Tiada yang tahu bagaimana cinta itu bermula. Ada yang bilang, kekaguman bagi seseorang bisa menjadi awal mula tumbuhnya benih cinta. Namun, ada pula yang mengawalinya dengan kebencian. Lalu, apa jadinya kompilasi hati kedua yang saling bertemu?
Kamu laksana malaikat yang bersemayam bersama para dewi dan haum kasturi, sedang aku dari kelamnya neraka. Begitu nista. Akankah kita bisa bersama?
Jika malam itu menyenangkan, bagaimana dengan pagi? Sungguh dia hangatkan di tengah peluk mentari. Setiap tetes embun layaknya berkah pengawal hari. Udara yang segar, memurnikan hati siapa pun yang bersyukur akan nikmat-Nya.
Kehadiran sinar yang meneduhkan bak embusan napas segar untuk Zahra. Gadis itu terdiam di halaman belakang, membiarkan sang surya menyuapi setiap sel kulit kuning langsatnya, yang tertutup kain wolfis yang panjangnya berwarna abu muda.
Minggu, hari tenang dan bebad dari jadwal ini akan diisi oleh aktivitas yang menjadi hobi baru Zahra. Salah satu olahraga kegemaran Rasulullah, memanah.
Di teras belakang, sudah tertata rapi sebuah busur dan beberapa anak panah. Sebenarnya, sudah seminggu yang lalu Ummi Aqila memberikan senjata berdaya pegas itu. Namun, kali ini dia mulai tertarik digunakan.
Zahra berhak pemanah yang andal. Dia hanya pemula yang masih butuh banyak belajar. Dia pernah mempelajarinya kompilasi ekstrakulikuler di kampus. Akan tetapi, Zahra belum bisa melepaskan panah dengan tepat. Anak panahnya seakan-akan meluncur tanpa daya. Dzulfikar sebagai pembimbing cuma bisa tertawa setiap kali menyaksikan kegagalan Zahra.
Papan target menggantung 50 x 50 sentimeter tergantung di dinding pagar rumah Kenzo. Lokasi yang pas dan praktis, karena tak perlu penyangga lebih.
Zahra mengambil sebatang paku, lalu dipasangkan ke dinding. Sebelum memukulnya dengan palu, dia mendongak guna memastikan pemilik rumah masih bersembunyi di balik selimut, atau sedang pergi entah ke mana.
"Dia pasti masih terlelap," gumam Zahra. "Tidurlah yang nyenyak!"
Gadis bercadar itu mulai menghantamkan palu ke kepala paku. Suara dentuman terdengar keras. Sesekali dia intip balkon Kenzo. Lampu teras masih menyala. Dia kembali melanjutkan. Setelah dirasa kuat, Zahra melepaskan persetujuan dari paku, lalu meminta papan sasaran.
Senyum mengembang di bibir Zahra. Perlahan dia mundur dan mengambil busur yang tergeletak di rumput. Berikut beberapa anak panah yang masih berada di dalam sangkarnya.
Retina kiri Zahra mulai bekerja keras, sedang mata yang lain memejam. Dia tarik ekor anak panah, mengumpulkan semua energi di tangan kanan, sementara mata bekerja ekstra mengincar titik sasaran. Zahra berharap bisa mengenai salah satu ruang di papan. Dia yakin akan berhasil sebab bidikannya tepat.
Ya, paling tidak, kena papannya, deh. Emm, enggak yakin, pikir Zahra.
Satu anak panah berhasil terlontar, menembus udara pagi yang mulai beranjak siang. Zahra senang anak panah itu lepas landas dengan sempurna, meluncur cepat, dan ....
"Yah ... gagal."
Ungkapan rasa kecewa itu keluar dari bibirnya usai melihat anak panah jatuh sebelum mengenai sasaran. Dia tidak menyerah dan kembali mencoba. Dari lima anak panah, tak ada satu pun yang lolos. Jangankan menancap, menggores tepian benda persegi itu pun tidak. Anak panahnya mendarat di samping kanan dan kiri. Ada pula yang tak bisa meninggalkan busur jauh-jauh.
"Parah." Zahra mengelesot di tanah berumput, melipat kedua, lalu menunduk. Gadis itu menyerah. Dia menganggap diriya tak cakap dalam hal ini. Membuat donat mungkin jadi satu-satunya keahlian yang dimiliki selain ilmu hukum.
Mendadak Zahra mendengar gelak tawa yang cukup keras. Dia terkesiap, lalu memutar pandang dan menemukan asal suara. Di balkon Kenzo tampak puas menertawakan Zahra. Dia terkekeh-kekeh smbil memegangi perut yang mungkin kram akibat kebanyakan tertawa. Zahra membuang muka. Rasa malu membuatnya ingin berlari saat itu juga.
Sementara di atas sana, Kenzo masih tertawa terbahak-bahak seperti usai menontom drama komedi Jackie Chan, atau Mr. Bean. Alih-alih menyapa, Zahra malah membuang muka. Dia malu dan ingin berlari di saat itu juga.
"Baru kali ini aku melihat ada ninja yang tidak bisa memanah," ejek Kenzo dengan tawa yang semakin menyayat hati Zahra.
"Aku bukan ninja. Aku baru belajar. Wajar kan gagal, sambil berulang-ulang. Lagian, olahraga ini memang tidak mudah. Kamu juga belum tentu bisa." Zahra menantang.
"Wah, kamu meremehkanku?"
"Emm, tidak juga. Aku cuma tidak suka ditertawakan oleh siapa pun yang belum tentu mahir melakukannya."
"Oke. Tunggu di sana! Aku akan buktikan, itulah olahraga yang memanah itu mudah. Lihat saja nanti!" Kenzo tak lagi terlihat di balkon. Dia beranjak cepat menuruni tangga dan mengabaikan alarm.
"Astagfirullah hal Adzim . Kenapa aku ngomong gitu? Ah, cari gara-gara kamu, Za," monolog Zahra sembari menjitak kepala sendiri.
Tak lama berselang, Kenzo terlihat di samping rumah Zahra. Napasnya ternengah-enggah bak pelari maraton. Dia amati barisan bunga yang mirip pagar di depan. Tanpa bertanya, Kenzo menerobos bunga-bunga itu.
Zahra tercengang. Matanya melebar. Bukan mengagumi tampilan celana kargo dan kaos merah lengan pendek yang dikenakan pria itu. Dia sedih menyaksikan bunga, yang diingat setiap hari, terkoyak dan terinjak.
"Yah," keluhnya.
"Berikan busurnya!" pinta Kenzo sambil menengadahkan tangan.
Hening.
Tak ada respons yang diberikan Zahra. Gadis itu malah beranjak, melewati Kenzo, lalu duduk di hadapan bunga-bunga indah yang telah roboh dan rusak. Zahra lancar dan berusaha membenahi.
"Hei! Apa kau sengaja mengabaikanku?" Kenzo tampak geram dengan sikap gadis itu. Dia pun menghampiri Zahra, lalu jongkok di sampingnya. Sepasang alis tebal mengerut, menatap Zahra penuh tanya. Namun, gadis itu acuh tak acuh, masih memperhatikan tanaman. Kenzo mendengkus.
"Apakah kamu yang sengaja menabrak mereka? Ada jalan masuk di sana." Zahra menunjuk ke halaman di samping rumah. "Kenapa tidak lewati itu? Kenapa harus bunga-bungaku?"
Kenzo mendengkus. Dia buang melihat seakan-akan berusaha memulihkan amarahnya. Kenyataan bahwa dia lebih penting dari bunga yang terlihat ditolak.
Tanpa basa-basi, dia berhasil meraih tangan kanan Zahra, menggenggamnya erat, dan mengalihkan rasa sakit yang pasti diterima gadis itu. Diabaikan, ditangani tak menyenangkan yang kembali dia terima dari Zahra telah dianggap setara dengan menjatuhkan harga diri.
" Astagfirullah , lepaskan!"
Zahra tercengang. Untuk pertama kalinya seorang lelaki menyentuhnya, selain sang ayah. Tubuhnya gemetar. Bibirnya sisa dia ingin sekali berhenti. Zahra berusaha menarik lepas. Berkali-kali dia lakukan untuk menyadarkata itu kesia-siaan.
Jemari Kenzo begitu kokoh mengurung disetujui. Dan sepertinya, pria itu enggan melepaskan barang sesaat. Dia seakan-akan sedang menuntut sesuatu. Lebih serius, mengintimidasi.
"Lupakan bunga-bunga itu! Aku akan menggantinya dengan yang baru."
Suara bariton Kenzo melesap dalam hingga ke hati. Zahra mendongak. Mereka bertemu pandang.
** To Be Continue ***