03. Cewek Stres

1532 Kata
"Huft..." Thalia menghela nafas, ia bosan menulis terus dari tadi karena guru sejarahnya memberikan tugas sangat banyak. Akhirnya setelah berfikir harus apa untuk mengusir kebosanan, Thalia mengambil earphone nya dari dalam saku dan menyambungkan dengan handphone-nya. Dan mengalun lah lagu kesukaannya, setelah itu Thalia melanjutkan acara menulisnya dengan nyaman. Saat sedang asik - asiknya menulis, tiba - tiba ada yang menarik earphone sebelah kirinya dan ternyata itu adalah Lina. "Lo ya, pantes aja gue ajak ngomong gak nyaut - nyaut." Lina menggerutu kesal. Sementara Thalia hanya tersenyum kecil. "Dengerin apaan sih?" Lina menyambungkan earphone yang ia copot ke telinganya. Dan terdengarlah lagu SEVENTEEN - THANKS di telinganya. Tiba - tiba lina mencopot lagi earphone nya dan melihat Thalia dengan melotot. Sedangkan Thalia menatapnya dengan bingung. "LO..LO SUKA SEVENTEEN!" Lina berkata dengan suara meninggi walau tidak terlalu keras sehingga teman - teman yang lain tidak terlalu mendengarnya. 'Aduh buset.. Si Lina kenapa ini? Jangan - jangan dia haters seventeen lagi." Thalia berfikir dalam hatinya. "YA AMPUN..." Lina berteriak membuat Thalia cemas mendengarnya. "GUE.." "KETEMU CARAT'S!!!!!"¹ Lina berteriak sambil memeluk Thalia. Sontak semua yang ada dikelas menatap mereka dan menyorakinya karena mengganggu acara menulis mereka. "Lo ngagetin gue ih." Thalia mendorong bahu Lina pelan. "Ya gue kira lo bukan kpopers, ternyata iya. Jadi gue seneng." Lina tersenyum kecil. "Ya Ampun gue juga seneng banget atuh ketemu sesama kpopers di sekolah ini. Akhirnya ada juga yang bisa dengerin bacotan gue tentang Mingyu. Hehehehe..." Thalia tertawa renyah. "Kpopers banyak kali di sekolah ini." Ujar Lina. "Ih apaan, gue baru masuk ke sekolah ini langsung ketemu sama haters." Sanggah Thalia, sambil merengut karena teringat kejadian tadi pagi bersama Rida. "Oh ya? Terus dia ngomong apa?" Tukas Lina penasaran. "Ya gitu deh dia menghina Mingyu banci, terus bilang kalau gue teh pemuja plastik. Kesel banget deh pokoknya!" Ucap Thalia menggebu - gebu, emosinya tiba - tiba kembali memuncak saat menceritakannya. "Wah parah banget.. padahal kan mereka gak oplas ya." Bela Lina sependapat dengan Thalia. "Iya, sotoy banget tuh orang." Hardik Thalia. "Kok gue kesel ya dengernya? Siapa sih tuh orang?" Tanya Lina ikut emosi. Thalia terdiam, entah kenapa ia merasa tidak mau memberitahukan kepada Lina kalau si haters itu adalah Rida. "Adalah... gue gak tau. Eh btw, lo fandom apa?"² Tanya Thalia mengalihkan topik. "Gue lebih ke.. multifandom sih.."³ jawab Lina tak curiga. "Lah gue juga atuh." Balas Thalia dengan girang. Akhirnya percakapan tentang bias itu terus berlanjut, membuat mereka lupa dengan tugas sejarah yang harus mereka kerjakan. Jangan ditiru ya.. Tapi Thalia senang... Sekali. Ternyata perempuan cantik yang menolongnya itu, ternyata juga teman sebangkunya dan mereka juga ternyata memiliki kesukaan yang sama. Thalia merasa klop sekali dengan Lina teman barunya ini. Thalia sangat berharap, kali ini ia mendapatkan sahabat sesungguhnya. Sahabat yang sudah sangat ia rindukan kehadirannya. TRINGGG!!!! Tak terasa bel istirahat telah berbunyi, saking asiknya mereka mengobrol. Lina yang mendengar suara bel kencang itu langsung berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Thalia. Tak lupa senyuman manis selalu menghiasi wajah cantiknya itu. "Yuk! Gue antar keliling sekolah!" Ajaknya penuh semangat. Thalia terperangah, senyuman manis Lina selalu sukses membuat Thalia terpana. Entahlah, rasanya seolah - olah ada musik yang mengalun setiap Lina tersenyum. Sedetik kemudian Thalia langsung tersadar dari lamunannya, ia menggeleng kecil lalu ikut tersenyum lebar. "Yuk!" Seru Thalia, lalu menyambut uluran tangan Lina dan mengikuti langkah Lina keluar dari kelas. Hati Thalia benar - benar menghangat. Thalia sangat berharap bisa bersahabat dekat dengan orang sebaik Lina. ••• "Nah ini.. namanya taman sekolah Thal!" Seru Lina tetap bersemangat menjelaskan pada Thalia. Padahal mereka sudah mengelilingi seluruh sekolah yang sangat luas ini, tapi semangat Lina seolah tidak habis - habis. "Gila... Di sekolah ada tamannya?" Thalia terkagum, tak habis pikir dengan fasilitas sekolah barunya ini. "Iya dong... SMA Bakti Bangsa gitu loh...." Ujar Lina pongah. Thalia mengangguk - angguk sambil mengamati keadaan taman sekolah yang begitu sepi namun menenangkan. Kondisi taman cukup ramai, beberapa murid terlihat disana. Ada yang hanya duduk - duduk saja, ada yang membaca buku, ada juga yang sedang mengerjakan tugas, dan ada yang sedang memakan bekal miliknya. Walau begitu suasana taman tetap tenang, karena kondisi taman yang luas membuat mereka tersebar di berbagai tempat dan tidak berdesakan. "Wah... Sejuk banget..." Ucap Thalia sambil menikmati angin sepoi - sepoi yang berhembus kearahnya. Baru kali ini Thalia melihat sekolah yang memiliki taman, biasanya hal ini cuman bisa ia lihat di film - film. "Iya disini emang sejuk banget." Timpal Lina mengiyakan. "Cocok banget buat belajar soalnya gak sumpek." Tambahnya lagi. "Eh, kita duduk - duduk dulu yu disitu." Ajak Lina sambil menunjuk kursi taman dekat mereka yang kosong. "Yuk!" Seru Thalia. Namun, baru juga satu langkah ia beranjak, tiba - tiba perutnya menjadi sangat tidak enak. Thalia berhenti melangkah, mematung. Membuat Lina berbalik dan mengerutkan keningnya. "Kenapa Thal?" Tanya Lina heran. Thalia menggeleng pelan, gas - gas diperutnya semakin bergerak brutal meminta untuk dikeluarkan. Thalia sudah tidak tahan lagi!!! Tapi ia malu jika buang angin di depan Lina. Thalia menyengir lebar lalu mundur perlahan. "Gue.. ke kamar mandi dulu ya Lin! Urgent! Bye!" Pamit Thalia dan segera melesat pergi dari sana. "Eh Thalia! Gue tunggu disini ya!" Teriak Lina dengan wajah terheran - heran. Lalu melanjutkan langkahnya menuju kursi taman tadi, dan duduk disana sambil memandangi langit. Sementara itu Thalia berjalan dengan kecepatan turbo, berusaha menahan kentutnya sekuat tenaga. Namun mustahil, karena sepertinya kentutnya sudah benar - benar di ujung tanduk. "Duh... Ini taman luas banget sih! Jauh banget lagi kamar mandi dari sini!" Thalia kini merutuki taman yang awalanya ia puji itu. Pret! "Aw! Jangan disini - jangan disini!" Panik Thalia saat melihat ada orang - orang sedang membaca buku di dekatnya. "Duh..." Thalia celingukan panik, mencari tempat yang sekiranya aman untuk ia buang angin. Dan... Aha! Akhirnya Thalia melihat pohon yang sangat besar tidak jauh dari tempatnya berada, dan yang terpenting di sekitarnya tidak ada siapapun. Dengan segera Thalia berjalan ke arah pohon itu dengan memegangi pantatnya, agar tidak terjadi lagi hal seperti tadi. Setelah sampai dibalik pohon itu, Thalia langsung mengeluarkan kentutnya sepuas-puasnya. Brottttttt!!! Thalia sampai terpejam, saking nikmatnya mengeluarkan sesuatu yang sudah ia tahan sejak tadi. "Ah.. lega.." ujar Thalia sambil tersenyum senang. "Anjir bau banget OHOK! OHOK!" Tiba - tiba terdengar suara lelaki memaki sambil batuk - batuk didekatnya. Thalia melotot kaget, ia kira tidak ada siapa - siapa disini. Dengan takut - takut Thalia melirik kesamping nya, dan ternyata... Ada Rida yang sedang duduk bersender di pohon melotot ke arahnhya. "Rida!" Teriak Thalia kaget sekaligus malu setengah mati. "Elo lagi - elo lagi!" Rida langsung berdiri, ekspresi marah terpampang jelas di wajahnya. "Gila lo ya! Gue lagi tidur lo kentutin! Mana bau lagi! Bau jengkol!" Cecar Rida habis - habisan. Thalia menunduk, maluuuuu sekalii. Huwaaa... Thalia ingin menghilang dari sini. Jika diibaratkan, mungkin wajah Thalia sudah seperti kepiting rebus saat ini. "Maaf, gue kira gak ada orang." Cicit Thalia, merasa bersalah. "Maaf - maaf, lo kira maaf aja bisa bikin idung gue bersih lagi? Anjir kentut lo bau banget gila! Udah makan jengkol ya lo! Gimana kalau idung gue harus diamputasi?!" Bentak Rida lebay. "Apaan sih lo lebay banget! Mana ada idung diamputasi gara - gara nyium kentut? Berarti lo gak pernah kentut gitu?! Lagian gue gak makan jengkol kok! Gue cuman makan seblak semalam, makanya perut gue jadi mules!" Thalia membela diri. "Udah tahu salah malah ngebela diri lagi lo! Jadi cewek kok barbar banget! Gak malu apa kentut sembarangan!" Rida terus mencecar Thalia. Ia kesal setengah mati karena tidur nyenyak nya terganggu. Thalia mendengus mendengar kata - kata Rida. Gak perlu ditanya dia malu atau tidak. Ya jelas malu lah! "Iya maaf - maaf. Tapi bisa gak sih suara lo kecilin dikit gitu. Kalau orang - orang denger gimana?" Pinta Thalia, sambil melihat sekelilingnya. Ridha mendelik mendengar permintaan Thalia. Enak sekali, sudah berbuat salah banyak maunya. Pikir Ridha sarkas. Tiba - tiba, ide jahil melintas di kepalanya "WOY!!! INI MURID BARU KENTUTNYA BAU BANGET!!! PADAHAL DIA CEWEK TAPI KENTUTNYA BAU JENGKOL!!" Ridha berteriak dengan sengaja. Thalia melotot kaget, dan langsung melihat ke sekelilingnya. Walau taman ini luas, tapi suara Rida sangat keras mengalahkan toa masjid. Buktinya ada beberapa murid yang menoleh mendengar suara Rida, bahkan ada beberapa diantara mereka yang menutup mulutnya menahan tawa. "Rida!" Sentak Thalia, sambil melotot kaget. Namun Rida malah menyunggingkan senyum menyebalkan, lalu membuka mulutnya lagi. "WOY!!! CEWEK INIIII! KEN—" DUG! "Ha!" Thalia terperanjat kaget dengan apa yang telah ia lakukan. Tanpa sadar Thalia menonjok Ridha di pipinya hingga Rida jatuh tersungkur. "Aduh..." Rida mengaduh kesakitan sambil memegangi pipinya yang lebam. "Dasar cewek breng- aw!" Rida meringis, karena bibirnya ngilu saat dipakai bicara. "I-ini salah lo sendiri teriak - teriak gak jelas!" Ucap Thalia membela diri, walau begitu Thalia sepertinya ketakutan karena kedua tangannya terus bertaut dan bergerak tak karuan. "Gu-gue kan udah suruh lo berhenti!"ucapnya lagi dengan terbata. "Po-pokoknya ini salah lo sendiri!" Hardik Thalia, lalu berlari pergi dari sana. Ridha melongo melihat Thalia yang berlari menjauh. "Dasar cewek stresss! Aw!" Jerit Ridha, lalu mengusap pipinya yang kini berwarna keunguan. Kamus Syala : ¹ : Nama penggemar grup boyband Seventeen asal korea selatan ²: komunitas penggemar ³: menyukai semua grup boy/girl band
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN