MRH 12 - Aku

1285 Kata
Yang aku benci saat menghadiri pesta adalah; make over. Entah saat aku masih aku yang badjingan atau diriku yang sekarang ini, keduanya sangat membenci pesta. Mandi yang sangat lama, menggunakan aromaterapi dan lain sebagainya. Walaupun pijatan dari pelayanku lumayan enak, namun tetap saja mengesalkan. Aku harus berendam lama dan setiap sudut tubuhku dibersihkan. Entah itu jari kaki dan jari tanganku, atau pun setiap sudut di rambutku. Pokoknya, semuanya harus bersih dan mulus. Ini sudah menjadi ritual keluarga Thompson. Keluarga Thompson memang bukan keluarga yang paling berkuasa atau sejajar dengan orang-orang kalangan teratas. Namun, karena kerapihan dan penampilan keluarga Thompson, hal itu membuat orang-orang kalangan atas juga tidak bebas untuk menghina keluarga Thompson. Penampilan lah yang utama. Perlakuan orang lain bergantung terhadap bagaimana kamu menghargai penampilanmu. Dan keluarga Thompson memegang prinsip itu seumur hidupnya. "Tuan, sudah selesai." Suara bariton di atas kepalaku membuatku membuka mata dan menghela napas panjang. Aku terduduk, meraih jus yang diberikan oleh pelayan dan menghabiskan sisanya. "Bagaimana dengan Ariel?" tanyaku pada pelayan tua yang sedang melayaniku di pemandian. Pelayan tua itu hanya membungkuk. Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. "Nyonya sedang bersiap." Aku mendengus melihatnya yang merespons dengan senyum hangat. "Apa kau senang?" Mendengar pertanyaanku, pelayan itu pun makin membungkukkan tubuhnya. "Pria tua ini meminta maaf karena—" "Sudahlah," aku mengibaskan tanganku, lalu bangkit dari kolam pemandian. Ucapanku pasti terdengar sinis untuknya. Tentu saja mereka semua senang karena Ariel pada akhirnya bisa menghirup udara bebas setelah bertahun-tahun terkurung di rumah. Handuk khusus mandi masih dipakai olehku, sementara pelayan itu tetap membungkuk di hadapanku. "Karena suasana hatiku sedang baik, kau boleh bersenang hati tentang ini." Pelayan tua itu menyentuh d**a kirinya sambil berkata, "Terima kasih, Tuan." Aku membuang napasku. Sebenarnya, aku tidak dalam suasana hati yang senang sama sekali. Entah kenapa, aku merasa gelisah dan frustrasi sendiri. Ini hanya acara amal, apa yang perlu membuatku gugup di sana? Memang, kata “amal” dalam acara tersebut hanya digunakan untuk pemanis saja. Sejatinya, itu adalah pesta para kalangan atas yang diberikan fasilitas untuk memperbanyak relasi. Lalu, apa yang sedang kutakutkan, sekarang? "Nyonya benar-benar cantik!" "Nyonya selalu cantik! Hanya saja, kali ini terlihat lebih segar!" "Haha, hentikan! Berapa kali kalian akan memujiku?" Aku baru saja keluar dan mendengarkan percakapan ceria itu segera setelah membuka pintu. Biar kujelaskan. Aku kaya? Tentu. Rahasia umum. Rumahku besar? Tentu saja. Untuk apa kaya jika aku tidak memiliki rumah yang besar? Salah satu fasilitas di rumahku adalah pemandian yang luas ini. Pemandian ini bisa kugunakan kapan saja jika aku ingin bersantai. Entah itu pemandian air dingin atau panas. Karena rumahku luas, pemandian ini dibagi menjadi dua. Yaitu pemandian untuk pria dan wanita. Pemandian ini kedap suara. Tentu saja aku yang memintanya. Jaga-jaga jika aku melakukan s3ks dengan wanita yang kubawa. Dan, memang saat dibangun pun, aku meminta agar kedap suara. Karena ruangan ini digunakan untuk relaksasi. Jadi, aku tidak tahu jika Ariel ada di sebelahku. Dan keluar dengan para pelayan wanita yang melayani SPA rumahan ini. Saat kedua pelayan di belakang Ariel melihatku, mereka tersentak dan berhenti berbicara. Sementara Ariel tetap tertawa dengan matanya yang menyipit, belum menemukan aku yang baru saja membuka pintu. Suasana ceria yang berbunga-bunga itu seketika buyar dan kedua pelayan itu bahkan menarik tangan Ariel yang hampir mendekatiku. Ariel merespons dengan keheranannya. Dia menatap para pelayan, mendapati tatapan ketakutan dari mereka, lalu menatap ke arahku setelahnya. Tidak seperti para pelayan yang ketakutan saat melihatku, Ariel tersenyum lebar dan menghampiriku saat melihat keberadaanku. "Erick!" Suasana suram yang sempat membuatku tertohok itu, seketika menguap saat Ariel menghampiriku tanpa ketakutan. Ariel tidak menghilangkan keceriaannya. Atau mendiskriminasi reaksinya padaku dan pada para pelayan. Aneh. Di kehidupan lalu pun, aku tidak pernah menyentuh pelayanku jika mereka tidak berbuat salah atau menyebalkan. Ariel lah yang banyak disiksa dan dihina olehku. Tapi, kenapa yang ketakutan dan membenciku adalah orang-orang yang tidak kusakiti? Ariel ... kau, apakah tidak pernah membenciku sekali pun? "Erick, kau baru selesai berendam juga?" tanya Ariel padaku. Aku menatapnya dalam diam, memandang wajahnya yang menghadapku, matanya yang menatapku dan tubuhnya yang menghadapku sepenuhnya. Kau mencintaiku seperti ini, namun aku membencimu hingga akhir. Ariel, apakah aku pantas? Apakah aku pantas hidup kembali dan membersihkan masa lalu kejiku? "Erick?" Ariel memanggilku sekali lagi, aku hanya mengangkat daguku sedikit dan menjawab dengan dehaman. Aku berbalik, berjalan lebih dulu meninggalkannya. Dan Ariel mengikutiku dari samping. Aku berjalan pelan, membiarkan Ariel mengikuti langkahku dengan santai. "Spa sangat menyenangkan. Bukan begitu?" tanyaku, pura-pura sinis dan mencemooh. Tapi Ariel kita adalah seorang malaikat. Jadi dia tersenyum bodoh dan berkata, "Ya. Ini membuat tubuhku tidak sakit lagi." Kakiku seketika terasa kaku saat melangkah. Aku sempat lupa. Ariel sudah kusiksa dengan b**m, sebelumnya. Tentu saja dia masih merasakan sakit. Aku menatapnya dari samping. Ada beberapa luka lebam di wajahnya. Entah apa yang kulakukan pada Ariel, sebelumnya. "Lukamu ...?" Apa masih sakit? "Ah! Ini?" Ariel menyentuh sisi wajahnya yang terluka. Kembali tersenyum bodoh lagi padaku. "Aku bisa menyembunyikannya dengan make up. Ini tidak akan membuatmu malu." Bukan itu yang ingin kutanyakan. Namun, Ariel beradaptasi dengan sikap badjinganku di masa lalu. Untukku yang badjingan, Ariel tahu jika lukanya mungkin akan membuatku merasa malu. Jadi, aku hanya bersidekap dan menghela napas panjang. "Baguslah jika itu tidak mengganggu." Ariel hanya tersenyum lembut dengan pipinya yang memerah. Aku mendengus geli melihatnya. Ariel pasti menganggap ucapanku sebagai pujian. "Ny-nyonya ...." Ariel menoleh ke sampingnya, dan mendapati seorang pelayan sudah berada di sampingnya saat memanggil Ariel. "Hm? Kenapa?" tanya Ariel, berkedip beberapa kali. "K-kita harus cepat," kata pelayan itu, menatapku sesekali dengan wajah ngeri. "Anda harus segera didandani agar tidak mengulur waktu." "Ah ...." Suara Ariel terdengar merasa menyesal. Dia berkedip beberapa kali dan menundukkan kepala. Melihat Ariel yang bersedia menatapku saja sudah terasa seperti keberuntungan. Ariel yang bisa mengobrol denganku dan juga merasa sedih saat berpisah denganku, adalah sebuah berkah untukku. Seharusnya, Ariel menjauhiku, menjatuhkanku dan tidak lagi mencintaiku. Bagaimana bisa wanita ini tetap berpegang pada prinsipnya untuk bertahan denganku dan tetap mencintaiku? Aku menghela napas berat. "Pergi saja. Aku juga lelah berbicara denganmu. Berbicara denganmu membuat moodku menjadi jelek," kataku, namun tetap pada kecepatan jalanku yang lambat. Ariel menatap ke arahku, tersenyum tipis namun tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. "Kalau begitu, aku akan pergi lebih dulu." "Siapa peduli," cibirku seolah-olah benar-benar I don't care pada Ariel. Namun, karena Ariel adalah malaikat, dia tetap merasa ragu untuk pergi meninggalkanku. "Nyonya, ayo." "Ayo, Nyonya." Ariel adalah malaikat. Namun para pelayannya adalah hama. Aku menatap mereka tajam, dan mereka bergidik ngeri seketika. "Ny-nyonya!" seru mereka, berlindung di balik punggung Ariel. Ariel hanya tertawa pelan. "Baiklah, kalian tidak sabaran," katanya, tidak peka. Mereka berjalan terburu, setelahnya. Lebih terlihat seperti Ariel diseret oleh mereka agar segera menjauh dariku. Aku mengeraskan rahangku dengan kesal dan mulai berpikir untuk memecat kedua pelayan itu. Namun, mereka berhenti di depan koridor. Lebih tepatnya, Ariel yang berhenti sementara para pelayan masih ingin menyeret Ariel. "Erick!" Ariel berbalik, tersenyum malu-malu sambil berkata, "Sampai bertemu nanti malam!" serunya, dan menghilang dari hadapanku setelahnya. Aku menghentikan langkahku seketika, menelan ludah dengan susah payah dan menatap tempat di mana Ariel berada sebelumnya. Mataku mengedip, mengingat bagaimana Ariel terlihat sebelumnya. Tubuh yang hanya menggunakan handuk, air yang turun dari rambut hingga ke lehernya, dan mata yang menatapku berkaca-kaca hingga pipinya yang merona malu. Aku menelan ludahku dengan susah payah saat pikiranku menjelajah dan mengingat paha mulus Ariel. Dia sangat .... ... sexy. Namun entah mengapa, kegelisahan yang sedari tadi kurasakan itu malah bertambah buruk. Aku mengernyitkan alisku dan kembali berjalan. Namun, kakiku berhenti seketika. Aku merasa ... ada yang berat di bawah. Sekali lagi, aku menelan ludahku dengan susah payah dan menunduk. Melihat handuk yang kugunakan seperti tergantung pada sesuatu di tengah tubuhku, aku segera mengumpat berkali-kali. "Badjingan. Aku hanya membayangkan pahanya dan aku harus mandi lagi, sekarang?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN