Tinggal di desa terpencil, membuat Kenzo bisa menyatu dengan alam. Dia bahkan hafal setiap langkah seseorang yang terbawa angin. Namun, malam ini, entah kenapa ada yang berbeda. Kenzo menangkap gelombang suara aneh dalam kesunyian. Riuh terdengar ilalang tersibak begitu cepat, layaknya gerak harimau yang sedang mengejar mangsa. Bukan satu, sekelompok harimau? Ah, tidak. Mereka sudah berdamai dengan warga desa bertahun-tahun lalu. Kenzo mulai menerka kemungkinan lain. Namun, dia tak bisa menemukan jawaban atas tanya di kepala hingga ... rentetan suara senjata api mengejutkan bocah itu.
Yuna terperanjat, memutar pandang dan menemukan Kenzo meringkuk di kursi. Teriakan demi teriakan menggaung, mengusik ketenangan rimba. Wanita berambut panjang itu tergopoh mendekati putranya, lalu memeluk erat.
"Kenzo kamu harus lari," bisik Yuna. Tergambar jelas ketakutan di mata wanita itu. Di tengah dinginnya malam, bulir-bulir keringat terbit membasahi keningnya. Kenzo bisa merasakan tubuh Yuna gemetar.
Dia menggeleng. Tak ingin pergi sendiri dan meninggalkan pengasuhnya. Letupan dan jeritan telah cukup mengikis keberanian. Ketakutan pun menyelinap dalam relung-relung jiwanya. Lari atau melawan? Yang terpenting bagi Kenzo, Yuna harus selamat bersamanya. Entah bagaimana, dia sendiri belum menemukan jalan keluar. Sementara di luar, diyakini sekelompok manusia bersenjata telah mengepung desa.
Akan tetapi, wanita itu tetap memaksanya. Tak ada cukup banyak waktu untuk berdebat. Walau sekeras apa pun Kenzo memohon, tak sedikit pun keputusan Yuna berubah. Wanita itu tetap menginginkan putranya pergi.
"Kenzo, aku mohon. Kamu harus tetap hidup. Bara masih di luar, temukan dia! Mengerti? Cepat!"
"Tidak, Yuna ... Yuna.” Nada memelas Kenzo tak lagi dihiraukan. Cengkeraman tangannya pun tertolak. Yuna melepas jemari Kenzo, lalu menggenggamnya erat. Sepasang bola mata wanita itu penuh pengharapan. Dia tak ingin membuat Yuna kecewa. Mungkin benar, jika dia bisa lolos dan menemukan Bara, maka akan ada secercah asa untuk kehidupan yang tersisa.
Alhasil, bocah empat belas tahun itu menurut. Sementara dia memasuki jalur rahasia—lubang kecil serupa tambang emas yang berujung di tepi sungai—Yuna menyiapkan jerami untuk menutup terowongan. Terlihat kabut keraguan meliputi Kenzo, air bening membeku di pelupuk mata. Yuna meremas lengannya dan meyakinkan bocah itu untuk segera meninggalkan rumah.
Dentuman keras terdengar di balik pintu. Yuna terburu menutup lubang setelah tubuh Kenzo masuk sepenuhnya. Papan bambu, disusul jerami, dan gentong air telah ditata sempurna. Lantas, wanita itu mendekati pintu kayu. Tubuhnya semakin gemetar kala mendengar jejak-jejak langkah yang kian mendekat.
"Dobrak pintunya!"
"Siap, Ndan!"
Suara-suara di balik pintu, terdengar begitu lantang. Sesaat kemudian, tubuh Yuna terpental. Beberapa pria dengan balutan seragam hitam, melewati pintu satu per satu. Di tangan mereka, AK-47 siap siaga mematikan sasaran.
Dari sela rami, Kenzo melihat Yuna merunduk dengan tangis. Dia mengerti betapa takutnya wanita itu. Sendiri di tengah suasana yang mencekam, dia tak mengerti mengapa Yuna berani mengambil risiko itu.
Ini sama saja dengan bunuh diri, maki Kenzo dalam hati.
Seorang pria bercambang lebat, menjambak rambut wanita itu. Lantang ia bertanya, "Di mana Bara?"
"Ampun! Sa-saya tidak tahu." Yuna menggeleng. Air matanya bagai sembilu yang mengiris-iris hati Kenzo. Semakin perih sebab dia tak bisa berbuat apa pun. Menjadi tak berguna di tengah suasana genting, itu menyakitkan, lebih sakit dari tusukan puluhan duri.
Lantas, pria bertubuh tegap itu mendorong Yuna. Tolakan kuat membuat tubuh rampingnya terpelanting hingga menubruk gentong air. Pecahlah sudah, air tumpah ruah dan membasahi sebagian tubuh Kenzo.
Ketika manusia tak bisa melampiaskan kemarahan, maka tanganlah yang akan mengambil alih. Gumpalan magma itu kini ada di kedua tangannya, tergenggam erat hingga tak menemukan celah untuk keluar.
"CEPAT KATAKAN!” Nada tinggi manusia laknat itu bagai pukulan terkuat Bara di dadanya. Sesak, dia sulit bernapas dengan normal.
"Sa-saya tidak tahu, Pak." Yuna tergagap. Dia masih bersikukuh dan tentu saja petugas itu semakin geram. Sebuah tamparan keras menyasar ke pipi Yuna. Nyeri dan panas, rasa itu kembali dia terima sebanyak lima kali. Kedua pipi lembutnya memerah, darah keluar dari sudut bibir.
Kenzo tak sanggup lagi melihat siksa wanita itu. Dia turun dan mulai menyusuri lorong sempit nan gelap. Berusaha untuk tetap berpikir positif, Yuna akan selamat. Dia hanya akan ditahan dan saat bebas nanti, aku akan menemuinya.
Pemikiran yang terus berkecamuk dalam benak Kenzo. Menjadi penyemangat meski dia tahu kemungkinannya tak lebih dari dua puluh lima persen.
Di ujung terowongan, gemercik air sungai terdengar. Tanah basah di bawah kakinya, tak lagi dihiraukan. Setelah berhasil keluar dengan aman, dia lari tunggang langgang menerobos dedaunan. Tubuh bocah itu bergetar sebenarnya, tapi dipaksa untuk terus berlari. Dia butuh manusia, siapa pun, asal bukan manusia berseragam seperti yang terlihat di balik lorong rahasia. Bukan seperti mereka yang telah memukul Yuna. Dia butuh manusia biasa yang bisa menyelamatkan orang-orang tak bersalah.
Kenzo berhenti, butuh waktu untuk mengatur jalur pernapasan yang mulai terasa menyempit. Di saat itulah dia menyadari pelariannya. Bocah itu telah menjadi pengecut. Ya, dia yang seharusnya ada untuk melindungi Yuna, malah kabur dan memikirkan nyawa sendiri.
“Yuna, tidak. Aku harus kembali.”
Dia menegakkan punggung lalu menoleh ke belakang. Nyala api terlihat jelas dari tempatnya berdiri. Bocah itu mengerutkan alis, mengepalkan tangan, tak terima tempat masa kecilnya diporak-porandakan oleh manusia—yang seharusnya mengayomi. Benar jika tempat itu adalah sarang penyamun, tapi ... haruskah dengan cara yang tidak berperikemanusiaan seperti itu? Memukul seorang wanita? Menyeretnya?
Ah, Kenzo tak habis pikir tentang perilaku oknum-oknum aparat penegak hukum. Dia pun mulai menduga, bahwa tindakan itu di luar wewenang pusat. Bara sempat berkata padanya, “Markas kita tidak akan pernah diserang apalagi dilenyapkan. Aku sudah membayar mahal untuk ini.”
Mengingat itu, muncul asumsi, mungkinkah Bara tak lagi menyuap oknum korup? Dia tak lagi peduli akan hal itu. Yang penting, dia harus segera kembali untuk menyelamatkan Yuna.
Kenzo memutar arah, menerobos dedaunan, dan pohon-pohon yang acap kali membingungkan. Lebatnya hutan menjadi penghalang sinar bulan. Dia hanya mengandalkan asap—yang membumbung tinggi—dan suara letup senjata api sebagai kompas naluri. Bocah itu tak jua memedulikan ranting dan tanaman berduri yang menggores kulit, menciptakan luka.
Sayangnya, Kenzo kembali di saat yang tidak tepat. Di balik pohon tua, dia menyaksikan sendiri bagaimana pria-pria misterius tetiba muncul di sisi timur. Mereka berpakaian rapi, setelah jas hitam dan senjata laras pendek di tangan.
Sesaat kemudian, para wanita yang dia kenal—bibi, sepupu, dan teman bermainnya yang tertunduk di tanah lapang—berjatuhan setelah menerima timah panas dari mereka. Tak hanya itu, manusia-manusia berseragam yang sebelumnya menyerang, juga dibunuh.
Dan Yuna ... wanita malang itu berada dalam peluk Bara. Tubuhnya bersimbah darah. Fakta itu menyakitkan. Kenzo geram, tapi akan jadi bodoh jika dia muncul di antara mereka yang bersenjata.
“b******n! Rupanya kalian ....”
DOR ... DOR
***
DOR ... DOR
"Arrgg!" Kenzo melempar senjata apinya ke arah tak tentu.
Suara tembakan selalu mengingatkannya pada peristiwa itu. Tawa mereka masih menggaung di dalam kepala. Sengaja Kenzo tak membuang memori malam paling mengerikan dari rekam jejak hidupnya. Dendam masih tersimpan rapi di ruang hati yang paling gelap, menjadi virus perusak kemurnian. Berbekal harddisk otaknya, dia memburu para pelaku pembantaian itu hingga kini.
Berulang kali dia mengobrak-abrik database kepolisian, akan tetapi pergerakan itu seakan tak berjejak di dalamnya. Sengaja dihapus, kah? Atau mungkin misi itu tak pernah tercatat dalam sejarah kepolisian. Kenzo belum menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Andai saja dia menemukan jejak si pria berewok itu ... entah harus berapa banyak lagi waktu yang dia butuhkan.
Membunuh adalah sebuah pelampiasan yang sempurna baginya. Dalam setiap tetes darah korban, terselip dendam yang tak berkesudahan. Setiap kali bubuk mesiu terlontar, hanya bayang Yuna yang terlihat di matanya. Sorot mata penuh kebencian.
Kenzo merebah di lantai yang dingin. Dia lelah. Sendiri dalam kegelapan. Dia butuh warna dalam kelam dunianya, udara untuk melonggarkan jalur pernapasan, dan irama untuk hidup yang mulai membosankan. Namun di sisi lain, ia juga masih butuh darah untuk tetap membuat jantungnya bekerja. Jika saja ada hal lain yang bisa membuatnya tetap berdetak, that's will be a better reason for life.
"Zahra ... Zahra! Aah, sial! Butuh rencana B untuk misi kali ini. Itu semua gara-gara kamu, Zahra. Wait and see, Zahra."
*** to be continue ***