bengkel dan dia bilang aku pasti bakalan males banget kalau dia pakai motor sport yang jok belakangnya nungging. Sampai akhirnya, mau gak mau aku sama dia pagi tadi pakai motorku ke kantor, karena kalau pakai mobil macet. Pas aku bilang aku yang bawa motor ke kantor dia ga mau dong dan milih nganterin aku ke kantor sementara dia pakai motorku ke kantornya, alasannya karena aku pulang sore dan bakalan dia jemput.
Tapi ya, emang otak Aruna Pradasari yang ngaku cantiknya udah ngalahin Eva Celia anaknya Shopia Latjuba ini jadi agak-agak sengklek sejak dilamar Randu Mahardika, malah lupa kalau si kuncoro latihan futsal Jumat sore. Mana dia gak bilang, alhasil udah nunggu hampir sejam, dia gak dateng, dichat gak bales, ditelepon gak diangkat, sekalinya ngangkat dia malah ketawa ngakak dan bilang 'Run, gue lupa ngasih tahu kalau gue futsal'. Sialan kan?! udah pengen nendang kakinya, pas di tulang keringnya. Peduli amat dia kagak bisa jalan. Lah, aku aja pegel nungguin dia dari sejam yang lalu. Setelah aku maki-maki dengan entengnya dia malah bilang 'lu nyusul ya ke Futsal 76'.
Kesel!
Jadi nih, rencana sore ini mau langsung pulang, leyeh-leyeh di rumah sambil menikmati sore hari di rumah eh ternyata gak bisa. Menyebalkan!
Sejak statusnya naik dari sahabat jadi calon suami dia emang makin ngelunjak. Kalau aku marah dia pasti bakal ngomong 'kualat lu sama calon suami,' kalau enggak pasti bilang 'Run, lu lupa siapa yang masangin cincin di jari manis lu?' kan sialan. Gak usah dia ingetin tiap waktu aku juga pasti bakalan inget dia siapa. Si Sahabat Surga yang udah naik level jadi calon suami. Duh gak tahu deh bakalan gimana dia kalau udah jadi suami. Rasa-rasanya seorang Aruna yang cinta kebebasan bakal dia injek-injek kayak keset. Amit-amit!
"Lain kali kalau gak bawa motor atau mobil dan lu harus futsal jangan bawa motor gue deh, Du!" gerutuku saat sampai di gor Futsal dan melihat Randu sedang istirahat di pinggir lapangan. Bukannya merasa bersalah dia malah tertawa terbahak.
"Ketawa lu, Bambaaaaaang!" kataku membuat dia malah tambah terbahak. Lalu tiba-tiba tangannya terulur mengusap puncak kepalaku. Sialannya sikapnya itu membuat hatiku malah kebat-kebit. Padahal ini bukan kali pertama dia bersikap seperti itu. Aneh aja sih sekarang, sejak dia melamarku, hatiku malah sering degdegan merespon sikap manis Randu. Kampret kan?!
"Tunggu bentaran ya, udah main lagi tuh! Abis futsal gue traktir makan." katanya lalu berdiri. Sebelum berlari ke lapang, tiba-tiba dia mengguyur wajahnya dengan air mineral yang dia pegang, membuat wajah dan rambutnya basah. Dan gilanya, lihat Randu yang gitu membuat jantungku lagi-lagi berdegup kencang.
"Hai!" kegiatanku memerhatikan Randu yang berlari ke sana ke mari mengejar bola terhenti sejenak saat seseorang menyapaku dan duduk di sebelahku. Ternyata itu Frans, sahabat Randu.
"Hai juga! Gak main, Ko?" tanyaku ada Frans yang sering aku panggil Koko.
Dia menggeleng, "Capek ah, diganti dulu sama Agung, kasian dia juga belum maen." katanya sambil mengelap keringat di wajahnya, lalu membuka tutup botol minumannya dan menyesapnya sampai hampir tandas.
"Gue kaget lo waktu tahu lu sama Randu mau nikah?" aku menoleh ke arahnya. Lamaranku dan Randu memang bukan hal yang kami tutup-tutupi. Kami terbuka kok, meskipun kami tidak mengkesposnya secara terang-terangan. Toh, kami bukan selebritis dan kami juga single tidak merebut pasangan siapapun.
"Gue kaget aja waktu liat ada cincin melingkar di jari manis dia. Waktu gue tanya dia gak jawab, setelah didesak beberapa kali sama gue baru deh dia cerita kalau dia ngelamar elu, sialan emang si Randu!" katanya sambil terkekeh. "Pantesan gak mau nyomblangin gue sama elu, Run, ternyata dia udah niat ngawinin elu. Kampret emang atasan gue." katanya. Lagi-lagi sambil terkekeh. "Ternyata bener kalau cewek sama cowok sahabatan ujung-ujungnya sih bakalan kawin." lagi dia terkekeh.
"Emang lu beneran suka sama gue?" bodoh kan pertanyaan Aruna, tapi jujur aku tuh penasaran. Dulu tahu dia naksir aku hanyalah dari Randu, Frans hanya omong kosong, gak ada aksi. Tapi memang dari awal Randu udah menegaskan kalau Frans ini keturunan Thionghoa, agama dia jelas beda sama aku, jadi Randu bilang kalau aku sayang orang tuaku, sayang diriku sendiri dan masih ingin hidup dengan akidahku lebih baik gak perlu melanjutkan acara naksirku pada Frans. Jadi ya sudah pasti selanjutnya adalah kata tidak untuk Frans.
Frans terdengar terkekeh, "Iyalah gila! Asli gue naksir elu," aku hanya bengong menatapnya. "Padahal gue udah siap pindah agama, Run. Tapi apa daya pesona gue masih kalah sama pesona bos gue." lanjutnya masih dengan kekehan. Sementara aku hanya bisa meringis saja.
"Pantesan dia cuek aja kalau si Tiara masih deketin, ternyata dia lebih milih elu." katanya tertawa.
"Masa sih? Beneran Tiara masih deketin Randu?" pertanyaan ini karena penasaran loh, Bebs. Sumpah! Udah lama pengen nanya soal interaksi dia sama Tiara gimana kalalau di kantor setelah putus tapi selalu gak berani kalau sama Randu. Untunglah Frans cerita, biar aku tahu gimana Randu sama Tiara di kantor.
"Wah, lu ngorek dari gue? Laki lu entar ngamuk sama gue." kata Frans dengan ekspresi yang lucu.
"Kalau kagak mau cerita ngapain ngomongin Randu sama Tiara, Kuncorooooo!" kataku sambil berdecak, membuat Frans tertawa kencang.
"Nanti lu cemburu kalau gue cerita." Sialan si kuncoro ngerjain gue ini mah ceritanya. Kesal aku pukul lah lengannya sampai dia mengaduh. Bodo amat kalau dia sakit, aku kagak perduli. "Sialan!" katanya.
"Gue gak tahu persis sih, Cuma emang beberapa kali Tiara ngajak makan siang Randu tapi selalu ditolak sama Randu, terus waktu Randu, gue, sama Tiara meeting sama klien dan Tiara ngajak Randu pakai mobil berdua aja, dia nolak mentah-mentah, ada aja alasannya yang bikin dia gak semobil sama Tiara. Pas gue nanya, Tiara bilang dia pengen balikan sama Randu, malah udah beberapa kali buka obrolan soal itu ke Randu tapi gak pernah di respon. Gue tahu sekarang jawabannya apa." katanya dengan tawa yang mengakhiri ceritanya.
"Btw, kalau kata gue mending tiap Jumat lu ke sini temenin Randu futsal, karena tiap Jumat juga Tiara bakal nyamperin ke sini, ada aja yang dikasih ke Randu, kaya sekarang tuh!" kata Frans sambil menunjuk seorang perempuan cantik berjalan dai pintu masuk area futsal sambil membawa keresek berwarna putih. Kampret emang tuh cewek!
Kulihat Randu dan teman-temannya juga sudah selesai bermain. Dia berjalan keluar dari lapangan dan dengan cepat juga Tiara mendekati Randu. Mereka terlihat mengobrol sebentar lalu Randu menoleh ke arahku sambil menunjukku, membuat Tiara yang semula menampakan senyum sumringah berubah menjadi sendu saat pandangannya dia arahku kepadaku. Lalu Randu berjalan mendekatiku. Sementara Tiara mengikuti dari belakang.
"Dia tiap Jumat ke sini?" tanyaku, Frans mengangguk. Seketika hatiku memanas bahkan sekarang panasnya bisa aku rasakan di sekujur tubuhku hingga wajahku. Kam to the pret emang nih cewek!
"Hai, Ra!" kata Frans sambil melambaikan tangannya yang dibalas dengan anggukan oleh Tiara. "Bawa apa tuh?" tanyanya sambil menunjuk barang bawaan Tiara.
"Bolu karamel kesukaan nyokapnya Randu, tapi kata Randu nyokap bokapnya lagi ke Malang nengokin orang tuanya sekalian nengokin adiknya yang kuliah di sana." katanya sambil menunjuk Randu yang kini sudah berjalan ke arahku lalu duduk di sebelahku setelah sebelumnya mengusap puncak kepalaku. Aku hanya menatapnya tak percaya. Lalu aku malah mengarahkan pandangan pada Tiara karena penasaran ingin melihat reaksinya, dan ternyata kini dia sedang memberengutkan wajahnya. Kesal kali ya.
"Daripada mubazir lu kasih Frans aja, kalau dikasih gue gak ada yang makan, di rumah gue cuma sendiri." kata Randu sambil membuka bajunya yang basah karena keringat. Hih! Randu buka baju sembarangan, Tiara sampai ngiler lihat perut kotak-kotaknya. Ngeselin!
"Yuk, Run balik!" Dia berdiri sambil menyampirkan tas olahraganya. Mau tak mau aku berdiri, meraih tas selempang lalu memakainya. "Gue duluan ya!" kata Randu pada Tiara dan Frans. Aku hanya diam saja, tak berani membuka suara hanya bisa menahan degup jantungku yang tiba-tiba saja berdetak lebih hebat saat tiba-tiba tangan Randu meraih pergelangan tanganku lalu turun dan menautkan jari-jari besarnya ke jari-jari mungilku. Aku manatap Randu yang masih setia dengan ekspresi biasa saja, sama seperti Randu biasanya saat dihadapan orang lain, bahkan saat Tiara menatap tajam kearahnya pun dia biasa saja, tetap menautkan jari-jarinya dan membawaku keluar dari gor Futsal sambil sesekali menyapa teman-teman sekantornya.
Tung, jantung, bentar jangan deg-degan terus. Kalau kamu degdegan terus aku malah gak bisa napas. Mau tanggung jawab emang kalau aku harus dibawa ke IGD? ini semua gara-gara si sahabat surga yang sumpah manis banget dan bikin aku jantungan.
***
"Kenapa sih gak diterima aja bolunya? Kasian tahu Tiara." kataku saat kami mampir sebentar di Cekeran Midun. Sebuah tempat yang menyajikan menu serba ceker.
"Gue gak mau buat lu khawatir lagi. Nanti dikiranya gue gak serius nikahin elu."
Ya ampun!
Kenapa sih dia seneng banget bikin aku baper akhir-akhir ini. Padahal dia baru kemarin bilang kalau belum cinta sama aku, tapi kenapa sih manis banget sikapnya.
"Kata Frans dia tiap jumat dateng juga ke Futsal 76?" tanyaku akhirnya. Panasara loh, Bebs, aku tuh. Pengen tahu aja.
"Gak tiap minggu, eh ga tahu sih gue gak pernah merhatiin, cuma emang beberapa kali gue liat dia juga dateng sama Ilma pacarnya si Agung," aku hanya mengangguk saja. Kalau kalian bingung, Ilma itu temennya Randu juga, sekantor, dia bagian apa ya lupa aku tuh, pernah dikenalin sih aku dulu pas nongkrong di kafe bengawan sama temen-temennya. Jadi Ilma ini pacaran sama Agung anak buahnya Randu juga dan kebetulan temenan sama Tiara
"Dia kayaknya pengen balikan sama elu deh." kataku akhirnya. Randu yang sejak tadi menunduk sambil fokus pada menu ceker di depannya mendongak lalu menatapku sekilas tanpa kata lalu kembali fokus. "Dulu elu cinta gak sih waktu jadian sama Tiara?" dia kembali mendongak dan mengangguk. Aku kira aku akan baik-baik saja saat Randu mengangguk ternyata, si jantung malah gak tahu diri. Dia malah berdetak gak karuan lalu panas. Kan, kan, kan, malah menyebalkan. Kenapa coba harus gitu?
Randu terlihat sudah selesai dengan kegiatan makannya lalu menyesap minumannya.
"Elu kalau mau mancing lagi buat bahas alasan gue kenapa tiba-tiba mau nikahin elu, gue gak mau, Run. Kemarin gue udah jelasin kan sama elu kenapa gue mau nikahin elu, jadi gak usah lu bahas masalah lain. Tiara lah segala elu bawa-bawa." katanya kemudian dia berdiri dan berbalik tapi langkahnya terhenti lalu membalikan tubuhnya ke arahku membuatku sedikit menatapnya. "Oh, iya gue gak suka kalau elu terlalu deket sama Frans apalagi setelah kita nikah nanti, inget dia naksir elu parah, jadi gak usah ngedeketin hal-hal yang bikin rumah tangga berantakan." dia berbalik dan berjalan ke arah wastafel. Apa maksudnya coba kuncorooooo? Emang aku ada potensi jadi tukang selingkuh? Kagak ada sama sekali.
Jadi aku harus apa? akhirnya aku hanya bisa menanamkan dalam diri bahwa semua kan baik-baik saja. Setidaknya meskipun pernikahan kami bukan karena cinta tapi aku yakin dia si sahabat surgaku tak akan menyakiti, itu yang aku tahu dan aku rasakan sejak dulu.