Chapter 10. Dark Zone

1480 Kata
WARNING!! SEMUA NAMA TOKOH, TEMPAT, ORGANISASI, DAN KONFLIK DALAM NASKAH INI ADALAH FIKTIF. JANGAN PERNAH MENIRU ADEGAN DALAM NASKAH INI! VOTE & FOLLOW , YA ------ Nada dering ponsel Kenzo menghentikan tawa indahnya. Dia bergegas merogoh saku dan mencari tahu siapa penelepon sialan itu. Matanya menatap layar tujuh inci, disusul seringai sedetik kemudian. "Aku harus pergi. Sampai jumpa di kampusmu," ucap Kenzo sembari melangkah pergi, lalu menyapa suara di seberang sana. Zahra menjatuhkan dagu di antara kedua lutut yang tertekuk dan melihat punggung tegap yang mulai menjauh. Dalam hati, dia berharap perjumpaan selanjutnya akan lebih baik dari sekadar obrolan singkat. "Ah, tidak. Apa yang kupikirkan? Hah, aku hanya manusia biasa yang memiliki hati untuk mencinta. Ya Allah, salahkah jika hati ini memilih? Astagfirullah, kenapa aku seperti ini? Dia bahkan tidak tahu apa itu mahram, bagaimana bisa aku ...." Zahra tersenyum, kepalanya menggeleng kala teringat kepolosan pria itu. "Kenzo," sebutnya, bahagia, "Allahu Akbar!" Zahra menepuk kening saat teringat akan jadwal pengajian di rumah Ummi Aqila sore ini. Dia bergegas merapikan anak panah yang masih belum kembali ke sangkarnya. Terburu dia melangkah, membiarkan telapak kaki menjejak seenak hati di rerumputan. Tak lama kemudian, gadis itu menemukan salah satunya di bawah. Namun, ada kejanggalan yang tertangkap logika. Mata panah itu tertancap di dinding beton dan sulit terlepas. Zahra berusaha untuk menariknya kuat-kuat dan ... dia terduduk. "Hah, bagaimana bisa?" Dia menarik napas panjang, lalu memandang lokasi pelepasan dan mulai menerka antara jarak, sudut, dan kecepatan. Hanya mungkin bila sang pemanah memiliki tenaga ekstra, pikirnya. Zahra mendongak dan kembali dikejutkan oleh anak panah yang tertancap tepat di pusat papan sasaran. "Apa ini benar dia yang melakukan? Ah, tidak mungkin. Pasti dari jarak dekat," gumam Zahra cuek. Beres-beres halaman belakang, usai sudah. Zahra masuk rumah, meletakkan peralatan memanahnya ke dalam gudang. Zahra mengambil handuk yang menggantung di jemuran lipat. Dilihatnya jam dinding di atas lemari es, masih ada waktu satu jam sebelum pengajian dimulai. Cukup baginya untuk membersihkan diri, dan bejalan menuju rumah Ummi Aqila. ----------------- Di seberang dinding setinggi dua meter, Kenzo bersiap menuju lokasi dimana transaksi gelap terjadi dengan aman dan nyaman, Dark Zone. Lokasi yang selalu ia kunjungi di hampir setiap malam, rumah kedua, tempat lahirnya seorang Soul Hunter. Setelah menerima telepon, dja tak ingin menunda waktu. Bukan hanya untuk bertugas, tapi Kenzo juga menginginkan sesuatu dari tempat itu. Sesuatu yang sangat berguna untuknya esok hari. Pajero melaju dengan kecepatan penuh, mengabaikan Zahra yang berjalan di sisi kanan. Hanya sepintas Kenzo melirik, lalu kembali fokus dengan apa yang menjadi incarannya. Kemacetan kota metropolitan kerap kali membuatnya naik pitam. Bilik kendaraan mengajarinya untuk bersabar, meski dia tak pernah menyadari itu. Sesekali, Kenzo mengamati anak jalanan seraya mengingat masa kelam. Tak jarang pula, kondisi semacam ini dia gunakan untuk mengamati wajah-wajah manusia di sekitarnya. Berharap ada rupa yang sama dengan pria berewok itu. Hampir tiga jam berlalu, Kenzo menghentikan Pajero di lahan parkir gedung berlantai empat. Dentuman musik dengan ritme naik turun, bak shaker para bartender, menyambutnya setelah pintu terbuka. Kilatan cahaya mengarah tak tentu, seolah sedang menari mengikuti irama musik yang dimainkan Disk Jockey. Lampu sorot berwarna-warni terkadang menyilaukan indra penglihat. Namun, tampak indah bagi para penikmatnya. Riuh memekakkan telinga. Ratusan orang sedang larut dalam kebebasan. Hampir di setiap sudut penuh dengan wanita cantik nan sexy, yang butuh napas tambahan. Jalang, Kenzo tak berselera untuk menikmati mereka. Wajahnya mengeras menahan amarah tatkala mendengar rayuan gombal para pengemis cinta. "Hai, Tampan." Belaian manja wanita yang tak pernah dia anggap ada. Tak terhitung berapa banyak tangan mulus yang terhempas malam ini. Ada kalanya, melintas pikiran jahat di kepala Kenzo. Dia ingin bersenang-senang; melubangi kepala mereka dengan timah panas, apalagi. Namun, itu tak akan terjadi karena Kenzo punya rule dalam hal bunuh-membunuh. Dia tak bisa melakukannya secara sembrono. Sekali pun sangat menginginkan itu. Berulang kali, dia datang ke tempat ini dengan ekspresi yang sama. Dingin yang menusukkan hati. Namun, pesonanya seakan tak menyurutkan gairah para wanita yang berusaha menundukkan. Kegagalan demi kegagalan, bak cambuk yang terus memompa hasrat mereka untuk bisa memiliki pria berkarisma itu. Memenangkannya menjadi sayembara rahasia di antara mereka. "Aku heran, deh. Apa kamu sungguh nggak punya nafsu?" Bia, gadis manis berkulit putih yang tak pernah gentar. "Enyahlah!" Suara dingin Kenzo terdengar indah. Jemari lentik gadis itu merayap perlahan melewati garis pundaknya. Membelai leher yang begitu menggoda untuk dicicipi dan terhenti kala Kenzo meliriknya tajam. Bia menyengih. "Hentikan!" lirih Kenzo, tegas. Tangannya mengeras, mencoba mendinginkan kepala yang mulai mendidih. Di ujung lengan, terdapat gelas kristal yang digenggamnya kuat. Ingin sekali dia melempar benda bening itu ke wajah Bia dan menggoreskan pecahannya di sana. "Aku cuma mau nguji aja, seberapa lama kamu bakal nolak keindahan tubuhku." "Keindahan tubuh yang telah dinikmati banyak orang, aku sama sekali tidak berminat untuk mengicipinya." Bayangan Zahra menutup kalimat Kenzo. Kain panjang yang membalut tubuh gadis itu, membuatnya lebih tergoda daripada minidress Bia. Menikmati tubuh dengan bentuk yang tampak jelas lekuknya, seperti mendapat kado dengan bungkus transparan. Sedangkan Zahra, bak mutiara yang tersimpan di palung laut. Sulit tuk digapai, tapi menantang untuk dimiliki. Ah, ada apa denganku? Kenapa dia lagi yang muncul di sana? gerutunya dalam hati. Kenzo menaiki anak tangga menuju lantai tiga. Cahaya redup seakan menjadi ciri khas dari bangunan itu. Di lantai teratas DZ kelab, terasa lebih tenang. Tak ada kebisingan seperti lantai-lantai sebelumnya. Di sanalah, seluruh transaksi terlarang berlangsung. Proses jual beli tak seperti pasar di mana para pedagang menggelar lapak dan pembeli bisa memilihnya dengan bebas. Di ruang ini, transaksi hanya terjadi setelah adanya perjanjian tertutup di antara kedua belah pihak. Terlihat dari jangkauan bola matanya, ada beberapa orang sedang bersantai sembari menikmati candu dunia. Di lokasi lain, ada yang sedang bergulat dengan nafsu, pun ada yang sedang bertukar barang. Kenzo mengabaikan semua itu. Gedung ini punya aturannya sendiri. Privasi yang tak pernah terusik. Kenzo memilih meja bar yang menghadap langsung ke dinding kaca, menikmati perhiasan malam yang berkerlapan. Bukan untuk mencari ketenangan, dia sedang menanti seseorang yang akan datang bersama barang pesanannya. Gulungan tembakau, menjadi teman setia di kala sendiri. Seorang waiters datang, lalu meletakkan minuman yang telah dipesan sebelumnya. Tak lama berselang. "Ini pesananmu." Seorang pria berjaket hitam meletakkan kotak kecil di depan Kenzo. Dia adalah Krisna, orang kedua yang selamat dalam insiden tiga belas tahun yang lalu. Kotak dengan panjang sisi empat sentimeter dan tinggi dua senti, diraihnya cepat, lalu dimasukkan ke saku bagian dalam jaket. Setelah itu, dia menarik cerutu yang terapit di bibir, mengembuskan kumpulan asap yang memenuhi ruang mulut. Tiupan napas serupa kuli panggul yang melepas beban di punggung. "Kamu belum berhenti?" "Aku akan berhenti setelah dendamku terbalas. Apa kau sudah menemukan jejak mereka?" Kenzo meneguk isi gelasnya. "Belum. Sudah tujuh tahun aku memata-matai mereka, tapi belum juga menemukan clue satu pun di sana. Aku yakin, ada dalang di balik pergerakan tersembunyi itu. Ken, Mungkinkah mereka juga melenyapkan tim yang melakukan misi malam itu?" "Hah. Ini sungguh mengagumkan. Peristiwa sebesar itu tak berjejak. Tingkatkan terus pangkatmu agar kau bisa menerobos lebih dalam." "Aku bisa langsung jadi jendral jika menangkapmu." "Lakukan saja jika kau berani!" Krisna tertawa lepas, lalu menggeleng seraya memasukkan jack danniel ke tenggorokan. "Selera humormu masih saja nol. Come on," ujar Krisna sambil menyenggol lengan sahabatnya. "Oh, iya. Kamu ingat peristiwa tiga tahun lalu? Di mana kamu hampir saja menjadi target kami." Alis Kenzo mengerut, otaknya mulai bekerja mencari peristiwa yang dimaksud Krisna. "Hakim itu?" "Iya. Dulu kamu pernah menyuruhku untuk mencari anaknya, kan? Aku menemukan ini di arsip kepolisian." Krisna meletakkan selembar foto keluarga di meja kaca. Lekas Kenzo mengambil kertas bergambar dan mengamati perempuan yang diapit oleh kedua victim-nya. Sorot mata yang terasa tak asing bagi Kenzo. Dia memicingkan iris, lalu meneliti sedetail mungkin seraya mengingat-ingat. "Sementara hanya itu yang aku temukan. Jika ada kesempatan, aku akan mencari data dirinya dan kuberikan padamu segera." "Baiklah. Aku akan menyimpan ini." Kenzo memasukkan foto polaroid itu ke ruang coat lainnya. "Kerjakan sebersih mungkin. Aku tak ingin kamu ceroboh seperti waktu itu," ucap Krisna, "ayo kita bersenang-senang! Berhentilah menolak wanita-wanita cantik itu, Ken!" Lelaki beriris cokelat melempar pandangan ke samping kiri, menyapa kupu-kupu malam dengan lambaian tangan manja. Krisna tersenyum lebar ketika aksinya terbalas. Sementara Kenzo, dia risi dibuatnya. Lelaki itu pun membuang muka sebelum emosi terusik dan membuatnya menggila. Kenzo pergi begitu saja tanpa menghiraukan Krisna yang sesekali menyerukan panggilan. Terlalu mudah baginya untuk mendapatkan wanita seperti mereka. Paras tampan, disokong oleh bentuk tubuh yang begitu menggoda untuk dicicipi. Pria kaya dengan pesona di atas rata-rata, wanita mana yang akan menolak suguhan itu. Hanya satu wanita yang ia anggap berbeda, Zahra. Satu-satunya wanita yang tak ingin disentuh olehnya. Fakta itu menghadirkan tantangan tersendiri bagi Kenzo, Menaklukkannya mungkin akan jauh lebih sulit dari misi terberat. Haruskah? Ah, baiklah. Aku tidak akan mungkin jatuh cinta padanya. Dialah yang akan bertekuk lutut di hadapanku. Dan itu akan menjadi tontonan yang sangat mengasikan. Kenzo mengobrol dengan dirinya sendiri, lalu tersenyum bengis. Ia telah menemukan mainan baru. "Dia polisi!”  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN