MRH 13 - Terdiam

1576 Kata
Setelah menyelesaikan urusan tubuh bagian bawahku selama berpuluh-puluh menit, akhirnya aku keluar kamar mandi dengan lesu dan langsung diatur oleh pelayan-pelayanku agar aku segera berpakaian dan bersiap. Setelah menata rambut dan lain sebagainya, aku menunggu Ariel yang masih berdandan. Memakan beberapa camilan yang ringan, agar aku tidak kebelet saat di pesta. Dan saat Ariel turun dari tangga rumah dengan gaunnya yang simple dan elegan, aku tahu kegelisahan yang kurasakan ini datang dari mana. Aku menelan ludahku dengan sudah payah. Mataku menatap Ariel dari bawah sampai atas. Kaki yang jenjang dan mulus itu sudah tidak terlihat luka bekas cambukan. Para pelayan mungkin sudah mengurusinya dengan make up. Hanya saja, paha mulus Ariel yang sedikit terlihat dari gaun pendeknya, membuat tubuhku tegang luar biasa. Dan tubuhku semakin kaku melihat pinggang Ariel yang tercetak dan juga belahan dadanya yang sedikit terlihat. Kakiku bergerak naik turun di tempat saat melihat lekukan-lekukan indah itu. Dan aku hampir berhenti bernapas melihat wajah Ariel yang didandani dan juga rambutnya yang tertata begitu indah. Ini ... sangat parah, bukan? Di pesta sangat banyak orang. Dan bagaimana jika orang-orang melihat— "Erick?" Panggilan itu membuat pikiran rumitku terhenti. Aku mengerutkan alisku dalam-dalam dan berdiri di hadapan Ariel yang sudah berdiri tepat di depanku. Mataku menatap ke atas dan ke bawah secara terang-terangan. Aku menelan ludahku dengan susah payah. "Bukannya gaun ini terlalu terbuka? Bukannya akan tidak sopan jika datang seperti ini?" Mata Ariel yang dirias pun berkedip pelan. "Benarkah?" Dia menatap tubuhnya sendiri dari atas hingga ke bawah, menyentuh beberapa bagian, lalu menatapku. Aku hanya menganggukkan kepalaku dengan yakin. Tapi Ariel kami yang seperti malaikat ini sudah lama tidak keluar rumah. Dan dia dengan cerdasnya menatap 2 pelayan hama di belakangnya sambil bertanya, "Haruskah kita menggantinya lagi?" Aku menggaruk alisku dan menggerakkan kakiku naik turun, menahan emosi dan keinginan berbicara pada Ariel agar tidak menanyakan itu pada para pelayan. Seperti yang kuduga, dua hama itu langsung berteriak tidak setuju. "Nyonya, Anda ini akan pergi ke pesta! Pesta!" "Betul! Anda harus menggunakan pakaian seperti ini! Jangan khawatir, di sana pun akan ada banyak orang yang lebih terbuka dari Anda!" "Ya! Aku setuju! Lagi pula, pestanya akan dimulai sebentar lagi dan make up Anda disesuaikan dengan gaun!" Dan Ariel kita yang seperti malaikat pun, kembali berkedip dengan ragu dan menatapku. Aku hanya mengetatkan rahangku dan tersenyum tipis. "Begitukah?" tanyaku, merespons 2 hama yang sedari tadi mengoceh itu. Dua hama yang mendengar suara bernada gelap dariku pun segera bergidik ngeri dan berdiri di belakang Ariel. Aku hanya tetap tersenyum kaku dengan urat-urat yang muncul di dahiku. "Erick," panggil Ariel. "Jika kau tidak menyukainya, aku akan menggantinya. Tapi, apakah tidak apa-apa jika kita terlambat datang? Atau ...." Nada ragu Ariel di akhir kalimat, membuatku tahu ke mana arah pembicaraan Ariel. Dia pasti akan mengorbankan dirinya dan menyuruhku untuk pergi dengan wanita lain. Tentunya, Ariel memiliki perasaan sakit yang timbul setelahnya. Tapi, demi kenyamananku, Ariel rela merasakan rasa sakit itu. Ariel terlalu terbiasa dengan diriku yang badjingan. Dia terbiasa untuk mengalah dan mengorbankan perasaannya untukku. Aku hanya dapat menghela napas panjang untuk merespons ucapan Ariel. "Sudahlah. Aku juga sudah lelah lama menunggumu. Dan wanita-wanita panggilan tidak bisa dihubungi dengan mendadak. Mereka bersiap lebih lama darimu. Jadi alternatif mana pun, semua akan percuma." Ariel merespons ucapanku dengan menggigit bibir bawahnya ragu-ragu. Aku menatapnya datar, memasukkan kedua tanganku ke saku celana dan berbalik sambil berkata, "Ayo pergi." Mendengar ucapanku, Ariel segera pergi mengikutiku dengan langkah cepat. Ini bukanlah pertama kalinya Ariel tampil sangat cantik di suatu pesta. Tahun-tahun aku menjadi seorang badjingan yang sudah membunuh banyak orang, aku membawa Ariel ke hadapan semua kalangan elit yang tunduk di bawahku. Setiap aku selesai dengan pesta, akan muncul majalah yang menampilkan aku dan Ariel sebagai pasangan. Ariel selalu mencoba tersenyum secantik mungkin. Walaupun pada tahun-tahun itu kami sering bertengkar, Ariel tidak pernah menunjukkan wajah yang bisa membuatku malu atau marah. Walaupun pada tahun-tahun itu dia terkenal menjadi seorang istri dari suami tirani, Ariel tidak masalah berdiri di sampingku dan ikut terkena hujatan orang-orang. Ariel tidak mempermasalahkannya. Untuk berdiri di sampingku yang suci atau pun di sampingku yang penuh noda lumpur darah. Ariel bahkan tetap di sampingku hingga akhir hayatnya. Mungkin, terakhir kali Ariel tertawa tulus di sampingku adalah saat hari pernikahan kami berlangsung. Ariel sangat cantik. Benar-benar menawan dengan tawanya. Pipinya juga merona akibat kebahagiaan karena menikah denganku. Aku di sampingnya dalam kebahagiaan sesaat itu. Ikut tertawa bersamanya dan merangkul pinggangnya dengan posesif. Namun, aku memberikannya kepalsuan. Setelah pesta selesai dan kami berdua pulang, Ariel yang masih dalam kebahagiaannya pun menunggu di dalam kamar pengantin. Dia siap untuk memberikan pengalaman pertamanya untukku. Namun, aku keluar dan kembali sambil membawa 2 wanita di kanan kiriku. Mengejutkannya yang sedang menunggu hanya menggunakan bathrobe. "Erick?" Ariel di kehidupanku yang sebelumnya, sontak berdiri dan menatapku dengan wajah terkejut. "Siapa ... mereka?" Aku sedikit mabuk, kala itu. Hanya menatap kedua wanita yang berada di pelukanku dan tersenyum miring padanya. "Mereka? Mereka penghangat ranjangku." Saat itu, Ariel tidak semenyedihkan sekarang. Dia bahkan berani meninggikan suaranya padaku. "Apa maksudmu? Erick, kenapa kau membawa mereka? Kau memilikiku! Kita sudah menikah!" Aku tertawa mendengar ucapannya. "Kenapa? Tidak suka? Kalau begitu, pergi saja dan ceraikan aku!" kataku santai, dalam euphoria kesenangan. Ariel mengerutkan alisnya dengan tidak mengerti. "... Apa ...?" "Kau tidak mendengar ucapanku?" Aku menyeringai padanya. "Pergi! Aku akan menggunakan kamar ini." Ariel masih berdiri dengan pandangan tidak mengerti. Dia masih berdiri di sisi kasur, sementara aku masih berdiri agak jauh darinya. "Erick, ini tidak lucu. Aku istrimu! Kenapa aku harus pergi dari sini?" Karena Ariel yang terus memberitahu statusnya sebagai istriku, emosiku naik dan aku yang masih mabuk pun menggeram kesal. "Kenapa cerewet sekali?! Ini hidupku!! Jika kau tidak suka, ceraikan aku!" "Aku tidak akan menceraikanmu! Kita baru saja menikah!!" "Kenapa kau memaksa sekali?" Salah satu wanita yang berada di sampingku akhirnya memiliki keberanian untuk membuka suara. Mungkin, karena dia melihat aku yang tidak menginginkan Ariel, mereka jadi berpikir bahwa Ariel tidak ada apa-apanya di sini. Ariel menatap wanita itu tajam dan menghela napas panjang. Dia menyipitkan matanya saat menatap wanita itu. "Ini urusan rumah tanggaku. Kau tidak berhak ikut campur." "Kau yang ikut campur urusannya!" Wanita di sisi kananku juga ikut berbicara. "Dia sudah mengusirmu sedari tadi tapi kau tetap di sini." Aku tertawa mendengar mereka melawan Ariel. "Apa ...?" Ariel berucap dengan tidak percaya. Walaupun terlihat marah, mata Ariel tidak bisa berbohong. Dia juga terluka karena aku yang mengusirnya dan kedua wanita itu yang melawannya tanpa kucegah. Namun, Ariel yang sendirian tetap berdiri di tempatnya. Melawan kami yang berjumlah tiga orang. "Apa kalian tidak sadar apa status kalian? Kalian adalah wanita bayaran! Aku adalah istri Erick! Dia suamiku! Apakah kalian tidak mengerti?! Dia milikku! Tempat ini milikku! Kalian tidak berhak mengusirku!!" serunya dengan nada suara yang gemetaran. "Tentu saja ini rumahmu, tapi suamimu sudah menyuruhmu pergi! Dia masih muda, dan wajar saja masih suka bermain-main dengan kami. Dan ini bukan pertama kalinya!" "Kami juga tidak akan ke sini jika Erick melarang. Tapi Erick sendiri yang berkata bahwa pernikahan ini hanya status dan yang lebih penting, dia tidak mencintaimu!" Perlawanan dari kedua wanita yang berada dalam pelukanku, sukses membuat Ariel terdiam seketika. Tubuh Ariel yang sudah gemetar, kali ini semakin gemetar saat dia berkata. "Tapi ..." Ariel menarik napasnya. Matanya menatapku yang balas memandangnya dengan pandangan meremehkan. "... tapi ini kamar pengantin kami ...." Kalimat terakhir Ariel diucapkan dengan tersendat saat air matanya perlahan turun. Dalam momen menangis itu, Ariel menatapku tanpa henti, sementara aku memandangnya dalam diam. Tidak tergerak atau pun berusaha untuk memberikan sedikit perasaan kasihanku untuknya. Aku memejamkan mata, menghela napas panjang dan menepuk bahu wanita kanan yang sedang kurangkul. "Hey, kita pindah kamar saja. Di sini berantakan. Penuh dengan bunga dan juga bau yang aneh." Wanita kananku berdecak kesal. "Dasar tidak tahu diri!" serunya, dan menarikku yang sedang mabuk agar kembali keluar. "Erick ..." Ariel memanggilku yang sudah berbalik. Aku bahkan tidak menoleh saat isakan Ariel mulai terdengar. "... Kau sungguh akan pergi dengan mereka? Lalu bagaimana denganku? Aku menunggumu sedari tadi. Aku juga kedinginan .... Aku tidak memakai selimut atau pun jaket agar aku tidak berkeringat. Erick, kau sungguh akan pergi? Tidak bisakah kau di sini? Tidak bisakah kau bersamaku di malam pertama pernikahan kita?" Aku terdiam sejenak. Saat itu, aku berpikir Ariel manipulator. Dia mamarahi dua jualang yang kubawa, namun berkata dengan menyedihkan di hadapanku. Aku mendengus saat memikirkan itu, dan tanpa membalikkan tubuh pada Ariel, aku berkata, "Ceraikan saja jika kau tidak suka. Apa sulitnya itu?" Hah .... Badjingannya, keesokan malamnya aku malah memperkaos Ariel dan badjingannya lagi, kebrutalanku pada Ariel di hari itu tidak bisa kuubah. Karena aku tidak hidup kembali pada lini masa itu. Aku malah hidup kembali di tahun aku sudah melakukan hal-hal badjingan itu. Jika aku hidup di hari ketika kami menikah, aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan memalsukan tawaku, aku tidak akan meragukan perasaan tulus Ariel dan tertawa bersamanya hingga akhir. "Tuan, kita sudah sampai." Suara supir membuatku terbebas dari lamunanku tentang masa lalu. Aku menoleh ke sampingku, menatap Ariel yang duduk dengan tenang di sampingku. Dia menatapku dengan pandangan polos dan tidak ada jejak-jejak kebencian di matanya. Dia bahkan tidak tahu separah apa aku memperlakukannya di masa lalu. Aku menghela napas panjang dan menatap tempat yang sudah berkali-kali kudatangi itu. Tempat dengan aula terbesar di seluruh dunia. Tempat yang hanya dimiliki oleh golongan elit tingkat atas. Dan salah satu golongannya adalah sebuah kelompok bernamakan The Devils. Dan hari ini, yang menyelenggarakan pesta amal adalah seorang Felix Wilkinson.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN