"AKU IKUT KE ACARA AMAL BERSAMAMU?!"
Ariel yang sedang menuangkan kopi dari teko pun, tersentak terkejut saat mendengar ucapanku. Matanya melotot, sementara tangannya tetap menuangkan kopi dari teko hingga cangkirku penuh.
Aku hanya menatap cangkirku dengan pandangan datar. "Tumpah."
"Ah!!" Ariel yang menyadari bahwa kopinya tertuang hingga tumpah pun, tersentak dengan kikuk dan segera menyimpan tekonya di samping meja dengan keras. "Maaf!! Aku—AW!!"
Mataku melotot, sementara Ariel segera menarik tangannya yang sudah menyentuh cangkir panasku. "Apa kau bodoh?!" seruku, menarik tangannya yang memerah karena melepuh.
Aku segera meraih es yang berada di baskom, es yang digunakan untuk kopiku jika aku menginginkan yang dingin. Aku segera menyimpan es itu di telapak tangan Ariel.
"Dingin!" Ariel tersentak dan menutup sebelah matanya saat aku menyimpan banyak es di tangannya.
Aku menatapnya dan mendengus geli melihat reaksinya. Ariel kita yang malaikat ini ternyata sangat imut. Bahkan dengan pakaiannya yang seperti gembel itu—?!
Tunggu!!
"Kau tidak menggunakan pakaian yang kuberikan?!" sentakku, mengernyitkan alisku dengan pandangan tidak menyenangkan. Ariel terlihat kaget dengan sentakanku yang tiba-tiba. "Apa aku terlalu membebaskanmu hingga kau tidak bisa patuh padaku?!"
Ariel mencoba menarik tangannya, namun aku menggenggam erat kedua tangannya. Ariel menggigit bibir bawahnya dengan gugup. "I-itu ... pakaian yang kau berikan terlalu indah ... dan jika kugunakan untuk memasak—"
"Entah itu memasak, bertani, berkebun atau main lumpur, jika kusuruh kau gunakan, ya gunakan saja!!" ucapku keras. Aku masih harus menjadi diriku yang badjingan dan merubah sifat ini secara perlahan agar Ariel tidak merasa aneh. Aku mengerutkan alisku dan menatapnya tajam. "Apa kau sedang merendahkanku, sekarang?"
Ariel mengedipkan matanya berkali-kali, melotot dan menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Tidak, Erick! Aku tidak merendahkanmu!!"
"Lalu apa?!" sentakku sambil melotot galak. "Jika bukan merendahkan, lalu apa, hah?! Kau pikir aku tidak mampu dan tidak sudi melihat baju-baju indah itu terkotori?! Hah?! Kau pasti berpikir uangku sesedikit itu, kan? Hingga aku tidak bisa menjadikan emas atau permata sebagai dekorasi toiletku?! Hey, bahkan jika uang tidak kotor, aku akan membuat semua uang di dunia ini menjadi tisu toilet!! Aku juga akan mengganti seluruh mangkuk menjadi permata jika aku ingin!! Dan kau sendiri bahkan tidak ingin memakai baju-baju murahan itu?! Apa lagi namanya jika bukan merendahkanku?!"
Mulut Ariel terbuka dan tertutup seperti ikan hias di akuarium. Matanya masih melotot dengan terkejut dan aku yakin di otaknya, Ariel berpikir aku sudah gila. Hanya saja, Ariel kita ini adalah malaikat. Jadi dia hanya menundukkan kepalanya dengan wajah memerah karena menahan tawa dan berkata, "M-maaf, Erick! Aku—"
"Aku mendengar bahwa orang yang sering meminta maaf, adalah orang yang di masa depan akan sering membuat kesalahan," kataku sambil melepaskan tangan Ariel dan bersandar di kursi dengan tangan yang terlipat di depan d**a. "Kupikir, itu memang benar. Melihat kau sangat leluasa dalam terus menerus membuat kesalahan."
"Ah ... a-aku ...."
"Kalau begitu, berjanjilah kau akan memakai pakaian yang kuberikan," kataku dengan arogan. "Setiap hari harus ganti dengan baju-baju mewah itu. Jika bisa, setiap jam atau bahkan setiap kau selesai buang air kecil. Jika kau melanggarnya, aku akan ...."
Aku menghentikan ucapanku. Aku bingung, apa yang harus kuucapkan untuk mengancam Ariel. Jika dipikir lagi, Ariel tidak memiliki kelemahan yang bisa membuatnya berada di bawah kakiku atau diinjak-injak sedemikian rupa olehku.
Lalu, kenapa Ariel begitu takluk berada di bawahku?
... Aku ... mencintaimu, Erick ....
Ah ....
Bibirku nyengir lebar seketika. Iya kan Ariel sangat mencintaiku. Cintanya sangat besar untukku hingga dia rela bertahan selama 8 tahun.
Tapi, ancaman apa yang bisa kuberikan pada Ariel, sekarang?
Sejenak, aku terdiam saat sebuah teriakan melintas di kepalaku. Teringat dulu saat aku mengancam Ariel. Kalimat yang kugunakan saat itu adalah, "Jika kau melanggarnya, aku akan membunuhmu."
"A-aku akan menggunakannya." Ariel tiba-tiba berkata, membuatku terlepas dari lamunanku dan segera menatapnya. "Aku berjanji, Erick."
Aku tersenyum miring. "Bagus," kataku sambil melipat kakiku dan berkata, "Bawakan lagi cangkirnya. Aku ingin kopi."
"Ya ...."
Aku menghela napas panjang dan menatap lurus ke depan. Kali ini, aku harus memikirkan strategi untuk membuat Ariel berhenti melayaniku. Apa, ya? Apa aku mengatai makanannya sangat buruk dan membuatku mual lalu melarangnya pergi ke dapur lagi?
Tapi makanan Ariel sangat enak.
Aku bahkan tidak bisa membayangkan diriku hidup tanpa masakan Ariel.
"Tapi Erick." Di depan pintu, Ariel tiba-tiba memanggilku. Wajahnya memerah dan dia tidak menatap mataku sama sekali. "A-apa kau sungguh akan mengajakku ke pesta?"
Melihat kegugupannya dan juga pipinya yang memerah, aku bisa menebak apa yang Ariel pikirkan.
Dia pasti sangat senang mendengar orang yang dicintainya akan mengajaknya ke pesta.
Aku yang semula masih bersidekap d**a pun, langsung memiringkan tubuhku sepenuhnya agar menghadap Ariel, menopang sebelah kepalaku dengan tangan dan tersenyum miring. "Ho~ apakah kau sangat menyukainya?" tanyaku, menggodanya.
Mendengar ucapanku, Ariel tersentak seolah sudah tertangkap basah. Dia menatapku dengan pandangan kikuknya yang imut. "A-aku hanya ... sudah lama tidak ke pesta dan aku takut membuatmu malu, jadi ... kupikir, apa kau tidak salah untuk mengajakku?"
Jika aku mengatakan kata-kata mutiara yang berisi ; Ariel, sepertinya kau sudah lupa dengan betapa indahnya dirimu karena sering aku siksa dan aku rendahkan. Jadi, berhentilah merendahkan diri dan lihatlah di cermin. Tidak ada yang bisa menandingi wajah malaikat sepertimu!
Tapi, karena aku masih dalam mode badjingan, jadi aku berkata, "Yah, tidak ada artis atau diva kalangan bawah yang bisa aku ajak. Dan untuk artis kalangan atas, mereka cenderung sudah mampu dan tidak membutuhkan kekuatanku. Jadi, aku tidak punya pilihan dan hanya dapat mengajakmu."
Tentunya, jawabanku seketika membuat Ariel kita yang malaikat ini merasa kecewa. Dia hanya menundukkan kepalanya dengan sedih, lalu bergegas pergi dari sana. Aku menghela napas berat dan memijat keningku dengan lelah. "Hah ... sampai kapan aku harus menyakitinya seperti ini?"
Jika aku tidak menyakitinya dan hanya berbuat baik padanya, aku tidak tahu apa yang akan dipikirkan orang-orang. Tuan Muda pembuat onar yang suka menyiksa istrinya itu tiba-tiba menjadi baik. Apa pendapat orang lain tentang itu? Dan apa pendapat Ariel tentang itu?
Tidak mudah untuk badjingan sepertiku ini tiba-tiba menjadi baik hanya karena hidayah. Aku juga tidak mungkin pergi dulu ke gunung dan turun keesokan harinya sambil berkata, "Aku bertemu biksu yang membuka mataku dan berkata bahwa aku harus berbakti pada istriku."
Aku akan langsung masuk berita dan mendapatkan penghinaan massa. Aku tidak punya pilihan lain selain melakukannya pelan-pelan.
Pelan-pelan saja. Seolah aku merasa bosan melakukan kegiatan-kegiatan tidak senonoh itu pada Ariel.
Jika aku tiba-tiba berubah, aku yakin Diego akan segera pergi ke rumah ibadah dan menjadi orang yang sangat taat. Karena ada 2 kemungkinan jika aku tiba-tiba menjadi baik. Diego akan berpikir, jika aku tidak akan segera mati, berarti dunia akan segera kiamat.
Hah ... ternyata melelahkan menjadi seorang badjingan.
"Hah ..." Aku menghela napas panjang dan mengambil cangkirku. Namun, tanganku malah terpeleset dan meluncur ke dalam gelas. "GAH!! AH!! BADJINGAN!! PANAS!!" Aku tersentak, mendorong gelas dan mengibas-ngibaskan tanganku dengan histeris.
Airnya sepanas ini?!
Bagaimana bisa Ariel hanya berteriak AW saja?
Mungkinkah ini yang dinamakan the power of emak-emak? Sangat luar biasa melihat wanita kebal seperti itu.