Chapter 11. Dark Zone 2

1135 Kata
"Dia polisi!" Suara lirih terdengar dari tempatnya semula. Entah bagaimana wanita itu bisa menemukan lencana yang tersimpan di tempat teraman. "Bukan, ini cuma aksesoris." Krisna berlagak mengelak. Sayangnya, ada yang terpancing oleh ucapan gadis itu. Tiga pria mendekati Krisna dengan tampang bengis. Wajah-wajah baru, lelaki bercambang itu menyunggingkan seringai. "Ken, mau bermain bersamaku?" Lamunan Kenzo buyar setelah mendengar pertanyaan Krisna. Dia membalik punggung dan mulai meneliti gelagat manusia-manusia sok jagoan di belakang. "Berani sekali kamu memasuki gedung ini. Punya nyali juga yo kowe," ucap si kepala botak berkacak pinggang. Seakan terlihat kemenangan mutlak melambai di depan mata. Pria yang lain, berjalan mengepung. Kenzo dan Krisna beradu punggung. Keduanya meneliti gerak-gerik musuh dengan tatapan tajam, yang sekaligus mewakili kepercayaan diri dan kesigapan untuk melawan. Kedua tangan mereka mulai mengepal, lalu mengambil posisi kuda-kuda. "Belagu, ya, kowe. Hajar!" Pria botak itu memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menyerang. Dengan kecepatan tangan, Kenzo menangkis setiap pukulan yang terarah padanya. Satu tendangan kuat mengenai fondasi lawan sehingga dia terjatuh dan tak sadarkan diri setelah menerima pukulan di tengkuk. Tak beda halnya dengan Krisna yang juga mahir dalam ilmu bela diri. Menghadapi mereka yang hanya bermodal nyali, bukanlah hal yang sulit. Pria bermata tegas itu mengarahkan tinjunya ke rahang lawan. Satu lagi tumbang, tanpa suara. Dari belakang, tampak di sudut mata Kenzo ada benda tumpul yang sedang mengarah padanya. Dengan sigap ia merunduk dan memberi pukulan di perut lelaki berjas hitam itu. "Aaak!" Suara yang spontan keluar dari mulut lelaki berambut cepak. Belum lagi sakitnya reda, Kenzo kembali menghunjam punggungnya dengan siku kanan hingga membuatnya tersungkur tak berdaya. Dia pun terkapar menikmati deritanya. Di belakang, Krisna memegang pergelangan tangan musuh, membawanya berputar sesaat, lalu menarik tubuh kurus itu kuat. Dengan keras, lututnya menyapa wajah lelaki itu. Aksi yang membuat rivalnya terpental dengan darah segar mengalir melewati lubang hidungnya. "Aahh!" pekiknya sembari memegang nasal bone yang mungkin patah. Meja penuh dengan botol miras, porak-poranda setelah Kenzo melempar tubuh besar dengan tato naga di lengan. Semua lawannya menggeliat kesakitan dan tak mampu bangkit kembali. Nyali si Kepala Botak menyusut drastis melihat anak buahnya yang tumbang. Pria yang sok kuasa itu, mundur perlahan. Menjadikan sandaran kursi dan sofa sebagai pegangan. Kekhawatiran sekaligus ketakutan meluap dari jiwanya. Sementara, mereka yang menyaksikan perkelahian itu tak mau ikut campur. Privasi tetaplah privasi. Asal tak terusik, mereka pun akan tetap santai seolah tak ada apa pun yang terjadi. Kenzo mendekati lawan terakhirnya sembari mengusap darah segar yang mengalir di pipi. Tatapan lelaki itu jauh berbeda dari sebelumnya, lebih tajam dan menghunjam. Layaknya harimau yang siap menerkam mangsa. Siapa pun akan meringkuk dalam ketakutan dengan sorot mata itu. Kini, dia berusaha untuk menahan diri dari kegilaan yang mungkin akan lepas dari sangkar jiwa. Dia meletakkan p****t di tepian meja. Tangannya merogoh benda celaka yang sedari tadi berdiam diri di balik long coat. Sesaat kemudian, sepucuk pistol bermain di ruas jemarinya. Kenzo menghela napas, mengarahkan ujung senjata tepat di kening pria itu. "Terima kasih. Akhirnya aku bisa olahraga hari ini, tapi aku rasa itu masih belum cukup. Aku butuh darah sekarang." Suaranya tegas dan terseret perlahan hingga membuat bulu kuduk si Botak berdiri. Tubuh tambun lelaki itu gemetar, keringat dingin bercucuran melewati pori-pori kulit. Matanya terpusat ke moncong handgun yang siap melubangi kepala. "Ampun, Bang. Ampun!" pintanya sembari menyatukan kedua tangan. Krisna meletakkan tangannya di pundak Kenzo. Berharap pria itu menarik pistol dari kepala lawan dan menghentikan pertempuran malam ini. Namun, ia memberontak. Kenzo benci harinya dirusak oleh manusia dengan tingkat kecongkakan setinggi langit. Dalam benak sudah bermunculan bayang yang mengasyikkan, melubangi kepala lelaki itu, lalu menjadikannya makanan hiu. "Ken," tegur Krisna sekali lagi. Setelah cukup lama, Kenzo menyerah dan selipkan kembali benda kesayangannya itu ke tempat semula. Krisna mendekati pria yang sedang berlutut di antara nakas. Memandangnya dengan memelas. "Jangan coba-coba untuk cari masalah dengannya atau nyawamu bisa ... wiiiiiiing-" Krisna menggoyangkan telapak tangan kanan, lalu membawanya naik perlahan, "-mampus," bisikan itu mematikan gerak jantung lawan untuk sesaat. Krisna berpindah lokasi. Dia teringat akan wanita yang menjadi pemicu adu jotos itu. Mereka terpaku di depan jendela tembus pandang. Pria yang pintar menahan amarah, kini merangkul pundak kedua jalang bersama senyum sinis di wajah bengisnya. Sesekali tangan nakalnya mengelus kulit lembut wanita-wanita itu, hanya sekadar ingin bermain dengan jiwa yang ketakutan. "Untungnya kami tidak bisa memukul wanita cantik seperti kalian. Namun, jika terulang lagi, aku tidak yakin bisa mengendalikan diri ini. Semoga malammu menyenangkan, Sayang." Krisna meninggalkan jejak di kening salah satunya, lalu pergi meninggalkan tubuh yang mulai tak sanggup berdiri di atas kaki sendiri. Kenzo menepuk pundak bagian keamanan gedung dan berkata, "Bereskan tempat ini!" Kemudian, dia meninggalkan lokasi bersama Krisna yang mengekor di belakang. Bar yang dibuka di bar belakang meja. Menyusuri lorong panjang hingga bersua dengan bilik-bilik jalang Dark Zone. "Hai, Ken. Lama juga lo nggak nonggol di tempat ini," sapa seorang wanita bergaun seksi. Gaun mini dengan potongan menantang. Buka, sementara bagian bawah hanya ditutup ditutup p****t. Bibirnya dipoles lipstik merah darah. Riasan lengkap dengan warna telanjang. Tampak bibir wanita itu tampak menonjol dan terkesan seksi. Di gedung ini, dia pindah ke mucikari. "Tempat ini telah dijaga cukup baik olehmu dan b******n ini. Apa David di ruangannya?" sahut Kenzo. Sang m*******i memandang Kenzo seperti seseorang yang dilanda dahaga. Jemari berkuku indah merayu Kenzo. Mereka merayapi wajah pria itu. "Kurasa dia belum kembali dari Itali. Putranya mungkin menciptakan masalah di sana." "Ck, kamu salah. Dia pasti sedang bersenang-senang di sana. Ayo, Ken! Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu." Mereka melangkah menuju gudang senjata. Krisna dekati sebuah kotak balok bewarna hitam. Panjangnya sekitar satu meter dengan ketinggian tak lebih dari dua puluh sentimeter. Air muka Krisna bersinar. Dia tampak begitu bahagia saat membuka sandi balok itu. Setelah bunyi klik, pertanda kunci terbuka, Krisna mengangkat menutup kotak, lalu memperlihatkan isinya kepada Kenzo. "Senjata terbaru buatan Rusia. Kau suka? David sengaja menyisakan ini untukmu." Mata Kenzo tak beralih dari senjata laras panjang itu, yang masih dalam bentuk terlisah, sejak Krisna membukanya. Bertemu senjata baru dengan spesifikasi mengagumkan, dia seperti menemukan kekasih hati yang telah lama dinanti-nanti. "Apa David mengatakan ini untukku?" "Dia tidak mengatakan secara spesifik. Hanya saja, dia tak ingin menjual ini kepada orang lain meski harga yang mereka ajukan terbilang berlipat ganda dari harga aslinya. Kudengar, senjata ini limited edition. Hanya diproduksi lima set dengan jumlah peluru sebanyak seratus biji. David membeli senjata berikut semua pelurunya. Dia bilang, mungkin suatu hari kau akan butuh ini." Kenzo menyentuhnya dengan mata terpejam. Seolah-olah dia sedang mendengar suara jantung dari senjata itu. "Spesialnya lagi, dalam satu paket, mereka memberi bonus berupa pistol. Sekali tembak, baja tebal sekali pun, dikatakan, akan tembus." "Aku akan membawanya seizin David." Krisna mengangkat alis, lalu menutup kembali box. Dia yakin, Kenzo ingin merangkai senjata itu dan memainkannya. Walau telah dibebaskan oleh David, dia masih cukup menghormati David sebagai pimpinan Dark Zone. Krisna menyukai kewarasan itu. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN