bc

Belenggu Trauma Masa Lalu

book_age18+
4
IKUTI
1K
BACA
HE
age gap
friends to lovers
badboy
stepfather
heir/heiress
drama
bxg
campus
civilian
like
intro-logo
Uraian

Jatuh cinta pada saat akan meregang nyawa terdengar sangat konyol. Bagaimana bisa perasaan itu muncul ketika bayang-bayang kematian sudah di depan mata. Itulah yang terjadi padaku, cinta itu datang di detik ketika aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku.

Seorang pemuda hadir ditengah dera derita yang kurasakan sepanjang perjalanan rumah tanggaku. Dia membawa atmosfer tersendiri untuk hidupku yang malang ini. Namun akankah kami bisa bersatu dalam ikatan yang semestinya ketika hubungan ini terasa tidak memiliki harapan pasti?

Entahlah!

chap-preview
Pratinjau gratis
Menuju Kegelapan
“Mekey!!!” Aku masih bisa mendengar teriakannya. Suara dari pria yang paling kubenci sepanjang sisa umurku. Dia yang membuat kisah cintaku dengan pemuda yang aku cintai kandas karena selalu dibayangi oleh pengkhianatan di masa lalu. Setiap hari aku selalu dihantui rasa curiga sehingga membuat pemuda itu tersiksa. “Aku harus gimana lagi, Sayang? Semua waktuku sudah sama kamu. Hampir 24 jam setiap hari selama hampir setahun ini apa itu masih kurang?” Kata-katanya melambung dalam ingatanku. Kenangan sebelum ajal menjemput simpang siur menghantam kepalaku diiringi suara jerit tangis anak-anakku. Suara para tetangga yang berseru memanggil namaku juga suara-suara lain yang sepertinya siap membawaku ke tempat yang bisa menyelamatkanku dari kematian. “Gak usah! Kalian gak perlu repot-repot. Aku gak mau kembali ke dunia yang tidak berpihak padaku. Aku gak mau lagi hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan.” Kehilangan teman dan kekasih dalam waktu bersamaan membuatku hancur setelah belum lama ini aku masih meratapi kepergian adik kandungku untuk selamanya. “Kenapa aku harus hidup ketika mereka mengharapkan kepergianku? Mereka yang akan merasa beruntung telah kehilangan penghalang untuk hidup bahagia. Aku cuma ingin hidup bahagia dengan caraku meski dengan kematian.” Tubuhku bergerak? Tidak ini di dalam mobil. Ternyata aku dibawa ke rumah sakit. “Untuk apa? Toh sebentar lagi aku akan kehilangan nafas.” Suara tangis dan ratapan penyesalan terdengar simpang siur. Aku tersenyum namun pastinya tak bisa terlihat oleh mereka. Senyum kepedihan yang berharap masih bisa kembali untuk memeluk kedua putriku. “Maafin Mama karena gak sempat bawa kalian. Tapi Mama akan selalu menjaga kalian meskipun kita tidak berada di alam yang sama.” Dadaku terasa terbakar, nafasku mulai mengecil mungkin saturasi oksigen ku sudah menurun. Denyut nadiku mulai melemah, saraf-sarafku terasa mengendur. Kilasan bayangan masa lalu semakin berdatangan termasuk senyum sipu Almarhum adikku terlihat jelas dalam bayanganku. “Inilah waktunya menuju kegelapan abadi. Selamat tinggal semuanya, aku pergi membawa dendam yang belum selesai.” *** Sepi sekali rumah ini, kenapa Mama tega ngelakuin semua ini. Ayu tau selama ini Mama menderita tapi kenapa Mama gak pernah mau membaginya ke Ayu kenapa harus ditanggung sendirian? “Ma ….” Suaraku pasti gak bisa didengar sama Mama tapi aku mau Mama kembali. Aku mau menebus segala penderitaan yang Mama tanggung selama ini bahkan jika harus ditukar dengan kebahagiaanku seumur hidup. Aku menghampiri ruang kerja Mama dimana dia menghabiskan hampir seluruh waktunya di sana. Ruangan itu terasa berkabut tertutup air mataku. Pandanganku tertuju pada foto dirinya yang terlihat begitu anggun dan cantik. Ya, Mama adalah wanita yang cantik tak heran jika ia kerap digoda jika kami sedang berjalan berdua. Di umurnya yang sudah matang orang-orang kerap mengira kalau kami ini adik-kakak bukan ibu dan anak. Namun Mama hanya menanggapi godaan itu dengan senyum tipis dan tatapan kosong. Kebanyakan wanita akan merasa tersanjung ketika dipuji namun Mama hanya diam memusatkan fokus pada apa yang ingin dia lakukan. Terlihat sekali jika dia terkesan tidak bersyukur menerima sebuah pujian namun yang terlihat dimataku— dia hanya menganggap pujian itu sesuatu yang sia-sia. Masih teringat jelas senyum dan tawanya beberapa bulan belakangan ini sejak dia mengenal seorang pemuda yang membuatnya jatuh cinta. Untuk pertama kalinya— terkesan konyol tapi itulah ajaibnya Mama meskipun sudah pernah menikah namun dia tidak pernah merasakan jatuh cinta walau cuma sekedar cinta monyet. “Dulu Mama cuma fokus nyari uang buat bantu Kakek sama Nenek jadi gak punya waktu mikirin cinta. Rata-rata lelaki yang datang cuma betah beberapa bulan atau bahkan beberapa hari. Sikap Mama yang terkesan dingin membuat mereka pergi gitu aja.” Setiap kali mendengar cerita Mama di masa mudanya dulu aku kerap merasa takjub karena Mama lebih mementingkan keluarga daripada kepentingannya sendiri. Bahkan ketika menikah pun dia mengikuti kemauan keluarga tanpa memikirkan perasaannya sendiri. Semua demi keluarga— begitulah yang dilakukan oleh Mama. Aku baru menyadari kekagumanku itu menjadikanku manusia paling egois karena telah mendukung penderitaan Mama selama ini. Pantas saja rona kesedihan selalu mewarnai tatapannya meskipun ia bercerita dengan menggebu-gebu. Hari ini aku baru menyadari bahwa derita Mama begitu luar biasa sehingga dia memilih mengakhiri paksa hidupnya tanpa berpamitan. Aku menyalakan laptopnya, membuka file yang berisi naskah novel yang akan ia terbitkan setelah selesai. Cerita yang akan dipersembahkan untuk pemuda yang dicintainya. Seorang pemuda yang selama ini telah berhasil menghiasi hari-hari mama dengan tawa dan senyum tulus yang selama ini tak pernah kulihat. Saking bahagianya aku ingin sekali bertemu dengannya dan berkata, “Makasih sudah buat Mama ngerasain kebahagiaan meskipun cuma sebentar.” Dia seorang pemuda yang usianya jauh dibawah Mama. Aku tak merasa heran kenapa dia suka sama Mama karena Mama cantik, setidaknya itulah penilaian jujur dari aku anaknya. Setiap jalan sama Mama tak sedikit pemuda atau bapak-bapak yang sering memperhatikan Mama namun Mama seolah tak menanggapi itu bahkan tak menyadarinya. Andai Mama seorang gadis pasti mereka akan serta Merta meminta nomor teleponnya. Bahkan teman-teman Papa mengakui kalau Papa orang yang beruntung bisa memiliki istri yang cantik dan tak banyak bicara. Yang mereka tahu hanya Mama orang yang irit berbicara tanpa mereka tahu beban mental yang selama ini ditanggungnya. Bukannya Mama gak pernah mau berbicara atau sekedar mengobrol santai namun beban mentalnya yang hancur-hancuran membuatnya menutup diri dari kehidupan. Dia lebih suka menciptakan dunianya sendiri melalui karya tulis. Dia menjadi Tuhan yang menciptakan takdir bagi tokoh utamanya dan selalu membuat akhir yang membahagiakan. “Kenapa Mama gak coba buat cerita yang sad ending?” tanyaku waktu itu. Mama cuma tersenyum tipis lalu menjawab, “Dunia ini sudah terlalu menyedihkan untuk memiliki akhir yang indah sebab itu Mama menciptakan dunia yang bisa berakhir dengan indah tanpa harus khawatir apa yang akan terjadi setelah akhir ini karena tidak ada kelanjutan setelah semua selesai kecuali ada serinya.” Saat itu aku belum memahami apa maksud dari ucapannya itu. Aku hanya mengangguk setuju seolah itu semuanya benar. Andai aku tau itu adalah jeritan hati Mama— aku pasti akan memeluknya dan mengatakan padanya bahwa aku akan membuat akhir kisah Mama jadi indah seperti di novel-novel yang sudah diselesaikannya. Andai aku tahu bahwa itu adalah spoiler bahwa dia akan pergi meninggalkan penderitaannya dengan cara tragis mungkin aku akan berkata, “Jangan pergi Ma … ayo kita keluar dari rumah ini. Ayo kita mencari kebahagiaan, jangan pikirkan nasib kami kalau pada akhirnya Mama harus menanggung semua lara ini sendirian. Ayu mau Mama bahagia.” Andai memang ada keajaiban di dunia ini, aku hanya ingin meminta Mama kembali seperti semula. Aku akan membawa Mama kembali pada kekasih yang dicintainya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook