MRH 15 - Menyadari

2669 Kata
"Erick, dan Nyonya Thompson." Sergei menyapa dengan senyum lebarnya. Dia menatap Ariel yang berdiri di sampingku. "Nyonya Thompson, senang melihat Anda hadir di sini pada malam hari ini." Ariel tersenyum sopan. "Grand—Tuan Loba, Anda tidak harus terlalu sopan denganku." Sergei tertawa pelan mendengar ucapan Ariel. "Kalau begitu, Anda juga tidak harus terlalu sopan padaku." Ariel mendengus geli. Senyumnya yang tadi bergetar, kali ini menjadi lebih tulus setelah melihat Sergei. "Anda yang harus menghilangkan kesopanan itu terlebih dahulu." Mereka saling bertukar kata dan membiarkanku menjadi obat nyamuk di sana. Aku yakin Ariel ingin sekali memanggilnya Grandpa, tapi karena ada aku di sini, mereka saling bertukar kata secara formal. Padahal, di masa lalu Sergei ikut andil dalam mengasuh Ariel. "Anda terlihat cantik malam ini." Sergei berkata pada Ariel. Senyumnya masih mengambang dan mataku terfokus pada Ariel. Ariel juga melebarkan senyumnya dan menganggukkan kepalanya dengan sopan saat menjawab, "Anda terlalu memuji. Padahal yang terlihat tidak menua sama sekali adalah Anda." Sergei tertawa lebar. Tangannya terulur dan mencoba meraih bahu terbuka Ariel. "EKHEM!" Menjadi obat nyamuk ternyata sangat tidak menyenangkan. Karena tidak ingin dikeluarkan dari obrolan mereka, aku meraih pinggang Ariel dan mendekatkannya ke arahku saat aku menatap Sergei. "Aku juga terlihat tampan." Tangan Sergei masih berada di udara, dan Ariel yang berada dalam pelukanku pun masih menegang. Saat aku menyadari bahwa kalimat yang kukeluarkan barusan sangat canggung, aku kembali berdeham dan berkata pada Sergei. "Bukankah kau harus memuji atasanmu juga?" Sergei mengedipkan matanya berkali-kali, menarik tangannya yang masih berada di udara dan tertawa kaku. "Anda tampan seperti biasanya." Ucapannya jelas-jelas mengatakan bahwa karena kita bertemu setiap hari, jadi wajahku sama-sama saja di matanya. Rahangku mengeras dan aku memalingkan wajahku ke arah Ariel. Tubuhku tersentak dan membeku seketika saat melihat wajah Ariel sangat dekat denganku. Aku tidak sadar, sebelumnya. Tapi aku meraih Ariel merapat ke dalam pelukanku dan membuat tubuh kami saling menempel. Ini pertama kalinya aku memeluknya setelah kelahiran kembaliku. Melihatnya dalam posisi seperti ini, tentu saja aku merasa gugup. "Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Kukira suara terbatuk itu adalah suara untuk menggoda kedekatanku dengan Ariel. Tapi ternyata Sergei yang benar-benar terbatuk kuat sambil menepuk dadanya. Aku mengernyitkan alisku, melepaskan tanganku di pinggang Ariel dan meraih tangan pak tua itu. "Jangan memukul-mukul tubuhmu seperti itu," kataku, lalu meraih minuman di tangannya yang lain. "Dan jangan meminum minuman yang seperti ini. Kau ini sudah tidak muda lagi. Jika kau tidak menjaga kesehatanmu, kau akan mati lebih cepat." Alisku masih mengernyit tidak nyaman saat mencium aroma tequila yang sangat kuat di dalam gelas yang Sergei pegang sebelumnya. "Dan dari mana kau mendapatkan minuman yang seperti ini? Aku tidak melihat pelayan mondar mandir di sini." Aku mencicipi tequila itu. Merasakan rasa enak minuman itu, aku akhirnya menghabiskannya dalam sekali teguk. Ujung gelas masih menempel di bibirku saat mataku menangkap figur terkejut Sergei dan juga Ariel. Aku melepaskan gelas dari mulutku dan berkata, "Ah ..." dengan puas. "Ada apa?" Sergei dan Ariel sama-sama tersentak mendengar ucapanku. "Kau ..." kata Ariel, membuatku mengangkat sebelah alisku. Sergei yang tadinya diam seolah tersadar dan berkata. "T-terima kasih atas perhatian Anda." Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku dengan santai, kemudian menundukkan kepala melihat gelas tequila. Merasa bingung ingin melemparkan gelas ini ke mana. Namun, saat aku mengangkat wajahku kembali, yang kulihat adalah wajah tercengang Sergei dan Ariel yang lebih diam. Aku terdiam sejenak sebelum tersadar dan melotot. BADJINGAN! Aku lupa dengan karakter badjinganku yang seharusnya aku mainkan! SIAL! SIAL! SIAL! Bagaimana bisa aku lupa?! Apa maksudmu menyuruh orang yang ceritanya kau benci itu untuk menjaga kesehatannya, diriku?! Kau seharusnya menyumpahinya mati! Aku menghela napas berat. Inilah yang terjadi jika karakterku tiba-tiba berubah. Orang-orang seperti mereka pasti akan tercengang. Mereka disiksa olehku bertahun-tahun dan kenapa juga aku tiba-tiba berbaik hati pada keduanya?! Argh!! Apakah aku harus mengatakan bahwa aku bertemu biksu dan melakukan pengakuan dosa hingga bertaubat? Apa mereka akan percaya? "Aku tidak menyangka orang-orang hebat akan berkumpul di satu tempat seperti ini." Bagai penyelamat, suara seseorang tiba-tiba menginterupsi di tengah-tengah rasa tercengang Ariel dan juga Sergei. Baru saja aku menghela napas panjang dan ingin bersujud syukur, pemandangan menyebalkan yang terpantul di mataku membuatku menelan kembali niat awalku. The Devils dengan si tua bangka mendatangi tempat kami. Melihat si Greed-Greed itu menyeringai m***m di belakang The Devils yang mendatangi kami, aku tahu bahwa si Greed-Greed itu memberitahu keberadaanku karena telah membuatnya kesal. Biar kuperkenalkan sejenak. Karena keempat orang lainnya bukan sampah di kehidupanku yang sebelumnya, aku masih mengingat nama-nama mereka dengan jelas. Yang berdiri paling depan, seorang pria yang tersenyum dengan binar mata yang penuh dengan keirian membara ini adalah Felix Wilkinson. Penyelenggara pesta ini. Dia adalah yang pria yang memiliki umur paling tua di antara kelompok dan dikenal dengan julukan Hot Devil. Entah siapa yang membuat julukan-julukan norak ini. Namun, entah ketika usia muda atau tua, julukannya tidak pernah berganti. Dan setiap komentar di postingan miliknya selalu ada kata Hot Devil untuk memuji Felix. Di kalangan atas, memiliki dua marga itu artinya orang tersebut wajib miliki posisi di kalangan atas. Dan bahkan tidak jarang yang menjadi elit di dalam kelompok. Dua marga pada nama menandakan bahwa orang tersebut memiliki dua penyokong dari kalangan berkuasa. Sementara yang memiliki satu marga berarti hanya memiliki satu penyokong saja yang menjadi sukses di bidang pengusaha. Namun, hal itu tidak berlaku pada Felix Wilkinson. Tapi berlaku untuk Erick Thompson. Hanya saja, mereka tidak tahu bahwa di kehidupanku yang sebelumnya, mereka bahkan tidak bisa menggunakan kekuatan namanya untuk melawanku yang berada di atas mereka. "Tuan-tuan, selamat malam." Sergei menyimpan tangan kanannya di d**a kiri dan menganggukkan kepalanya sedikit. The Devils yang umurnya hampir menyamai Sergei pun hanya tersenyum dan mengangguk saja tanpa membalas sapaan. Terutama Darren yang hanya bungkam di tempatnya. Darren Valentino Reinhard. Dikenal sebagai Cold Devil. Kebalikan dari Felix yang mendapatkan julukan Hot Devil. Darren adalah orang yang benar-benar sangat menyerupai iblis. Dan sangat sesuai dengan namanya. Pada orang lain, Darren hanya menunjukkan kedinginannya dan dengan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan dan ketidaktertarikannya. Darren hanya menunjukkan sifat baiknya pada orang-orang yang dikenalnya. Seperti sahabat, keluarga dan terutama pasangannya. Selebihnya, di mata Darren, semua orang hanya seonggok sampah tidak berguna dan tidak dapat didaur ulang. Aku ingat saat pertama kali bertemu dengannya dan menyapanya dengan santun. Aku hampir menangis saat dia hanya menatapku saja sementara bibirku sudah membeku dengan senyuman kaku. Pada akhirnya aku menyerah dan berbalik pergi pamit pada Darren. Namun, dalam kehidupan sebelumnya atau pun kehidupanku yang sekarang, tidak ada perasaan sulit untuk Darren ini. Karena Darren selalu berorientasi pada kebenaran tanpa mendiskriminasi orang lain. Dia hanya menjalankan kehidupannya sesuai prinsip yang dimilikinya. Itulah kenapa anak-anaknya bahkan tumbuh sangat baik. Berbeda dengan anak teman-temannya yang terkena skandal dan badjingan semua. Terutama Alarick. Dia adalah yang paling sombong di antara kelompok. Alarick Kaslov Damian terkenal dengan sebutannya yaitu Bastard Devil. Untuk deskripsi lengkapnya, lebih baik mencari ceritanya langsung karena selain terlalu banyak skandal yang dibuatnya di masa lalu, dia juga merupakan orang paling melodrama. Agak mual untuk menceritakannya namun aku sendiri bersyukur dia memiliki pawang yang siap siaga menjitak kepalanya jika dia berbuat tidak senonoh. Sementara anggota terakhir yaitu Makiel Zander McKennedy, adalah pria yang mendapat julukan Crazy Devil. Memang sifatnya konyol dan bisa berbaur dengan siapa pun. Dia bisa tersenyum pada siapa pun dan dalam keadaan apa pun. Itulah titik menyeramkannya. Dan lagi, dengan berita menyedihkan yang muncul di masa depan nanti, Makiel tetap bisa tersenyum dan menenangkan semua orang seolah-olah dia baik-baik saja. Selain orang jenis sifat seperti Ariel, jenis orang dengan sifat seperti Makiel juga benar-benar menyeramkan. Karena dia bahkan tetap bisa tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa padahal dialah yang memiliki luka menganga paling dalam. Melihat Makiel dan Darren berdiri bersebelahan, membuatku memalingkan wajahku ke arah lain. Merasa sedikit bersalah karena sudah menghancurkan kehidupan mereka di masa lalu. "Aku tidak tahu bahwa kalian sangat akrab." Felix kembali berbicara setelah mendengar sapaan Sergei. Dia tersenyum dan melirikku dengan tajam. "Padahal kudengar hubungan kalian tidak baik dan sering berdebat. Ahaha," katanya, tertawa datar dan kembali menatap Sergei. Aku hanya tersenyum kaku mendengar sindirannya. Badjingan. Itulah kenapa aku tidak menyesal sudah membunuhmu di kehidupan sebelumnya. Sergei sudah terlihat tidak nyaman dengan pendapat Felix. Dan sebelum Felix bisa membuka suara, aku menjawab sindiran Felix. "Ahaha. Kebetulan, aku berencana menyaring karyawan-karyawanku yang kurang ajar," aku membalas tawa datarnya, membuat Felix yang tadinya tidak menaruh perhatian padaku, sekarang menatapku kembali. "Aku ingin tahu karyawan mana yang berani-beraninya menyebarkan rumor tidak benar di belakangku." Aku akan membasmi mata-mata yang kau susupkan ke perusahaanku, badjingan! Itulah maksud dari kata-kata yang kulontarkan pada Felix. Kupikir, aku hanya menarik perhatian Felix saja. Namun ternyata aku juga menarik perhatian kalangan atas lain yang menghadiri acara ini. Mengetahui posisiku masih belum ada apa-apanya di kehidupan sekarang, tanganku yang berada di pinggang Ariel sudah mulai berkeringat dan mendingin. Ah ... sial. "Hooh ... ternyata itu rumor tidak benar?" Makiel yang tadinya diam saja, kali ini menimpali ucapanku dengan tangannya yang bersidekap d**a. Aku mengangguk asal. "Ya. Tentu saja." "Kalau begitu, apa kalian benar-benar akrab?" Alarick mulai ikut-ikutan. Kalau mereka bertiga sudah bersuara, sudah pasti aku akan diserang. "Bagaimana dengan kebiasaan makannya?" "Bagaimana kebiasaan tidurnya?" "Apa makanan kesukaannya?" "Kita tanya yang lebih mudah, Alarick. Bagaimana dengan zodiaknya?" "Ya, Makiel benar. Kalau begitu, golongan darahnya, apa kau tahu?" "Nama nenek moyangnya juga seharusnya dia tahu kalau mereka akrab." "Nenek dari nenek moyangnya juga harusnya sudah tahu, sih. Kan akrab, katanya." "Coba dijawab. Tidak bisa kan? Kan?" Ujung bibirku berkedut dan urat di pelipisku mulai menonjol. Seluruh tubuhku kali ini berkeringat dan panas. Bukan karena gugup, tapi karena emosi dengan pertanyaan mereka bertiga. Sementara Darren yang memiliki jumlah umur paling kecil hanya diam, tiga lainnya malah membombardirku dengan pertanyaan konyol dan terlihat seperti anak SD sedang membullyku secara keroyokan. Jika aku yang sekarang adalah aku di masa badjinganku, mereka bertiga sudah kutembak satu persatu. "Ayo jawab! Tidak bisa, kan?!" Alarick mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. "Jawab, jawab, jawab, jawab." Makiel mengatakan hal itu berulang-ulang sambil bertepuk tangan di setiap katanya. "Akrab, pantatku!" ejek Felix dengan wajah mengejeknya yang sangat jelek. Kedua tanganku mengepal kuat-kuat. Badjingan-badjingan ini .... "Pfft—AHAHAHA!" Semburan tawa itu datang dari Sergei yang tertawa lantang. Sementara Ariel yang berada di sampingku gemetaran sambil menahan tawanya. Sebelah alisku berkedut melihat mereka berdua menertawakanku yang dibully oleh genk iblis ini. "Tertawalah jika kau ingin tertawa." Ariel menatap wajahku dan tertawa pelan. Dia tersenyum lebar sambil berkata, "Erick sangat lucu." Aku mendengus geli. "Apa kau senang melihat suamimu dibully?" Ariel cemberut. Pipinya merona merah. "Bukan begitu maksudku ...." "Bagus sekali. Suamimu akan sakit hati jika kau tertawa saat dia dibully." Tanpa sadar, aku mencubit pipinya, dengan niat hati merasa gemas dengan rona merah yang ada di sana. Namun, melihat warna itu semakin tebal, membuatku mengalihkan mataku pada mata Ariel dan mendapati matanya gemetar. "Kenapa? Apa kau sakit?" tanyaku, beralih menyentuh keningnya. Ariel segera memundurkan tubuhnya dengan cepat, membuatku mengerutkan alis dengan heran. "Ada apa?" Ariel menggelengkan kepalanya dengan berlebihan. "A-aku harus ke kamar mandi." "Aku akan mengantar—" "Tidak usah! Aku bisa sendiri!" tolaknya dengan keras. Dan sebelum aku bisa menghentikannya, Ariel sudah berbalik pergi lebih dulu. Ariel, kamu salah jalan, sayang. Itu bukan jalan ke toilet. "Aku ..." Aku menoleh saat mendengar suara Makiel. "... merasa pernah melihatnya." Tanpa berpikir sedikit pun, Alarick menimpali. "Apa dia salah satu partner s3xmu di masa lalu?" "Ariel masih perawan saat denganku!" aku menjawab cepat. Memelototi Alarick. "Dan apakah kau gila?! Dia mungkin lebih tua 20 tahun dari Ariel!" "Kau mungkin tidak tahu tapi dia pernah tidur dengan wanita yang 15 tahun lebih tua darinya." Alarick menunjuk Makiel dan berbicara padaku seolah orang yang digosipkan sedang tidak ada. "Sungguh?!" "Ya. Dan umur Makiel saat itu hampir menginjak 30 tahun. Jadi secara otomatis, dia tidur dengan nenek-nenek." Aku membuka mulutku lebar-lebar. "Itu gila!" "Itulah kenapa dia disebut Crazy Devil." "Kalian berdua yang gila!" Makiel menyentak dengan tidak terima. "Dia bukan partner s3xku tapi aku sungguh pernah melihatnya! Apa kau tidak familier dengan wajahnya, Alarick?" Alarick mengerutkan alisnya sejenak sebelum membuka matanya lebar-lebar. "Apa dia partner s3xku—?!" "Bukan!!" Aku dan Makiel berteriak secara bersamaan. Kenapa pak tua gila ini benar-benar terobsesi dengan s3x?! "Tuan-tuan, Anda mengingatnya." Sergei yang sedari tadi tidak ikut dalam pembicaraan, kali ini mulai bersuara dengan senyuman di wajahnya. "Itu adalah konferensi terbuka untuk para pengusaha. Dia yang dikirim untuk hadir dalam pemungutan suara." "Aku ingat!" Felix tiba-tiba bersuara. "Apa kau ingat, Darren. Itu adalah saat itu, bukan?" Darren mengedipkan matanya berkali-kali dan mengangguk. "Transfer of technology*." "Ya! Itu!" seru Felix. "Dia ada di bagian yang menentang. Kalau tidak salah, itu tentang pembuatan senjata?" "Hm. Pemerintahan ingin membuat sebuah perusahaan senjata berbasis teknologi," kata Darren. "Dia ada di barisan paling belakang tapi bersuara paling keras. Aku bahkan ingat dengan kata-katanya." "Woah ... jika Darren sudah berkata lebih dari 10 kata, itu menunjukkan bahwa dia benar-benar tertarik," kata Makiel setelah berseru takjub. "Aku hanya ingat bahwa wajahnya cantik. Memang, apa yang dikatakannya?" Darren terdiam sejenak. "Dia berkata, transfer of technology digunakan untuk menyelamatkan manusia, bukan untuk membunuh manusia." "Hah?! Sungguh?!" Alarick bereaksi dengan sangat terkejut. Makiel tertawa. "Selain cantik, dia juga berani," serunya dengan bangga. Namun setelah melihat wajahku, tawanya seketika menghilang. "Badjingan beruntung." Felix dan yang lainnya pun menatapku dengan iri dengki. Mereka masih mendendam dengan keputusanku mengambil proyek sendirian. "AH!" Teriakan yang disertai suara ribut itu mulai terdengar ramai. Mau tidak mau, aku dan The Devils yang tadinya menjadi sorotan pun, ikut teralihkan dengan suara-suara tersebut. "Ada apa?" tanya Felix dengan heran. Dia menghela napas panjang saat kerumunan semakin meningkat. "Ini pestaku. Tapi ada-ada saja yang aneh." "Sudah kubilang, kau seharusnya menggelar pesta yang hening, jangan ramai dan acak-acakan seperti ini. Keadaannya jadi tidak kondusif." "Jika pestanya hening, maka itu tidak bisa dibilang pesta, Makiel." "Diamlah, Alarick. Kau tidak mengerti tentang pesta amal karena kau tidak pernah beramal!" "Memangnya kau sering beramal?" "Tidak juga." "Kalau begitu tidak usah menceramahiku!" Si pemilik pesta pun segera menghampiri kerumunan itu tanpa pamit padaku. Teman-temannya masih mengoceh saat perjalanan ke sana. Hanya Darren saja yang mengikuti dalam hening. Diikuti dengan si Greed-Greed itu yang kehadirannya bahkan tidak kurasakan, barusan. Aku diam saja di tempat, merasa tidak tertarik walaupun agak penasaran juga. Karena di kehidupanku yang sebelumnya, keramaian seperti ini tidak pernah terjadi. "Ayo kita lihat juga," kata Sergei, meraih bahuku. Tubuhku tertarik oleh langkahnya. "Tapi, Ariel—" "Owner! Itu Owner!" Aku tersentak mendengar teriakan itu. Mataku melotot mendengar suara yang saling bersahutan itu. Owner. Hanya satu kata itu saja bisa membuat seluruh darahku berdesir dan membuat tubuhku terasa dingin. Mataku terbuka lebar, teringat dengan Ariel yang tadi pergi ke arah sana. "Ariel!" seruku kuat, berlari dan mencoba menerobos kerumunan yang berkumpul di satu tempat. Karena The Devils telah melewati kerumunan itu, otomatis ada ruang terbuka untukku lewat. "Ariel!" teriakku, tanpa peduli menabrak Felix yang menghalangi jalanku. Tubuhku gemetar dan jantungku berdebar kuat saat melihat pemandangan di hadapanku. Air mineral dari botol yang entah Xavier dapatkan dari mana, kini sudah tersebar di lantai. Dan di tengah-tengah air yang masih menetes itu, ada sepatu hak tinggi yang kukenali. Seluruh tubuhku mendingin seketika. Di kehidupanku yang sebelumnya, Xavier seharusnya tidak ada di sini. Karena sifat Xavier yang selalu menyendiri dan exculsive. Tapi, di kehidupan sekarang, kenapa Xavier di sini? Dan yang lebih penting, kenapa dia menyiram Ariel dengan air? Namun, sebelum aku bisa mendekati mereka, jantungku seketika jatuh ke bawah saat melihat apa yang Ariel lakukan. PLAK!! Ya. Ariel menampar Xavier. Ariel menampar manusia paling menakutkan di kehidupanku yang sekarang. . Sepenggal Fakta Menarik Ariel kalau disiram Erick : hiks ... Erick, kenapa kau melakukan ini padaku? . Ariel kalau disiram orang lain : PLAK!! (tanpa ngomong apapun langsung tampar) . Erick kalau melakukan kebaikan : (panik) gimana ya?! apa harus kasih tau kalau aku sudah taubat? . Erick kalau melakukan kejahatan : (nolstagia dulu gimana badjingannya dia di masa lalu), (ngelakuin kejahatan lagi juga tapi agak diperhalus dikit) . Transfer teknologi merupakan salah satu jalan untuk menghilangkan keterbatasan tersebut dan menuju peningkatan dan penguasaan teknologi. Kebijakan itu merupakan strategi dalam pengembangan kemampuan surnber daya manusia agar produktivitasnya lebih meningkat lagi. (Sumber : Wikipedia)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN