MRH 10 - .

1705 Kata
Xavier Wilkinson. Tidak banyak orang yang bisa mengucapkan namanya dengan mulut mereka sendiri. Bagi orang-orang kalangan atas yang mengetahui identitasnya, kami menyebutnya Owner. Orang-orang yang bisa memanggilnya Xavier hanya ada beberapa orang saja. Dan Ariel adalah salah satunya. Di tahun ini, aku seharusnya sudah mulai mengganggu Xavier demi menaikkan namaku dan membuat seolah-olah Xavier bukanlah siapa-siapa. Sepertiku, banyak orang yang juga ingin membunuh Xavier. Karena Xavier juga membunuh salah satu anggota keluarga mereka. Caraku membunuh dan cara Xavier membunuh tentu saja sangat berbeda. Aku tidak pandang bulu, membunuh orang yang tidak bersalah dan membantai mereka. Sedangkan Xavier hanya membunuh orang-orang yamg berani mengusiknya. Termasuk aku. Xavier mulai berhenti membunuh secara sembarangan ketika dia menikah dengan seorang wanita bernama Emilie dan dia juga memiliki anak dari istrinya itu. Keluarga yang sangat bahagia. Dan aku yakin, jika aku mengganggunya, dia tidak akan bisa menggangguku. Karena Xavier memiliki kelemahan. Sementara aku tidak. Xavier memiliki istri dan anak yang dicintainya. Sementara aku merasa setiap orang di sekitarku itu tidak penting. Terutama Ariel. Jadi, aku mulai mencari tahu latar belakang Emilie dan mengatakan pada media bahwa Emilie adalah anak haram dan dia menggoda kedua kakak tirinya untuk sampai pada titik ini. Hingga suatu hari, karena kejadian itu, aku mendapatkan sebuah telepon. Suara serak terdengar saat aku berkata, "Hallo," pada nomor tidak dikenal yang menghubungiku. "Kau mengusik istriku. Karena itulah, aku akan mengusik istrimu." Aku lupa tentang apa yang kurasakan saat mendengar ucapan itu. Dan saat aku pulang ke rumah, aku tidak melihat Ariel di mana pun. Hanya genangan darah dari beberapa pelayan dan bahkan ada yang kepalanya juga terluka. Sarah, namanya. Wanita tua yang keningnya memiliki sedikit darah itu tiba-tiba berlari dan bersujud di hadapanku. Matanya berlinangan air mata dan mulutnya gemetar saat berkata, "Tuan, Nyonya ... Nyonya ...." Napasnya tersendat kuat saat dia mengeluarkan beberapa kata itu. Isakannya kuat, dan dia menarik tanganku seolah sedang putus asa. "Ny-nyonya ... seseorang bernama Owner ... menjambak rambut Nyonya ... menyeretnya ... demi kami ... demi kami, Nyonya ...!!" Tanpa aku harus mendengar cerita lengkap pun, aku tahu apa yang dikatakan oleh pelayan itu. Xavier menembus pertahanan kediamanku, para pelayan dan satpam mencoba menghalangi dan menyembunyikan keberadaan Ariel. Namun Ariel keras kepala. Dia tidak tahan melihat orang-orang melindunginya. Jadi, dia pasti akan maju dan berkata, "Aku adalah Ariel, orang yang kalian cari." Xavier tentu saja sudah tahu. Dia pasti sudah mencari tahu. Dia hanya ingin melumat habis mental Ariel. Menyiksa Ariel bukan hanya fisik, tapi juga batinnya. Tepat seperti apa yang sering kulakukan. Karena setelah itu, setelah aku mengetahui bahwa Ariel diculik, aku hanya menghela napas lelah dan berkata pada pelayan, "Bereskan ini semua dan bekerjalah kembali. Dia diculik atau pun mati, itu tidak ada hubungannya dengan kalian." Dua kalimat yang kulontarkan itu sukses membuat para pekerja tercengang. Sarah yang terisak kencang pun hanya dapat melongo mendengar apa yang kuucapkan. Aku berjalan melewatinya, namun Sarah segera menarik tanganku lagi, berlutut dan mendongakkan kepalanya dengan wajah memohonnya. "Tuan! Orang itu berkata bahwa dia akan menyiksanya!! Dia akan menyiksa Nyonya hingga mati!! Dia berkata pada kami bahwa dia akan mengembalikan kepala Nyonya saja!! Tuan, tolong!! Tolong!! Nyonya hanya memiliki kami, Nyonya hanya memiliki Anda!! Tuan, saya mohon! Tuan!!" Aku mengerutkan alisku dalam-dalam dan melepaskan tangannya dengan kasar. "Itu salahnya sendiri. Kenapa itu menjadi urusanku?!" Aku kembali berjalan, namun seorang pria tiba-tiba melompat dan bersujud di hadapanku, suaranya serak dan aku tidak bisa melihat wajahnya yang menangis. "Tuan! Tuan! Kami mohon! Kami tidak memiliki kekuatan, tidak memiliki uang, hanya bisa memohon pada Tuan ... Nyonya sangat lemah ... Dia tidak mungkin bisa menerima siksaan lagi ... Tidak lagi, Tuan! Saya mohon tolong Nyonya!!" serunya sambil sesegukan. Aku hanya memandangnya dingin, tidak menjawab permintaannya. Namun, satu persatu pelayan yang berada di sana, ikut menangis dan bersujud di hadapanku, menggumamkan kata memohon untukku agar menyelamatkan Ariel. Namun, saat itu, hatiku sekeras batu. Nuraniku benar-benar beku. Aku hanya menendang seseorang yang menghalangi jalanku, dan pergi dari sana sementara mereka menjerit-jerit, menangis, memohon padaku agar aku bisa menolong Ariel. Namun, aku tidak menggubris perkataan mereka. Seharusnya, saat itu aku berbalik pada orang-orang yang memohon-mohon padaku itu. Aku berbalik, mendengarkan permintaan mereka, bekerja sama agar bisa menolong Ariel. Entah mengapa aku bisa sekejam itu pada Ariel. Aku tahu Xavier tidak pernah main-main dengan ucapannya, namun aku mengabaikan. Aku tidak peduli. Walaupun aku tahu hanya kepala Ariel yang pada akhirnya akan muncul di hadapanku, aku tidak menoleh sedikit pun ke belakang. Keesokan harinya, suasana rumah suram. Orang-orang di sana sangat diam dan berwajah bengkak seolah mereka sudah mengantarkan mayat Ariel ke liang lahat. Malam itu juga, aku mendapatkan telepon. Aku tahu jika itu dari Xavier. Dan aku mengangkatnya dengan cepat. Hening untuk sementara. Hanya suara napas terputus-putus yang terdengar dari sana. Hingga kemudian, suara geraman tertahan terdengar, disusul oleh suara tawa yang mengandung kekaguman. "Haha! Kau berteriak sepanjang penyiksaan. Tapi saat aku menghubungi suamimu, kau menahan teriakanmu?" Suara Xavier terdengar di seberang sana. Aku yang kejam, hanya diam saat mendengarkan suara Xavier yang sedang menyiksa Ariel. "Aku akan mencabut kuku yang selanjutnya. Mari kita lihat apakah kau bisa bertahan untuk bagian ini." Kembali, hanya ada suara geraman tertahan, kali ini. Adegan Ariel yang berusaha keras agar tidak berteriak saat Xavier mencabut kukunya pun, muncul di dalam benakku. "Kau tahu jika wanita itu tidak penting untukku, bukan?" kataku, membuat geraman tertahan Ariel di seberang sana melambat. Suara ribut terdengar sejenak, seolah Xavier sedang mengambil alih ponselnya yang semula disimpan. "Harus kuakui. Kau bahkan tidak bergeming saat melihat banyak darah di rumahmu. Bagaimana? Apakah aku harus memberikan fotonya ketika sedang berdarah-darah? Itu bukan gayaku, dan aku takut kau melaporkan pada polisi." "Kau tidak pernah takut pada hukum." "Tidak mungkin ... siapa yang berkata seperti itu? Aku sangat taat membayar pajak." Aku menghela napas pelan. "Lakukan sesukamu. Aku akan menutup teleponnya sekarang." "Tunggu. Istrimu ingin berbicara padamu." Alisku berkedut sejenak. Suara ribut kembali terdengar. Sepertinya, Xavier menyodorkan telepon itu pada Ariel. Karena setelahnya, aku dapat mendengar suara napas Ariel yang berat. Napas yang membuktikan bahwa dirinya sudah mendapatkan banyak siksaan. Aku tahu karena aku sudah sering menyiksanya. "Ayo. Cepat katakan. Kau tidak benar-benar ingin mati di sini, bukan?" kata Xavier, membuat suara dengusan geli terdengar setelahnya. Setelah embusan napas berat sebanyak 3 kali, aku mendengar suara lemah Ariel. "Erick ...." ucapnya pelan, seolah Ariel tidak minum seharian dan hanya berteriak sepanjang hari hingga suaranya habis. Pada saat itu, reaksiku hanyalah diam. "... Jangan ke sini. Jika kau ke sini, dia akan membunuhmu." Setelah suara umpatan dan tamparan keras, panggilan telepon berakhir dengan suara bantingan. Sepertinya, Xavier membanting telepon karena Ariel bertindak tidak sesuai seperti yang diinginkannya. Seminggu kemudian, Ariel kembali. Dia dikelilingi oleh para pelayan yang khawatir akan kondisinya. Ariel hanya tersenyum lembut dengan wajahnya yang babak belur dan berkata bahwa dirinya baik-baik saja. Saat melihatku, dia berkata, "Erick ... syukurlah kau tidak datang." Namun, aku memandangnya dengan wajah ngeri dan hampir terlihat jijik. Dua puluh jari Ariel diperban. Setiap inci di jari kaki dan tangannya terlihat sudah diobati dengan rapi. Dan yang kukatakan hanya satu kalimat. "Kenapa ... kau baik-baik saja?" Banyak yang aku lupakan dari kehidupanku yang sebelumnya. Aku lupa bagaimana wajah Ariel terlihat, hari itu. Apakah dia sedih atau marah atas responsku melihat keadaannya yang terluka. Yang pasti, dalam keadaannya yang seperti itu, Ariel tetap memasak keesokan harinya. Namun aku menyuruh para pelayan membuangnya karena merasa jijik kalau-kalau terciprat oleh darah Ariel. Walaupun aku selalu menyiksa Ariel di masa lalu, siksaan yang dilakukan Xavier memakan berbulan-bulan untuk Ariel sembuh. Beberapa kali Ariel terkena demam karena infeksi pada lukanya dan yang kulakukan hanya mengizinkan para pelayan menggunakan penghangat ruangan, namun tidak mengizinkan mereka untuk membawa dokter ke rumah atau pergi ke rumah sakit. Aku sangat mampu. Aku sangat mampu untuk melakukan segalanya. Entah itu menolong Ariel yang disekap atau membawakannya dokter. Tapi bahkan setelah siksaan yang diberikan oleh Xavier, aku tetap tidak ingin melakukan setitik pun kebaikan untuk Ariel. Kenapa? Kenapa aku sekejam ini? "Tuan, kita sudah sampai." "Bos?" Panggilan dari supir dan juga Diego, membuatku menatap mereka berdua yang ada di kursi pengemudi. Aku hanya menghela napas panjang dan menganggukkan kepala. Saat membuka pintu, Diego berkata, "Bos, jangan lupa kalau sekarang ada pesta amal. Wanita mana yang kali ini akan kau bawa?" Aku tersentak dan menatap Diego dengan ngeri. "Apa maksudnya dengan kalimat wanita mana itu?!" Diego malah memandangku dengan pandangan tidak mengerti. "Saya ... ya?" Diego heran sendiri mendengar ucapanku. "Saya tidak mengerti. Apa yang Anda maksud apa maksudnya." "Ya itu maksudku!! Apa maksudnya?! Kenapa kau bertanya begitu?!" "Kenapa saya bertanya begitu ...?" Diego mengulang ucapanku sambil terheran sendiri. "Bos! Anda kan selalu membawa diva atau artis terkenal di samping Anda! Saya menanyakan sesuatu yang sudah seharusnya." Aku mengerutkan alisku dan mengedip beberapa kali. Aku sempat lupa dengan diriku yang badjingan ini. Di tahun-tahun keemasanku, di mana aku sangat berkuasa dan sudah membunuh banyak orang, aku pada akhirnya tidak pernah menghadiri acara orang lain. Akulah yang menjadi tuan rumah dalam acara tersebut. Ariel kujadikan pajangan. Kusimpan di tempat paling tinggi di mana hanya ada aku dan Ariel yang boleh duduk di sana. Seperti tempat raja dan ratunya. Di masa-masa kejayaan itu, Ariel adalah orang yang gencar untuk memarahiku, sementara aku menjadi orang yang paling menunjukkan kekuasaanku di hadapannya. Jadi, sesuatu seperti teman pesta itu, tidak pernah terpikirkan lagi setelah aku hidup kembali. Dalam acara apapun, aku tidak pernah membawa Ariel sekali pun. Entah itu acara yang dibuat oleh kalangan atas atau kalangan bawah. Ariel tidak akan kubawa karena dandanannya yang dapat membuatku malu. Aku juga takut Ariel tidak akan bisa bersosialisasi dengan banyak orang. Pokoknya, di mataku, jika aku membawa Ariel ke mana pun, aku takut itu akan berakhir menjijikkan. Karena di mataku yang membencinya, Ariel itu menjijikkan. "Bos!" Diego memanggilku lagi. Wajahnya berkerut kesal. "Ada apa lagi, sekarang?! Kenapa kau sering melamun, hari ini?!" Aku menatapnya, berkedip, berpikir sejenak dan berkata, "Ah, aku mengantuk." Diego terlihat lebih kesal. "Anda bahkan tidak pergi ke kelab malam dan pulang cepat, hari ini. Apa yang membuat Anda mengantuk?!" Aku berdecak dan mendengus. "Kau sendiri kenapa selalu berisik?!" kataku, sensi. "Sudahlah, pergi sana! Berhenti mengurusi urusanku!" Aku menutup pintu mobil. Aku bisa mendengar Diego menggeram kesal di dalam mobil. "Aku juga tidak ingin mengurusimu, tapi ini pekerjaanku, tahu?!" Baiklah. Aku akan memecatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN