MRH 14 - Dan

1528 Kata
Setelah mengonfirmasi identitas sebagai Tuan dan Nyonya Thompson, aku dan Ariel masuk ke dalam gedung megah yang mengundang kami. Dari luar, pesta yang diadakan oleh Felix Wilkinson ini sudah terlihat megah. Namun setelah masuk ke dalam, kata megah dan mewah saja tidak bisa dinilai cukup untuk menggambarkan tempat ini. Aku sangat yakin jika Felix menghabiskan secuil hartanya untuk pesta yang megah seperti ini. Tapi jika ini dilakukan Thompson, ini mungkin akan menghabiskan hampir seperempat dari harta milikku. Untuk mencegah diskriminasi, setiap tempat tidak dibagi-bagi secara kasta. Felix memiliki pemikiran kompleks yang tidak bisa diikuti oleh orang lain. Faktanya, di antara The Devils (nama kelompok Felix yang memang terasa sangat konyol saat dinarasikan), Felix adalah orang yang paling pintar di sana. Mungkin, karena gen Wilkinson adalah gen yang sangat luar biasa dari generasi ke generasi. Karena itu, Xavier Wilkinson juga sama menakutkannya. Itulah sebabnya mereka menjadi sepupu. Sangat tidak dipercaya bahwa di kehidupan sebelumnya, aku dapat menjatuhkan nama Wilkinson hingga mereka bahkan hanya bisa menatapku dari bawah. Sementara aku yang sudah berada di tempat paling tinggi, bahkan tidak repot-repot untuk menunduk menatap mereka. "Tuan Thompson." Baru berjalan beberapa langkah menjauhi pintu, seorang pria tua dengan dua gandengan wanita di kiri kanannya datang menghampiriku dan Ariel. Senyumnya sangat lebar, dan bahkan kumis tebalnya terlihat bergetar saat menghampiriku. Perut buncitnya terlihat tidak cocok dengan jas yang dikenakannya. Aku bahkan takut jika kancing jasnya tiba-tiba lompat dari pakaiannya. Aku bahkan tidak ingat siapa dirinya. Sepertinya tidak penting karena aku yang badjingan biasanya menyingkirkan orang yang mengganggu mataku. Itu akan membuatku sakit mata. Namun, karena aku yang sekarang bukanlah aku yang badjingan, maka walaupun aku lupa namanya, bibirku tetep melengkung untuk menerima salamnya. "Selamat malam, Tuan. Cuaca hari ini sangat indah untuk menghadiri pesta." Pria tua gendut berkumis itu tertawa kencang, terbahak-bahak dan aku dapat melihat dua wanita di sampingnya terlihat mengernyit tidak nyaman. "Aku sudah mendengarnya dari asistenku. Kudengar kau mengambil project besar kali ini." Aku tersenyum saja walaupun merasa kesal karena tiba-tiba informasi ini bocor dengan sangat cepat. Aku benar-benar harus memecat banyak karyawan yang ketahuan menjadi mata-mata di kehidupanku yang sebelumnya. "Ya. Sangat mengejutkan kau bisa mendapatkan info ini dengan cepat." "AHAHAHA KAU ADALAH PEMUDA YANG b*******h!!" tawanya saja sudah kencang. Dan dia bahkan sedang berteriak dan membuat orang-orang melihat keributan ini. Pria tua gempal berkumis itu tersenyum tipis saat melihatku hanya memberikan senyum sopan saja. "Tapi kudengar kau harus membuang uang senilai 3 proyek untuk yang ini." "Yah ... aku adalah seorang pengusaha. Bukankah tidak masalah untukku mengambil risiko?" "Hm ... aku agak meragukannya, Tuan Thompson. Anda masih sangat muda. Aku takut dengan apa yang akan terjadi kedepannya jika proyek ini gagal." Mendengar ucapan ini, aku tahu apa yang ingin dia katakan, sekarang. Sudah sangat biasa untuk menumbuhkan inferioritas seseorang agar mendapatkan keinginannya sendiri. Dan pria tua gempal berkumis ini sedang mengataiku secara tidak langsung bahwa aku miskin dan mungkin akan langsung bangkrut jika aku gagal. Dia tidak tahu saja jika aku punya harta tersembunyi dan proyek ini juga dipastikan tidak akan gagal. Felix menjamin itu di kehidupanku yang sebelumnya. Tapi pak tua gempal berkumis yang bahkan namanya tidak kuingat ini berani-beraninya mengataiku miskin. Ingin sekali aku berteriak seperti ini di depannya, "Hey, Pak Tua! Aku bahkan tidak mengingatmu dan kau terlalu bau untuk berada di sekitarku! Asal kau tahu! Aku mungkin sudah membuatmu jatuh di atas lumpur dan tidak dapat bangun lagi! Jadi, pergilah dari sini dan jangan membuat mataku sakit lagi. Kau mengerti?!" Namun, aku yang di kehidupan ini akan mencari aman dan akan menjawab dengan jawaban rasional dan tidak menimbulkan keributan. Baru saja aku akan membuka mulut, suara di sampingku membuatku bungkam. "Muda atau tua, apa hubungannya dengan kesuksesan dalam menjalankan bisnis?" Ariel yang sedari tadi diam dan diacuhkan olehku dan juga pak tua gempal berkumis itu, kali ini membuka suaranya dengan berani. Pak tua gempal berkumis itu mengangkat sebelah alisnya dengan heran. Dia kemudian menatapku. "Nona muda ini ...?" Dari tatapannya, aku bisa melihat sedikit nafsu yang ditujukan pada Ariel dari pria itu. Dan aku segera meraih pinggang Ariel, mendekatkan tubuh Ariel padaku dan tersenyum pada pak tua gempal berkumis itu. "Ini istriku," kataku, membuat Ariel tersentak pelan. Pak tua gempal berkumis itu membulatkan matanya dan juga mulutnya. "Ah! Aku baru melihatmu kali ini setelah pernikahamu. Tak heran Tuan Thompson mengurungmu di rumah dan tidak membiarkanmu keluar. Kau sangat cantik! HAHAHA!" Aku menaikkan kedua alisku dengan angkuh dan mendekatkan tubuh kami. Seolah berkata, ya! Tentu saja! Ariel kami benar-benar cantik dan dia adalah istriku! Namun, pak tua gempal berkumis itu sepertinya tidak ingin obrolan tadi berakhir. Jadi, setelah berbasa-basi sedikit tentang Ariel, dia kembali pada topik sebelumnya dengan senyum miring yang mengandung duri. "Tapi Nyonya, kupikir orang rumahan sepertimu tidak bisa menilai semuanya dengan tepat." Ariel yang sebelumnya menatapku, mengalihkan pandangannya pada pak tua gempal berkumis itu. "Saya memang tidak bisa menilainya dengan tepat, namun saya akan menilainya secara relevan. Erick sudah bertahun-tahun menjadi CEO dan dia mengembangkan perusahaannya sendiri hingga berada di titik ini. Entah kenapa Anda menilai kesuksesan proyek dari umur, bukan dari kompetensi." Pak tua gempal berkumis itu terlihat seperti diserang oleh kata-kata Ariel. Sementara dia terlihat agak kaku, aku tersenyum bangga di dalam hati. Ariel kami memang terbaik! "Nyonya, bisnis bukan hanya tentang teori," kata pak tua gempal berkumis itu. "Kau bisa menilainya secara positif karena Tuan Thompson adalah suamimu. Kegagalan dan risiko pasti terjadi." "Saya mengetahui itu dengan sangat baik, Tuan Greed, dan saya juga tidak berbicara tentang teori. Erick adalah atasan yang bertanggung jawab. Jika memang proyek ini menghasilkan kegagalan, tentu saja Erick yang akan bertanggung jawab untuk mengatasinya pula." Secara tidak langsung, Ariel mengatakan : pergilah! Ini bukan urusanmu! Hatiku kali ini menangis penuh bangga. Ariel kita bukan hanya cantik, tapi juga cerdas! "Wanita tidak akan mengerti karena tidak pernah mengambil proyek. Jika—" "Setelah menentukan kesuksesan proyek dengan umur, kali ini Anda menentukan kesuksesan sebuah proyek dengan gender. Saya pikir, hak asasi manusia adalah sesuatu yang sudah dimiliki oleh seluruh umat manusia. Kenapa tidak sekalian aja Anda berkata bahwa alien tidak usah berbisnis? Itu sudah jelas tidak ada di undang-undang dan Anda bisa menilainya sesuka hati Anda." Selain menyuruh pak tua gempal berkumis itu tidak mencampuri urusanku, Ariel juga mengatakan bahwa pak tua gempal berkumis itu tidak menghargai HAM dan tidak berperikemanusiaan. Bagus sekali, malaikatku! Tapi sayangnya, si pak tua gempal berkumis itu malah tertawa kencang mendengar ucapan Ariel. "Aku tidak tahu bahwa perkataanku bisa menyingung Nyonya Thompson yang bahkan baru diajak ke pesta setelah menikah bertahun-tahun." Hatiku yang tadinya masih mengangguk-angguk bangga pada Ariel, seketika tersentak dan menatap tajam pada pak tua gempal berkumis di hadapanku saat ini. Ah ... aku tahu dia, sekarang. Ucapannya yang meremehkan Ariel, dan juga namanya yang sebelumnya dipanggil Tuan Greed oleh Ariel. Di kehidupan sebelumnya, aku memungut orang-orang yang dibawahi langsung oleh Xavier. Bukan hanya untuk mendapatkan informasi lebih jauh dalam menjatuhkan Xavier, tapi juga ingin menunjukkan pada dunia bahwa caraku mengambil dunia agar berada di tanganku adalah dengan mengkhianati satu sama lain. Itu strategi yang sukses membuat banyak pebisnis terkemuka saling mengorbankan atasan mereka lebih dulu daripada teman-temannya. Dan aku menerima mereka dengan tangan terbuka untuk kubuang ke tempat sampah. Greed ini salah satunya. Namanya bahkan tidak kuingat hingga hari ini. Tapi seonggok sampah ini berani-beraninya menghina istriku? Rahangku mengeras. Tatapanku menajam ke arah tua bangka genit di hadapanku. "Kau—" "Mana mungkin saya berani untuk tersinggung?" Ucapan Ariel sukses membuat perkataanku terhenti. Aku menoleh ke samping, dan mendapati bahwa Ariel tidak menatapku sama sekali. Bibirnya tersenyum, namun siapa pun dapat melihat getaran saat bibirnya tertarik. "Saya hanya merasa senang berbicara dengan Anda. Bukankah sangat bagus jika para pebisnis saling memberikan pendapat?" Melihat bahwa Ariel sudah jatuh ke dalam intimidasinya, pak tua gempal berkumis yang tidak tahu diri dan genit itu malah tersenyum miring seolah meremehkan Ariel. "Ya, itu memang bagus. Tapi ada batasan untuk berpendapat. Jika batasan itu dilewati, hanya akan membuat orang lain kesal mendengarnya." Kesal, pantatmu! Aku yang harusnya kesal di sini! Berani-beraninya kau meremehkan Ariel di hadapanku?! Rahangku masih mengeras saat mulutku terbuka ingin mendebatnya. "Tua bangka—" "Tuan Felix sudah datang!" Seruan itu membuat si Greed-Greed itu tersentak dan berbalik ke belakang. Melihat barisan Pak Tua The Devils muncul dari arah tangga, si Greed-Greed ini segera berjalan cepat ke arah sana. b******n! Aku belum selesai denganmu! "Hey—!!" "Erick!" YANG BENAR SAJA!! Bukankah kebetulan-kebetulan ini terlalu disengaja?! Kenapa aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku?! Siapa yang mengatur ini semua?! Namun, karena suara itu terdengar akrab, mau tak mau, aku harus menatap si pemanggil dan benar saja bahwa itu adalah Sergei. Aku menghela napas panjang dan menoleh pada Ariel. Ariel masih tidak menatapku sama sekali. Dia menatap Sergei namun aku tahu bahwa Ariel melakukan itu agar dapat mengurangi rasa sakit hatinya. Aku selalu pergi ke pesta dengan wanita-wanita sewaan dibandingkan Ariel. Ucapan Greed menusuk hati Ariel dengan sangat tepat. Aku bahkan tidak bisa menimpali hinaan tua bangka itu. Sialan! "Erick, Nyonya Thompson." Sergei menyapa dengan formal saat kami menghampiri tempatnya berada. Wajah tuanya tersenyum lebar. Dia pasti senang melihatku datang dengan istri sahku. Tapi, bagaimana ya? Walaupun dia senang, yang Ariel dapatkan hari ini adalah rasa sakit dari penghinaan tua bangka itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN