Adira Azzahra terlahir di keluarga harmonis. Kehidupannya yang tak jauh dari agama, menjadikan Zahra sebagai gadis yang santun dan taat beribadah. Lantunan ayat suci Al-Quran yang mengalun lewat suara merdunya, menjadi kado istimewa untuk kedua orang tua. Mereka bangga atas pencapaian gadis belia itu.
Zahra begitu mengagumi sang ayah. Kejujuran dan kejelian beliau dalam menyelesaikan setiap kasus, selalu berhasil membuatnya terkesima. Berulang kali hakim itu menolak suap dari keluarga tersangka. Namun, keberanian dan rasa takutnya kepada Allah menjadi awal dari mala petaka.
Sore itu, Zahra membantu menyiapkan kebutuhan Pak Fajar yang hendak keluar kota. Bersama bundanya, dia mengangkut satu per satu perlengkapan yang akan dibawa ke dalam bagasi mobil.
"Zahra, laptop ayah mana, ya?" Lelaki itu sengaja meminta sang anak agar kembali masuk ke rumah. Dia butuh waktu untuk sekadar mengecup kening istri tercinta.
"Zahra cari di dalam, ya, Yah.” Gadis itu berlari cepat mengingat waktu keberangkatan yang mendesak.
Dengan terburu, Zahra menaiki anak tangga. Tak peduli jika nantinya harus terperosok jatuh akibat kecerobohannya.
"Ayah!" Pekikan Bu Dayu—ibu Zahra—menghentikan langkah cepat Zahra.
Detak jantung gadis itu serasa terhenti seketika. Nalurinya berteriak, ada yang tak beres. Itu yang diyakininya. Teriakan bunda, bukanlah hal yang biasa terdengar di rumah. Seakan-akan ada ketakutan di dalamnya. Zahra memutar arah, kembali bergerak cepat melebihi sebelumnya.
Setibanya di teras, mata bulat gadis itu terbelalak kala mendapati kedua orang tuanya telah bersimbah darah. Mereka tergeletak di teras rumah dengan kedua tangan yang saling bertaut.
"AYAH! BUNDA!" teriak Zahra kencang.
Air matanya mengalir sederas Niagara. Dia hancur dalam sekejap. Terasa cabikan yang kuat merobek hatinya. Di usia remaja, dia menyaksikan kedua sosok—yang paling disayanginya—menghembuskan napas terakhir, tanpa pesan.
"Ayah, bangun! Bunda!"
Berulang kali gadis itu mencoba menyadarkan keduanya dengan panggilan, tepukan di pipi, goyangan bahkan pukulan di d**a, berharap organ vital kedua insan itu kembali berdetak. Namun, semuanya sia-sia. Zahra tak memperoleh respons apa pun.
“Tolong! Tolong! Ayah! Bunda! TOLONG!” Dia kembali menangis, lebih keras. “Siapa pun ... tolong panggil ambulans. Tolong!” jerit tangis gadis itu.
Namun, siapa yang akan mendengarnya? Kawasan perumahan elite yang jauh dari tetangga, menjadi penyesalan kala peristiwa seperti ini terjadi. Pagar tinggi yang mengelilingi bangunan berlantai dua itu, juga menjadi sebab tak adanya orang yang mengetahui, apalagi menolong.
Setelah beberapa lama, Zahra menguatkan diri untuk beranjak, mencari seseorang yang mungkin bisa menolongnya dan memberi penjelasan atas kejadian itu.
Dia berjalan perlahan menuju kursi kemudi. Lagi, gadis itu harus bertemu dengan sosok tak bernyawa. Sebuah peluru menembus kaca depan mobil, meninggalkan lubang dan bercak darah di sana. Benda kecil yang terlepas dari selongsongnya, mengena tepat di dahi Pak Yanto, juru kemudi keluarga Zahra.
"Tidak!" Zahra kembali memekik, selantang yang dia bisa. Ketakutan menyeruak dalam sanubari. Zahra tak lagi mampu menopang tubuhnya yang terus melemah. Jatuhlah dia di ubin nan kasar. Meringkuk, memeluk erat kedua lututnya yang bergetar.
Kesedihan yang mendalam, membuat Zahra menangis tanpa suara. Air bening meluncur bebas melewati garis pipinya, membasahi hijab yang berlumur darah. Merah, anyir, cairan yang ingin sekali dia kembalikan ke dalam tubuh orang tuanya.
Lama dia menanti hingga datanglah seorang wanita, pengendara Pajero, yang melintas dan tanpa sengaja melihat kondisi mengerikan itu. Di bergegas menghubungi polisi dan ambulans.
Kasus bergulir. Namun sayang, polisi tak mampu berbuat banyak. Minimnya bukti dan saksi, lagi-lagi menjadi alasan untuk menutup kasus yang tak bisa terungkap. Zahra hanya bisa pasrah. Murid SMA itu bisa apa?
***
Tiga tahun berlalu. Namun, peristiwa itu tak pernah terhapus sedikit pun dari ingatan Zahra.
Walau kini hanya sebatang kara, dia harus tetap meneruskan sisa umurnya. Melantunkan doa untuk kedua almarhum orang tuanya dan juga untuk pelaku, agar terbuka mata batinnya meski hanya sekadar meminta maaf.
Gadis bercadar itu berjalan perlahan menuju kediamannya yang berjarak seratus meter. Andai saja motornya tak rusak, mungkin dia tidak akan jalan kaki hingga sejauh ini dan mendapatkan godaan dua lelaki hidung belang itu.
Namun, dia bersyukur. Atas kehendak Allah, dia dipertemukan dengan sang Penolong. Sesosok pria yang bersembunyi di balik helm biru dan motor sport itu tak lagi asing baginya.
"Alhamdulillah, tetanggaku ternyata orang yang baik. Lindungilah dia, ya, Allah seperti dia yang telah melindungiku!" ucapnya.
***
Suara knalpot motor terdengar menderu melewati rumah Zahra. Membuatnya bangkit dari rebahan. Baru saja dia mencoba untuk memejamkan mata. Namun, suara itu bak lolongan di tengah hutan belantara.
"Astagfirullah hal ‘Adzim," ucapnya sembari mengelus d**a.
Zahra menyalakan lampu tidurnya, mengintip jam waker yang tegak berdiri di nakas. Jarum jam masih menunjukkan pukul 10.30 malam.
"Ah, tumben jam segini sudah pulang."
Zahra seolah mengetahui jadwal keluyuran penghuni rumah berlantai dua di sampingnya. Suara motor biasanya terdengar lewat tengah malam, saat dia sedang menunaikan sholat sunah dua rakaat atau bahkan saat azan subuh berkumandang.
"Ah, sudahlah. Mungkin aku yang salah menafsir," ucapnya. Lalu, dia pun kembali merebah. Menarik selimut hangat peninggalan almarhum bundanya.
Tinggal sendiri dalam rumah yang dingin. Tak menyudahi rasa syukur Zahra kepada Sang Pencipta. Walau harta peninggalan kedua orang tuanya telah dihambur-hamburkan oleh paman dan bibinya—yang kini hilang entah ke mana—dia tak pernah marah berlama-lama. Zahra yakin, semua yang dialami adalah pilihan terbaik dari Allah untuknya.
Andai rumah mewah itu masih ada, mungkin ia tak kan bisa tenang untuk tinggal di dalamnya. Ada kenangan yang memilukan. Allah tak tidur, melihat kesabaran Zahra, rezeki datang menggantikannya dengan beasiswa di Fakultas Hukum hingga semester akhir.
Ketelitian dan kecerdasan yang dia miliki, memancing seorang dermawan untuk membiayai kuliahnya. Mungkin salah satu bakat yang diwarisi dari sang ayah.
***
Zahra melangkah secara perlahan menyusuri anak tangga berkeramik putih. Tampak dalam jarak pandangnya, Fajar dan Dayu sedang asyik bersenda gurau berteman televisi yang menyala.
"Zahra," sapa Fajar.
Senyum keduanya sangat menyejukkan hati siapa pun yang memandangnya. Begitu teduh dan penuh kasih sayang.
Seorang pria misterius--dengan wajah bertopeng dan pakaian yang serba hitam--tiba-tiba memasuki ruang. Dengan cepat, dia meraih pistol yang terselip di balik jaket gelapnya.
DOR ... DOR
"Ayah! Bunda!"
Zahra terbangun dengan peluh di sekujur tubuh. Napasnya tersengal.
Sekian tahun peristiwa itu berlalu, entah mengapa malam ini datang menghantuinya. Perasaan tak nyaman merasuk, melewati relung hati. Menyesakkan!
Zahra bangkit dari ranjang. Degup jantungnya terasa keras. Gadis itu tak henti beristigfar dan berzikir menyebut nama Allah. Berharap kembali mendapat ketenangan segera.
Dengan kedua tangan, Zahra mengusap wajahnya. Mengikat rambutnya yang panjang dengan cepat, lalu melangkah menuju wastafel di bagian paling belakang rumah kecil itu.
Dia terdiam sejenak sebelum akhirnya mengambil wudhu dan melaksanakan sholat tahajud.
Di sujud terakhir, dia terhenti. Tubuhnya terasa berat untuk berdiri. Air mata terjatuh membasahi sajadah, setetes demi setetes tak kuasa dia tahan.
"Ya Allah, ampunilah dosa kedua orang tuaku! Dan terimalah mereka dalam surga terindahmu!" ucapnya lalu bangkit.
Dia mengakhiri sholat sunahnya dengan zikir dan membaca beberapa ayat Al-Quran hingga azan subuh berkumandang. Aktivitas kecil yang selalu dia jaga ke-istiqomah-annya.
"Alhamdulillah," ucapnya penuh syukur.
Setelah menutup Kitab Suci Al-Quran, Zahra meletakkan kitab di antara susunan buku lain dalam rak. Almari tanpa pintu itu penuh dengan buku tebal dari kampus. Ada satu ruang kosong yang dihuni pigura berukuran 4R. Senyum indah kedua orang tua Zahra terabadikan dalam bingkai perak.
Setelah mengelus tepian pigura, Zahra melipat sajadah, mengusap jalur basah di pipi yang kembali tercipta. Kemudian, dia melangkah menuju surau.
Dia tak lagi peduli dengan pandangan orang yang setiap hari menatapnya sinis. Tak sedikit pula yang menggunjing.
Hidup sendiri, jangan-jangan dia sedang merakit bom.
Dia Islam aliran apa, sih? Yang sesat itu, ya.
Masih muda, kok, penampilan kayak emak-emak, cih.
Apa enggak gerah?
Dan banyak lagi yang lainnya. Zahra sudah kebal dengan semua itu. Awalnya, cadar hanya sebagai penutup identitasnya dari sang pembunuh. Keputusan itu diambil, karena dia yakin pelaku masih mengincar dirinya.
Namun, setelah beberapa kali memakainya, Zahra makin merasa nyaman. Dia seakan terlindungi dari pandangan lelaki. Sejak memakai cadar, hatinya pun terasa lebih tenang. Beruntung pula, dia bertemu dengan Ummi Aqila yang meneguhkan niatnya untuk tetap memakai cadar.
"Zahra, kamu kenapa pagi ini? Kok, kelihatan murung?" Suara lembut Ummi Aqila, menyadarkannya dari lamunan.
"Ummi." Zahra memeluk wanita disampingnya seketika.
Wanita paruh baya yang tinggal beberapa blok dari rumah Zahra itu, telah dia anggap seperti ibu sendiri. Sebagai penuntun dan tempatnya meluapkan segala keluh kesah. Ummi Aqila pun tak pernah ragu untuk menerima Zahra. Gadis malang yang memiliki hati bersih dan tulus. Ia suka.
"Ada apa? Ayo, cerita sama Ummi!" ucap Ummi Aqila yang langsung mengambil tempat di samping Zahra.
"Semalam Zahra terbangun oleh mimpi buruk, Ummi."
"Zahra, mimpi buruk itu hanyalah sebatas godaan setan. Kamu enggak usah khawatir, hem."
Gadis itu mengangguk pelan, lalu beristigfar. Hampir saja pikiran negatif mempengaruhinya akibat mimpinya semalam. Tatapan lembut dan hangat Ummi Aqila, menenangkan hatinya yang gelisah. Dirinya yang kehilangan arah, kini kembali pada jalurnya.
***