Waktu berjalan begitu cepat, hingga tanpa terasa pernikahanku dan Randu sudah berjalan hampir enam bulan. Kami masih tinggal di rumah mama. Bukan kami tidak mau pindah, justru aku dan Randu sebenarnya sudah tidak enak masih tinggal menumpang di rumah mama, padahal dari segi keuangan kami cukup mapan untuk membeli rumah. Dengan cara mencicil atau cash Randu bilang ada uangnya dan sudah cukup. Tapi ya, gitu. Yang rewel bukan aku yang notabene seorang perempuan. Ya biasanya kan gitu, kita perempuan lebih rewel, pengen rumah yang sesuai dengan impiannya. Justru kalau aku terbalik, justru Randu lah yang rewel. Dia masih galau antara membeli rumah jadi atau membeli tanahnya. Awalnya dia mau membeli kavling saja agar rumah bisa sesuai dengan keinginan kami. Belum lagi Randu kan seorang arsitek

