Zian dan Elara menikmati bubur kacang hijau hangat. Elara meniupnya perlahan, baru kali ini ia keluar sampai tengah malam dengan pria yang sudah dianggapnya suami. Suapan demi suapan masuk ke mulutnya tetapi tiba-tiba Zian menyuapkan pada mulut Elara. "Malu dilihat orang," bisik Elara. "Cepat! Tangan mas capek jika terus begini," jawab Zian. Elara pada akhirnya mau disuapi oleh Zian. Dia terlihat malu-malu namun sangat mau. Suapan demi suapan habis sampai tak tersisa. Melihat jam yang kini menunjukan pukul 1 malam mereka memutuskan untuk pulang. "Pak Burhan, kami pulang dulu. Ini uangnya. Sisanya buat bapak saja," ucap Zian meninggalkan uang 50 ribu di meja. "Okeee Bang Zi, semoga rezeki lancar." Zian dan Elara masuk ke mobil, dengan langkah mengantuk Elara nampak terhuyung namun sa

