Chapter 12. My Lost Victim

1378 Kata
Sabtu, 20 Juli 2011 Terdengar denting dari laptop Kenzo. Pria yang sedang asyik menikmati makan malamnya, berjalan penuh semangat. Rasa haus akan darah, akan terlampiaskan. Target : Fajar Aristanto Umur : 47 tahun Profesi : Hakim Job : Bunuh bersih satu keluarga Payment : Rp. 1.000.000.000,- Satu milyar pertama Kenzo. Jelas membuat dia puas tiada tara. Nominal yang cukup untuk membeli Pajero Sport. Terlebih lagi, dia akan membunuh satu keluarga. Itu menyenangkan baginya. Tangan yang selalu haus akan kematian, terkadang membuat dia kelimpungan untuk menahan diri. Dorongan kuat dari rasa trauma dan dendam, menjadikan Kenzo sosok yang dingin dan bengis. Hatinya mati. Dia tak lagi bisa merasakan emosi orang lain. Namun, dia tetap punya rule-nya sendiri dalam hal itu. Kesembronoan jelas akan mengubah dirinya menjadi monster mengerikan. Dan lelaki itu tak menginginkannya. Kenzo dewasa berubah menjadi sosok yang kuat dalam mengendalikan emosi. Bahkan terkadang, dia harus melawan diri sendiri di kala iblis mengusik sisi warasnya. Sebuah Knight Armament M110, dipilihnya untuk misi kali ini. Dia akan membunuh tanpa suara. Senyap dan mematikan. Tak ada yang mampu lolos hingga jarak 700 meter darinya. Kecepatan peluru tak akan sempat membuat korban melarikan diri. Dipastikan mati dalam satu kali tembak. Kenzo mengertakkan gigi, menikmati kepuasan hati yang akan didapat sesaat lagi. Matanya yang tajam mulai mengamati rumah besar bernuansa klasik. Terlihat seorang pria berseragam serba hitam sedang mengelus mobil Alphard putih yang terparkir di halaman. Pos satpam yang berada di samping gerbang, tampak tak berpenghuni. Sebuah bonus tambahan untuk dirinya. Kenzo menempelkan gagang senapan di pipi, mengincar target yang keluar dari zona aman dari apature sight (teropong untuk membidik target). Kenzo mengangkat salah satu sudut bibirnya. Terlalu mudah, pikirnya. Satu kali tarikan pelatuk, tembakan dari senapan semi-otomatis melumpuhkan target pertama dengan cepat. Berlanjut dengan tarikan kedua di sepersekian detik berikutnya. Kemudian, dia mengarahkan pucuk laras panjang ke sosok pria hendak keluar dari ruang kemudi. Timah panas meninggalkan jejak di kaca depan. Ah, sial! Dia tak bisa membersihkan TKP sekarang. Kenzo bersandar di kursi, lalu meletakkan senjata api di belakang. Dia mendengkus, lalu memukul roda kemudi. Bagaimana pun dia harus menuntaskan tugasnya. Ketika hendak menarik gagang pintu, telinganya menangkap suara tangis dari kejauhan. Seorang gadis memeluk kedua raga tak bernyawa. Kenzo kembali meraih laras panjang dan mengarahkannya ke sasaran yang terlewat. Dalam diam dia berusaha mengunci target. Namun, entah kenapa ada sesuatu yang janggal dalam dirinya. Kenzo mulai ragu. Tangis gadis itu mengingatkannya akan masa lalu. Dia memejamkan mata, sebisa mungkin mengumpulkan keyakinannya. Niat itu menguat, lalu pudar lagi saat memori lama mengusik. Kenzo luluh. Tidak! Dia harus menyelesaikan misi. Iris kembali mengarah dengan tajam, tapi jemarinya meronta dan berusaha keras untuk melawan perintah otak. Kenzo mengertakkan gigi, wajahnya mengeras. Kali pertama dia goyah dalam bertugas. Haruskah aku membiarkannya atau menuntaskannya? Tidak! Dia harus memiliki kesempatan untuk hidup seperti diriku. Kenzo mulai frustrasi dalam mengendalikan diri. Dia ingin menang, tapi iblis dalam hatinya tak ingin mengalah. Pergi adalah solusi terbaik. Dia bisa membunuhnya nanti. *** Di ruang bicara, Kenzo menatap wajah yang terbingkai dalam lembaran kertas hasil kamera jepretan polaroid. Setelah hari itu, dia hanya bisa melepaskan tangis terakhir lewat layar televisi, yang tak henti memberitakan aksi keji. Gadis itu beruntung karena berhasil menghilang di bulan berikutnya. Jika saja dia masih menampakkan diri, mungkin akan menjadi pemuas terindah bagi Kenzo. "My Lost Victim. Apa kabarmu? Apa kau juga menggila sepertiku? Aku sungguh penasaran." Kenzo menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerja yang nyaman, meletakkan kedua tangan di atas kepala, menikmati angannya-bertemu dengan target yang hilang dan melampiaskan kekesalan. *** Kampus yang tenang, hari ini berubah menjadi pasar malam. Taman yang hijau, diubah menjadi jejeran stand yang menjajakan aneka macam makanan maupun dagangan para penghuni kampus. Suara alunan musik terdengar di berbagai sudut. Beberapa orang terlihat suka kostum untuk menarik minat pelanggan. Zahra melangkah bersama anggota BEM diletakkan menuju aula yang terletak di lantai satu Fakultas Hukum. Ruang luas tak bersekat itu terlihat penuh dengan kursi-kursi berlapis kain putih yang ditata untuk melengkapi kenyamanan para peserta seminar. Nala bersiap di meja paling depan untuk menyambut tamu yang akan datang beberapa menit lagi. "Semua berdiri di sampingmu!" Katakanlah kepada semua panitia. "Dzul, ayo kita sambut Profesor Hamka. Dia sudah dekat. Mungkin sudah lagi sampai. Ruangannya udah siapkan?" Zahra terlihat sibuk. Setelah mengecek kesiapan teamnya, Dzulfikar melanjutkan langkah Zahra menuju ruang dekan. Di hari yang terik, Kenzo memilih motor sport sebagai pengantarnya. Suara knalpot yang menderu, menarik perhatian banyak pasang mata. Secara umum, motor yang dia kendarai hanya ada beberapa di dunia, edisi terbatas. Orang-orang tampak menikmati pergerakan kendaraan mewah itu. Menyilaukan mata. "Keren!" Ungkapan yang diucapkan oleh Kenzo di sepanjang perjalanan. Kenzo berhenti laju motor tepat di samping Zahra. Dzul melirik. Ada rasa yang tidak nyaman melihat dua insan itu berseberangan. "Hei," sapa Kenzo dari balik helm-nya. "Assalamualaikum," balas Zahra yang jelas takkan mendapat salam balasan. Gadis itu mendesah ringan. Andai dia juga membalas salamku, gumamnya dalam diam. Zahra berpaling dan tak sadar Kenzo telah berada di sampingnya, sedekat itu. Bahkan lengan Kenzo hanya membalik satu inci dari pundaknya sekarang. Gadis itu mendeham, berharap Kenzo mengerti dan memutuskan akan menjelaskan yang sudah diberikan sebelumnya. Alih-alih menjauh, Kenzo sebaliknya dengan sengaja merapatkan diri hingga tak ada jarak lagi di antara keduanya. Bak mesin otomatis, Zahra pun menjauh satu langkah dengan segera. "Kau sedang menungguku?" Kenzo bertanya. "Tidak." Zahra kembali bergeser. "Aku sedang menunggu Profesor Hamka," lanjutnya cuek. Ketika Kenzo berniat untuk kembali menempel, Dzul yang sadar akan sikap lelaki itu, merobos ruang kosong di antara keduanya. Pundak Dzul menubruk keras lengan pria yang tak rata dengan miliknya. Kenzo meremas jemari, memegang amarah di sana. Hampir saja wajah asli lelaki itu tersibak. Jika saja tak ada Zahra, mungkin si pria pendek telah habis. "Ah, itu mobilnya datang." Zahraarahkan telunjuknya ke minibus yang melewati jalur beraspal dan mulai menepi tepat di depan gedung. Seorang pria berpostur wanita dengan tebal 160 sentimeter keluar dari pintu samping. Rambutnya mulai memutih dan menipis. Terlihat beberapa lipatan di bukit, mengatakan bahwa dia tak lagi muda. Seorang pria lain datang dari arah depan sembari menenteng laptop tas hitam. Kenzo tersenyum tipis, peluang yang bagus. Lelaki itu melipat tangan - masih setia pakai sarung tangan hitam - ke belakang. Cincin unik yang telah dibuka. Jemari Kenzo merentang. "Assalamualaikum, Prof. Selamat datang di kampus kami. Saya Zahra, ketua senat." Zahra menyapa dengan ramah. Kedua memutuskan menyatu di depan d**a. "Wa'allaikum salam. Iya, iya, kamu Zahra yang aku kenal, kan?" "Alhamdulillah masih ingat."  Profesor Hamka pergi ke Arah Dzul untuk menerima telapak tangan yang menyambutnya. Berlanjut ke Kenzo yang berdiri di sebelah lelaki itu. Dia meminta tangan Kenzo tanpa ragu. Profesor Hamka mengerutkan kompilasi sesuatu yang menusuk kulitnya. Mirip gigitan semut. Dia mengabaikan itu. Akan tetapi, tidak dengan cara pandang Kenzo yang sedikit berbeda dari dua remaja sebelumnya. Iroma ketidaksukaan menggema di hati pria tua itu. Tatapan yang tak bisa dia deskripsikan dengan kata. Namun, cukup berhasil memecahkan nilai positif yang ada untuk sesaat. Profesor Hamka, sedang memahami Kenzo, dia anggota DPR yang telah melakukan banyak proyek fiktif dan menyelamatkan uang rakyat untuk kesenangan dunia. Mangsa besar untuk sebuah kejahatan besar. Kenzo tak sabar menunggu detik-detik terakhir hidup tikus berdasi itu. Selamat menikmati hari terakhirmu, Pak. Kenzo mengubah sorot mengubah dalam sekejap. Tergantikan topeng kepalsuan seperti semula. Dia telah cukup untuk mempermainkan pikiran pak tua itu dan menantikan penayangan drama serial pemuas hasratnya. "Saya salah satu pengagum buku-buku karangan Anda. Oh, iya, saya punya sesuatu untuk Anda, Prof." Kenzo mengirimkan kue yang terbungkus dengan cantik. Melihat tampilan unik dari kotak transparan, Profesor Hamka dibuat terlupa akan mengulas negatif yang disematkan untuk Kenzo. Dengan senyum lebar, dia mengambil kue cokelat itu. Hatinya berbunga. Dia butuh yang manis sebelum memulai seminar. Menurutnya, makanan manis selalu berhasil menenangkan. Kenzo melepaskan sarung tangan, melipatnya dengan teliti, lalu memasukkan kotak khusus untuk menyelamatkannya dari penghuni ransel lainnya. Langkahnya santai dengan kaki Zahra yang tenang. Dia merasa nyaman saat bersama gadis itu, juga memenangkan yang belum pernah dia temukan sebelumnya. Harapan untuk berlama-lama di dekat Zahra, diterbitkan di kepala Kenzo. Haruskah saya mulai main main-main? Pemikiran pembohong Iris coklat pekat memandang gadis itu lekat. Kenzo tersenyum miring bersama kerja otaknya yang mulai menyusun strategi bringas. Mendekati mutiara yang ada di palung laut, haaah, sesuatu yang sulit. Dia bisa saja terjerat dalam jurang laut yang tak berdasar atau menyerah dan mengaku kalah. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN