Di meja makan, Elara memperhatikan tangan Zian yang terluka. Dia menarik tangan Zian lalu melihatnya dengan seksama, luka itu seperti baru dan bahkan tangan Zian berkerak seperti bekas semen. Zian menarik tangannya lalu berdehem, ia mengalihkan perhatian dengan mengambilkan makanan di piring Elara. "Tanganmu kenapa, Mas?" tanya Elara. "Sayang, makan dulu! Dingin tidak enak." Elara menarik tangan Zian sekali lagi namun Zian beralasan jika terjatuh saat berangkat bekerja naik motor. Elara heran, tumben sekali Zian naik motor biasanya ia memilih naik mobil. "Aku obati, ya?" tanya Elara. "Makan dulu, Sayang! Ini luka kecil." Zian mengambilkan lauk lagi untuk istrinya dan mata Elara masih tertuju pada tangan Zian. Elara tak percaya begitu saja, pasti ada hal yang di sembunyikan oleh Zia

