Ummi Aqila merenung di teras. Dia pandangi jalan berjam-jam lamanya. Perasannya sedang tak menentu. Ada kebahagiaan, tetapi juga ada kekhawatiran. Memiliki seorang anak gadis merupakan tanggung jawab besar bagi orang tuanya. Meskipun Zahra bukan anak sendiri, tetapi Ummi Aqila telah menganggapnya sebagai anak kandung. Ketidakmampuan memberi keturunan, membuat Ummi Aqila begitu bersyukur bisa dipertemukan dengan Zahra. Oleh sebab itu, berat hatinya ketika seorang pria datang untuk mengkhitbah Zahra. "Apa yang membuat Ummi melamun seperti ini?" Syeh Husein duduk di sampingnya. "Abah, apa Abah yakin dia pria yang baik? Kok perasaan Ummi nggak enak, ya?" Syeh Husein tersenyum. "Ummi nggak ikhlas Zahra menikah?" "Bukan, bukan begitu, Abah. Ummi cuma ...." "Ummi, serahkan semuanya

