"Awas kamu Dipta, aku ingin membunuh perempuan itu." Tiara terus memberontak agar tangannya terlepas dari cengkramanku. "Bu Tiara." Kami semua menoleh ke arah sumber suara. Dua orang laki-laki berseragam kepolisian berjalan ke arah kami. "Le–pas, Dipt! Ce–pat lepasin aku, sebelum mereka di sini!" Tiara memohon dengan wajah sendunya. "Ck, tidak akan. Penjara adalah tempat yang paling pantas untuk penjahat sepertimu." Cengkramanku semakin erat, hingga akhirnya dua polisi itu sudah berdiri tepat di depan kami dan mengambil alih semuanya. Tangan Tiara langsung diborgol, meski wanita itu terus memberontak. "Lepasin saya, Pak! Saya tidak bersalah. Apa bapak tidak lihat barusan, dia yang mencoba menyakiti saya!" kilahnya. Ternyata mulut berbisanya masih berfungsi dengan baik dalam mem

