Calon Suami

1782 Kata
Setelah acara lamaran dan pasang cincin selesai lalu foto-foto, semua yang hadir dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang di pesan mama dari katering yang biasa menjadi vendor pada WO Teh Keyra. Semua memuji makanannya karena memang enak banget. "Run, ambilin puding dong!" Perintah Randu padaku yang sedang duduk di kursi kayu di depan kolam renang. "Hih, ambil sendiri, gue mager." Protesku dan kemudian protes itu berubah menjadi teriakan karena si sahabat surga yang sudah mulai songong karena statusnya udah berubah ini menyentil keningku dengan keras. Sumpah sakit loh, bebs. "Gak boleh bantah gue lu, inget gue bukan sahabat lu lagi, gue calon suami lo sekarang, lupa yang pasangin cincin di jari manis lu itu gue?" kan, kan, songong kan?! Duh kalau gak takut dipenjara udah gue bunuh nih orang. "Beneran ya ternyata status berubah itu udah bikin elu makin songong sama gue." Gerutuku lalu berdiri sementara si songong malah ketawa jumawa. Sebel ih! "Cie, mulai belajar jadi istri yang baik!" Sindir Cantika yang tengah menikmati zupa-zupa di meja prasmanan. Aku menatapnya geram. "Pulang ketemu nyokap dulu, bayar tuh makanan yang udah lu makan sama nyokap gue, lu kira gratis apa?!" Cantika terlihat meringis. Sementara aku berjalan ke arah meja prasmanan dan mengambil sepiring puding lengkap dengan fla rasa vanila kesukaan si songong yang hanya dalam hitungan bulan akan jadi suamiku. Catat ya suami aku, bukan bos aku! Tapi sumpah baru calon aja, lagaknya dia tuh udah macam bos. Maen perintah, maen suruh. "Nih!" kataku menyerahkan puding yang tadi aku ambil pada Randu. Randu meraihnya. "Makasih calon istri!" katanya sambil nyengir. Sumpah geli dengernya. "Kapan mau ngomongin konsep pernikahan sama Teh Keyra?" Tanyanya kini sambil menyuapkan puding cokelat dengan fla rasa vanila. Aku menggedikkan bahuku, "Tapi tadi sambil gue luluran udah agak ngomongin dikit sih, sekarang yang lagi hype itu vintage rustic, gue belum search sih cuma kata Teh Keyra gambarannya itu katanya sekarang lagi oke banget yang pake ranting-ranting pohon, lampu-lampu, terus kursinya dari kayu-kayu gitu deh." Kataku menjelaskan. "Gue sih gak masalahin temanya, gue mah maunya yang minimalis, pesta kebun, intimatte, pokonya gitu deh, tapi tergantung elu juga maunya gimana." Ujarku menjelaskan tentang tema pernikahan yang tadi sekilas aku bahas bersama Teh Keyra. "Gue sih terserah elu aja, gak paham juga soal pernikahan." Katanya. "Kita bikin schedulle makanya sama Teh Keyra, dia kan pasti jadwalnya padat jadi kita gak bisa seenaknya." Ujarnya lagi. Aku hanya mengangguk. "Senin depan gue ke Bali, semingguan. Ngecek projek hotel di sana, makanya gue pengen minggu ini kita bisa ketemu sama Teh Keyra untuk diskusi." Aku menoleh ke arahnya. "Iya gampang nanti gue ngomong sama Teh Keyra!" Kataku akhirnya. "Du, mesti gak sih kita robah cara ngomong kita, misal dari lu-gue jadi aku-kamu?" Randu tertawa. Kan kesel, makanya aku pukul aja lengannya sampai dia mengaduh. "Ih! Kualat lu maen pukul sama gue!" Katanya sambil mengusap lengannya yang aku pukul. "Gue mah terserah elu aja, orang gue juga masih kagok kalau pake aku-kamu." Katanya. Obrolan kamipun berlanjut dengan tema random, ngalor ngidul seperti biasanya. Hingga akhirnya tepat sebelum magrib Randu dan keluarganya pamit. Dia juga tumben ikut-ikutan pamit. Katanya banyak kerjaan kantor yang dia bawa dan harus laporan besok pagi. Serah elu lah bambang! *** "Run, teteh udah kirim ya tema-tema yang lagi hype sekarang." Kata Teh Keyra yang sedang membantu mamanya membereskan barang yang tadi di gunakan dalam acara lamaranku. Aku mengambil ponsel yang aku simpan di table coffee, mendownload file yang dikirim Teh Keyra ke ponselku lalu mengirimkan pada Randu. Biar dia aja deh yang milih, aku pusing. Dan beberapa menit kemudian si songong malah mengirimiku WA. SahabatSurga Tanyain sama Teh Keyra kalau besok jam 8 malam dia ada janji gak? "Teh, kata Randu besok jam 8 malem ada janji ga?" kataku pada teh Keyra sebelum membalas chat Randu. "Enggak sih, kalau mau langsung konsul ke rumah aja kalau jam segitu mah," kata Teh Keyra menjawab. Me Ke rumah aja katanya Mau? SahabatSurga Ya udah kita ke sana aja, biar cepet kelar Bisa kan? Dan aku hanya membalas kata 'ok'. "Teh, oke kata Randu katanya." kataku. Hingga akhirnya Teh Keyra menyanggupi permintaan Randu dan akan menemuiku dan Randu pada jam delapan malam besok. *** "Nih, sarapan dari mama!" Kataku menyerahkan tas kain berwarna biru pada Randu berisi sandwich buatan mama untuk sarapan. Randu menyambutnya lalu menyimpannya di kursi belakang. "Lu belajar masak dong, Run. Biar kita ngirit, makan gak usah order mulu." Katanya sambil menstaer mobil dan melajukannya membelah jalanan Bandung yang pagi ini sudah lumayan padat. "Hih, udah banyak permintaan banget sih, lagian ya kita itu mau berumah tangga bukan berumah makan." Kataku Randu terkekeh. "Kalau gue belajar masak kasian abang ojol ordernya berkurang." kelakarku asal membuat Randu menoleh lalu tertawa. "Suapin, gue laper!" Katanya memerintah. Aku menoleh sekilas dan memberikan delikan pada Randu yang dibalas dengan tawanya yang menyembur. "Beneran songong ih!" kataku lalu mengambil tas bekal yang tadi disimpan Randu di kursi belakang, membukanya dan mengambil satu potong sandwich. Mengangsurkan ke mulutnya dan digigit Randu besar-besar. "Lu usahain jangan lembur, ya, hari ini." katanya dengan mulut yang penuh dengan sandwich. "Iya! Gak percayaan amat sama gue." Kataku setelah potongan sandwich terakhir masuk ke mulutku. "Ya elu kan kadang gak bisa diprediksi kadang pulang cepet, kadang tengah malem." Katanya. *** Si Sahabat Surga terkadang memang selalu beruntung. Saat dia membutuhkanku herannya aku sedang tidak banyak pekerjaan. Seperti sore ini, aku benar-benar bisa lembur hanya sampai jam tujuh malam, jadi ketika dia memberitahukanku bahwa dia sudah berada di parkiran aku bisa langsung pulang tanpa berdrama dahulu di depan Mas Pandi. Luar biasa. Dari kantorku yang terletak di sekitaran Jalan Merdeka ke tempat tinggal Teh Keyra di Jalan Tongkeng, paling hanya membutuhkan waktu 30 menit saja di perjalanan, meskipun dalam keadaan macet. Jadilah, pada pukul delapan malam sesuai janji kami pada Teh Keyra, kini aku dan Randu bisa sampai di rumahnya. "Kalau kata teteh ya, kalian itu lebih cocok pake tema vintage rustic, soalnya kalian juga suka yang klasik terus pasangan unik, jadi lebih cocok, terus dipadu sama minimalis juga oke, gak usah banyak pernak-pernik, tetep oke kok." Katanya menjelaskan. Aku mendengarkan penjelasan dengan seksama, sementara Randu tengah anteng melihat-lihat beberapa wedding catalog. "Teh, kalau yang barusan teteh bilang di gedung oke juga kan?" Teh Keyra menoleh ke arah Randu lalu mengangguk mantap. "Oke kok. Gak masalah. Biar nanti dekornya pakai ranting-ranting kering, bunga-bunga putih sama lampu-lampu gitu, oke kok oke." Jawab Teh Keyra. "Seneng deh liat kamu semangat, Du." Tambah Teh Keyra. Randu menatap Teh Keyra lalu tersenyum saja. Iya dia memang semangat. Justru semangatnya inilah yang membuat aku semakin bertanya-tanya, ada apa dengan Randu sebenarnya? Apakah semua ini memang tulus dia lakukan? Atau dia melakukan ini juga sama denganku, terdesak paksaan orang tua untuk menikah? Entahlah! *** "Ada mampir-mampir?" aku menoleh saat mendengar pertanyaan Randu. "Mampir cari makan dulu ga?" Tanyanya mengulang pertanyaannya. "Mau ke Madtari, pengen pisang keju jabrig." kataku. udah kebayang dari beberapa hari lalu itu makanan, kejunya yang numpuk, susunya yang meleleh, ah pokonya enak banget. Madtari itu tempat nongkrongnya anak Bandung. Kayak kafe anak muda gitu tapi menu yang disediakan asli harga anak sekolah sama mahasiswa banget. Menunya juga dari yang ringan sampai yang berat ada. Tempat ini udah jadi tempat nongkrong wajib kalau buat aku sama Randu lagi pengen nongkrong sambil nyemil malem-malem. Ke kafe Madtari di sekitaran Jalan Tamansari hanya membutuhkan waktu paling lama 30 menit. Apalagi kalau malam Bandung tidak terlalu padat. Jadi tanpa perlu lama akhirnya kami sampai di sana. Mau weekend mau weekday, kafe ini tetap penuh. Pengunjungnya didominasi oleh para anak muda seperti mahasiswa dan pelajar. Meskipun ada beberapa keluarga juga yang sengaja datang untuk menikmati makanan. Aku memesan apa yang sudah menjadi idamanku sejak kemarin, pisang keju jabrig dan teh tarik hangat. Sementara Randu memesan indomie telor kornet sama lemon tea panas. "Lu mau resepsi kita di gedung apa tempat terbuka?" Tanyanya sambil menikmati makanan kami. Aku mendongak dan memberanikan diri untuk menatap Randu. Sejak dia melamarku, sumpah ya aku tuh jadi gak berani natap dia. Soalmya tatapan Randu sekarang lain. Tatapannya bikin degdegan loh, Bebs. Aneh banget. Padahal perasaan ku ya, ini perasaanku loh, tatapan dia yang sekarang sama yang dulu sama aja, Cuma gak tahu deh kok ada beda-bedanya kalau sekarang. "Ditanya malah bengong." Katanya sambil menggetok kepalaku dengan sendok bekas dia makan indomie. Sialan! "Sialan! Itu sendok bekas mulut lu by the way, jorok!" dia terkekeh lalu melanjutkan kegiatan makannya. "Du!" aku memanggil namanya. Seperti biasa dia hanya menjawab dengan deheman aja, bebs. "Lu beneran yakin mau nikah sama gue?" itu lagi pertanyaanku lo. Tahu deh udah berapa kali pertanyaan itu aku uatarakan. Abis sumpah penasaran mampus. Kenapa coba dia tiba-tiba mutusin buat nikahin aku, apa benaran tulus mau nikahin aku atau hanya karena kasihan padaku yang sudah putus asa karena dituntut untuk segera menikah atau ada alasan lain, cinta misalnya. Dan saat hal itu terlintas di pikiranku dengan segera aku memukul kepalaku agar berhenti untuk berpikir mengenai hal yang tidak mungkin. "Gue heran deh sama lu, Run. Kita udah tunangan dan persiapan kita juga udah mulai, masih aja nanyanya yang kayak gitu." Katanya sambil tak berhenti menyuapkan mie ke dalam mulutnya. "Lu gak capek nanya itu terus? Gue aja capek jawabnya." Katanya lalu menyelesaikan acara makannya dengan menyesap minuman miliknya. Sementara aku hanya mendengus saja untuk menanggapi perkataan dia. Kesel loh bebs, sama si sahabat surga. Kenapa sih jawabannya kayak mengandung misteri. Gak pasti gitu lo! "Udah gak usah cemberut gitu, lu jelek banget kalau cemberut!" Katanya enteng dan aku melempar garpu yang sedang ku pegang. Yakin banget deh kalau dia kaget karena Randu langsung menatapku tajam dan mengarahkan padangan ke beberapa arah. Malu kali ya takut ada yang merhatiin drama Aruna VS Sahabat Surga-nya. "Elu ya, Du, beneran ngelunjak. Gue Cuma nanya doang sama lu, gue Cuma minta lu jawab aja gak usah sambil ngatain gue. Gue emang jelek, beda sama mantan-mantan lu dulu yang cantik membabi buta, tapi gak usah lah pake ngatain gue, gue juga sadar diri." Kataku dengan d**a yang naik turun karena emosi. Aku berdiri lalu meninggalkan Randu yang sejak aku marah hanya diam dan menatapku saja. Kaget kali ya kenapa aku bisa semarah itu. Sama aku juga kaget, entah kenapa aku bisa sesensitif itu. Aku keluar dari kafe Madtari dan meninggalkan Randu yang sudah aku yakini pasti juga buru-buru membayar makanan kami. Aku terus berjalan menyusuri jalanan Tamansari sambil tetap berusaha memesan ojek online melalui ponselku. Padahal aku tahu, dibelakangku seseorang yang mengendarai mobil berwarna hitam beberapa kali memanggilku. Tapi aku tak perduli. Saat ojek online yang ku pesan datang aku langsung naik ke atas motor tanpa memperdulikan si sahabat b*****t yang emang kampret sekampret kampretnya. mau bilang kualat? Terserah ah, mumpung belum sah jadi istrinya jadi kurang ajar dikit mah gak apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN