Aku menelan ludahku dengan susah payah. Baru satu jam aku meninggalkan rumah, tapi pikiranku tidak bisa fokus sedikit pun.
Setelah mengoceh tentang pekerjaan kemarin dan diselipkan keluhan-keluhannya, Diego akhirnya penyuruh sekretarisku untuk datang dan memberitahu apa yang harus aku lakukan hari ini. Memberikan dokumen-dokumen yang harus ditandatangani, dan juga menyuruhku untuk mengunjungi Wakil Presdir pada siang ini. Aku tahu bahwa nanti juga akan dimarahi karena bolos tanpa izin. Hanya saja, apakah ini masuk akal? Aku adalah bosnya!
"Ini. Ambil proyek ini," kataku malas, memberikan dokumen yang hanya sekilas kulihat. Melihat dari merk di sana saja, aku tahu bahwa itu akan sukses.
Diego menghela napas panjang. Dia segera mengambil alih dokumen dari sekretaris yang kulupakan namanya itu, dan segera menyuruh entah Lala entah Lulu itu pergi. Sepertinya, wanita itu kupecat tidak lama kemudian. Kenapa aku dulu memilihnya, ya?
"Bos, apakah kau takut?" tanya Diego setelah Lala-Lulu itu pergi.
Aku hanya menyandarkan daguku ke atas permukaan meja, dan bertanya dengan malas, "Takut tentang apa?"
"Takut dimarahi oleh Wakil Presdir dan anggota dewan. Itulah kenapa saya menelepon Anda dengan rajin, kemarin. Tapi Anda malah memblokir nomor saya."
"Aku bahkan tidak tahu apa yang kau maksud."
"Tidak tahu apa yang saya maksud? Kalau begitu, kenapa Anda terlihat gelisah sedari tadi? Saya bahkan belum kembali ke meja saya. Dan asal Anda tahu, saya sudah berada di sini selama sejam!"
"Aku tidak gelisah. Aku hanya malas!" seruku sambil duduk dengan bahu yang merosot ke bawah.
"Lebih baik Anda berkaca. Anda benar-benar gelisah, hari ini," kesal Diego, memejamkan matanya dan menghela napas panjang melihat aku yang menatapnya dengan cemberut parah. "Hah ... apa salahku, sebenarnya? Kenapa aku bisa diterima di pekerjaan ini?"
Bibirku cemberut semakin parah. Dan rasa malasku meningkat tajam. Aku menjatuhkan kepalaku dan menyimpannya di atas meja. Mataku menatap ke arah jendela, di mana di sana terlihat banyak bangunan mewah yang lebih rendah daripada bangunanku.
Gelisah, ya?
Tentu saja. Ini baru 2 hari.
Selama 2 hari aku terbangun, dan aku masih tidak percaya ini nyata.
Dan kalau pun memang benar aku gelisah, itu karena aku takut jika aku pulang, aku malah mendapati Ariel menghilang lagi. Sangat sulit untuk berjauhan dengannya setelah kehidupanku yang sebelumnya. Bayangan Ariel yang mati di hadapanku, di genggamanku, itu masih amat sangat terasa nyata.
Ya, Ariel mungkin belum mati saat itu. Masih bisa berbicara dalam keadaan sekaratnya, dan masih bertahan hingga aku menyusulnya dalam kematian.
Ariel ....
Aku mengangkat kepalaku, mataku masih memandang jendela di sana, dan mulai berpikir, apakah pernah Ariel memberikan kalimat yang Diego berikan padaku?
Apa salahku ...?
Diego bertanya seperti itu, sebelumnya.
Namun, apakah Ariel pernah?
Setelah penyiksaan yang kuberikan, setelah pengorbanan yang dia lakukan, apakah pernah Ariel menanyakan apa kesalahannya dan kenapa aku berbuat separah itu padanya?
Ariel terlalu baik.
Saat itu, kenapa aku tidak menceraikannya?
Ariel sudah setuju untuk menceraikanku lebih dulu, tapi apa yang membuat kami tidak jadi melakukannya?
Aku lupa.
BRAK!!
"BOS!!"
Teriakan menggelegar Diego, membuatku tersentak dan menatapnya dengan terkejut. Diego menatapku dengan tajam, urat-urat di pelipisnya bermunculan dan napasnya berembus kasar.
Diego benar-benar terlihat marah.
Aku tersentak, teringat bahwa sedari tadi melamun sementara Diego terus berbicara. "D-Diego, tahan dulu! Aku—"
"AKU MEMANGGILMU, DAN KAU MENGABAIKANKU SEDARI TADI!!" Diego berteriak kencang, membuatku harus mengangkat kedua tanganku di udara.
"Tenang!! Aku—"
"Dasar kau!! Bos BADJINGAN!! ANJING!! BABI!! MONYET!! GAJAH!! JERAPAH!! RUSA!! #_#-$+$(#))!!"
Dan segala umpatan Diego yang berisi seluruh kebun binatang pun, keluar. Aku hanya bisa pasrah dan memejamkan mataku seolah bermeditasi.
Ah ....
Aku harus memecatnya.
***
Aku menarik napasku dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan. Mataku menatap pintu yang bertuliskan kata Vice President dengan tegang, sementara Diego yang berada di belakangku hanya mendengus sinis.
"Sudah saya duga, Anda takut."
Aku hanya mengabaikan ejekannya yang kurang ajar itu. Aku harus sabar. Diego tidak tahu bahwa dia sudah dibunuh olehku di kehidupan sebelumnya. Jika dia tahu, dia mungkin akan kabur dan menangis sambil terkencing di celana. Bersyukurlah aku hidup kembali, sialan!
Yang membuatku tegang bukanlah aku takut dimarahi. Namun di balik pintu tersebut, ada orang tua yang selalu memberikan ceramah panjang lebar padaku.
Orang yang mengkhianatiku di kehidupan sebelumnya.
Tanganku terulur, meraih kenop pintu dan membukanya sekaligus, membuat seseorang yang sedang memandang dokumen sambil meminum teh di sofa itu, sedikit terkejut dan memandangku dengan kesal.
"Tuan Muda, kenapa kebiasaan Anda tidak pernah berubah? Saya sudah sering mengatakan pada Anda untuk mengetuk pintu sebelum masuk! Anda membuat pria tua ini terkejut." Di hadapanku, seorang pria beruban dari rambut hingga janggutnya. Pria itu adalah Sergei Loba. Sejak kecil, aku selalu memanggilnya Tuan Loba, dan semenjak aku menjadi atasannya, aku memanggilnya Sergei.
Aku berjalan santai ke hadapannya. Sergei langsung menyimpan dokumen dan juga tehnya di meja, sementara aku langsung duduk di sofa yang berhadapan dengannya. "Ada apa kau memanggilku?" tanyaku, acuh tak acuh.
"Ah, aku sudah mendengarnya dari Diego. Kemarin, kau membawa nyonya ke rumah sakit?" tanya Sergei langsung. Bibirnya tersenyum tipis. "Kau juga membelikannya pakaian baru, pagi ini."
Bulu mataku terangkat, menatapnya datar dan memainkan kukuku seolah tidak mengerti apa yang dia katakan. "Kau selalu mencampuri urusanku. Membuatku sangat terkekang."
Sergei hanya mendengus pelan dengan senyum tipis yang masih terukir di wajahnya. "Pria tua ini hanya merasa sedikit senang mendengar kabar ini."
Aku berhenti memainkan kukuku dan beralih menatapnya.
Pria tua.
Ya, dia memang tua.
Itulah kenapa dia mati.
Aku tahu apa yang kalian pikirkan saat mendengar kata mati dari narasiku. Tapi, tidak. Dia bukan mati di tanganku. Dia mati karena usianya. Sergei memiliki penyakit menahun yang selalu kambuh di musim dingin. Yaitu, penyakit jantung.
Perlu diperhatikan. Ada dua jenis pengkhianat yang mengkhianatiku.
Pertama, pengkhianat yang memang berniat jahat padaku.
Kedua, pengkhianat yang berniat untuk kebaikanku.
Ariel dan Sergei adalah pengkhianat kategori kedua. Sergei merupakan teman lama kakekku, dan orang yang menyayangi Ariel dengan tulus karena sudah ikut mengasuhnya sedari kecil. Dalam keadaan sakitnya, Sergei selalu memperhatikanku. Dia yang bertahan dengan pekerjaan ini, juga merupakan perhatiannya untukku.
Sampai akhir, aku tidak pernah memecat Sergei. Sergei berhenti dari pekerjaannya karena dia harus dirawat di rumahnya. Sebenarnya, Sergei sendiri tidak membutuhkan pekerjaan ini. Dia berdiam dalam pekerjaan ini karena dia memikirkanku dan juga mengkhawatirkan Ariel.
Tanpa pekerjaan ini pun, Sergei menjadi orang yang berpengaruh dan kaya raya.
Alasannya mengkhianatiku dan membeberkan kelemahanku adalah karena aku sudah berada di jalur yang membuat Sergei harus menyerah untuk memperbaiki sifatku.
Aku sudah membunuh banyak orang.
Sangat banyak orang.
Tidak ada yang bisa menghentikanku kecuali kematian.
Hukum sudah berada di bawah kakiku, dan kekuasaan sudah berada di tanganku. Dengan menginjak orang lain, membunuh siapa pun yang tidak kusukai dan membuat mereka bertekuk lutut pada kekuasaan, membuat banyak orang-orang kehilangan apa yang menjadi milik mereka. Tidak heran jika banyak orang yang ingin membalaskan dendamnya dengan cara membunuhku.
Aku yakin, jika saja Ariel tidak mencari jalan agar aku dijebloskan ke penjara, cepat atau pun lambat, aku pasti akan dibunuh oleh orang yang membenciku.
Dan kematian Ariel adalah contohnya.
Remaja bernama Bas itu, tidak bisa menahan dirinya untuk membunuhku.
Aku sudah membantai seluruh keluarganya. Wajar saja jika dia ingin menggorengku ke dalam neraka.
Hanya saja, karena aku membantai banyak keluarga, aku tidak tahu si Bas-Bas ini anak siapa dan dari keluarga mana. Dan setelah memikirkan bahwa aku tidak harus mengusiknya, jadi aku hanya harus melupakannya saja.
Aku menghela napas panjang dan melipat tanganku di depan d**a. Tidak membalas ucapan Sergei setelah ungkapan kebahagiaannya tadi.
"Ah, benar." Sergei kembali berbicara, meraih dokumen yang tadi dibacanya dan memberikannya padaku. "Bisakah kau membacanya sebentar? Ini adalah ide software dari tunangan cucuku. Kupikir idenya sangat bagus dan bisa mengembangkan teknologi."
Aku mengerutkan alisku dan meraih dokumen yang diberikannya.
"Ini ...?!" Mataku membulat hanya dengan membaca judulnya saja.
Android!!
Badjingan! Ini adalah ketika smartphone mulai berkembang! Kenapa aku tidak mendapatkan dokumen ini, di masa lalu?!
Tunggu.
Biar kupikirkan lagi.
Dulu, aku membenci siapa pun yang membela Ariel. Dan Sergei adalah salah satu pria yang kubenci. Sepertinya, di masa lalu dia pernah mengatakan sesuatu tentang tunangan cucunya. Dan aku hanya menolaknya tanpa membaca lebih jauh. Karena kupikir, Sergei hanya ingin menaikkan nama cucunya saja.
Wahai diriku yang sombong luar biasa di masa lalu, apakah kau buta?! Bukan kau yang seharusnya menolak dokumen ini, tetapi mereka yang menolak bekerja sama dengan bos bodoh sepertimu!!
Tanpa sadar, bibirku tertarik miring dan mendengus. "Wow," gumamku pelan.
Sergei melipat bibir yang dipenuhi kumis putih itu, dan mengetuk jarinya di sandaran tangan sofa. "Biayanya memang tidak sedikit dan menghabiskan hampir 3 kali lipat untuk satu proyek. Namun, seharusnya itu harga yang sesuai untuk ide cerdasnya."
Tentu saja sesuai. Bahkan modal ini terlalu murah untuk kuberikan.
Senyum miringku melebar, dan aku melempar dokumen itu ke atas meja. "Lakukan saja. Aku tidak ingin ada kegagalan."
Sergei yang tadinya melihat dokumen yang tergeletak itu dengan pasrah, mengangkat wajahnya dengan cepat dan terbengong seketika. "Y-ya?! Maksudmu ... kau menerima ...?"
Aku membuang napas dengan acuh tak acuh. "Bukankah kau bilang bahwa dia adalah tunangan cucumu? Coba saja. Dia setidaknya harus menaikkan nama jika ingin menjadi bagian dari keluarga Loba."
Sergei mengedipkan matanya berkali-kali, terlihat sangat linglung.
"Tuan." Diego yang berada di belakangku, membungkukkan badannya dan berbisik. "Itu seharga 3 proyek, jika Anda tidak mendengarnya."
"Hm, aku tidak tuli." Aku mengibaskan tanganku dengan santai. Bibirku tersenyum lebar saat menjawab. "Yah, lagipula, aku berencana untuk membatalkan 3 proyek."
Setidaknya, ada lebih dari 3 proyek yang korupsi di tahun ini. Proyek-proyek yang dipegang oleh anak-anak dari pemegang saham. Proyek-proyek gaib yang muncul hanya untuk menaikkan nama anak-anak mereka. Money laundry ini akan membuat perusahaanku hampir bangkrut karena kerugian 20 persen. Hampir mencapai persenan 30 jika saja Sergei dan Ariel tidak membantuku di masa lalu.
Aku berdiri dari sofa dan memandang Sergei dengan acuh. "Percepat saja proyeknya. Karena aku ingin melihat hasilnya dengan cepat. Buktikan jika aku tidak akan rugi memberikan modal untuk tunangan cucumu."
Aku berbalik dan mengabaikan Sergei yang masih linglung di kursinya. Yah, setidaknya, proyek ini malah akan memberikan keuntungan besar-besaran untukku.
Aku mengingatnya. Keuntungan yang didapatkan oleh Felix Wilkinson hampir mencapai 60 persen dari modalnya. Itu adalah keuntungan yang sangat besar. Apalagi, OS itu akan menyebar cepat layaknya api.
Felix Wilkinson.
Mengingat nama ini, ingatanku pun menuju pada seseorang yang hadir di kehidupanku yang lalu.
Xavier Wilkinson.
Owner.
Di kehidupan kali ini, aku bersumpah.
Aku tidak ingin dan tidak akan terlibat dengan pria itu.