Si Pendosa
Hari-hari berjalan cukup lama namun aku merasa waktu berputar terlalu cepat. Semakin hari tabungan pun semakin menipis. Aku hanya diam seraya memikirkan cara bagaimana uang ini bisa berputar. Terlambat untuk berpikir ketika semuanya berjalan tidak sesuai dengan ekspektasi ku.
Sore itu saudaranya datang untuk meminjam uang. “Bulan depan Tante balikin, ada keperluan mendesak buat bayar cicilan rumah.”
Aku hanya diam mendengarkan Doni berbicara, “Uang kami pun sudah gak ada paling bisa bantu setengahnya.”
Entah bagaimana awalnya— kudengar tantenya ngomongin keluarga yang lain. Dia berkata kalau tidak ada yang mau membantunya. “Mungkin karena kami orang miskin jadi diremehkan.”
Aku hanya tersenyum miris mendengar ucapannya itu. Dalam hati aku berkata, “Kenapa baru ingat kami pas kalian lagi butuh. Selama ini boro-boro datang, nanya kabar dari telepon pun gak pernah. Sekalinya ngirim pesan malah bikin sakit hati.”
Tak lama Doni memanggilku. “Bisa pinjamkan Tante 500 ribu?”
Aku memicing kesal. “Terserah kamu, duitnya ‘kan ada sama kamu!”
Lalu tantenya menjawab, “Loh kata Doni kamu yang pegang.”
“Aku gak punya hak buat megang uang dia. Kalau memang perlu nanti aku ambilkan di ATM.”
Bingung bukan? Ya, begitulah Doni. Dari dia masih bekerja, aku gak pernah diberi kepercayaan menerima gajinya langsung dari kantor alasannya anaknya juga perlu biaya sehingga gajinya lebih banyak ke orang tuanya lantaran anak-anak itu tinggal bersama mertuaku. Sampai uang jual rumah warisan pun dia yang memegang. Hasil satu rumah yang digadaikannya dihabiskan untuk mabuk-mabukkan dan main perempuan sewaktu dia masih sehat. Tapi yang keluarganya tahu akulah yang memfoya-foyakan uang itu. Dia berkata kepada keluarganya bahwa semua uang ada padaku padahal aku sama sekali tak menyimpannya.
Setelah pulang dari ATM, kuberikan uang itu pada tantenya. Aku pikir setelah itu dia gak bakal datang lagi, ternyata dia kembali lagi setelah tiga hari dengan tujuan yang sama. Kali ini dia meminjam setengah dari yang kemarin. Demi mendapatkan uang pinjaman itu dia menceritakan kejelekan saudara-saudaranya dan berkata bahwa mereka telah menuduh aku menghabiskan uang Doni untuk kepentingan sendiri.
“Kalau aku mau ya Tan, udah mewah apa yang aku pake di badan ini. Apa Tante liat aku bergelimang emas permata?”
“Itu dia Key, mangkanya Tante malas ngeladenin omongan orang-orang itu.”
Doni hanya diam mendengar aku dijelek-jelekkan keluarganya. Memang sudah bukan hal aneh jika dia gak pernah membelaku saat diperlakukan tidak baik oleh keluarga ibunya. Aku menelan sendiri perlakuan tidak menyenangkan itu dengan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa padahal bukan main sedihnya dituduh tanpa alasan. Terlebih aku harus tetap menceritakan hal-hal baik tentang keluarganya itu di depan orang tuaku.
Tak heran jika akulah yang selalu jadi tersangka ketika ada masalah karena aku tidak pernah berniat membela diri bahkan untuk membantah tuduhan mereka. Takut? Tentu saja tidak. Aku hanya menunggu waktu yang tepat. Aku biarkan mereka berbicara dan aku diam tapi suatu saat nanti ketika aku mulai berbicara— mereka yang harus diam. Begitulah prinsipku.
“Belum saatnya aku ngomong,” ucapku kepada Doni ketika tantenya sudah pulang.
“Ngomong apa?” tanyanya dengan nada mengejek.
“Omongan yang bakal buat mereka malu sudah membela dan membenarkan kesalahan keponakan mereka tersayang ini.”
“Gak usah ngomong kayak gitu, mereka begitu karena sayang sama aku. Merekalah yang tau aku dari kecil.”
Hanya karena bantahannya itu aku langsung membanting cangkir yang kupegang sampai pecah. “Terus apa urusannya denganku? Kalau mereka yang paham kau dari kecil kenapa mereka menutup mata atas kelakuan j*****m kau selama ini?”
“Kelakuan j*****m apa?”
“Gak usah menolak lupa! Jangan mentang-mentang selama ini aku diam kau anggap aku bodoh!”
“Justru aku yang dibodohi selama ini.”
“Dibodohi apa?”
Dia menatapku dengan mata menyala. “Kemana semua uangku?”
Seketika aku langsung menarik kursi makan dan melemparkan ke arahnya. Suara gesekan kursi dan lantai cukup mengerikan di dengar oleh anak-anakku.
“Gak usah kau banting-banting barang di rumah ini. Semua ini pemberian mamaku!”
Aku tertawa kencang sekali, dengan gerakan cepat aku menyambar kerah bajunya. “Lantas kenapa kalau ini barang-barang Mama? Kau sayang sama barang-barang di rumah ini?”
Tatapannya kian menyala. “Gak usah kurang ajar kau!”
“Kau yang kurang ajar, b*****t! Sayang barang kau bilang? Hahaha … Jangan ngelawak! Siapa yang ngabisin hasil gadai rumah tempo lalu? Seratus juta, bukan nominal sedikit buat kau habiskan dalam waktu satu bulan. Itu yang kau bilang sayang barang orang tua? Itu?!!”
“Aku habiskan untuk modal usaha!”
“Hahaha … beberapa motor butut yang kau klaim puluhan juta padahal modal itu cuma habis kurang dari separuh uang itu. Lantas kemana sisanya?”
Doni terdiam.
“Kau habiskan bersama perempuan-perempuan jalang dan mabuk-mabukkan sama teman-temanmu? Atau kau sedekahkan ke panti asuhan kayak yang kau janjikan sebelum uang itu cair? Yang mana?”
Doni menghela nafas dalam dan berulang. Dia terdiam, tak mampu menjawab pertanyaanku. Jelas saja dia tidak bisa menjawab karena kebenaran itu terlalu menyakitkan untuk diungkit kembali.
“Masih untung aku mau ngurusin kau— si Pendosa yang tidak tahu malu dan tidak tahu terima kasih!”
“Kaulah yang tidak tahu terima kasih!” jawabnya pelan.
Aku kembali menarik kerah bajunya. “Ulangi sekali lagi.”
“Sudahlah lepaskan! Kau bisa semena-mena gini karena aku sudah gak berdaya kalau sampai aku sehat kuhabisi kau!”
Bukan main mendidihnya isi kepalaku sampai tanganku tak sadar sudah menempeleng kepalanya. “Aku tunggu kau sembuh! Kita selesaikan meskipun salah satu dari kita bakal ada yang mati mengenaskan!”
Aku kembali ke ruangan kerjaku. Melihat ponselku yang tergeletak di meja. Aku terpaku karena aku lupa membisukan panggilan. Sudah pasti Zone mendengar semua yang terjadi, tubuhku terasa lemas. Malu bercampur takut menyergap bersamaan. Apa yang ada dalam pikirannya ketika mendengar perdebatan tadi. Pastinya dia berpikir bahwa aku wanita kejam yang telah menganiaya orang yang tak berdaya.
Kuraih ponselku dan berkata, “Halo!”
Tak terdengar suara lain kecuali dengkurannya khasnya yang kelelahan setelah shift malam. Aku seketika terkekeh sendiri, begitu kencangnya teriakanku tidak terdengar olehnya. Wajar saja karena jarak ruanganku dan ruang makan lumayan jauh.
“Untung aja,” batinku lega.
Aku tak bisa membayangkan jika dia harus terlibat dengan perasaan rumit yang sedang aku hadapi saat ini. Biarlah kami berjalan dengan tirai penyekat yang membatasi antara dunia kami dan dunia kelam milikku. Aku hanya ini kami memiliki ruang tersendiri dengan segala suka dan duka yang kami hadapi berdua.
“Kamu tidur?” tanyaku memastikan.
Tidak ada jawaban dan yang terdengar masih suara dengkuran. Aku menaruh ponsel itu dan duduk termenung seraya menikmati hembusan angin sore yang masuk dari celah-celah jendela.