Waktu berjalan begitu cepat hingga tak terasa, malam ini malam terkahir aku menjadi perempuan single dan besok saat Randu menjabat tangan papa dan seruan kata Sah terdengar, statusku akan berubah menjadi seorang istri dari Randu Mahardika, ST. Gila gak tuh?!
Sore tadi acara siraman dan pengajian sudah dilakukan di rumahku, begitu juga di rumah Randu. Alhamdulillah semua berjalan lancar, meskipun diawal-awal ada perdebatan di antara mama dan Tante Indy. Mama yang Sunda asli ingin semua rangkaian acara penikahan diadakan dengan adat Sunda, sementara Tante Indy yang Jawa tulen maunya rangkaian acara diadakan dengan adat Jawa. Sampai-sampai aku dan Randu pusing. Tapi untunglah Teh Keyra menengahi. Teh Keyra akhirnya memutuskan, acara pengajian dan siraman yang memang akulah yang menjadi tuan rumah akan diadakan dengan adat Sunda, sementara siraman dan pengajian yang melibatkan keluarga Randu akan diadakan dengan adat Jawa, sesuai keinginan mamanya. Aman deh, akhirnya. Meskipun biaya yang dikeluarkan ekstra tapi yang penting aman sentausa. Sedangkan pada resepsi, semua akan di adakan dengan tema nasional. Tak ada upacara adat, hanya ada saweran saja, karena mama ngotot ingin ada saweran dipernikahan pertama anak perempuannya.
SahabatSurga
Run, lu lagi apa?
Degdegan ga?
Masa gue degdegan
Ngapalin ijab aja sampe belibet
Aku tertawa sesaat saat membaca chat dari Randu, sahabatku yang besok akan mengucapkan ijab kabul di hadapan papa.
Me
Hahaha
Awas besok lu salah neyebutin nama gue
SahabatSurga
Sialan!
Salah gimana maksud lu?
Me
Siapa tau lu salah nyebut
Bukan Aruna Pradasari tapi Eva Celia
SahabatSurga
Ngimpi!
Me
Hahaha
SahabatSurga
Berasa mimpi gue bakal kawin sama elu
Me
Mau batalin?
Masih ada waktu
SahabatSurga
Sialan
Gue udah keluar duit banyak!
Me
Nyebelin!
Jadi gara-gara duit
SahabatSurga
Ya gak lah
Gue becanda kali
Baper amat lu
Udah ah gue ngantuk
Aku hanya membacanya karena meskipun dibalas dia juga hanya akan membacanya saja. Akhirnya mengabaikan semua segala pikiran liarku, aku lebih memilih untuk memejamkan mata. Bagaimanapun besok adalah hari besar buatku.
***
Dibangunkan jam tiga dan harus buru-buru ke hotel itu rasanya...ngantuk, bebs. Gila! Padahal akad nikahku dan Randu baru akan dimulai pukul sembilan nanti, tapi sumpah ya, Teh Keyra suka ngadi-ngadi nih emang.
"Ih, jangan sambil tidur atuh, nanti make upnya gak cetar ah!" kata Tante Relis yang langsung bertindak sebagai MUA-ku hari ini.
"Ngantuk, Tante ah! Lagian gak kira-kira ih bangunin aku jam 3, itu mah lagi enak-enaknya tarik selimut." gerutuku. Tante Relis hanya tertawa saja sambil terus melanjutkan kegiatan mempercantik diriku.
"Hih! Nanti juga bakalan dibangunin Randu malem-malem, emang nanti mau protes kalau dibangunin Randu malem-malem? Dosa lo!" aku melirik sekilas dengan ekor mataku. Apaan tuh maksudnya? Kok malah merinding sih!
"Apaan tuh maksudnya? Gak ngerti!" kataku cuek lalu memejamkan mata sesuai dengan arahan Tante Relis yang akan memulas eye shadow di mataku.
"Hih pura-pura gek ngerti. Ya namanya suami istri, udah sah dong, pastilah nanti Mas Randu minta haknya, itu loh, ih Tante kok malah susah ngomongnya___hubungan suami istri lo, The." Seketika aku membuka mataku membuat Tante Relis berdecak lalu bergerak mengambil tissue untuk menghapus eye shadow yang keluar dari jalurnya. "Diem ih, jangan gerak-gerak! Make up nya jadi kacau!" kata Tante Relis kesal.
"Ya tante ngomongnya aneh-aneh, aku kan jadi degdegan!" kataku kesal.
"Lah, kok?! Tante kan ngomong yang bener. Namanya udah suami istri, udah sah di mata hukum sama agama, ya wajar kalau nanti malem Mas Randu minta haknya, kamu sebagai istri gak boleh nolak. Kalau pas pacaran nolak itu wajib, tapi kalau udah suami istri nolak itu dosa lo." katanya.
Nyebelin!
Jadi kepikiran kan omongan Tante Relis. Kok aku gak kepikiran ya, kalau namanya nikah, udah sah, udah suami istri ya pasti bakalan ada kontak fisik. Bukan hanya sekedar pegangan tangan, sentuhan dikepala, atau pelukan yang jujur itu sudah dilakukan Randu sejak kami mendeklarasikan hubungan kami sebagai sahabat surga. Tapi akan ada sentuhan lebih. Ciuman, mungkin.
Ah! Aku malah jadi ketar-ketir gini sih mikirinnya. Gara-gara tante Relis nih ngomongin yang iya-iya. Padahal setelah menerima lamaran Randu aku malah gak kepikiran soal itu. Bahkan aku dan Randu juga gak pernah bahas hal itu. Ya, maksudnya apa yang akan kita lakukans etelah menikah, termasuk hubungan suami istri di atas ranjang tak pernah kami bahas sedikitpun.
Justru aku dan Randu malah membahas soal tempat tinggal, aku dan Randu sepakat untuk sementara akan tinggal di rumah orang tuaku dulu sampai kami mendapat rumah untuk kami tinggal. Kemudian yang kami bahas mengenai pekerjaanku. Randu tidak akan memaksaku untuk resigne dari pekerjaanku, selama aku bisa mengatur waktu antara pekerjaan dan tugasku sebagai seorang istri dia gak masalah. Terakhir yang kami bahas adalah masalah keuangan. Randu bilang, gaji dan tabunganku itu untukku. Dia tidak akan ikut campur, terserah mau aku gunakan untuk apa. Sementara kebutuhan kami berdua dan kebutuhan rumah tangga kami, dia akan mentransfer sejumlah uang ke rekening yang sudah dia buat atas namaku, rekenin, buku tabungan dan ATM-nya kemarin sudah dia berikan padaku. Dan aku cukup terkejut dengan isinya. Dia sudah mentransfer sejumlah uang untuk kebutuhan kami sebulan. Dia juga mengatakan bahwa, dia punya kewajiban untuk memberikan uang pada Tante Indy setia bulannya. Aku tidak boleh protes katanya karena dia bilang itu sebagai tanda bukti bahwa dia begitu menyayangi mamanya. Dan aku setuju, karena aku pun setiap bulannya memiliki jatah untuk membagi untuk mama.
"Kok malah ngelamun sih? Kalau emang belum siap, boleh didiskusiin lagi sama si Mas, komunikasi itu penting, Teh!" sekali lagi aku melirik. Lalu perlahan mengangguk.
Iya, mungkin aku harus mendiskusikan masalah sepenting ini. Randu laki-laki, dan pasti memiliki kebutuhan biologis. Dia juga pasti memiliki keinginan untuk memnuhi kebutuhan biologisnya setelah memilki seorang istri. Kecuali kalau dia emang udah belok. Hahaha.
***
"Randu Mahardika, saya nikahkan dan saya kawinkan ananda pada putri saya Aruna Pradasari dengan mas kawin logam mulia seberat 50 gram di bayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Aruna Pradasari binti Reza Iskandar dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Sah!
Akhirnya aku bisa bernapas dengan lega saat kalimat ijab kabul diucapkan Randu dalam satu tarikan nafas. Kulihat dari screen wajah Randu pun sama leganya. Wajahnya yang beberapa jam lalu terlihat tegang, kini sedikit melunak.
"Selamat ya, Run!" kata Cantika dan Diana yang menemaniku di ruang ganti. Aku pun membalas pelukan mereka tak kalah erat. Ini loh rasanya setelah kata sah di ucapkan. Ada rasa yang tidak bisa aku gambarkan dengan kata-kata.
"Selamat ya, Teh! Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warohmah." kata Niken--kekasih Arya-- yang juga ikut menemaniku.
"Makasih ya, Ken. Semoga kamu juga cepet nyusul." kataku sambil membalas pelukan Niken.
"Ayo teh keluar, udah disuruh turun nih kata Aa." katanya. Aku menarik napas terlebih dahulu lalu menghembuskannya. Setelahnya aku berdiri dan berjalan keluar, untuk menemui suamiku di sana. Ya ampun! Nyebut si sahabat surga dengan sebutan suami kok bisa bikin aku degdegan gini ya? Apalagi nanti pas ketemu dia di luar. Doain, bebs supaya aku gak pingsan. Apalagi pas lihat di screen tadi dia keliatan ganteng banget pakai beskap putih-putih gitu. Keren. Makin kinclong dia.
"Ken, bentaran dong, jalannya jangan cepet-cepet. Gue susah nih jalannya, mana gue degdegan banget lagi." kataku berhenti melangkah. Sementara Niken yang menggandeng tanganku malah terkikik, begitu juga dengan Diana dan Cantika yang mengikutiku dari belakang, ikut-ikutan terkikik juga.
"Run, sekarang aja degdegan apalagi entar malem, bisa-bisa elu pingsan lihat piaraan si Randu." eh sialan!
"Inget ya gue masih perawan, jadi gak tahu piaraan apa yang lu maksud!" aku menoleh lalu memberikan delikan pada Cantika yang masih tertawa dengan Diana. "Diem lu Di, jangan ketawa! Entar kawin lu juga bakal ngerasain segugup apa pas ketemu pertama kali sama lakik elu," mereka malah terbhak dong, kan kampret!
"Udah teh jangan marah-marah. Mas Randu udah liatin ke sini tuh, gak pake ngedip lagi." kikik Niken. Kan dia juga kampret, sama aja sama dua sahabat tapi musingin ku di belakang.
Aku kembali berusaha untuk melangkah, dan sumpah ya apa yang dikatakan Niken bener dong, bebs. Randu yang lagi duduk di hadapan papa dan penghulu menatapku tanpa kedip. Jangan sampe pas liat aku gini dia malah sadar bahwa dia gak seharusnya nikahin sahabatanya yang absurd ini, bisa rugi bandar dong aku, bebs. Biaya kawin mahal, Cuy!
Saat aku mendekat Randu berdiri, lalu mempersilahkanku duduk. Hingga kemudian acara dilanjutkan penandatangan buku nikah, pembacaan sigot ta'lik dan pemasangan cincin. Ya Allah si jantung kurang ajarnya malah degdegan ga karuan lagi pas aku cium tangan Randu, apalagi pas dia cium kening aku, sumpah geli. Dia aja sampe nahan tawa saking gelinya. Sampai-sampai semua orang malah ketawa lihat kami berdua.
"Sumpah, Gue geli liat lu sok anggun cium tangan gue!" bisiknya di telingaku saat kami sama-sama duduk berdampingan. Aku mendelik membuat dia kembali menahan tawa.
Nyebelin!
Tapi apapun itu, dia tetaplah sudah sah menjadi suamiku. Dia laki-laki yang akan melindungiku seumur hidupku. Setidaknya itu janjinya dia waktu pas ngelamar aku. Awas aja kalau gak ditepatin. Aku gantung di di pohon rambutan depan rumahnya. Ya allah dosa dong, dia kan suamiku sekarang. Dia suamiku, yang akan menuntunku menuju surga. Dia lah yang bertanggung jawab atas dunia dan akhiratku. Doaku hanya satu, semoga aku dan Randu bisa menjalankan rumah tangga ini seperti kami menjalankan persahabatan kami. Dan kami benar-benar menjadi sahabat sampai surga.
***
"Capek banget, gila!" kataku sambil menjatuhkan diriku di atas kasur hotel yang kami sewa untuk istirahat malam ini. Besok baru kami akan pulang ke rumah mama.
"Run, mandi dulu! jorok banget!" keluh Randu sambil melepaskan sepatu yang dipakainya.
"Du, mau ngapain?" tanyaku kaget lalu buru-buru bangun saat dia akan membuka jas berwarna moca yang dipakainya dalam acara resepsi pernikahan kami.
"Ganti baju lah, kenapa emang?" katanya cuek sambil membuka jasnya menyampirkannya di kursi, lalu mulai membuka kancing kemejanya satu persatu.
"Hih, di kamar mandi dong!" sungutku membuat dia tertawa tapi cuek saja tetap membuka kemejanya dan aku bisa bernapas lega saat aku tahu kalau dibalik kemejanya dia memakai kaos berwarna putih.
"Pikiran lu ngeres." katanya lalu berjalan ke arah kamar mandi. Sepertinya dia akan mandi karena suara kran air mulai terdengar dari dalam sana.
Duh, ini aku harus gak ya nyiapin baju ganti buat Randu? Malah bingung gini. Mama bilang kan kalau suami mandi, baju sama dalaman udah harus tersedia di atas tempat tidur, biar dia tinggal pake aja pas keluar kamar mandi. Duh, dikira nikah sama sahabat sendiri bakalan gampang, gak canggung karena kita udah kenal luar dalam. Ternyata malah lebih awkward gini, karena jujur meskipun kita udah kenal sejak seperemat abad yang lalu tapi untuk hal-hal sensitif yang mengarah ke keperluan pribadi kan kita gak pernah ikut campur.
Bodo ah! Biarin aja dia siapin sendiri. Nanti deh kalau dia minta baru aku siapain.
Aku kemudian bergerak ke arah lemari, mengambil bathrobe dari sana sebelum aku membuka dress yang aku pakai. Tapi sialannya, kancing bagian belakang dressku terlalu banyak dan aku kesulitan membukanya sendiri. Nelepon mama dan minta bantuan mama kayaknya gak mungkin. Satu-satunya cara ya harus nungguin Randu keluar dan minta tolong sama dia. Duh, sumpah malah salah tingkah gini.
"Kenapa kok bingung?" aku tereranjat dan langsung berbalik menghadap Randu yang sumpahnya kok dia keliatan tambah cakep pas rambutnya basah. Mana dia cuma pakai celana pendek doang lagi. Perutnya kotak-kotak dong ternyata si sahabat surga ku ini. Pengen pegang ih penasaran. Sialan kan otak!
"I-Ini, gue gak bisa buka kancingnya, kebanyakan, mana di belakang lagi. Gini amat sih jadi penganten." keluhku. Randu terkekeh lalu berjalan mendekatiku. Tanpa diminta dia mulai membuka satu persatu kancing dres yang aku pakai dalam diam.
Dengan tak tahu dirinya, aku malah tergelitik untuk melihat respon Randu dari balik cermin besar di sampingku. Kulihat sesekali dia meneguk air liurnya sendiri dan kurang ajarnya, setelah selesai membuka kancing terakhir dresku dia malah mengakhiri aktivitasnya dengan mengecup tengkukku lalu mengusapnya lembut. Membuat mataku melotot dan sekujur tubuhku merinding. Dan melihat responku yang sumpah kagetnya luar biasa, dia malah ketawa. Sahabat kampret emang!
Seketika aku mendengar suara tawa Randu yang menyembur, sialan dia ngerjain. "Tegang amat! Mandi sana!" katanya sambil melangkah ke arah tempat tidur dan mengistirahatkan dirinya di sana. Sekuat tenaga aku menahan diri untuk tidak menendang si Sahabat Surga saat ini juga. Gila! Bisa-bisa kualat di hari pertama jadi istri dong! Tenang masih ada hari esok untuk melancarkan aksi balas dendam.
Randu menyebalkan!