Chapter 6. Sejauh Asa

1504 Kata
Jingga mengintip di tepian langit. Bersama sang Mentari yang mulai melambai, Zahra keluar dari gedung berlantai empat. Langkahnya terlihat malas. Mungkin imbas dari dilema yang patut didera. Berkali-kali dia mencoba melonggarkan ganjalan di d**a, tetapi tetap saja rasa tidak nyaman itu enggan pergi darinya. Embusan napas berat, keluar dari mulut Zahra. Butuh tenaga ekstra untuk berjalan menuju halte, yang terletak sekitar dua kilometer dari tempat berdiri. Motor sudah selesai diperbaiki, tetapi belum tersedia dana yang cukup untuk menebusnya. Alhasil, dia hanya bisa berpesan untuk pesta bengkel agar memakai motor kesayangan.  Lagi-lagi, Pajero hitam metalik berhasil gadis itu. Bergegas, dia menyudahi obrolannya dengan pemilik bengkel, lalu menyelipkan ponsel di ransel. "Naiklah!" Dengan sengaja Kenzo menunggu ketua senat. Bagaimana pun, rencananya harus berhasil. Paling tidak, dia bisa hadir di seminar, itu sudah cukup sementara harus membanting setir. "Maaf, aku bisa pulang sendiri." Tak ada niatan di hati Zahra untuk memancing emosi Kenzo. Dia hanya menerima tak baik dengan lelaki yang bukan mahram dalam satu ruang sesempit mobil. Cukup sekali saja, itu pun meningkat, dan diharapkan tidak ada lagi pemaksaan serupa. "Kenapa kamu selalu menolak niat baikku?" "Maaf, bukan seperti itu maksudku. Tak baik jika seorang wanita berdua dengan lelaki yang bukan mahram." Di luar sana banyak wanita yang ingin bisa bersanding dengan Kenzo. Namun, sikap Zahra? Dia tak mampu tuk memahaminya. Kalimat senang yang tak bisa dimengerti oleh nalar Kenzo. Mahram ? Kata yang asing di telinganya. Tidak ditemukan pula dalam kamus lelaki itu. Dari kecil, dia mengambil pendidikan agama dari siapa pun. Jangankan shalat, alif-ba-ta saja dia tidak bisa. Kehidupan Kenzo kecil tak seperti anak besar. Banyak derita yang telah dia terima untuk membuat mati. Kali ini, Kenzo lebih memilih untuk menahan diri. Paksaan hanya akan membuat Zahra semakin menjauh darinya. Mundur selangkah bukan berarti mundur. Misi 3M itu, harus tetap berjalan bagaimana pun dilakukan. "Oke," ucapnya dan berlalu pergi kemudian. "Alhamdulillah," gumam Zahra. Ada perasaan lega dalam hati pun kata maaf yang tak bisa terucap. Dia kembali melanjutkan langkah. "Zahra!" Seruan Nala bergerak berputar. Dari depan gedung, dia melihat gadis itu bergerak dengan membuka buku di depan d**a. "Bareng, yuk!" pinta gadis itu terengah. Terjalankan beriring. Sapaan Kenzo Bagi sang sahabat, mengusik pikiran Nala. Dia menang, ada kedekatan di antara keduanya. Rasa keingintahuan merasuki gadis berhijab putih. "Kamu kenal sama Kenzo?" tanya Nala. Zahra melirik gadis yang memeluk peta merah di sampingnya. Binar mata Nala meminta persetujuan besar dia meminta jawaban. "Iya, dia tetanggaku," ucapnya. "Apa?  Dia pemilik rumah kece di sebelahmu itu?" Zahra mengangguk. "Wah, boleh dong, sering-sering main ke rumahmu?" Instal wajah melas. "Niatnya apa dulu, nih?" Nala hanya bisa menyengir. Dia tahu Zahra tidak akan mengizinkannya berkunjung hanya untuk PDKT. Mungkin dia butuh alasan yang lebih logis, seperti: Belajar kelompok mungkin, atau makan siang bareng. Nala akan membahasnya nanti. "Oh, iya. Mengapakah tawaran Kenzo tadi kamu tolak? Bukankah kita tidak boleh menolak rezeki?" "Entahlah, aku sendiri juga merasa aneh. Seharusnya aku senang dan menerima dengan lapang d**a. Namun, apakah aku takut akan ada kelebihan konsumsi. Apakah kita sudah dapat banyak sponsor untuk itu?" Zahra duduk di bangku halte bersama Nala di sampingnya. "Iya, juga. Padahal, menu Jadi mubazir, ya, Za. Anggap aja belum rezeki. Tapi, kalo lain kali dia nawarin, terima, ya!" "Insya 'Allah . Eh, itu busnya udah dateng." Pintu bus terbuka. Terletak duduk di bangku kosong yang berada di samping pintu. Tatapan aneh Kembali dia terima dari beberapa orang. Namun, tak jarang pula yang memilih untuk duduk di sebelahnya dan mengobrol. Memakainya memang mudah, tetapi mengistiqomahkannya yang butuh perjuangan. Menutup telinga saat fitnah mencerca. Membuka hati saat dia berbicara. Jingga mengintip di tepian langit. Bersama sang Mentari yang mulai melambai, Zahra keluar dari gedung berlantai empat. Langkahnya terlihat malas. Mungkin imbas dari dilema yang perempuan didera. Berkali-kali dia mencoba melonggarkan ganjalan di d**a, tetapi tetap saja rasa tidak nyaman itu enggan pergi darinya. Embusan napas berat, keluar dari mulut Zahra. Butuh Tenaga ekstra untuk berjalan menuju halte, yang terletak sekitar dua kilometer dari tempat berdiri. Motor sudah selesai diperbaiki, tetapi belum tersedia dana yang cukup untuk menebusnya. Alhasil, dia hanya bisa berpesan untuk pesta bengkel agar memakai motor kesayangan.  Lagi-lagi, Pajero hitam berhasil memenuhi gadis itu. Bergegas, dia menyudahi obrolannya dengan pemilik bengkel, lalu menyelipkan ponsel di ransel. "Naiklah!" Dengan sengaja Kenzo menunggu ketua senat. Bagaimana pun, rencananya harus berhasil. Paling tidak, dia bisa hadir di seminar, itu sudah cukup sementara harus membanting setir. "Maaf, aku bisa pulang sendiri." Tak ada niatan di hati Zahra untuk memancing log Kenzo. Dia hanya menerima tak dengan lelaki yang bukan mahram dalam satu ruang sesempit mobil. Cukup sekali lagi, itu pun meningkat, dan diharapkan tidak ada lagi pemaksaan Terkait. "Kenapa kamu selalu menolak niat baikku?" "Maaf, bukan seperti itu maksudku. Tak baik jika seorang wanita berdua dengan lelaki yang bukan  mahram." Di luar sana banyak wanita yang ingin bisa bersanding dengan Kenzo. Namun, sikap Zahra? Dia tak mampu tuk memahaminya. Kalimat senang yang tak bisa dimengerti oleh nalar Kenzo. Mahram  ? Kata yang asing di telinganya. Tidak ditemukan pula dalam kamus lelaki itu.  Dari kecil, dia mengambil pendidikan agama dari siapa pun. Jangankan shalat,  alif-ba-ta  saja dia tidak bisa. Kehidupan Kenzo kecil tak seperti anak besar. Banyak derita yang telah dia terima untuk membuat mati. Kali ini, Kenzo lebih memilih untuk menahan diri. Paksaan hanya akan membuat Zahra semakin menjauh darinya. Mundur selangkah bukan berarti mundur. Misi 3M itu, harus tetap dijalankan pun dilakukan. "Oke," ucapnya dan berlalu pergi kemudian. "Al hamdulillah ," gumam Zahra. Ada perasaan lega dalam hati pun kata maaf yang tak bisa terucap. Dia kembali melanjutkan langkah. "Zahra!" Seruan Nala bergerak berputar. Dari depan gedung, dia melihat gadis itu bergerak dengan membuka buku di depan d**a. "Bareng, yuk!" pinta gadis itu terengah. Terjalankan beriring. Sapaan Kenzo Bagi menyanyikan sahabat, mengusik pikiran Nala. Dia menang, ada kedekatan di antara keduanya. Rasa keingintahuan merasuki gadis berhijab putih. "Kamu kenal sama Kenzo?" tanya Nala. Zahra melirik gadis yang memeluk peta merah di sampingnya. Binar mata Nala meminta persetujuan dia meminta jawaban. "Iya, dia tetanggaku," ucapnya. "A pa?   Dia pemilik rumah kece di sebelahmu itu?" Zahra mengangguk. "Wah, boleh dong, sering-sering main ke rumahmu?" Instal wajah melas. "Niatnya apa dulu, nih?" Nala hanya bisa menyengir. Dia tahu Zahra tidak akan mengizinkannya berkunjung hanya untuk PDKT. Mungkin dia butuh alasan yang lebih logis, seperti: Belajar kelompok mungkin, atau makan siang bareng. Nala akan membahasnya nanti. "Oh, iya. Mengapakah tawaran Kenzo tadi kamu tolak? Apakah kita tidak boleh menolak rezeki?" "Entahlah, aku sendiri juga merasa aneh. Seharusnya aku senang dan menerima dengan lapang d**a. Namun, apakah aku takut akan ada kelebihan konsumsi. Apakah kita sudah bisa menyediakan banyak sponsor untuk itu?" Zahra duduk di bangku halte bersama Nala di sampingnya. "Iya, juga. Padahal, menu mereka enak-enak. Sayang juga kalau mubazir, ya, Za. Anggap aja belum rezeki. Tapi, kalo lain kali dia nawarin, terima, ya!" "Insya 'Allah  . Eh, itu busnya udah dateng." Pintu bus terbuka. Keduanya duduk di bangku kosong yang berada di samping pintu. Tatapan aneh kembali dia terima dari beberapa orang. Namun, tak jarang pula yang memilih untuk duduk di sampingnya dan mengobrol. Memakainya memang mudah, mengistiqomahkannya yang butuh perjuangan. Menutup telinga saat fitnah mencerca. Membuka hati saat dia berbicara. *** Malam yang selalu berakhir pada suasana yang sama. Kesepian. Kenzo merebahkan diri di sofa, melempar kunci mobil di meja. Helaan napas panjang keluar bersama amarah. Zahra, sosok itu kini mengusik pikirannya. Setiap kata yang keluar dari mulut gadis itu, bak timah panas yang menghujah dadanya. Angkuh, satu kata untuk mengungkapkan sosok gadis itu. "Arrg! Kenapa dia? Bisa-bisanya menolak makanan gratis. Lihat aja nanti, aku akan memberimu kejutan. Kita lihat nanti, siapa yang akan menangis, Zahra!" Perasaan tak tenang membawa Kenzo beranjak ke lantai dasar, sebuah lantai tersembunyi yang dia gunakan sebagai tempat berlatih. Dengan menekan sebuah tombol, tangga robotika mulai terlihat di hadapannya. Kamuflase apik yang menyatu dengan lantai ruang kerja. Terlihat sebuah samsak menggantung di dekat tangga. Merapat ke tombok, terdapat deretan peralatan bela diri. Kendaraan yang dia gunakan untuk melakukan misinya, juga terparkir rapi di sana. Melewati jalan masuk rahasia yang langsung terhubung dengan jalur tol. Di bagian belakang, ada ruang khusus yang dia gunakan untuk berlatih tembak. Dari deretan senjata api, dia memilih G2 Elite produksi anak negeri, PT. Pindad. Pistol berkaliber 9,9 mm telah berada di tangan dengan lima belas peluru yang siap menembus sasaran. Kenzo memfokuskan retinanya untuk menangkap titik tengah dari papan sasaran yang berjarak delapan meter di depan. DOR Best Poin! Satu peluru tepat mengenai sasaran. Dengan gaya jongkok, tiarap maupun bergulung, tembakannya tak pernah meleset. Untuk sasaran yang bergerak, dia juga selalu mendapatkan poin yang tinggi. Bukan tanpa alasan. Di umurnya yang baru menginjak tujuh tahun, senjata tajam dan senjata rakitan sudah menjadi mainannya sehari-hari. Yang dia tahu, dirinya adalah seorang anak terbuang yang ditemukan oleh Yuna, wanita mandul yang menjadi istri dari Bara, perampok kawakan pada masanya. Menginginkan seorang penerus, Bara melatih Kenzo dengan keras dan tanpa ampun. Tak jarang pula dia harus menerima pukulan ataupun cambukkan jika berani melawan, hanya Yuna yang menjadi tempat ternyamannya kala itu. *** To be continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN