Hana … kamu bisa mulai masuk kerja hari ini. Kita bicarakan masalah kontrak jam 7 malam. Di apartemen XX lantai XX. Bawa juga pakaian dan barang-barang kamu.
Kira-kira seperti itulah ringkasan pemberitahuan dari Ruslan tadi pagi. Ya, Hana menjadi yang diterima untuk menjadi Asisten Rumah Tangga Ammar. Terlalu pagi saat Ruslan menelponnya, Hana sampai tidak sepenuhnya sadar tentang apa yang pria itu bicarakan.
Hana bahkan mengirimkan w******p, bertanya sekali lagi bahwa dia diterima bekerja. Untunglah Ruslan tidak marah dan membalas dengan menjelaskan inti dari percakapan mereka tadi. Pagi hari Hanna dimulai dengan sangat menyenangkan.
“Bersiul terus Na,” tegur Jihan, teman satu kantor Hana. Memang beberapa kali Hana bersiul atau bersenandung, menandakan dia sedang dalam suasana hati yang baik.
“Iya … lagi happy aja,” sahut Hana yang dijawab Jihan dengan anggukkan kepala.
Divisi Finance memang terkenal dengan divisi yang paling tenang. Hal ini dikarenakan direktur finance terkenal galak dan tidak suka dengan suara yang ribut. Diana berumur 35 tahun dan belum menikah. Status Diana ini juga membuat banyak karyawan mencoba untuk menerima sensitivitas yang Diana miliki.
“Hana … pembayaran untuk hari ini sudah selesai direkap? Sudah bisa naik pembayaran?” tanya Diana yang berdiri di depan pintu ruangannya.
Hana menganggukkan kepalanya. “Sudah approve Bu,” jawab Hana.
Diana memberikan jempolnya dan berkata, “Mantap!”
Hana menghela nafasnya setelah Diana kembali masuk ke dalam ruangannya. Jihan menepuk pundak Hana sekilas. Memberikan kode ‘kerja bagus Hana’. Semua mood Diana akan mempengaruhi ritme dan suasana kerja tim Finance selama seharian.
Kinerja Hana sangat bagus, dia sangat teliti dan minim membuat kesalahan. Hana menjadi salah satu karyawan yang sering Diana andalkan. Hana juga sudah bekerja lebih dari 3 tahun di bawah Diana. Tidak heran jika Hana tahu bagaimana ritme kerja bersama Diana.
Divisi Finance terdiri dari 1 orang direktur, 2 orang supervisor dan 4 orang staf biasa. Hana, dia berada di posisi staf yang beberapa orang menebak bahwa jika posisi supervisor ke-3 terbuka, maka Hana yang akan mendapatkan promosi. Atau, jika salah satu dari 2 orang supervisor ada yang mengundurkan diri, nama Hana menjadi kandidat kuat.
###
Hana makan siang di kantin perusahaan. Makanan di kantin perusahaan murah dan enak. Hana makan siang bersama Jihan dan Leony. Hana memilih soto ayam yang sangat segar. Kondisi kantin jelas saja ramai dan padat seperti biasa.
“Gimana Si Gery?” Leony memulai pembicaraan.
Hana mendelik pada Leony dan berkata, “Gila deh! Nama doang Gery, tapi mukanya nggak ada barat-baratnya. Jawa tulen!”
Tiga hari yang lalu, Hana berkenalan dengan seorang pria bernama Gery. Leony dan Jihan menjadi saksi cerita tersebut. Hana berkenalan dengan Gery melalui social media. Hana pun berkesempatan kopdar–kopi darat–sepulang kerja.
“Mana orangnya pede banget. Bukan tipe gue!” pungkas Hana.
Jihan dan Leony tertawa cekikikan. Kisah random dari Hana terkadang menjadi penghiburan mereka di saat makan siang. Ini bukan pertama kalinya Hana punya kenalan yang lucu. Ada saja yang tidak sesuai dengan ekspektasi Hana.
“Udah deh. Itu si Beni dari divisi accounting suka sama lo. Coba deh sekali-kali jalan, nonton atau makan bareng gitu,” tutur Jihan yang memang kerap menerima titipan salam dari Beni untuk Hana.
“Nggak! Dia ingusan tau!” tolak Hana yang memang ilfil luar biasa. Beni punya masalah dengan hidungnya. Selalu ingusan dan itu mengganggu Hana. Padahal wajah Beni cukup manis.
“Lo coba beliin obat deh. Siapa tahu sehat,” saran Leony.
Hana tetap saja menggeleng keras. “Nggak mau berjudi gue. Kalau dia nggak bisa sehat terus ke-ge-eran mampus deh gue,” ucap Hana sambil memakan soto ayamnya dengan semangat.
Leony dan Jihan tertawa. Mereka setuju dengan asumsi Hana. Terlebih lagi, di perusahaan mereka ada yang levelnya sudah dewa karena sangat tampan. Siapa lagi jika bukan Ammar.
“Menurut lo pada, bos Ammar itu orangnya gimana?” tanya Hana yang memang ingin tahu soal calon majikannya itu.
Hana tidak terlalu mengikuti kehidupan Ammar. Padahal pria itu sangat populer, tidak hanya di perusahaan. Namun, juga di media social. Tentu saja karena paras dan hartanya.
“Perfekto!” seru Leony yang memang penggemar Ammar. Dia melamar kerja di Hopefood juga karena Ammar.
“Ganteng dan loyal. Gue mau banget deh jadi sugar baby-nya,” celetuk Jihan.
Ya, bukan hanya Jihan yang mempunyai bayangan seperti itu. Hampir semua perempuan di Hopefood mengidolakan Ammar. Hana, walaupun dia tidak mengidolakan Ammar, dia tetap tidak masalah jika bisa dekat dengan Ammar.
“Tahun ini kita belum ada dengar gosip soal bos ya. Tahun kemarin heboh banget itu siapa cewek yang model itu,” kata Leony mengingat pergosipan yang memang sempat ramai tahun lalu.
“Clara Wilber,” timpal Hana yang memang ingat dengan nama model yang wajahnya tahun lalu wara-wiri di perusahaan mereka.
Entah karena masalah apa, Clara Wiber tidak lagi menjadi model iklan di Hopefood. Bersamaan dengan itu, gosip antara Clara dan Ammar juga lenyap. Padahal, sosok Clara beberapa kali mampir ke perusahaan mencari Ammar. Membuat beberapa orang percaya dengan gosip yang beredar. Bahwa Clara dan Ammar menjalin hubungan.
“Bening banget sih. Gue sempat satu lift waktu itu!” seru Jihan yang kejadian itu memang tidak akan dia lupakan. Hana mengangguk setuju. Karena saat itu Jihan bersama dengan Hana, baru kembali dari makan siang.
“Sayang banget, sekarang model iklan kita bukan Clara lagi,” gumam Leony.
“Tapi … model sekarang cowok-cowok dan bening-bening juga. Lebih oke sih kalau kata gue,” ungkap Hana mengenai pendapat pribadinya. Hana jelas masih normal, baginya melihat pria tampan lebih menyenangkan dibandingkan melihat wanita cantik. Target pasar Hopefood juga jelas para wanita remaja muda yang suka dengan model dan idol-idol K-POP.
Hana, Jihan dan Leony berbincang mengenai siapa model paling tampan menurut mereka. Tanpa sadar bahwa pembicaraan mereka didengar oleh Ruslan yang sedang makan siang juga. Ruslan mendengar hal itu karena sosok Hana, asisten rumah tangga baru bosnya.