Bab 1
Cuaca akhir-akhir ini tidak menentu, siang bisa sangat terik. Namun, saat sore hari menjelang senja hujan turun dengan derasnya. Suasana hati Hana pun juga ikut tidak menentu. Sore ini, Hana mendapat kabar dari buruk dari kampungnya. Seseorang menipu orang tua Hana terkait investasi. Tidak hanya orangtua Hana korbannya, hampir setengah warga kampung Hana menjadi korban.
Nominal yang fantastis. Lima ratus juta rupiah, diantaranya tiga ratus juta rupiah orang tua Hana dapatkan dari menggadaikan sertifikat tanah ladang dan rumah mereka. Kini, mereka mengabari Hana ingin meminta pertolongan pada Hana. Kepala Hana terasa ingin pecah.
“Saat buat investasi nggak bilang, kalau sudah begini baru minta bantuan,” gumam Hana sambil menyeka air matanya. Hana menangis di toilet kantor, dia hanya bisa menangis dan mencoba berpikir jernih.
Hana, dia bekerja sebagai staff finance dengan gaji cukup di Jakarta. Namun, gaji Hana tersebut terasa sangat kurang untuk Hana. Ini dikarenakan lebih dari 70% gajinya dikirim ke kampung. Sekarang, Hana harus memutar otaknya, mencari cara untuk mendapat tambahan pemasukan.
Dicari: Asisten Rumah Tangga. Mengurus seluruh rumah, bisa siap sedia 24 jam. Benefit: Gaji 3 kali lipat lebih tinggi dari pasaran, disediakan tempat tinggal dan juga ada banyak bonus dan benefit lainnya.
“Ini bukannya nomor Pak Ruslan?” tanya Hana sambil memeriksa nomor asisten bos besarnya–Ammar Adrian Mahendra.
Hana langsung mengirim lamarannya ke w******p Ruslan. Dia tergiur dengan gaji yang diberikan. Hana tidak menimbang baik buruknya lagi, dia hanya berpikir untuk mendapatkan pekerjaan tambahan.
Hana kembali ke ruang kerjanya dengan mata yang memerah. Namun, tidak ada rekan kerja yang sadar. Hana langsung memakai kacamatanya kembali, menyamarkan kondisi matanya yang terlihat habis menangis.
###
Ammar memperhatikan berkas calon-calon Asisten Rumah Tangga. Satu nama menarik perhatian Ammar. Ini dikarenakan Ruslan memberikan tanda, bahwa calon tersebut bekerja di Hopefood. Ammar ingat dengan wajah Hana yang memang cukup familiar. Maklum saja, ruangan finance berada di lantai yang sama dengan ruangan direktur. Beberapa kali Ammar pasti pernah berpapasan dengan Hana.
“Hana Naira Maheswari,” gumam Ammar. “Apakah gajinya sangat kurang?” Ammar bertanya-tanya. Karena, Ammar paham sekali bahwa gaji di perusahaannya salah satu yang terbaik di Indonesia. Kesejahteraan karyawan sangatlah diperhatikan di Hopefood.
“Ini lolos berkas Pak?” Ruslan bertanya saat Ammar memasukkan berkas atas nama Hana ke bagian tahap selanjutnya.
“Ya,” sahut Ammar singkat. Ruslan tidak lagi banyak bertanya. Dia setia mendampingi Ammar yang menyeleksi seluruh berkas. Hingga dia mendapatkan 3 calon kandidat yang akan dipanggil malam ini.
Ruslan mengabari para calon Asisten Rumah Tangga untuk datang seleksi malam ini jam 7 malam di sebuah apartemen yang lebih seperti penthouse. Salah satu dari tiga orang itu tentu saja terdapat nama Hana.
Hana Naira Maheswari, selamat kamu lolos seleksi berkas. Malam ini Jam 7 malam di Apartemen XX lantai XX akan ada seleksi terakhir. Silahkan datang tepat waktu.
Hana mengedipkan matanya beberapa kali, dia juga mengucek-ngucek matanya, memastikan bahwa dia tidak salah membaca w******p yang masuk. Hana hampir saja berteriak senang, dia lekas sadar bahwa dia masih di kantor dan suasana di ruang finance selalu sunyi. Hanya suara keyboard yang terdengar.
Ini kesempatan yang sangat baik, begitulah yang Hana pikirkan. Dia akan berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Hana sudah menghitung-hitung bahwa dia bisa menghemat luar biasa.
###
Seleksi tahap kedua yang tidak pernah Hana bayangkan adalah dia harus memasak satu hidangan dan dicicipi langsung oleh Ammar. Tidak hanya Hana yang masuk tahap seleksi tersebut. Ada dua orang ibu-ibu yang terlihat lebih berpengalaman sebagai Asisten Rumah Tangga.
Hana memilih membuat makanan sederhana yang selalu Hana buat jika dia sedang tidak ingin makan. Hana membuat sayur bening bayam dengan jagung. Hana juga membuatkan ayam goreng daun jeruk. Berbeda dengan kandidat lain, Hana memilih masakan rumahan sederhana.
Seperti tebakan Hana, dua kandidat lain merupakan mantan Tenaga Kerja Wanita di luar negeri. Mereka membuat masakan yang sedikit modern dan lebih kebarat-baratan. Hana pasrah saat melihat masakannya berdampingan dengan masakan lain. Dia bahkan sempat meringis pelan, dan mengutuk kebodohannya sendiri di dalam hati.
Ammar duduk di meja makan, dia memperhatikan masakan yang ada di sana. Ammar tidak tahu siapa pemilik masakan masing-masing. Hana tentu saja berdiri sejajar dengan dua orang kandidat lain. Hana masih mengenakan baju kerjanya, wajahnya kusut karena lelah dan juga deg-degan luar biasa.
“Kenapa kamu melamar jadi ART? Apakah gaji di Hopefood kurang besar?” tanya Ammar sambil mengambil sayur bening bayam yang ada di atas meja.
“Keluarga saya sedang membutuhkan uang lebih. Jadi, saya harus kerja sampingan,” jelas Hana yang ketar-ketir saat melihat Ammar menyuap sayur bening bayam yang dibuatnya masuk ke dalam mulut pria itu.
Tidak ada reaksi yang signifikan, hanya kepala Ammar mengangguk pelan. Hana memperhatikan Ammar secara bergantian mencicipi seluruh masakan yang ada. Hana tidak dapat menebak mana masakan yang disukai oleh Ammar. Bahkan, pria itu tidak banyak berkomentar. Ammar lebih banyak menanyakan latar belakang calon Asisten Rumah Tangga yang ada di sana.
“Terima kasih karena telah hadir, saya akan segera mengabari untuk siapa yang lolos untuk bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga di sini. Selamat malam dan ini uang ongkos pulangnya,” jelas Ruslan yang membagikan masing-masing kandidat satu buah amplop putih.
Hana menundukkan kepalanya dan berterima kasih. Wajahnya berseri-seri saat mendapatkan amplop yang tentu saja berisi uang tunai. “Pak Ammar memang terbaik!” seru Hana yang keluar apartemen dengan perasaan bahagia.
Salah satu hal yang membuat Hana betah bekerja di Hopefood adalah karena Ammar memang terkenal baik dan royal pada karyawannya. Jackpot adalah jika Hana berhasil menjadi Asisten Rumah Tangga Ammar juga. Sejahtera luar biasa!