MRH 7 - Yang

2002 Kata
aku udah update Alarick / Bastard Devil sampai 10 chapter tapi entah kenapa masih belum muncul. Ditunggu aja Aku terbangun. Dan yang paling pertama kali kulakukan adalah menarik napas terkejut dan duduk dengan tergesa. Aku melihat ke sekitar kamarku. Baiklah. Masih sama. Semuanya masih seperti kemarin dan kalender juga masih di tempat yang sama. Aku segera melompat dari kasur dan berlari untuk membuka pintu kamar. "Ariel!!" panggilku. Di jam ini, Ariel biasanya sudah bangun. Ariel selalu bangun lebih pagi dari siapa pun. Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi Ariel adalah orang pertama yang bangun di rumah ini. Aku segera berlari ke lantai bawah dan yang kudapati adalah kegelapan karena lampu rumah yang masih dimatikan. "ARIEL!!" teriakku kuat. Kenapa tidak ada tanggapan? Kenapa tidak ada yang membalas panggilanku? "ARIELLA!!" Bajingan. Apakah benar semuanya mimpi?! Apakah aku memang hanya berkhayal karena terlalu merasa bersalah? "ARIEL!!" teriakku sekuat tenaga. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa turun, namun apakah karena ini adalah alam akhirat dan karena itu aku tidak bisa melihat apapun? Napasku tersendat. Aku menatap tak tentu arah di kegelapan ini. Ariel masih tidak bisa kutemukan di sini. Kenapa semuanya gelap? Ke mana semua orang yang biasanya berkumpul seperti lalat?! Ariel. Di mana Ariel? Kenapa tidak ada yang menanggapiku? Tidak bisakah seseorang menanggapiku? Siapa pun! Siapa saja! Tidak. Tidak. Tidak! Ini tidak mungkin! Ariel tidak mungkin sudah— "Erick?" Aku tersentak. Napasku terhenti sejenak saat mendengar panggilan itu. Aku berbalik, namun aku tetap tidak dapat melihat Ariel di kegelapan. "Ariel?!" "Erick, ada apa?" Suara itu ada di sana. Kenapa aku tidak bisa melihatnya?! Apakah ini halusinasiku? "Kau di mana?" "Aku di sini. Apa kau terbangun?" Aku menggertakkan gigiku kuat-kuat. "KAU DI MANA, SIALAN?! DATANG PADAKU!! APAKAH MENURUTMU AKU LELUCON?!" teriakku kuat. Aku tidak peduli jika ini masih sangat pagi dan orang-orang masih tertidur. Aku harus memastikan ini asli. Aku harus memastikan ini bukan mimpi. "Aku di sini, Erick. Aku di depanmu." "Di depanku?" Anehnya, dadaku terasa sakit mendengar bahwa dia di dekatku. Kenapa semuanya gelap? Kenapa aku tidak bisa melihatnya? Demi tuhan, apakah kau imajinasiku? Apakah kau nyata? Apakah aku benar-benar kembali ke masa lalu? Apakah kau benar-benar hidup kembali? Yang kutakutkan, bagaimana jika semuanya sebatas mimpi? Sebatas khayalan? "Aku tidak bisa merasakanmu ..." bisikku. Aku bahkan hampir bisa mendengar suara napasku yang gemetar kuat. Denyutan di dadaku sukses membuatku tidak bisa berbicara dan bernapas dengan benar. Hening sejenak. Aku tidak bisa mendengar apa pun. Bahkan suara napasnya. "Erick, apa aku boleh menyentuhmu agar kau tahu bahwa aku berada di dekatmu?" Aku terdiam sejenak mendengar ucapan minta izinnya padaku. Seperti yang sebelumnya kukatakan, di saat aku memiliki banyak siasat untuk membuat Ariel tersiksa, Ariel selalu memiliki siasat untuk membuatku merasa nyaman. Salah satunya adalah meminta izin jika ingin melakukan sesuatu padaku. Bahkan, untuk menyentuhku saja, dia harus meminta izin. Di saat, aku bahkan memperkosanya dengan keji di malam pertama kami. "Ya ..." bisikku, menjawab pertanyaannya sebelumnya. "Aku juga harus melihatmu." Kemudian tidak ada suara lagi. Beberapa detik kemudian, aku bisa merasakan sesuatu menyentuh perutku. Tangan itu kemudian meraba dan menyentuh tanganku dengan tangannya. Seolah seluruh inderaku yang sebelumnya menghilang kini telah kembali, aku bisa merasakan suara napas Ariel, hangat tubuh keberadaannya dan hangat tangan yang menyentuhku dengan lembut. "Kenapa kau ada di luar kamar?" tanyanya. Jika aku harus tetap berakting sebagai aku yang b******n, aku pasti akan menjawab, "Bukan urusanmu!" Namun, aku saat ini sedang ketakutan. Aku ingin memastikan bahwa semuanya nyata. Jadi, daripada mengatakan hal itu, aku menjawab, "Di dalam terasa dingin." Ya. Terasa dingin. Terasa dingin hingga aku kesulitan bernapas dan harus berlari mencarimu di subuh hari ini. "Bagaimana bisa?" tanyanya lagi. Aku yang b******n pasti akan menjawab, "Kenapa kau banyak bertanya?! Enyahlah!" Namun, kali ini aku menggelengkan kepalaku dan menjawab, "Aku tidak tahu." Hening sejenak. Ariel kembali berbicara, "Baiklah. Kita akan kembali ke kamar dulu. Sakelar lampu ada tepat di dekat kamarmu. Kenapa kau tidak menyalakannya?" "Aku tidak tahu ...." Hening kembali. Aku yakin Ariel sudah sangat heran dengan kelakuan anehku yang tidak b******n dan terkesan menurut. "Kalau begitu, ayo kita pergi." Kami mulai melangkah dengan Ariel yang memegangi tanganku. Dalam kegelapan, aku bisa merasakan tangan Ariel lebih dari sebelumnya. Rasanya benar-benar lembut dan kecil. Seperti tidak ada tulang. Tidak. Lebih tepatnya, seperti hanya memiliki tulang lembut saja untuk dihancurkan berkeping-keping. Aku menghela napas panjang dan mengingat kembali saat-saat aku memukuli tubuhnya. Jika kuingat, saat aku menendang dan memukulinya, aku bisa merasakan rasa tulangnya di telapak tangan dan kakiku. Ariel benar-benar kecil. Benar-benar kurus, dulu. Benar-benar terlihat tidak bahagia dalam pernikahan ini. Tidak bahagia karena bersama sampah sepertiku. Clack! Rasa menyengat di mata, membuat aku menyipitkan mataku dan berkedip beberapa kali. Seolah terbiasa dengan keadaan ini, Ariel biasa saja saat lampu tidak menyala. Sedangkan aku bahkan harus menutup mataku dengan tangan, sejenak. Ariel menoleh ke arahku, menatapku dengan wajah polosnya, sementara aku menatapnya dalam diam. Melihat wajah Ariel dengan jelas dalam cahaya yang terang ini. Ariel saat ini belum terlihat pucat dan kurus. Ariel saat ini masih terlihat sedikit kehidupan, berbeda dengan Ariel di kehidupan lalu yang selalu pucat dan memandangku dengan pandangannya yang putus asa. "Kenapa kau bisa bangun di jam segini?" tanya Ariel, membuatku tersadar dan buru-buru meraih tangannya yang akan melepaskan tanganku. Ariel memandangku heran. Matanya bahkan berkedip beberapa kali seolah merasa hal itu tidak nyata. "Erick?" Dulu, panggilan Ariel terasa mengesalkan bagiku. Sangat menjijikkan mendengarnya dari mulut Ariel. Dan rasa sakit akibat responsku di masa lalu, membuat dadaku berdenyut nyeri. Karena di kehidupan sebelumnya, ketika Ariel menyebut namaku dengan bibir pucat penuh darahnya, aku mengharapkan namaku bisa keluar lagi dari mulut kecilnya. Memanggil namaku. Tanpa darah di mulutnya atau bagian lain di tubuhnya. "Aku bermimpi buruk." Aku merespons panggilan heran Ariel dengan alisku yang bertaut dalam, seolah merasa benar-benar ketakutan. Aku menelan ludahku dengan susah payah dan membuang napasku pelan. Rasanya benar-benar menyakitkan dan melegakan mengetahui ini bukan mimpi. Namun, jika aku tertidur lagi dan terbangun kembali dengan imajinasi bahwa ini semua adalah mimpi, aku akan kembali bersikap panik dan mencari Ariel lagi. Ada yang bilang jika neraka adalah tempat di mana kita akan terus mengulangi dosa yang telah kita perbuat dan juga mendapatkan balasan terus menerus mengalami kematian sama yang berulang. Aku takut jika ini adalah neraka. Dan Ariel adalah hukumanku. Aku menelan ludah dengan susah payah, mencoba menelan rasa sakit yang terasa di dadaku pula. "Apa kau ... ingin kubuatkan s**u?" tanya Ariel dengan hati-hati. Aku kembali menelan ludahku dengan susah payah. Kepalaku mulai berputar, berpikir apakah aku harus mengiyakan atau menolak. Jika aku mengiyakan, maka Ariel akan pergi ke dapur dan aku akan kembali dilanda gelisah lagi. Jika aku melarangnya, maka Ariel akan menganggapku sangat aneh dan memperhatikan perubahan pada diriku. Jadi, yang aku lakukan adalah memegangi keningku. Berakting seolah pusing. "A-ah ..." desahku, memegangi kepalaku dengan dramatis seolah gempa melanda kepalaku. "Erick?!" Ariel segera memegangiku dengan panik. Wajahnya seketika pucat melihat aktingku. "Kau kenapa? Apa kau pusing?" "Aw, aw, aw." Aku tidak menjawab dan oleng ke arah tubuh Ariel. Dia tentu saja memegangiku dengan kuat agar tidak terjatuh. "Hey ... sepertinya karena efek mimpi buruk, kepalaku jadi pusing. Aku ... A-ah, aw ...." "Erick ..." gumam Ariel, menopangku dengan hati-hati. "A-aku akan membawamu ke kamar. Setelah itu aku akan membawa obat—" "Antar saja aku ke kamar," potongku sambil bersandar sepenuhnya pada Ariel. "Sepertinya aku tidak tahan berdiri. Bisakah kau membaringkanku?" Ariel terdiam sejenak, terlihat bingung untuk meresponsku. Entah apa yang dia pikirkan, namun aku tidak akan membiarkannya berpikir dua kali untuk membawaku ke kamar. "Aduh, kepalaku!" Aku berteriak kesakitan dan semakin bersandar di tubuh Ariel. "Sepertinya aku akan pingsan, a-ah ...." "Tidak! Jangan pingsan!" panik Ariel dan mulai menggeser tubuhnya dan juga tubuhku ke dekat pintu. "Tunggu sebentar, Erick! Aku akan membawamu ke kamar! Jangan pingsan terlebih dahulu!" Saat perhatian Ariel teralih ke pintu, aku tersenyum miring dan semakin bersandar di bahu Ariel. Ketika Ariel menoleh lagi, senyumku segera menghilang, digantikan aku yang lagi-lagi memegangi kening. "Aduh ...." Ariel bersusah payah membawaku ke kasur dan mendudukkanku dengan lembut. Dia mendorong bahuku dan membaringkanku dengan pelan. "Aku akan membawa obat, jadi—" "Umph!" Aku segera menutup mulutku, berpura-pura akan muntah. "Sepertinya aku akan muntah—umph!" "Muntah? Kau ingin muntah?" Ariel terlihat semakin panik dan menatap ke sana ke mari, seolah mencari sesuatu. Mulutku tertawa lebar di balik telapak tanganku. "Bagaimana jika aku muntah di sini?! Bagaimana jika aku—umph! Aku akan mengotori kasur dan ...." Ariel menggigit bibir bawahnya. Dia terlihat sibuk menatap sekitar dengan sangat bingung. Tanpa mendengar isi pikiran Ariel, aku tahu bahwa Ariel berteriak, "AKU HARUS APA?!" di dalam hatinya. Muehehehehehehe. "Ah, aku menelannya," kataku kemudian. Ariel melotot ke arahku. "K-kau menelan muntahanmu?!" Aku membuat wajah cemberut dan mengangguk pada Ariel. "Ya ...." Ariel melihatku dengan jijik sekaligus kasian. Sialan. Aku tidak muntah, Ariel. Aku hanya berpura-pura! Kau ingin mencium bau napasku sekarang untuk membuktikannya, huh?! Ariel menggigit bibir bawahnya dengan bingung. Sepertinya, dia tidak tahu harus berbicara apa. Aku membuang napasku dengan lelah, dan berkata, "Aku tidak bisa berjalan dengan benar. Sepertinya, aku membutuhkan bantuan untuk ke kamar mandi. Aku sangat tidak ingin mengotori kasurku." "Kalau begitu, ingin kupanggilkan pelayan?" tanya Ariel dengan cemas. "Bagaimana jika aku muntah saat kau memanggil pelayan?" Ariel diam mendengar pertanyaanku. Aku menahan bibirku untuk tidak tersenyum miring dan tetap mempertahankan wajah lemah, letih, lesu dan suramku. "Kau tunggulah saja di sini. Aku tidak bisa membiarkan kasurku terkena muntahan. Aku akan mengusir semua pelayan di rumah ini tanpa gaji dan pesangon jika kasurku terkena muntahan." "Kenapa begitu?!" "Tentu saja karena mereka tertidur di saat aku muntah." Aku menahan diri untuk tidak tertawa iblis saat Ariel terlihat semakin pucat. Tentu saja, sayang. Kau tahu betapa jahatnya aku. Tidur bisa menjadi sebuah dosa jika aku menginginkannya. Ariel menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. "Kalau begitu ... bolehkah aku tinggal di sini?" Kenapa kau harus bertanya?! Tentu saja itu yang kuinginkan! Muahahahaha! Namun, aku tetap memperlihatkan wajah lemah, letih, lesu dan suramku saat menjawab, "Terserah padamu. Pokoknya, yang paling utama adalah kasurku." "Baiklah ...." kata Ariel sambil duduk di atas lantai. Dia menatap tembok dengan khidmat. "Kenapa kau masih duduk di sana?" "Aku menjagamu agar tidak muntah di kasurmu." "Jadi, kau akan menjadi wadah muntahanku?" "Huh?" "Kau akan menjadi muntahan berjalan. Siapa yang bisa menjamin kalau kau tidak akan bergerak selama aku muntah? Kau bisa saja terpeleset." "Lalu ... aku harus bagaimana?" "Naiklah." "Hah?!" Ariel melotot mendengar ucapanku. Tentu saja, karena ini adalah pertama kalinya aku tidur di atas kasur dengannya tanpa berhubungan s*x. Setelah s*x, jika dia tidak diusir dari kamarku, aku yang akan pergi dari kamarnya. "Cepatlah." Aku berkata dengan lemas. "Naik ke atas kasurmu? Kenapa?" "Kenapa? Tentunya untuk menendangku jika aku akan muntah." "M-menendangmu?!" "Ya. Kasurku lebih berharga dari tubuhku." Ariel kembali berwajah pucat saat mendengar ucapanku. Sepertinya, kekonyolanku masih tidak bisa terdeteksi olehnya karena aku masih dalam karakter bajinganku. "Baiklah ...." gumam Ariel, lagi-lagi menurutiku dan naik ke atas kasur. Dia tidur tepat di sampingku. Walaupun dia membalik tubuhnya membelakangiku, aku tahu bahwa dia sangat kaku, sekarang. Aku menusuk punggungnya, membuatnya berjengit kaget. "Jika kau membelakangiku seperti ini, bagaimana kau bisa menendangku?" Ariel terdiam sejenak sebelum berbalik dan berhadapan denganku. Aku pura-pura menguap lebar di hadapannya, dan menatap Ariel yang matanya masih segar. "Hitung domba untukku." "Maksudmu, menghitung domba agar bisa tertidur?" "Ya." "Kenapa tidak kau yang—" "Aku tidak bisa, karena nanti bisa muntah," alasanku, membalas dengan jengkel. "Kau hitunglah untukku." Lagi-lagi, Ariel terdiam sejenak sebelum menurutiku untuk menghitung domba satu persatu. Ruangan itu hening. Hanya ada suara Ariel yang menatap langit sambil menghitung domba. Dan suara napasku yang berembus perlahan. Di hitungan ke 200, Ariel terlelap di sampingku. Aku menyentuh lehernya yang merupakan titik sensitif Ariel. Jika Ariel pura-pura tidur, dia akan tersentak sekecil apa pun. Dan ketika Ariel tidak bergerak setelah aku meraba lehernya, aku meraih tubuhnya ke dalam pelukanku. Napasku berembus terburu seketika, aku memeluknya erat, menciumi bibir, pipi dan keningnya berkali-kali. Nyata. Benar-benar nyata. Aku mengecup lehernya, membuat satu tanda di sana dan memeluknya dengan erat, memuaskan rasa sesak di dadaku. Merasakan hangat tubuh itu dalam-dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN