Sang fajar merangkak naik dari persembunyian, menyapa semua makhluk indah penghuni bumi. Zahra melangkah meninggalkan masjid, yang berada di tengah pemukiman. Di antara semua kompleks perumahan, entah mengapa hanya dua rumah yang tampak menyendiri di ujung jalan blok FF. Rumahnya dan rumah sang Super Hero. Kedua bangunan itu jauh dari tetangga yang lain dan berbatasan langsung dengan jalur tol di sisi barat.
Rumah sederhana yang berdiri di lahan tiga ratus meter persegi ialah satu-satunya warisan dari nenek Zahra. Dia menempati hunian itu setelah semua harta sang ayah dihabisi pamannya. Rumah itu memiliki pelataran yang luas. Halaman depan maupun belakang ditumbuhi rumput hijau dan rindang. Pohon mangga tumbuh subur di sana. Tak ada pagar, hanya deretan bunga yang jadi penanda batas, kecuali sisi kiri rumah itu. Tembok setinggi dua meter berdiri kokoh bak benteng istana. Dinding itulah merupakan dinding pemisah antara rumahnya dengan milik Kenzo.
Sepagi ini, Zahra sibuk di dapur. Sebagai ucapan terima kasih sekaligus permintaan maaf, dia akan membuat kudapan sederhana. Dia tak tahu apa yang disukai pria itu. Sambil mengolah adonan, dia berdoa semoga apa yang hendak dia berikan terlihat pantas.
"Alhamdulillah selesai."
Senyum simpul menghiasi wajah Zahra. Enam buah donat telah terhias cantik, bersanding dengan donat-donat lain yang belum berwarna. Begitulah kesibukan Zahra selama ini. Untuk bertahan hidup, Zahra berjualan donat kentang secara online. Ada pula yang dia titipkan di beberapa kedai, termasuk milik Kenzo.
Usai melangkah ke luar halaman, dia dekati rumah Kenzo secara diam-diam. Sambil menengok kanan-kiri, dia terus berjalan menuju rumah berpagar putih. Rasa khawatir akan gerbang yang mungkin terkunci membuat Zahra sempat ragu melangkah. Dia diam sejenak di depan pagar. Kemudian, Zahra memindah kotak donat ke tangan kiri, sementara tangan yang lain membuka barisan besi.
Zahra terkejut ketika mendengar suara derit. Dia pikir, itu berasal dari dalam rumah. Namun, ternyata suara itu tercipta dari pergesekan engsel pagar.
Ow, apa dia tidak pernah menguncinya? Atau, mungkinkah dia sedang keluar? pikir Zahra. Dia bersyukur jika itu benar. Setidaknya, aksi diam-diamnya tidak akan kepergok.
Setelah melewati pagar, Zahra kembali mengamati bangunan itu. Dinding bercat putih dengan variasi hitam dibeberapa bagian. Dia teliti setiap sudut halaman, garasi, lalu memandang ke jendela besar di teras. Tidak ada pergerakan yang ditangkap indra penglihatannya. Setelah diyakini aman, gadis bercadar itu kembali memberanikan diri masuk lebih jauh. Sambil berjalan, dia menyayangkan taman di sisi kiri. Ruang kecil itu bagai lapangan golf mini, hanya ada rumput tanpa bunga barang satu pot.
"Apa gunanya ada taman jika tidak dihias? Apa dia tinggal sendiri di rumah sebesar ini?" gumam Zahra.
Setelah meletakkan kotak berukuran 30 x 20 sentimeter di meja teras, Zahra bergegas pergi. Dia tak ingin dibilang pencuri dan akan sangat malu jika bersua dengan pria itu.
***Di lain tempat, dari monitor pengawas, Kenzo mendapati aksi penguntit yang sangat amatir. Betapa bodohnya wanita itu hingga tak menyadari ada banyak CCTV yang merekam gerak-geriknya. Ceroboh!
Namun, tingkah gadis berkerudung maroon itu cukup membuat perutnya tergelitik. Dia tak menyangka, seorang gadis pingitan bisa melakukan tindakan terlarang.
Kenzo sengaja membuka gerbang lewat salah satu tombol di hadapannya. Mata lelaki itu tak lepas dari layar berukuran tiga puluh inci hingga wanita itu menginjak teras. Sesekali, garis senyum tergambar di wajahnya. Sayang, kelucuan pagi ini hanya sebentar. Kepergian wanita misterius meninggalkan tanya.
"Apa yang dia letakkan di sana? Kotak yang manis. Pink? Ah, sial! Itu warna yang menjijikkan. Tapi, dia gadis yang cukup berani."
Masih membekas dalam benaknya akan peristiwa semalam. Pemikiran negatif pun mengiringi langkahnya menuju teras rumah. Sesampainya di teras, Kenzo tak langsung mengambil pemberian gadis itu. Dia mengamati kotak; warna merah muda bertuliskan 'Selamat Menikmati' di bagian atas dan beberapa gambar cupcake. Seutas senyum terbit di wajahnya. Dia tersenyum, lalu membukanya.
Susunan donat dengan topping warna-warni, tampak lezat baginya. Ada potongan strowberry, cerry dan susunan huruf yang terbuat dari buttercream, THANKS.
"Manis sekali," gumamnya bersama senyum lebar.
Dengan tangan kanan, dia meraih salah satu di antaranya, lalu menggigit kudapan itu dengan santai. Dia menyukai pemberian gadis itu, yang menurutnya tidak terlalu manis. Kenzo lantas membawa serta sarapan paginya ke bilik kerja.
Kenzo kembali menaiki anak tangga seraya menjaga keseimbangan kotak di tangan. Dia tak ingin dessert lezat itu berantakan. Menikmati makanan yang acak-acakan, baginya seperti melihat tumpukan sampah. Selera makan akan lenyap, dan tentu saja makanan itu akan terbuang percuma.
Ruang redup yang didominasi warna gelap, terbuka. Meja kerja dengan kursi mewah, rak setinggi dua meter yang penuh dengan buku fiksi maupun non fiksi, dan tiga layar monitor yang berjejer di depan meja.
Kenzo meletakkan sekotak donat di samping keyboard, lalu menjatuhkan bobotnya di kursi putar. Ketika dia hendak melahap potongan donat, denting lirih terdengar dari laptop. Tanda ada surel masuk ke alamat emailnya. Satu klik membuka isi pesan tanpa nama. Terlihat sebuah lampiran: foto seorang pria botak berjanggut, data diri, dan lokasi pembunuhan.
"Profesor Hamka, 65 tahun. Anggota parlemen dan juga aktivis lingkungan. Selasa, 6 Februari, Universitas? Apa-apaan ini? Dia mau aku melakukannya di tempat umum? Tiga miliar. Wow, angka yang fantastis untuk sebuah nyawa. Dia pasti manusia yang mengerikan. Aku akan mengiyakannya setelah--"
Sebuah notifikasi dana masuk ke akun PayPal milik Kenzo. Tepat sepuluh angka, diawali oleh tiga dan sembilan nol yang berjejer rapi di belakangnya.
Lelaki itu pun terkekeh. Angka yang memanjakan mata, membuatnya terlupa akan risiko misi. Kenzo menyandarkan punggungnya sembari melumat habis sisa donat di tangan.
***
Suasana hati Kenzo serupa mentari pagi ini. Matanya bersinar, jauh berbeda dari biasanya. Dia seperti orang lain.
Mengawali hari, lelaki berparas tampan itu ingin melakukan olahraga kecil. Kenzo jongkok di depan rak sepatu. Dari puluhan alas kaki, lelaki itu memilih sneakers putih sebagai teman joging.
Ketika pintu terbuka, udara segar menyapa dan menyelinap ke dalam organ pernapasannya. Kenzo mulai berlari kecil di halaman dan berlanjut keluar gerbang. Entah apa yang menggiring lelaki itu melakukan hal yang tak pernah dilakukan. Di tengah perjalanan, netranya menangkap bayang wanita bercadar yang bergelut dengan rumput liar.
"Hei ... hei!" Hanya panggilan itu yang dia bisa. Dua tahun bersanding, tapi tak saling mengenal satu sama lain. Terdengar aneh, tetapi begitulah mereka. Keduanya sama-sama menutup diri dan mereka punya alasan untuk itu.
"Hei, Ninja!" Entah panggilan atau olok-olokan.
Sebutan yang cukup akrab di telinga Zahra. Gadis itu pun memutar pandang, mencari sang pemilik suara. Seorang pria berkaus tanpa lengan dan celana pendek selutut, berdiri di trotoar.
"You welcome," ucap pria itu, yang lantas pergi setelah menebar pesona.
Zahra melongo dan membeku di saat yang sama. Sia-sia sudah dia berlagak seperti pencuri ayam. Namun, tak dipungkiri ada kebahagiaan dalam hatinya. Setelah sekian lama, untuk pertama kali dia mendengar sapaan dari tetangga terdekat. Obrolan yang singkat dan membekas. Zahra kembali menundukkan pandangan seraya beristigfar akibat kekaguman yang terbit di hati.
***