Lamaran

2402 Kata
Sahabat Surga Run, balik jam berapa? Gue udah di bawah Refleks aku melirik jam yang melingkar di tanganku. Sudah menunjukan pukul 20.30. Cantika masih anteng dengan naskahnya yang memang akan turun cetak. Aku tinggal edit satu lembar lagi dan ACC. Me Bentar lagi, mw ACC dl naskah Lu balik aja, gue pake ojol Setelah selesai mengetik lalu mengirimkan pesan tersebut pada nama kontak yang masih sama Sahabat Surga dan sepertinya tak akan aku ganti sampai kapan pun, karena mau menikah atau tidak dengan dia, Randu Mahardika akan tetap menjadi sahabat surgaku. Sahabat Surga Ya udah gue tungguin Udah makan blm? Dari dulu sampai sekarang dia tak pernah berubah. Perhatian semacam menanyakan 'lu udah makan belum?' 'balik sama siapa?' 'mau gue jemput ga?' dan pertanyaan lain yang menurut kalian spesial dari pasangan ke pacarnya itu adalah standar buatku karena Randu memang seperti itu, saat statusnya masih sahabat aku hingga sekarang sudah berubah menjadi calon suamiku. Ya Allah masih geli inget dia sudah menjadi calon suamiku! 20.45 Akhirnya naskahku selesai juga. Setelah tanda tangan, lalu menandai naskahnya dengan tanda ACC besar-besar, dengan cepat aku menyerahkan naskah pada Diana lalu pamit. Saat sampai di luar, kulihat Randu tengah asyik mengobrol dengan Pak Jajang, satpam kantor. Sejak memutuskan untuk menerima lamaran Randu, aku malah jadi sering memerhatikan Randu. Memerhatikan penampilan Randu yang sederhana tapi kok selalu bikin gantengnya ampun-ampunan. Seperti malam ini. Dia Cuma pakai kaos oblong warna hitam, dipadu dengan celana pendek chino warna moca terus pake sandal jepit, tapi kok aku malah degdegan melihatnya. Mungkin aku memang sudah tidak waras, tapi ya memang inilah kenyataannya. Wajar gak sih? "Teh, editor masih pada ada di atas?" tanya Pak Jajang saat aku berdiri tepat di hadapan mereka. Sekilas aku melirik ke arah Randu yang ternyata sedang menatapku juga. Nah, nah kan ditatap Randu seperti ini saja hatiku malah ketar-ketir, tatapannya sekarang kayak beda aja, bukan kayak dulu. Hih! Sepertinya aku memang sudah tidak sehat. "Ada beberapa orang lagi sih, Pak. Cantika masih di atas, Teh Iin, Teh Dhea, Teh Ulan, sama beberapa lagi. Mas Pandi juga masih di atas." Jawabku menyebutkan teman-teman editorku yang memang belum pulang. Bulan ini naskah yang harus turun cetak memang cukup banyak. Aku saja sampai akhir bulan ini masih ada lima naskah yang targetnya harus turun cetak. Belum lagi beberapa naskah revisi. Tapi ya disyukuri saja, kalau sudah tidak ada naskah, itu tandanya aku tak ada pekerjaan lagi. "Ya udah Pak, kalau gitu saya duluan!" kKtaku. Randu pun berdiri lalu pamit juga pada Pak Jajang. Pak Jajang mengangguk. Aku dan Randu berjalan beriringan menuju parkiran yang memang posisinya cukup jauh dari pos satpam. "Makan dulu?" tanya Randu. Tangannya melingkar ke bahuku refleks aku langsung menoleh dan menatap tangan Randu yang melingkar. Dulu hal-hal seperti ini biasa buatku, tapi sekarang malah membuatku deg-degan. Ampun! "Mau nasi goreng mafia." Seruku. Randu terkekeh lalu tangannya kini malah mengacak rambutku membuatku berdecak kesal. "Hih kebisaan!" kataku menepis tangan Randu kasar dan dia kembali terkekeh. "Besok gak lembur kan?" Tanyanya saat aku sedang mencari posisi yang nyaman untuk duduk dan memasang sabuk pengaman. Aku menggeleng, "Jumat kan emang gak ada lembur, kenapa emang?" tanyaku akhirnya. "Kata Mama, lu mau nyari kebaya sendiri apa Mama yang cariin? Kalau emang mau cari sendiri, besok kita nyari." Katanya. "Nyari sendiri lah. Gila aja Mama yang nyari, nanti kebayanya malah selera mama bukan selera gue!" Seruku membuat Randu terkekeh lalu menstater mobilnya dan mobil pun mulai berjalan meninggalkan parkiran. *** Minggu pagi, semua terlihat sibuk. Kalau Mama mah emang sejak tahu Randu mau melamarku sudah sibuk sendiri. Sibuk menghubungi saudara-saudaranya, sibuk beli kue lah. Sibuk beli seragaman sama tante Indy lah. Justru aku sama Randu yang mau lamarannya malah santai saja. SahabatSurga Run, lu lagi ngapain? Gue mules masa, udah bolak-balik ke kamar mandi tapi gak keluar. Aku melongo saat membaca chat yang dikirimkan Randu saat aku keluar dari kamar mandi yang entah untuk keberapa kali. Hih, dia juga sama ternyata. Jadi yang gugup menghadapi acara sore nanti bukan aku saja, tapi Randu juga. Me Masa? Gue juga! Ini udah yang kelima kalinya tapi cuma nongkrong doang dong Saat menunggu balasan pesan Randu aku menoleh ke arah pintu dan ternyata Mama yang masuk sambil menyunggingkan senyum. Di belakang Mama ada Teh Keyra anaknya Tante Relis-- sepupunya Mama--. Tante Relis ini punya Galeri Rias pengantin, sementara Teh Keyra punya WO. Nah mereka berdua ini sama semangatnya sama Mama saat tahu aku sama Randu mau nikah. Malah Teh Keyra langsung kosongin jadwal di hari ini untuk menyiapkan lamaranku dengan Randu. Selain itu Teh Keyra juga dengan senang hari mengosongkan di bulan pernikahan yang sudah kami sepakati. Malah katanya buat aku mereka bakalan kasih diskon, sebagai hadiah pernikahan. Luar biasa memang. Seheboh itu ya mereka tahu aku mau nikah. "Teh, luluran dulu yuk!" kata tante Relis yang memang kulihat membawa nampan yang ternyata berisi perlengkapan luluran. "Hih tante, harus banget ya kayak ginian? Aku Cuma mau lamaran lo!" kataku protes meskipun tidak menolak juga ketika Mbak Keyra menyerahkan kemben untuk luluran. "Ya harus dong! Biar nanti Mas Randu kalinglap liat teteh!" kata Tante Relis yang diangguki oleh Mama dan Mbak Keyra. "Seneng banget deh pas tahu keponakan Tante yang cantik ini akhirnya lepas jomblo, kenapa bukan dari dulu ih kalau jatuhnya Randu juga?" aku tak tahan untuk tak memutar bola mata setiap kali ada orang yang mengatakan hal itu. "Ya, mana aku tahu si bambang tiba-tiba ngelamar aku!" kataku membuat mereka tertawa. "Hus! Gak sopan! Sopan dikit ih sekarang mah, Teh. Itu kan calon suami, gak boleh elu-gue lagi, harus lembut kalau ngomong." Iyain aja deh. Dianya juga masih gue-elu. Geli ah kalau pas lagi berdua aku-kamu-an. Tepat pukul empat sore, aku sudah siap. Barusan Randu mengabari kalau dia sama keluarganya udah otw ke rumah. Otw, tinggal lewat doang juga. Duh beneran asli geli deh, tapi kok malah degdegan. "Haaaaiiiiii!" nah, cabe-cabean masuk. Cuma dua lo mereka tapi suaranya udah bikin rusuh aja. Gak tahu apa aku lagi degdegan gini. "Wih! Elu cantik banget sih Run," kata Diana saat melihatku sudah rapih. Mbak Keyra nih yang oke dandaninnya, aku bisa cantik gini. Ya enggak buluk-buluk mata sih. "Pantes si Randu mutusin ngawinin elu, dia kayaknya gak rela kalau kecantikan elu dibagi-bagi sama orang lain. Hemmm, cowok dan keegoisannya." Masih kata Dina. Dibawah kudengar suara ramai. Pasti Randu dan keluarganya sudah datang. Ya ampun ini kok malah degdegan gini. "Eh, Run kayaknya calon suami lu udah dateng tuh." Kata Cantika yang kemudian berjalan ke arah jendela balkon kamar yang memang menghadap langsung ke halaman rumahku dan bersebelahan dengan kamar Randu. Jaman dulu ya, kami selalu ngobrol di balkon sampai tengah malam. Randu di balkon kamarnya dan aku di balkon kamarku ini. "Anjrit! Si Randu ganteng parah!" teriak Cantika lalu berjalan cepat menghampiri aku dan Diana yang duduk di atas ranjang. "Asli! Calon suami lu emang bukan kaleng-kaleng. Cakep bener! Ternyata bener cowok kalau pake batik lengan panjang gantengnya naik jadi beberapa kali lipat. Terbukti sama calon suami lu." Seru Cantika hiperbolis. Hih! ini kok malah tambah degdegan. Masa sih, jadi penasaran? Buru-buru aku membuka ponselku, mencari aplikasi w******p karena siapa tahu Randu sudah update di story w******p. Ternyata belum ada. Tapi kemudian aku melihat story Rindu yang ternyata memposting foto Randu. Dan ternyata apa yang dikatakan Cantika barusan benar sekali. Randu kelihatan lebih ganteng. Wadaw! Ini malah jadi tambah deg-degan. Randu deg-degan juga gak sih kayak aku gini? Aku menoleh ke arah pintu ternyata Teh Keyra yang masuk, "Yuk si Mas udah dateng!" Aku bergeming. Kakiku lemas, jantung deg-degan parah banget. Gini ya ternyata dilamar, deg-degannya gak tanggung-tanggung. "Hih, tegang gitu mukanya!" kata The Keyra membuat kedua sahabatku tertawa sementara aku berdecak. "Senyum ih! Si Mas-nya ganteng banget!" Katanya lagi. "Teteh ih!" Kataku lalu berdiri dan menggelayutkan tanganku ke lengan Teh Keyra dan mengikutinya keluar dari kamarku. Sementara Diana dan Cantika mengekori dari belakang. Saat sampai di tangga paling bawah, aku langsung digiring ke taman di belakang rumahku yang saat ini memang disulap menjadi tempat yang keren banget untuk sebuah acara lamaran. Kayak pesta kebun gitu loh, bebs. Kursi-kursi yang dibungkus dengan kain berwarna putih dibuat saling berhadapan. Ada meja panjang untuk prasmanan serta di dekat bale-bale di samping kolam renang ada sebuah stage kecil dengan bunga mawar putih yang disusun sedemikian rupa hingga terlihat begitu cantik. Kata Mbak Keyra nanti bisa digunakan untuk berfoto. Saat aku memasuki taman dan disambut dengan sapaan oleh Mas Candra suami Mbak Keyra yang bertugas menjadi MC sore ini, semua mata tertuju ke arahku. Termasuk Randu yang memang duduk membelakangiku. Buset beneran ganteng dong dia! Ya ampun tambah deg-degan! Aku kemudian di posisikan di samping Mas Candra oleh Teh Keyra tidak langsung dipersilahkan untuk duduk. Saking malu dan groginya aku tak berani mendongak, menunduk saja. Sementara aku tahu kalau dari tadi Randu tak berhenti menatapku. Dasar si sahabat b*****t kan emang! "Nah, Randu, di samping saya udah ada dua cewek cantik nih, yang mau kamu lamar yang mana? yang pake kebaya pink di sebelah saya atau yang di sebelahnya, yang pake kebaya mocca?" tanya Mas Candra yang membuat riuh tawa semua keluarga yang hadir terdengar. Dih! Receh amat Mas Candra becandanya. Membuat aku mendelik ke arahnya. "Ya ampun, Du. Ini cewek yang sebelah udah mendelik aja, cepet jawab dong yang mana?" kata Mas Candra dan kembali terdengar tawa dari semua yang hadir sore ini. Kulihat Randu berdiri, meraih mikrofon yang diserahkan Arya padanya. "Yang pake kebaya Pink, Mas. Tapi yang kebaya mocca boleh juga!" jawabnya sambil terkekeh. Membuat semua tamu kembali tertawa. "Wah! Kalau yang pakai kebaya moca jangan, itu punya saya soalnya!" Kata Mas Candra terkekeh. Lalu Teh Keyra menggiringku untuk duduk di tempat yang sudah disediakan. Di sebelah mama dan papa, persis berhadapan dengan si sahabat surga yang sebentar lagi jadi calon suami. "Tadi sambutan dari kedua belah pihak keluarga dan orang tua masing-masing sudah. Dan tujuan datang kemari juga sudah jelas mau melamar Aruna menjadi istri Randu, tapi jika memang ada yang ingin disampaikan secara langsung oleh Randu pada Aruna, silahkan!" kata Mas Candra mempersilahkan. Randu mengangguk lalu kembali berdiri. Aku pun diperintahkan berdiri, hingga kini kami saling berhadapan. "Run!" katanya tapi kemudian terkekeh membuat keluarga kami tertawa. "Gue, eh aku deg-degan nih!" dan keluarga kami kembali tertawa. "Mau gue elu juga gak apa-apa, Du. Santai aja, asal jangan pas akad nikah aja pake gue elu!" Celetuk Mas Candra yang membuat tawa semuanya kembali terdengar. Randu pun terkekeh. "Pake aku kamu aja, Mas. Biar jadi kebiasaan." Katanya sambil terkekeh lagi. Ini acara apaan sih? Lamaran apa stand up, kok malah ketawa-ketawa terus? "Run, kita udah kenal lama kan ya? udah lebih dari dua puluh tahun." Aku mengangguk mersepon kata-kata Randu. Dia terkekeh lagi. "Aku inget banget waktu pertama kali kamu pindah, kamu masih empat tahun sedangkan aku dulu udah kelas 1 SD. Semenjak kamu pindah sumpah waktu itu aku keganggu banget, karena tiba-tiba aja ada bocah perempuan yang usianya sama kayak adik aku justru malah ngintilin aku mulu, apa-apa gue, apa-apa gue. Bukannya maen sama Rindu atau Rinda justru kamu malah milih maen sama aku, gitu terus sampai akhirnya aku biarin aja deh, terserah maunya kamu. Sampai akhirnya justru aku yang ngerasa bahwa ketemu kamu, becanda sama kamu, ketawa bareng kamu, nongkrong di balkon kamar kita masing-masing sambil ngobrol semalaman malah jadi candu buat aku, dan itu terus berulang sampai sekarang." Ya ampun! Kok aku malah terharu sih dengar omongan si sahabat surga. Sekarang bukan cuma jantung yang bersikap tidak santai, tapi air mata juga mulai tidak santai. "Run, waktu mutusin buat ngelamar kamu, sumpah rasanya kepalaku mau pecah. Saking pusingnya. Dan bukan Cuma kamu aja yang geli aku juga sama geli, apalagi inget bahwa status kita beberapa bulan lagi bakalan berubah, sumpah geli!" Dia kembali terkekeh dan yang lain pun ikut tertawa. "Lu udah pernah liat gue solat istikharah belum?" Katanya. Aku menggeleng, nah dia malah ketawa mungkin sadar bahwa dia sulit menghilangkan sapaan lu-gue di antara kami saking sudah biasanya. "Nah, minggu lalu itu gue istikaharah, buat apa coba?" Aku menggeleng "Ya buat memantapkan hati gue ambil keputusan dan akhirnya setelah solat itu, jawabannya adalah gue harus lamar elu!" "Jadi__ Aruna Pradasari, aku Randu Mahardika yang kata kamu adalah sahabat surga kamu, meminta sama kamu, mau gak kalau kamu menikah sama aku? Benar-benar menjadi sahabat dunia dan akhirat kamu, sama-sama menjalani hidup, mulai jadi orang yang aku lihat saat bangun dan mau tidur lagi. Menjadi sahabat di kala aku susah ataupun senang, ya meskipun itu udah kita lakuin sejak kita masih bocah, tapi yuk kita realisasikan bener-bener dalam menjalani rumah tangga!" Ya ampun! Si Sahabat Surga kok manis banget sih? Apa dia sebelum kesini kebanyakan makan gula kali ya? manisnya kebangetan. "Run, Gue__eh keceplosan lagi tapi gak apa-apa ya gue elu aja?" Kini malah aku yang tertawa. "Run, kayak yang gue bilang kemaren, gue udah males cari pacar, gue udah males PDKT, gue nyaman sama elu, sama elu gue gak usah PDKT lagi, apalagi akting jadi cowok baik-baik depan calon mertua, karena nyokap bokap lu udah tahu sejak gue burik sampe gue ganteng kayak gini!" Katanya terkekeh lagi. Dan aku pun tak tahan untuk tidak tertawa. "Jadi sekali lagi, Aruna Pradasari, mau kan nikah sama gue? Ngabisin sisa hidup lu sama gue, sahabat surga elu?" katanya. Arya berdiri, lalu menyerahkan satu mikrofon padaku, dengan cepat aku meraihnya. Sebelum berbicara dan menjawab semua pertanyaan dia, aku berdehem, biar pas jawab suaraku tak bergetar, bebs. "Hai!" bodohnya aku malah mengatakan kata itu sambil melambai ke arah Randu, membuat dia terkekeh dan yang lain tertawa. "Du, eh Mas Randu, kata mama gue udah harus ngebiasain gitu kalau lagi berdua, bukan cuma pas depan mereka aja." Kataku. Randu dan yang lain tertawa. "Pas kemaren tiba-tiba kamu ngajakin nikah, sumpah ya kaget, geli, dan gak tahu perasaan apa lagi di hati aku. Pokoknya udah kehilangan kata-kata aja saking kagetnya." Kataku. "Tapi ya seolah udah gak ada pilihan lain aja gitu, dari jaman aku kecil sampai sekarang udah cantik banget gini juga ya pilihan terakhirnya ya kamu lagi kamu lagi." Semua tertawa lagi, begitu juga dengan Randu. "Jadi, Randu Mahardika, aku Aruna Pradasari dengan sadar menerima kamu untuk menjadi suami aku, benar-bena jadi sahabat surga-nya aku, kita sama-sama menghabiskan sisa hidup kita bersama, pokonya ya gitu deh, intinya ya Bismillah ... aku terima kamu!" Kataku mantap hingga terdengar riuh dari semua orang yang hadir mengucapkan kata Alhamdulillah. Begitu juga dengan Randu terlihat menggumankan kata alhamdulillah. Bismillah. Semoga keputusanku dan Randu ini adalah keputusan yang paling baik dan terbaik. Aamiin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN