Kenzo memasuki halaman parkir yang terhampar di sisi lapangan basket. Cukup ramai di hari Sabtu. Terlihat beberapa cowok sedang bermain dengan mengenakan seragam masing-masing team. Di salah satu sisi, ada lima gadis yang bersorak sembari membawa pompom di kedua tangan. Ada pula yang berperan sebagai penonton di sekeliling lapangan.
Mobil yang terhenti itu sontak menarik perhatian mereka. Sosok pria berparas menarik dengan tubuh atletis, tentu menjadi pemandangan apik bagi para gadis. Melongo. Tanpa kedip dengan mulut menganga.
Kenzo tak peduli dengan mereka. Dia tersenyum miring, menjatuhkan angan akan cinta yang tak kan pernah mereka dapatkan. Bukan sekali ini dia jadi pusat perhatian dan bukan pertama kalinya pula dia memupuskan asa kaum hawa yang haus akan perhatian.
Bersama tas punggung hitam, dia melangkah memasuki gedung rektor. Tujuannya kali ini ialah Ruang Kendali Keamanan yang berada di lantai teratas gedung itu. Kenzo sengaja melewati tangga darurat. Dengan topi hitamnya, dia begitu mahir menyelinap.
Suasana gedung yang sepi, membuat Kenzo bisa leluasa melenggang. Hanya saja, dia harus sedikit menghindari kamera CCTV yang terpasang di beberapa sudut.
Ruang berpintu aluminium sudah berada di depan mata. Berbekal alat khusus, pintu itu bisa dibuka dengan mudah. Kenzo menyeringai dan bergegas masuk.
Ada sekitar delapan layar monitor yang menampilkan setiap sudut kampus. Tak ada rasa mawas dalam dirinya. Dia tahu jadwal penjaga kampus yang tak kan datang pada jam makan siang.
Dari dalam ransel, Kenzo mengeluarkan Apple dan USB serta beberapa kabel konektor, yang akan menghubungkan laptopnya dengan komputer di meja. Kedua tangan lelaki itu bergerak cepat untuk menghubungkan miliknya dengan server kampus.
Kemampuannya sebagai peretas, dimanfaatkan dalam misi ini. Memanipulasi gambar pada beberapa lokasi yang dia inginkan, bukanlah hal yang sulit baginya. Terlebih, sistem keamanannya yang sangat rendah menjadi sebuah keuntungan besar bagi Kenzo. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard. Hanya butuh beberapa menit, semua berjalan dengan lancar.
Setelah menyelesaikan tahap pertama dari strategi panjang misi tiga miliarnya, dia berpindah lokasi menuju gedung Fakultas Hukum, tempat dimana seminar itu akan dilaksanakan.
Ada banyak mahasiswa terlihat berlalu lalang. Beberapa sedang sibuk memasang spanduk di bagian depan. Ada pula yang sedang bergerombol. Entah apa yang dibahas, air muka mereka tampak serius.
Kenzo merekam tata letak ruang gedung dengan irisnya yang tajam. Menyimpannya dalam salah satu bilik kosong di otaknya. Dia akan membukanya nanti.
Jumlah mahasiswa yang cukup banyak, membuat Kenzo bisa membaur dengan santai. Tak ada yang mempertanyakan alasan keberadaannya dalam gedung itu. Paling mereka hanya berpikir bahwa dia adalah salah satu mahasiswa baru. Penyamaran yang baik.
Di tempat ramai, dia tak bisa menghunus pisau ataupun meluncurkan timah panas pada targetnya. Satu-satunya cara ialah poison, membunuh tanpa terlihat dan mati dengan siksaan yang luar biasa menyakitkan. Karena itulah, racun menduduki peringkat pertama dalam proses pembunuhan yang paling mengerikan sekaligus licik. Butuh ketelitian dan rencana yang matang untuk melakukan pembunuhan tipe ini. Jika ada kesalahan sedikit saja, akibatnya akan fatal.
Sesampainya di ruang senat, Kenzo mengetuk pintu.
"Hei, boleh aku bergabung?" sapa Kenzo pada beberapa orang yang berada di ruang senat.
Semua mata otomatis terarah padanya. Senyum yang manis untuk seorang pria sekeren dia. Kenzo berakting dengan sangat baik.
"Silakan masuk! Ada yang bisa kami bantu?" tanya pria berkaus kuning, Dzul namanya. Dia adalah ketua pelaksana seminar.
Tanpa sungkan, Kenzo memasuki ruang tanpa sekat dan dikelilingi tembok bercat hijau. Cukup nyentrik untuk sebuah kantor senat. Di samping, terdapat rak buku dan dua buah meja kerja. Dzul menyuruhnya untuk duduk di salah satu kursi kayu yang berada dekat dengan pintu masuk.
"Aku ingin ikut seminar, sekaligus ingin menjadi sponsor acara yang kalian adakan. Namaku Kenzo.” Sodoran tangannya bersambut manis.
"Dzul," balas pria bernama lengkap Dzulfikar.
"Aku pemilik kafe yang berjarak 500 meter dari kampus ke arah timur," terang pria berkacamata hitam itu.
"Oh, Kenzo Cafe itu? Wah, aku sering nongkrong di sana," timpal Nala, gadis yang sedang bersila di karpet hijau tanpa corak. Dia terlihat bersemangat, mendapati pemilik kafe—yang menjadi tempat tongkrongan favoritnya—adalah seorang pria muda berparas rupawan.
"Aku dengar Profesor Hamka suka makanan manis. Aku bisa menyediakannya secara gratis. Itu pun jika diizinkan." Pria itu tampak begitu tenang dan penuh tipu muslihat yang tersembunyi di balik lesung pipitnya.
"Asyik, boleh banget, tuh.” Anggota yang lain bersorak.
"Tapi, harus ada persetujuan dari ketua senat," sanggah Dzul, "oh, itu dia datang," imbuhnya seraya melempar pandangan ke arah lorong.
Kenzo meresponsnya dengan cepat. Pria itu menoleh ke arah yang sama dengan Dzul. Bola matanya menyipit, mencoba untuk memfokuskan pandangannya ke satu sosok yang sedang berada antara dinding bisu. Retinanya menangkap seorang wanita bercadar hitam dengan khimar maroon, serupa dengan gadis yang diangkutnya pagi ini.
"Zahra, sini cepat!" Pekikan seorang wanita, membuat Kenzo sadar bahwa dugaannya tepat. Itu gadis yang sama.
Mencoba untuk mengenali wajah yang tak tampak, cukup sulit baginya. Apalagi Zahra adalah sosok baru dalam kehidupan lelaki itu. Dia harus belajar mengenali seseorang dari indra penglihatannya mulai sekarang.
Dalam segala hal, Zahra selalu dipercaya untuk menentukan keputusan. Selain karena posisinya sebagai ketua BEM. Dia juga memiliki feeling yang kuat. Tak jarang keputusan yang diambilnya selalu benar.
"Ow, Kenzo. Kenapa ...." Zahra langsung mengarahkan pandangannya ke arah lelaki itu, lalu menoleh ke arah Dzul penuh tanya.
"Dia ingin menjadi sponsor di acara kita besok," jelas Dzul.
Kenzo melambaikan tangan dengan santai sembari melempar senyum bersahabat. Terlintas kemenangan dalam benaknya. Zahra pasti akan memuluskan rencana kali ini, pikirnya.
Dzul berpindah dari tempat duduknya untuk digantikan oleh Zahra. Setelah menggantung ransel hitam di sandaran kursi, dia meletakkan kedua tangannya di meja.
"Ini kampusmu?" tanya Kenzo.
"Iya. Acara seminar itu juga aku yang merencanakannya dan Dzul sebagai ketua panitianya," balas Zahra.
Kening Kenzo mengerut. Dia tidak menyukai fakta itu. Namun, di sisi lain, dia menganggap ini sebuah keberuntungan.
"Jadi, bolehkah aku ikut sumbangsih di seminar?" ucap Kenzo dengan semua rasa percaya diri yang dipunya.
"Sebelumnya, aku mau minta maaf. Andai beberapa hari yang lalu, mungkin akan kuterima. Tapi ... ini sudah mepet banget dan kami sudah mendapatkan sponsor yang cukup."
Kekecewaan mendera Kenzo, dia tak menyukai penolakan itu, yang tentu saja akan menggagalkan rencananya. Letupan kecil menggoda ketenangan jiwa. Di pangkuan, tangannya mengepal. Berusaha meredam amarah. Sesaat, dia memejamkan mata. Dan ketika mengangkat kelopak mata, dia menatap lembut Zahra. Tatapan yang sering kali berhasil menghanyutkan kaum hawa.
“Kenapa?” Satu kata tanya keluar beruntun rekan-rekan Zahra.
"Bukankah kita akan saling menguntungkan. Simbiosis mutualisme. Aku bisa promosi dan kamu dapat tambahan konsumsi gratis. Semuanya nanti aku prepare ... sendiri.” Pria itu mencoba meyakinkan sekali lagi.
"Iya, tapi ....”
"Iya Zahra, terima aja!" Seruan Nala, anggota BEM mulai terdengar bising.
Fakta, jika itu adalah tawaran yang menggiurkan. Sangat menggiurkan malah. Konsumsi gratis. Tak ada event yang akan menyia-nyiakan tawaran itu. Namun, ada ketidakyakinan dalam hati Zahra. Ada dorongan yang menyuruhnya untuk tetap berkata tidak. Dia ragu, tapi tetap mengikuti naluri. Maaf, lagi-lagi kata itu yang busa diucapkan pada lelaki yang baru saja dikenalnya.
** bersambung ***