Chapter 4. Seputih Salju

1181 Kata
Hari semakin terik, dengan beberapa tumpuk kotak plastik—yang terikat rafia—Zahra berjalan menuju gerbang perumahan. Di samping pos satpam, dia menunggu angkot yang hendak membawanya ke kampus. Tak ada jadwal kuliah hari ini. Namun, kegiatan seminar yang akan diadakan tiga hari lagi, membuatnya sibuk mondar-mandir. Bahkan hingga pulang larut malam seperti sebelumnya. Tak mengapa, sebagai ketua senat, bisa apalagi dia selain bekerja secara optimal. Pajero hitam tiba-tiba berhenti tepat di depannya. Beruntung tidak ada genangan air. Setelah menangkan jantung yang hampir copot, dia mengarahkan pandang ke sisi kanan. Berharap akan segera datang si hijau beroda empat. "Hei, mau ke mana? Suasana hatiku sedang baik sekarang. Naiklah! Aku akan mengantarmu." Kenzo menampakkan diri setelah menurunkan kaca jendela. "Ah, tidak. Terima kasih.” Sebuah penolakan lagi, Kenzo tak menyukai itu. Wajahnya berubah datar. Giginya bergemeletuk, sementara jemari bermain di roda kemudi. Tak lama kemudian, dia memutuskan turun dari mobil, lalu menghampiri gadis yang telah mengabaikannya. Dengan kasar, Kenzo merebut susunan kotak bertali. "Astagfirullah hal ‘Adzim.” Zahra terkejut. Pria itu seakan tak peduli. Dia membuka pintu belakang, lalu memasukkan kotak-kotak Zahra tanpa izin pemiliknya. Zahra hanya bisa terdiam. Dia tak mungkin melawan pria berotot itu. Sorot matanya membuat Zahra tak bisa berkutik. "Naiklah! Jangan merusak mood-ku!" "Ta-tapi ....” Belum sempat mengungkap kalimat penolakan, Kenzo menarik lengan Zahra, memaksa wanita itu menempati kursi depan. Perubahan sikap drastis yang tak bisa dimengerti wanita sepolos Zahra. Alhasil, dia hanya bisa membeku di dalam kabin Pajero. "Tenang saja. Aku tidak akan berbuat macam-macam denganmu. Aku hanya ingin membalas kebaikan pemberi sarapan gratisku pagi ini. Kue yang enak," ucapnya seraya menarik sudut bibirnya. Gadis itu sedikit lega. Berinteraksi dengan kaum Adam, bukan sekali ini dia lakukan. Namun, dengan Kenzo, ada kecanggungan di sana. Selama ini, Zahra mengamati lelaki itu secara diam-diam. Satu-satunya manusia yang bisa dia amati dari dalam rumah. Ketika dia memasak, atau membaca buku, gerak-gerik Kenzo selalu tertangkap indra penglihatannya. Berawal dari ketidaksengajaan dan menjadi ketagihan. Terkadang dia menyalahkan dinding kaca di lantai dua rumah itu. Pembatas yang tidak bisa disebut pembatas. Huft, ini tidak nyaman. Sama sekali tidak nyaman, batin Zahra. Untuk pertama kali Zahra merasa gerah dalam ruang sempit ber-AC. "Oh, ya. Siapa namamu? Aku Kenzo," tanya lelaki itu seraya menyodorkan tangannya. "Zahra.” Gadis itu menyatukan kedua telapak tangan, sebagai balasan. "Sudah lama kita bertetangga, tapi baru hari ini bisa menyapa. Kita tetangga yang aneh.” Kenzo terkekeh. "Iya,” ucap Zahra sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenzo bisa melihat senyum Zahra dari kerutan di sudut mata gadis itu. Gadis ini lebih misterius dari diriku.  Kenzo membatin. "Apa kau seorang teroris?" ceplos Kenzo. Zahra tersenyum. Hal biasa baginya mendengar pertanyaan tu. Terlebih pria di sampingnya yang belum mengenal siapa dia. Sebuah kewajaran yang bisa dimaafkan. "Eem, maksudku ...." "Aku seorang mahasiswi hukum di salah satu universitas swasta. Aku memang hidup sendiri, tapi aku bukan teroris." Penjelasan singkat yang Zahra harap bisa membuat Kenzo mengerti. Kenzo tersenyum simpul. Meskipun gadis itu seorang teroris, dia tidak akan peduli. Namun, faktanya, dialah teroris yang sesungguhnya. Menebar ketakutan di mana-mana tanpa rasa bersalah. "Aku cuma iseng." Alibi Kenzo. Zahra memainkan ujung khimarnya. "Aku sudah biasa dengan keisengan itu. Tidak masalah. Bisa turunkan aku di depan?" Kenzo menepikan kendaraannya di depan pertokoan. Dia merasa tak yakin dengan tempat perhentian yang dipilih Zahra. Tepi jalan yang tidak ramah. Banyak kesibukan yang tidak bisa dibilang rapi. "Kamu yakin turun di sini?" "Aku harus meletakkan daganganku," ucap Zahra. Dia turun dari mobil, begitu pun Kenzo. Setelah mengambil kotak-kotak donat, Zahra menundukkan kepala seraya mengucap salam dan berlalu kemudian. Kenzo belum menjalankan kendaraan bajanya. Entah apa yang membuat ingin terus memperhatikan gerak langkah gadis itu. Dari cermin kecil di hadapannya, Kenzo melihat gadis bercadar itu menghampiri seorang wanita tua. Terlihat Zahra menyerahkan bungkusan. Namun, wanita beruban itu seperti enggan menerimanya. Kenzo tak tahu obrolan macam apa di antara mereka. Dia pun tak tahu kenapa ada kemarahan dalam hati kecilnya ketika melihat perlakuan yang diterima Zahra. "Ah, sial! Ada apa denganku? Buang-buang waktu saja." Pria itu meninggalkan lokasi lalu membaur dengan lalu lintas yang padat. Untuk ke sekian kalinya, Zahra mendapat penolakan dari niat baiknya. Itu tak membuatnya lantas menyerah dan marah. Dia malah tersenyum dan tetap meninggalkan bungkusan itu di sisi wanita berbaju tak layak pakai. "Assalamualaikum," ucapnya lalu pergi. Tak jauh dari sana, dia menghampiri sebuah kedai kopi. Masih sepi karena sang pemilik—Uda Sofyan—memilih waktu agak siang untuk membuka usaha. Maklum, warung kopi itu tak pernah sepi hingga larut malam. "Assalamualaikum, Uda," sapa Zahra. "Waalaikumussalam. Alhamdulillah, Dek, yang kemarin habis," ucapnya sembari meraih kotak kosong di atas etalase. "Alhamdulillah, Uda. Ini aku bawa lima kotak. Titip dua, ya, Uda.” Perlahan Zahra melepas ikatan tali rafia, dan meletakkan dua box di bangku kayu. "Loh, kok cuma bawa lima? Biasanya, kan, bawa enam box." "Iya, Uda. Afwan kesiangan," alibi Zahra. "Yah, jadi berkurang jatah ana. Ya, sudah. Enggak apa-apa. Besok tetap bikin, kan?" tanya Uda Sofyan sembari menyodorkan kotak kosong bersama lembaran uang hasil penjualan donat. "Insya ‘Allah.” Zahra menyatukan kotak kosong itu bersama kotak penuh lainnya. Lalu dia memasukkan beberapa lembar rupiah ke dompet panjangnya yang berdiam dalam ransel hitamnya. "Sukron, ya, Uda. Assalamualaikum," lanjut Zahra sembari melangkah ke arah barat. "Waallaikumsalam.” Lelaki berjanggut tipis itu kembali melanjutkan aktivitasnya mengelap meja pelanggan. "Zahra, Zahra. Semoga kamu dapat jodoh yang baik.” Doa yang terucap dari mulut Uda Sofyan sesaat setelah melihat punggung gadis itu yang makin menjauh. Dengan tiga kotak yang tersisa, Zahra mampir ke Kenzo Cafe. Well, mereka dekat, bukan? Rasa yang pas menarik minat pengelola cafe untuk memasukkan kue buatan Zahra ke menu di cafe ini. "Assalamualaikum," sapanya pada seorang pria yang sedang mengawasi pemasangan lampu hias di atap depan. "Hei, Waallaikumsalam. Ayo masuk!" balas Firman, seorang pria berkulit sawo matang yang dipilih Kenzo menjadi manajer. Zahra menurut tanpa tanya. Dilihatnya beberapa orang karyawan sedang bersih-bersih dan beberapa lainnya bersiap untuk menyambut pelanggan. Dia menelusur, tapi tidak menemukan sosok yang dicari—Kenzo. Firman mengajak Zahra  ke dapur. Ruang luas dengan peralatan masak komplit, selalu berhasil memulas senyum di wajah Zahra. Para koki tampak sibuk menyiapkan menu untuk hari ini. Suara berisik almunium yang saling bertarung, menjadi irama indah di hati Zahra. Firman melihat sekilas ekspresi gadis itu--yang tak pernah berubah sedari dulu. "Anton, bawakan kotak kosong Zahra!" pinta Firman. Dengan sigap Zahra meletakkan tiga box donat ber-topping warna-warni, lalu mengikat kotak kosong, bersama tumpukan sebelumnya, dalam satu tali rafia panjang yang dililitkan kuat. "Dan ini uangnya." Firman menyodorkan amplop coklat. "Terima kasih," ucap gadis itu lirih, lalu memutar arah. "Zahra!” Panggilan itu menghentikan langkahnya di tengah resto. "Em, bisa enggak kamu bikin lebih banyak? Dengan tambahan topping yang berbeda? Kalau bisa, sih, seperti pintaku sebelumnya. Bergabunglah menjadi chef di sini!" Gadis itu menggelengkan kepala, lalu berkata, "Afwan. Aku masih ingin fokus kuliah. Aku tidak bisa menerima tawaran itu. Assalamualaikum.” Dia lekas meninggalkan pria yang dalam kekecewaan. Sudah ke sekian kalinya lelaki itu menawarkan hal yang sama pada Zahra. Namun, dia tetap mendapatkan jawaban yang sama. Gaji tinggi yang ditawarkan Firman, tak mampu meluluhkan hatinya. Tak bisa dipungkiri, Zahra memang butuh uang. Namun, dengan rezeki yang didapatnya saat ini, sudah lebih dari cukup. Ada kalanya, ada keinginan untuk memperoleh penghasilan lebih dalam hati Zahra agar bisa membantu orang—lebih banyak—tapi ia tak ingin niat baiknya, berujung pada keserakahan akan dunia. Zahra yakin, Allah selalu adil dalam pembagian rezeki umat-Nya. Bukan hanya dari segi materi, rezeki bisa ia dapat dari mana saja, termasuk penyelamatannya semalam. Itu adalah salah satu rezeki yang tak terduga dari Allah untuknya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN