"Lupakan bunga-bunga itu! Aku akan menggantinya dengan yang baru."
Suara bariton Kenzo melesap dalam hingga ke hati. Menyakitkan! Dia terlihat seperti orang kaya dengan setumpuk kesombongan.
Zahra mendongak. Seketika mereka bertemu.
Perasaan aneh menghentak d**a Kenzo. Sesuatu yang asing dan menyesakkan. Degup jantungnya bertalu cepat tanpa dia tahu. Kenzo menghempas tangan Zahra, lalu meninggalkan tanpa kata.
Sembari memijit gerakan tangan, Zahra melirik gerak langkah lelaki itu. Tenang dan tegas. Dua hal yang bisa disingkirkan Zahra untuk sementara waktu. Manusia yang sering kali membuka jendela dapur, kini turun ke bawah dan berkeliaran di halamannya. Itu menakutkan. Zahra mulai takut akan hadirnya rasa yang disebut cinta.
"Hei, kau ... di sini! Lihatlah! Akan kutunjukkan kepadamu yang lebih baik dari milik pria ini," ucap Kenzo dengan tingkat kepedean di atas rata-rata. Jelas dia percaya diri akan hal itu, mengingat kemampuannya yang cukup mahir dalam urusan menembak-menembak.
Zahra kembali duduk di teras belakang, menyingkirkan kaki dan mulai mengambil tindakan pria yang dianggapnya sok pintar.
Sembari menyamankan memegang di busur, Kenzo mengambil salah satu anak panah. Sesaat kemudian, ia mulai serius mengincar sasaran. Lelaki yang dibuka kedua, selebar bahu. Mengangkat busur dengan tangan kiri, sementara yang lain menempelkan pangkal anak panah ke tali pegas. Iris Cokelat Kenzo menajam Selama lengan yang mulai terangkat sejajar dengan bahu.
Sudah cukup lama Kenzo tidak menyapa peralatan serupa di direkomendasikan. Lima belas tahun, tapi dia masih ingat betul masa itu; Bagaimana cara membidik sasaran, kecepatan dan kecepatan, serta mendikte Kenzo, itulah anak panah tak sama dengan peluru. Arah angin memberi pengaruh besar ke mana dia akan berlabuh. Dan kompilasi anak panahnya meleset dari target, tongkat penjalin akan melesat ke punggungnya. Keras dan bertubi.
Bayang masa lalu membuat konsentrasi Kenzo pudar. Anak panah itu meluncur santai ke bawah dan menancap tepat di bagian paling dasar pagar Rumah.
Sontak, Zahra terkekeh-kekeh. Perutnya seakan digelitiki serentak dari berbagai penjuru. Satu tangan menutup mulut, sedang tangan yang lain menepuk-nepuk paha. Dia bahkan terlupa akan melihat pria yang sedang dilihat tingkahnya.
Gelak tawa gadis itu, entah mengapa tidak terasa marah yang ada dalam kemarahan. Tingkah Zahra menjadi pemandangan indah yang terbingkai di dalam netra Kenzo. Keceriaan itu, telah menjadi melodi yang baru diangkat daun telinganya. Andai saja sehelai kain itu tersibak dari wajah Zahra, ah, Kenzo mulai penasaran dengan gambar di balik cadar itu.
Secantik apakah dia ?. Kenzo bertanya-tanya.
"Coba lagi?" Suara Zahra menyadarkannya dari lamunan.
"O ... oke. Ini bagiku mudah," jawab Kenzo, masih dengan kepercayaan diri tingkat tinggi.
Kenzo merasa aneh. Seperti ada sesuatu yang merasuki jiwanya barusan. Dia meraih anak panah yang disodorkan oleh gadis itu. Sesaat, bertemu bertemu pandang. Sepasang mata Zahra, terlihat berkilau bagai permata di tengah palung samudra. Kenzo segera menarik diri, dia kembali merasakan sesuatu menghunjam jantungnya.
"Eem, aku buatkan teh dulu, ya." Zahra pindah masuk rumah. Sebuah alibi untuk mengatasi kegelisahan yang bergetar. Bagaimanapun, dia adalah seorang wanita. Bertatapan dengan mata lelaki yang seindah itu, dia butuh ruang untuk mengusir jauh bisikan setan.
"Ah, ada apa ini? Kenapa ada rasa yang nyaman di tubuhku? Ah, mungkin terlalu lelah," monolog Kenzo, lalu melanjutkan latihannya.
Bayang masa lalu kembali hadir di hadapannya; wajah Bara, amarahnya, hingga detik kematian lelaki itu, semua tampak nyata hingga Kenzo tak lagi mampu membendung amarah ... amarah akan mencari yang tak kunjung membuahkan hasil. Tak terasa, lima anak panah telah meluncur dari tangan Kenzo. Lelaki itu berhenti setelah Zahra datang bersama dua gelas teh melati dan potongan brownies.
Gadis itu meletakkan nampan di lantai, lalu berkata, "Minumlah sambil hangat!"
Kenzo duduk busur di lantai, lalu duduk bersila di lesehan tanpa alas. Menikmati hamparan lahan kosong yang menjadi pengantar angin tanpa debu.
"Apa kue ini juga buatanmu?"
"Iya, sedikit dingin karena baru keluar dari lemari pendingin," ucap Zahra sembari menyibak penutup muka ke samping sebagai jalur minumannya.
Pria itu mungkin perlu sedetail. Berharap bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas. Ah, dibatalkan, asa itu pupus tatkala Zahra ditutupnya kembali.
"Apa kau nyaman dengan cadar itu?" Pertanyaan blak-blakan terlontar dari mulut Kenzo yang penuh dengan kue.
"Iya," sahut Zahra singkat.
"Kenapa kamu memakainya? Bukankah itu sedikit menghalangimu?" Keingintahuan Kenzo diproses.
"Iya. Ini memang menghalangiku. Menghalangiku dari pandangan lelaki yang bukan mahram-aku . Menghalangiku untuk bersentuhan juga."
" Mahram ? Ah, kenapa lagi-lagi kamu menggunaan kata yang tidak aku mengerti. Menyebalkan!"
Zahra tersenyum, lalu berkata, "M ahram adalah lawan jenis yang haram untuk dinikahi seperti orang tua dan saudara kandung. Jadi, sebagai seorang wanita muslim, haram hukumnya bagi kami untuk bersentuhan dengan lelaki yang bukan mahram -nya. Dan cadar ini untuk disukai dilihat Para lelaki dari godaan setan muncul karena para kaum wanita.
Dalam hadist majalah Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740, Rasulullah mengatakan bahwa, ' Aku tidak pergi satu godaan pun yang lebih suka para lelaki selain fitnah wanita '.
Bisa dibilang wanita itu godaan lelaki lelaki terbesar. "
"Jadi kesimpulannya, kamu ini lawan jenis yang halal untuk aku nikahi. Jadi, kita bukan mahram . Dan aku tidak boleh mengundangmu, begitu? Hah, oke, aku tidak akan pernah menyentuhmu lagi."
Zahra tersentak. Kalimat polos itu bak dentuman kembang api yang meledak-ledak dalam jantungnya. Sesaat, dia menatap wajah Kenzo yang terlihat menawan.
" Astagfirullah hal'adzim." Zahra memalingkan pandangan. Mulai irama nadinya yang berdenyut tak beraturan. Mengapa sulit sekali?
"Kamu kenapa?"
"Aku tidak apa-apa. Ayo, kita habiskan kuenya!" Zahra kikuk.
Kenzo menjelajah bagian dalam rumah itu. Dari luar, terlihat beberapa peralatan dapur yang tergantung pada dinding berkeramik cokelat. Kitchen set yang bersih. Diungkapkan, tampak meja makan simpel dengan dua kursi kayu putih. Rapi, semua tertata rapi. Kondisi rumah berfikir bagaimana penghuninya. Sekilas Kenzo bisa menilai seperti apa sosok gadis di hadapannya.
Namun, tak terlihat foto namun penampakan dari orang tua Zahra. Dia pun mengambil kesimpulan, "Kau tinggal sendiri?"
Zahra memandang jauh ke depan. "Iya. Aku hidup sebatang kara. Kedua orang tuaku sudah meninggal. Begitu pun kakek dan nenekku sudah lebih dulu."
Kenzo mengerutkan alis, lalu tersenyum kala teringat bagaimana dulu begitu meminta rumah ini. Semua tanah di sekitarnya telah terbeli. Hanya satu yang menyebalkan, rumah yang dihuni sebagai tamu.
"Tak kusangka, kau sama denganku," ucapnya disusul tawa. Namun, kebahagiaan itu tampak palsu. Aroma tercium kesedihan yang ada di sana.
"Maaf, soal pertimbangan kemarin." Kenzo menatapnya untuk sesaat. "Em, maksudku soal seminar." Zahra seakan tahu apa yang ada di benak pria itu.
" Sudahlah. Tapi, aku masih bisa ikut seminar itu, kan?"
"Iya, tentu. Sini 100 ribu!" Zahra menengadahkan telapak tangan yang terbalut cincin handshock abu.
"Ha-ha-ha ... Kau ini!"
Sekian lama, hanya ada dendam yang menyelimuti mata hati Kenzo. Dia tersenyum. Jika pun ada, itu hanya topeng kepalsuan sebagai penutup jati dia.
Namun kali ini, jelas jauh berbeda. Kenzo terlihat mahir melukis senyum dan tawa di muka. Bukan lagi sebagai tabir, tapi itu nyata dari kemenangan. Bibir kaku menjadi elastis untuk dilengkungkan ke atas. Otot di pipinya pun terasa lebih rileks. d**a yang penuh sesak, seakan telah menemukan cela untuk membantu. Zahra, dia kah penyebabnya?