bocah dengan iris hitam yang berbinar, seraya menunjuk ke arah dahan pohon. Kenzo kembali ke posisi semula. Pandangannya tertuju pada pria kecil. Senyum yang indah, seindah milik wanitanya. Sungguh menggemaskan. Dia paham betul siapa jagoan cilik itu. Nanar Kenzo menatap. Tak ada kata yang bisa terucap untuk menyambut putranya. Hanya senyum lebar yang mewakili seluruh kebahagiaan yang terasa. Kenzo merendahkan tubuhnya agar setara bocah berambut cokelat itu. "Bagaimana kalau kamu yang mengambilnya sendiri?" ucap Kenzo seraya membopong raga mungil putranya. Jemari Kenzo tanpa sengaja menggelitik pinggang bocah enam tahun itu. Dia terbahak. Suara kecil yang menyenangkan. "Kamu bisa meraihnya?" tanya Kenzo, sambil mengangkat putranya lebih tinggi. "Na'am!" serunya riang saat balon kembal

