Setelah sampai di tempat kost sore hari, Tian mempersilahkan masuk kedua tamunya. Zian dan Elara masuk ke kost Tian yang sangat rapi walau tempat itu kecil. Tian menghidupkan kipas angin supaya mereka tidak kepanasan dan memberikan air putih. Ya, hanya itu yang ia punya. Zian dan Elara tak masalah, justru menenggaknya sampai habis tak tersisa. “Tian, Paman sudah menelpon pihak sekolahanmu. Mereka sudah kami beritahu jika kau sudah sampai rumah dengan selamat dan menjelaskan kronologinya supaya kau tidak terkena marah oleh mereka.” “Terima kasih, Paman.” Elara lalu memberikan tas belanjaan untuk Tian yang berisi baju dan ponsel untuknya. Tian enggan untuk menerima karena selama ini mereka sudah baik padanya namun Elara tetap memaksanya untuk menerima jika tidak ia akan marah. Elara memel

