Siang saat aku bangun, aku tidak menemukan Ariel di mana pun. Kepanikan kembali melandaku. Aku terbangun dengan cepat dan mendapati seorang pria sedang membuka tirai kamarku.
Mungkin, karena mendengar pergerakan yang kulakukan, pria itu menoleh menatapku. Wajahnya terlihat bosan sekaligus kesal saat bertanya, "Anda sudah bangun?"
Jantungku berdetak kencang saat melihat pria itu. Dia adalah Diego. Personal assistenku yang paling setia dan memiliki jiwa moral yang tinggi. Selain musuh-musuhku yang kubunuh, Diego juga salah satu orang yang kubunuh karena dia membela Ariel.
Saat pengkhianatan Ariel terungkap dan semuanya mulai kacau, aku mencurigainya berkomplot dengan para pemberontak itu dan membunuhnya dengan tanganku sendiri. Saat aku tersadar, aku mengetahui jika aku kehilangan salah satu keluarga yang paling memperhatikanku. Dan Diego bahkan terbukti tidak bersalah setelah aku membunuhnya.
"Diego ..." Aku memanggilnya, turun dari kasur dan segera memeluknya dengan erat. Kali ini aku berjanji tidak akan membunuhmu, kawan!
Diego tidak terkejut dan menghela napas panjang saat melepaskan pelukanku, dia berjalan ke arah walk in closet sambil masih terus berbicara. "Jika Anda melakukan itu karena kemarin membuat saya sibuk sepuluh kali lipat, mohon untuk memeriksakan kepala Anda ke rumah sakit," katanya saat mengeluarkan setelanku di dalam walk in closet. "Karena saya lebih suka gaji saya dikalikan sepuluh kali lipat juga."
Aku cemberut dan kembali menghampirinya, memeluknya lagi dan menciumi pipinya. "Baiklah, aku akan menurutimu, Diego. Aku akan memberikan gaji yang kau minta."
Diego hanya menghela napas panjang dan membiarkan aku memeluknya sepuasnya.
"Diego, kau tahu aku menyayangimu, kan?"
Diego lagi-lagi membuang napas lelah dan menyimpan setelan yang dibawanya ke atas kasur. "Anda sangat mudah mengatakan itu pada saya, namun sangat sulit mengatakan itu pada istri Anda."
Aku tersentak oleh kata-kata mutiara Diego di pagi hari. Dan melihatku kaku, Diego mendengus dingin. "Saya akan membantu nyonya di bawah. Cepatlah bersiap."
Aku tahu jika Diego ingin pergi setelah mengatakan hal itu adalah karena aku pasti akan mengeluarkan kata-kata jahat yang menghina Ariel untuk membalas ucapannya. Karena itulah Diego mengakhiri percakapan kami di sana.
Aku menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Diego. Berpikir, apakah mungkin uang yang dikeluarkan untuk membeli obat-obatan adalah uang simpanan Diego?
Karena walaupun setia padaku, dia sangat perhatian pada Ariel. Dia benar-benar seperti keluarga bagi kami. Di saat orang-orang kantor meremehkan keberadaan Ariel, Diego adalah satu-satunya orang yang bersikap sopan pada Ariel.
Dan aku yakin, Ariel memilih tidak mengajak Diego adalah untuk membuat Diego tetap di sampingku dan menghiburku jika orang-orang berbalik arah memunggungiku. Ariel juga mungkin menugaskan Diego untuk menghiburku di kala aku kehilangan Ariel. Namun bodohnya, aku malah membiarkan Diego terbunuh dengan tanganku sendiri.
Serius, diriku yang b******n, aku sangat ingin membunuhmu.
Kenapa kau tidak pernah menilai sesuatu dengan benar, wahai diriku yang b******n?
Tangan kotor yang sudah dikotori oleh darah Diego pun melayang ke pipiku sendiri. Mataku terangkat, dan mendapati bayanganku di depan cermin rias. Aku menatap pantulan diriku di cermin dan berkata, "Kau iblis," ejekku pada diriku sendiri.
Aku membuang napas panjang, mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi.
***
Aku selalu berpikir bahwa aku ini memang tampan. Dan setelah terlahir kembali dengan tubuh yang lebih muda, aku menyadari bahwa aku terlalu tampan. Aku menyempatkan diri untuk senyum-senyum sendiri di depan kaca, lalu melakukan mirror selfie sejenak. Ponsel jadul ini benar-benar membuatku kesusahan. Aku benar-benar lupa cara menggunakannya. Ini sudah ketinggalan zaman selama 5 tahun.
Aku berdecak kesal melihat tidak ada filter yang dulu selalu kugunakan untuk posting di Instakilo (plesetan i********:). Aku akan menyuruh Diego untuk membuat filter estetik, nanti. Dan aku juga akan menyuruhnya berinvestasi di perusahaan smartphone.
"Erick, ini semua ... apa?"
Ariel sang malaikat bertanya padaku ketika aku menuruni tangga rumahku dengan anggun. Dia melihat belanjaan yang dibawa oleh anak buahku atas suruhanku pada Diego, sebelumnya.
"Ah, sudah datang?" tanyaku pada Diego dan Ariel.
Ariel hanya bertanya dengan heran. "Apa ini semua untuk temanmu?"
Aku mengernyitkan alisku, berpura-pura bersikap sebal. "Kenapa aku harus membelikan baju untuk para wanitaku? Mereka memiliki fashion, sedangkan kau tidak. Kemarin kau berdandan seperti gembel dan aku hanya ingin membelikan pakaian-pakaian itu untukmu. Kau harus memakai semuanya bahkan ketika sedang di rumah. Jangan membuatku malu."
Dengusan sebal yang datang dari Diego, membuatku menoleh ke arahnya. "Apa?!" tanyaku, nyolot.
Diego hanya tersenyum mengejek ke arahku. "Baik hati sekali Anda memberikan istri Anda pakaian setelah tiga tahun pernikahan. Itu adalah waktu yang sangat singkat untuk mulai memperhatikan istri Anda."
Aku sempat lupa jika PA-ku ini benar-benar blak-blakan dan kurang ajar. Tidak heran aku membunuhnya di masa lalu. Mulutnya benar-benar penuh dengan kejujuran. Terlalu penuh kejujuran hingga aku ingin menggorok lehernya.
Apa aku pecat saja dia?
"Ini sungguh-sungguh untukku?" tanya Ariel, membuatku berhenti berpikir untuk memecat Diego.
"Apa telingamu sudah berpindah tempat?! Sudah kukatakan kalau itu semua untukmu!"
"Tidak! Hanya saja, bukankah ini terlalu banyak?"
Oh Ariella yang malang. Dulu kau bisa membeli satu karung Diur (plesetan Dior) jika kau menginginkannya. Semenjak aku membuat hidupmu melarat, kau bahkan lupa akan nikmatnya kemewahan, sekarang. Beberapa biji pakaian dengan merek ternama ini, takkan membuatku kehabisan uang.
"Yah, itu memang mahal. Karena itu kau harus banyak berterima kasih padaku dan jadi istri yang patuh. Kau mengerti?" sewotku padanya.
Ariel menundukkan kepalanya dalam-dalam dan bergumam dengan pelan. "Baiklah ... terima kasih, Erick."
"Bagus." Aku tersenyum puas. Merasakan sengatan kesinisan di sisi tubuhku, aku menoleh pada Diego. Dia melihatku dengan pandangan yang benar-benar menghakimi. "Apa lagi, sekarang?!"
Diego hanya mendelik. "Tumben sekali kau memanggilnya istrimu," sinisnya dengan senyum miring. "Dan kau bahkan mengatakannya di hadapan para pelayan."
Tubuhku kaku seketika saat mendengar ucapan Diego. Pandanganku yang semula hanya ada aku dan Ariel kita yang malaikat ini, kini bisa melihat lebih jelas sekitarku saat mendengar ucapan Diego.
Biar kukatakan sekali lagi dengan sangat amat jelas.
Aku adalah b******n.
Si suami b******n yang terlahir kembali ini, dulunya sering memanggil istriku sendiri dengan sebutan : jalang itu, wanita itu, pengemis itu, si sialan itu, beban itu, dan kata-kata penghinaan lain sebagainya yang bahkan tidak bisa kalian bayangkan. Dan aku selalu mengatakannya di hadapan orang lain untuk memperlihatkan kekuasaan sekaligus posisiku yang tinggi di hadapan Ariel dan semua orang.
Lalu, si b******n yang biasanya tidak absen menghina Ariel kita yang malaikat ini, kini berkata bahwa Ariel adalah istrinya. Sekali lagi, diriku yang hina dan penuh dosa ini mengakui di hadapan semua orang bahwa ARIEL ISTRIKU. Perubahan yang sangat drastis bukan, kawan? Maka dari itu, Ariel sekarang menunduk dengan malu-malu di hadapanku. Di hadapan semua orang.
Aku menelan ludahku dengan susah payah, kemudian berdeham. "Lidahku terpeleset. Sepertinya aku membutuhkan permen."
"Anda tidak pernah memakan permen."
"b******n, Diego!! Apa kau tuli?! Sudah kubilang, kita berangkat sekarang!"
"Anda baru mengatakannya barusan."
Aku menggeram kesal dan berjalan melewati Ariel tanpa berbalik sambil berteriak. "Ayo pergi!!"
"E-Erick? Sarapannya?"
Langkahku terhenti seketika. Begitu pula dengan langkah Diego yang berada di belakangku. Jika itu adalah aku yang b******n, aku akan pergi begitu saja tanpa mendengar ucapan Ariel atau mempertimbangkan kerja kerasnya.
Namun, aku yang sekarang hanya dapat menghela napas panjang dan menahan malu di hadapan semua orang. "Ah, Diego, apa kau tidak mendengar suara perutku?"
Diego yang ada di belakangku menjawab, "Tidak—"
"Sepertinya, aku harus sarapan di sini dengan sangat terpaksa." Aku berbalik, sambil mengumpat pada Diego yang menghancurkan rencanakan agar tidak malu. Aku berdecak, pura-pura kesal. "Kenapa perutku tidak bisa diajak kompromi sekali, hari ini?"
Diego yang mengikuti di belakangku berucap, "Kenapa Anda sangat aneh sekali, hari ini?"
Diam kau, manusia j*****m!