bc

Menginginkan Suami Sahabatku

book_age16+
412
IKUTI
1.4K
BACA
mystery
office/work place
like
intro-logo
Uraian

"Dulu kau yang sudah merebutnya. Kini aku yang akan merebutnya dari pelukanmu."

-Miya-

Kisah perjalanan Miya yang pernah mengalami kecewa karena batal menikah karena ulah sang sahabat yang menusuknya dari belakang. Akankah Miya bisa bangkit dan membalas rasa sakit hatinya pada sang sahabat? Yuk, ikuti kisahnya!

chap-preview
Pratinjau gratis
Gadis Bernama Angel
Selamat Membaca. * "Kamu mau ini?" tanya gadis manis bernama Rhamiya pada teman sebangkunya. Dara cantik yang duduk di sebelah Miya--nan beberapa menit ke belakang berkali- kali menelan air liur itu--mengangguk pelan. Aroma khas kopi yang menguar dari sepotong roti yang baru saja dikeluarkan oleh teman sebangkunya, sukses membuat lambung kecilnya seketika bergejolak. Maklum saja, pagi tadi gadis itu memang belum sarapan. Bukan karena tidak sempat, karena memang di rumahnya tidak ada yang bisa dimakan. Untuk bekal di sekolah pun, ibunya hanya memberi uang saku lima ribu rupiah. Hal itu masih disambung dengan pesan, "Nak, uangnya jangan kamu habiskan semua, ya." Padahal, apa yang bisa membuat perut kenyang dengan uang lima ribu di zaman sekarang? Hal itulah yang kerap kali membuat Angel, nama gadis itu, malas untuk sarapan dan meminta uang pada sang ibu. "Kalau boleh," jawabnya pelan lalu memperlihatkan deret giginya yang putih bersih. "Boleh, dong. Nih!" Miya mengangsurkan potongan roti yang sebelumnya sudah ia bagi dua dengan rata. "Sayangnya aku cuma punya satu, nanti kalau kakekku pulang dari luar negeri lagi, aku titip yang banyak biar kamu bisa makan lebih dari sepotong." "Ma-ka-sih." Menjelang jam pelajaran ketiga di hari pertama masuk SMU, kedua gadis yang duduk sebangku itu saling berbagi sarapan yang sengaja Miya bawa dari rumah. Sepotong roti rasa kopi itu pula yang membuat mereka berdua akhirnya bersahabat. Di mana ada Miya pasti di sana ada Angel. Tepatnya Angel yang selalu mengekori Miya ke mana pun gadis itu pergi. Bagaimana tidak, Miya yang manis, baik dan ramah, mudah sekali disukai oleh banyak orang. Ia pun langsung mempunyai banyak teman meskipun masih terbilang sebagai siswa baru. Rhamiya yang berasal dari keluarga cukup mampu memilih untuk tetap bersekolah di sekolah negeri yang merupakan salah satu SMU unggulan di Jakarta. Dengan nilai UAN tingkat SMP-nya yang mempunyai rata-rata delapan koma tujuh tentu saja ia langsung diterima dengan mudah. Sebenarnya kakek angkat Miya ingin Miya melanjutkan sekolah ke luar negeri, biar bisa sekalian lanjut kuliah di sana. Namun, Miya menolak. Ia lebih memilih untuk bersekolah di dalam negeri. Selain itu, jika ia pergi ke luar negeri, kesempatan untuk bertemu lagi dengan teman kecilnya akan semakin sulit. Saat itu ketika pulang sekolah. "Ada apaan, sih, rame-rame?" gumam Miya yang sedang menunggu jemputan di depan pagar. Kepalanya berputar seratus delapan puluh derajat karena hingar-bingar dari tempat di belakangnya. Ia kembali melangkah ke dalam lapangan belakang sekolah untuk menuntaskan rasa penasaran. "Ada apaan, si, Cley?" tanya Miya pada Cleyrasta, teman sekelasnya yang lebih dulu berada di kerumunan. "Itu, Mi, katanya si Angel mau nembak Kak Dirga." Mata Miya membulat seketika. "Pantas dia nolak waktu tadi gue ajak pulang bareng," batin Miya. "Kak Dirga ketua OSIS?" Miya bertanya-tanya sembari matanya terus mengarah ke arah Angel dan Dirga yang sedang berdiri di tengah lapangan. "Iya. Kak Dirga siapa lagi." "Kak Dirga, aku udah lama suka sama kakak. Mau gak kakak nerima saya jadi pacar kakak?" tanya Angel dengan percaya diri. Sambil tersenyum lebar, ia menyerahkan setangkai bunga mawar ke hadapan Dirga. "Terima, terima, terima!" Tepuk tangan dan sorak-sorai siswa SMU Negeri 1 Jakarta memenuhi lapangan, membuat Dirga semakin bingung. Kaos putih yang ia kenakan di dalam kemeja kian basah terkena peluh yang semakin deras turun karena sebelumnya ia baru saja selesai bermain basket. Embusan angin yang bertiup cukup kencang sore itu mengibarkan seragam putih Dirga yang tidak dimasukkan ke dalam celana dan membalut pori-pori kulitnya yang basah, membuatnya terasa dingin. Sebenarnya Dirga terkejut saat Angel tiba-tiba mengajaknya bertemu sepulang sekolah di tempat ini. Awalnya lelaki muda itu mengira jika Angel membawa jawaban pertanyaannya untuk Miya, tapi ternyata ia salah duga. Dirga mengedarkan pandangan ke seluruh teman-temannya yang melingkarinya. Matanya menangkap sosok Miya yang ikut bersorak sambil bertepuk tangan di antara teman-temannya yang lain. Pelan-pelan, hatinya terluka. "Gue terima." "Yes!" pekik Angel yang terlihat begitu bahagia seiring dengan sorak-sorai yang kembali membahana. Keesokan harinya setelah kejadian itu, Dirga diam-diam menemui Miya yang tengah duduk sendirian di perpustakaan. Pemuda yang baru saja jadian dengan Angel itu sengaja meminta Angel untuk menunggunya di kantin. "Miya, boleh gue ngomong sama lo bentar?" "Boleh aja, Kak, tapi Angelnya lagi ga ada." "Justru itu, jangan sampai Angel tau." Mata Miya memicing. Air mukanya menampakkan rasa bingung yang cukup besar. "Miya, kenapa sih, lo, ga pernah bales chat gue?" "Chat? Chat yang mana, Kak? Kapan kakak pernah chat?" "Loh, kok, aneh? Padahal setiap kali gue chat elo, selalu centang dua kok." "Emang Kak Dirga punya nomor ponsel saya? Tau dari mana?" "Tempo hari gue tanya nomor lo sama Angel. Dia yang kasi tau." Miya terdiam lalu menghela napas panjang. "Lagi-lagi Angel berbohong," batin Miya. "Kak Dirga ngapain pake chat segala?" "Miya, gue itu sebenarnya sukanya sama lo. Makanya gue minta nomor lo sama Angel. Dia juga tau, kok, kalau gue suka sama lo. Bahkan kemarin lusa gue minta tolong tanyain tentang perasaan lo." "Hah?" tanya Miya seraya menutup mulut. "Tapi, kenapa kemarin itu ...." "Ya, terpaksa gue nerima Angel, karena gak mungkin, kan, gue nolak dia di depan orang banyak." Tujuh tahun berlalu, peristiwa saat SMU dulu sama sekali tidak mengubah hubungan persahabatan antara Miya dan Angel. Persahabatan mereka malah kian erat. Bahkan dengan bantuan kakek Miya, Angel bisa berkuliah di tempat yang sama dengan Miya. Miya pun semakin sayang pada Angel selayaknya saudara kandung. Miya juga tidak terlalu mempermasalahkan saat Angel lebih memilih menghabiskan waktu bersama kekasihnya dibandingkan dengan harus bersama Miya, walaupun kadang ia merasa sedih. Tak sekali dua kali Angel menyakiti hati Miya, tapi Miya selalu memaafkan Angel dengan tulus. Miya dengan senang hati membantu segala kesulitan yang tengah Angel hadapi. Baik itu kesulitan dalam hal ekonomi maupun jika sahabatnya itu mengalami masalah dalam hal mengerjakan tugas kuliah. Sehingga suatu hari, terjadi peristiwa yang membuat Miya seperti diterjang petir dan hujan lebat di tengah indahnya pelangi yang sedang ia rasakan. Ketika itu, Miya tengah berbahagia karena sesaat lagi ia akan menjadi istri dari seorang yang sudah lama ia impikan. Namun, impiannya itu seketika hancur lebur. Saat satu minggu menjelang akad nikahnya dengan sang pujaan hati, Angel sahabatnya datang dan mengaku kalau calon suami Miya telah menghamilinya. "Miya, aku hamil. Kak Ahmad yang melakukannya." Kaki Miya mendadak lemas tak bertenaga. Semua kebahagiaan yang beberapa menit lalu ia dekap erat ditarik paksa dalam sekejap. Hawa panas menyelingkupi d**a sehingga membuat air mata serentak mengepung pelupuk mata. Pandangannya gelap. Bersambung.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.7K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.2K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.0K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.2K
bc

Desahan Sang Biduan

read
1K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook