Chapter 17. First Blood

1392 Kata

Dia masih di sana. Memandang rumah-rumah yang dibangun secara gotong royong, di mana kerukunan dan keakraban terjalin di masa itu, telah diledakkan oleh lemparan granat yang entah berapa banyak jumlahnya. Semua kenangan masa kecilnya akan lenyap dan terhempas angin malam serta hujan. Keinginan untuk mengubur jasad Yuna dengan layak pun sepertinya tak bisa diraih. Bocah-bocah kecil dan bayi yang tak berdosa, bagaimana bisa mereka juga melenyapkannya. Manusiakah? Atau iblis yang telah berwujud manusia? Remaja itu beranjak dengan dendam kesumat yang memenuhi semua sisi hati. Dia tak ingin tertangkap dan membiarkan dendam itu menguap. Tentulah dia harus bertahan dan tetap hidup agar bisa melacak jejak orang-orang itu serta melenyapkan mereka nanti. Kini langkahnya berbeda. Tak lagi berlari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN