Chapter 13. Hurt of Beauty

1093 Kata
Ruang luas tak lagi lengang. Peserta seminar telah menerima kursi-kursi yang mengitari meja bundar. Di depan, panggung kecil menjadi perhatian. Pembawa acara mulai menyuarakan kalimat pembukaan hingga pemanggilan Profesor Hamka sebagai pengisi acara. Riuh tepuk tanggan menggaung, membaur bersama seru kekaguman ketika lelaki paruh baya itu menaiki undakan. Sementara itu, Kenzo tak melepas sedetik pun pandangannya dari wajah tua pengisi acara. Dia terlihat menikmati setiap gerakan yang dilakukan oleh tubuh renta di panggung. Entah apa yang dia bahas, Kenzo sama sekali tak mendengar. Dia hanya terfocus pada setiap rasa sakit yang mulai dirasakan oleh korbannya. Racun yang dia gunakan kali ini berasal dari tanaman hemlent. Daun paling mematikan dari Benua Eropa yang sudah diekstrak ke dalam bentuk cair. Zat yang cepat membaur dalam sel darah dan sulit dideteksi oleh ahli racun sekalipun. Hanya dengan satu tetes, cairan itu akan melumpuhkan saraf dan menghentikan sistem pernapasan korbannya dalam hitungan menit. Pilihan yang bagus, Kris. Profesor Hamka merasakan kebas di beberapa bagian tubuh. Semakin lama, perintah otak tak bisa dijalankan dengan baik oleh organ-organ gerak miliknya. Bahkan lidah pun tak sanggup lagi berkata. Tubuh lelaki itu mulai melemah, kaki tak lagi mampu untuk menopang raga. Di menit berikutnya, dia terjatuh. Senyum puas terlihat di wajah Kenzo. Punggung tangan kanannya mencoba menutupi keceriaan itu. Dalam d**a, ada ledakan-ledakan indah bagai ribuan kembang api di tengah malam. Pemandangan itu semakin menarik tatkala mulut Profesor Hamka megap-megap, mencari jalan untuk asupan oksigen organ pernapasannya. Orang-orang di ruangan mulai terheran, termasuk Zahra. Gadis itu berlari mendekati pengisi acara bersama beberapa mahasiswa lain, juga para dosen. "Profesor ...." "Panggil ambulan!" "Ada apa ini?" "Nadinya melemah." Riuh kecemasan semakin mengantar kepuasan sang pria berdarah dingin mencapai klimaks. Namun, kesenangan Kenzo berakhir saat melihat raut wajah Zahra. Ada sebuah rasa yang ingin ditolak oleh hatinya. Alhasil, Kenzo meninggalkan aula untuk meredam rasa aneh yang menghunjam jantung. Seakan ada luka menganga di sana. Sakit. Zahra mencoba untuk memompa jantung Profesor Hamka yang terus melemah. Tubuhnya gemetar, peluh mengalir di kening. Ketakutan yang sama yang pernah ada tiga tahun lalu, kembali hadir. Dia tak sanggup lagi menahan kekacauan dalam dirinya. Gadis tegar itu menyerah. *** Zahra meringkuk di tengah susunan anak tangga. Ketakutan itu menyesakkan jalur pernapasannya, membuat oksigen sulit mengalir ke paru-paru yang mulai mengering. Belum lagi denyut nadinya yang semakin cepat. Akibatnya, gerak tubuh Zahra sulit terkontrol. Dia menyembunyikan tangan yang tak bisa tenang di balik khimar panjang, lalu membenamkan kepala di antara kedua lutut yang tertekuk dan meluapkan kesedihan di sana. Bayangan masa lalu kembali muncul dalam benak Zahra. Hari paling mengerikan itu, andai Zahra bisa menghapusnya dari hardisk indera pengingat, mungkin akan menyenangkan. Dia tak akan tersiksa seperti saat ini. Kesedihan yang selalu berujung pada sayatan luka lama. Sakit... sangat sakit... "Kau baik-baik saja?" Suara seorang pria yang tak asing, melintasi daun telinganya. Gelombang itu diterima dengan baik oleh gendang telinga Zahra dan langsung direspons oleh otaknya dengan anggukan kepala. "Apa kaumengingat rasa yang sama?" Zahra mengangkat kepala, mengusap kedua matanya yang basah dan memerah. Sesosok pria berparas tampan dengan iris coklat pekat duduk di samping kiri. Wajah tenang dan meneduhkan. Mendamaikan siapa pun yang melihatnya. Kenzo. Zahra ingin bersembunyi dan menikmati kesedihannya sendiri. Namun, kehadiran Kenzo tak bisa ditolak. Berbagi rasa mungkin akan sedikit melegakan kekacauan dalam hati, pikirnya. "Aku teringat hari kematian kedua orang tuaku. Ketakutan yang sama, aku rasakan hari ini." "Apa mereka juga meninggal karena sakit seperti Profesor Hamka?" Zahra terbungkam. Pertanyaan yang tak mungkin dia jawab. Setelah peristiwa itu, dia telah berjanji untuk tidak mengungkap masa lalu. Hingga kini, hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya. Dia tak ingin sembrono karena bahaya bisa mengancam setiap saat. Pembunuh itu mungkin tak kan melepaskannya tuk yang kedua kali. Dia tak takut akan ajal yang sudah pasti akan datang menjemput. Namun, Zahra tak ingin nyawanya direnggut oleh tangan kotor manusia itu, yang tak punya hak untuk mengambil alih tugas Malaikat Izro'il. Walau Kenzo adalah tetangganya, dia tetap tak bisa bercerita tentang sejarah terburuk itu. Zahra tak ingin Kenzo menatapnya dengan rasa iba. Dia ingin lelaki itu mrlihatnya seperti saat ini, sorot mata yang menenangkan. Untuk sesaat, Zahra ingin menikmati pemandangan indah itu lebih lama. Aliran darahnya mulai beranjak normal. Oksigen pun berembus gembira memasuki celah tubuh yang enggap. Akan tetapi, irama detak jantungnya masih sama, tapi sedikit berbeda. Ada rasa manis yang meluap di sana, mengukir garis senyum yang membuatnya melayang. "Zahra, Za ...." Tepukan tangan Nala menariknya keluar dari dunia khayalan. Terlalu tinggi hingga dia harus terjatuh begitu cepat. Zahra memutar pandangan, mencari sosok yang baru saja mengisi kesendiriannya. Apa tadi itu mimpi? "Nyari siapa? Ayo ke aula! Noh, ambulansnya udah datang." Zahra mengerjapkan kedua mata, mengusapnya beberapa kali, berusaha untuk meraih kembali kesadarannya. Dia serasa tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. *** Firman melihat motor bosnya terparkir di halaman kafe. Pemiliknya dikenal ramah dan menyenangkan tampak berbeda hari ini. Sorotnya begitu tajam dan tegas. Wajahnya beku dengan kedua tangan mengepal. Entah mengapa bosnya terlihat seperti Hulk yang ingin menghancurkan kafe. Sebagai manusia, Firman punya naluri yang selalu berdering di kala ada bahaya mendekat. Firman memilih diam dan pergi. Dia tidak ingin mengambil risiko dengan menyapa atasannya. Makian atau berakhir pada pemecatan. Ah, itu mengerikan! Langkah Kenzo seakan-akan dipindahkan oleh amarah. Dia membuka kafe tanpa menengok kanan-kiri. Kalimat sapaan yang biasa dia utarakan untuk karyawan, entah hilang ke mana. Sesampainya di ruang kerja, Kenzo lalu lintas masuk dan membanting pintu. Dia berada di titik terendah di dalam tingkat penggantinya. Tatapan Zahra pagi ini sangat mengusik batin Kenzo. Sinar mata berhasil merobohkan tembok pertahanan yang telah dibangun tahun lalu. Terlalu berani mengingat obor dalam senang yang mati. Kenzo menggeram. Dia menyingkirkan apa pun yang ada di meja, melampiaskan amarah yang tak bisa dilakukan pada Zahra. Suara berisik yang tercipta menjadi tanya yang tersimpan dalam pikiran masing-masing karyawan. Tak ada yang berani melewati ruang kerja si bos di lantai dua. Semua memilih diam.  Perlu waktu untuk sendiri. Itulah yang dilakukan Kenzo saat ini. Apa yang sebenarnya sedang terjadi kepadaku? Kenapa tiba-tiba muncul keinginan yang kuat untuk memiliki Zahra? Ah, aku pasti sudah gila. Kenzo bertelekan di nakas. Emosinya semakin tak terkendali. Dia harus kembali mengambil alih kontrol atas dirinya. Dia tak ingin rasa aneh itu terus merobohkan batasan yang dia miliki. Sementara bias indah garis mata Zahra masih melekat kuat dalam ingatan. Seakan-akan bayang itu tak mau pergi dari ingatan. Terus membobol sistem keamanan jiwa yang tertutup kabut kegelapan. Tidak! Kenzo tidak bisa menyerah. Dendamnya belum terbalas. Dia harus mencari cara untuk menghempas perasaan yang tak pernah hadir dalam perasaan. Dia butuh pelampiasan. Kenzo duduk di lantai, menyandarkan punggung di sisi meja kerja. Tangan kanannya merogoh saku kemeja untuk mengambil sebatang diambil tembakau, lalu dinyalakan.  Embusan napas keluar bersama kepulan asap putih, membawa secuil amarah pergi. Tetap seperti itu. Dia tak ingin puas hidup sebelum menikmati kemenangan tertinggi dari kepuasan batin.  Bersambung ... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN