Entah sudah berapa lama Thalia berdiri mondar-mandir di bawah pohon rindang tempat ia bertemu cowok rese tadi. Tapi sepertinya sudah lama, karena sekolah yang awalnya sepi, kini sudah dipenuhi oleh murid - murid dan guru - guru yang baru berdatangan, baik itu berjalan kaki atau menggunakan kendaraan pribadi.
Thalia melihat arloji yang melingkar di lengannya, jam tangannya yang terpampang wajah Mingyu itu sudah menunjukkan pukul enam lewat 41 menit, beberapa menit lagi sebelum bel sekolah berbunyi. Pantas saja murid - murid yang baru datang berjalan dengan tergesa-gesa menuju kelas masing - masing.
Aduh... Thalia juga seharusnya sudah masuk ke kelas baru nya dari tadi. Andai cowok rese tadi memberi tahu nya lokasi ruangan kepsek, ia pasti takkan kesusahan seperti ini.
Thalia mondar - mandir gelisah, kedua kakinya mulai terasa pegal karena berdiri sedari tadi. Murid - murid yang melewati Thalia banyak yang melihat ke arahnya, antara baru melihat wajah Thalia di sekolah ini, atau aneh karena melihat gestur Thalia yang seperti menahan kencing.
Walau begitu tak seorangpun yang menyapa Thalia, mereka berlalu begitu saja.
Begitu juga Thalia, ia terlalu malu untuk bertanya pada orang asing. Setiap sudah menguatkan niat untuk bertanya, rasa malunya selalu mengalahkan tekadnya hingga mulutnya jadi sulit sekali untuk digerakkan.
Sebenarnya Thalia adalah tipe orang yang tidak bisa mengajak kenalan duluan, ia akan diam jika tidak diajak bicara. Tapi kalau ada yang mengajaknya bicara, ekstrovert Thalia akan langsung keluar. Walau orang itu baru dikenalnya, Thalia akan langsung sok akrab dan tidak canggung - canggung dalam mengobrol. Apalagi kalau sudah berteman akrab, beuh...pokoknya Thalia bisa bertingkah kayak yang lagi kesurupan reog deh. Kocak abisss...
Kembali ke saat ini, Thalia menggigiti kukunya gelisah. Inilah yang ia benci ketika menjadi murid baru, harus beradaptasi dengan lingkungan baru lagi. Padahal ,Thalia sudah nyaman dengan sekolahnya yang dulu. Tapi...
"Hei!" Seseorang menepuk bahu Thalia dari belakang.
Sontak Thalia yang sedang melamun terperanjat kaget, dan segera membalikkan tubuhnya.
"Eh?" Ucap Thalia kikuk, saat melihat seorang perempuan cantik sedang tersenyum dihadapannya.
"Gue liatin dari tadi lo mondar - mandir terus disitu, ada yang bisa dibantu?" Tanya perempuan itu, sambil tersenyum manis sekali, hingga Thalia terperangah dibuatnya.
'INI PASTI MALAIKAT!' Seru Thalia dalam hati, terpana oleh kebaikan dan kecantikan perempuan dihadapannya ini.
•••
"Nah Thalia, semua pemasukan data kamu sudah beres. Sekarang kamu sudah resmi tercatat sebagai siswi SMA Bakti Bangsa. Kelas kamu ada di lantai dua yaitu kelas XI BAHASA II." Ucap guru TU yang bernama Bu Wiwin itu dengan senyum diwajahnya.
Thalia hanya tersenyum menanggapi perkataan Bu Wiwin, ia tidak tau dimana letak kelasnya dan ia juga segan untuk menanyakan.
"Ada apa? Oh, kamu tidak tau ya dimana letak kelasmu?" Thalia mengangguk pelan.
"Yasudah biar ibu antar yuk." Bu Wiwin bangkit dari duduknya, begitupun Thalia akhirnya mereka beriringan keluar dari kantor menuju kelas XI BAHASA II.
Thalia bersyukur karena sejauh ini ia bertemu dengan orang-orang baik di sekolah barunya ini. Walau lelaki tadi bukan salah satunya sih.
Dih, mengingatnya saja membuat Thalia kembali kesal. Apalagi melihatnya merokok dengan santai begitu didalam sekolah, sudah pasti dia berandalan.
'pokoknya amit - amit deh ketemu dia lagi.' ucap Thalia dalam hati, sambil bergidik ngeri.
Thalia mengikuti Bu Wiwin, berjalan menaiki tangga menuju lantai dua dan menuju ke kelas yang berada paling ujung sebelah kanan. Dari kejauhan Thalia dapat membaca papan di bagian atas pintu yang bertuliskan 'XI BAHASA II'.
Semakin dekat jarak Thalia dengan kelas barunya itu, semakin kencang pula suara degup jantungnya.
Tiba - tiba saja bermacam - macam hal melintas pikirannya. Mulai dari, 'bagaimana jika mereka tidak bisa menerima Thalia?' 'bagaimana caranya Thalia memperkenalkan diri di depan kelas?' 'bagaimana jika ia ditertawakan karena logatnya yang sundanese banget?' 'bagaimana jika—'
"Thalia!" Suara tegas bu Wiwin menyadarkan Thalia dari semua pikiran buruknya.
"Iya bu." Jawab Thalia sopan.
"Kita sudah sampai." Ujar Bu Wiwin lagi.
Thalia mengalihkan pandangannya ke pintu berwarna coklat dihadapannya ini. Ya, disinilah Thalia berakhir, didepan kelas XI BAHASA II dengan Bu Wiwin disampingnya. Pintu kelasnya yang tertutup rapat membuat Thalia berpikir jika ada guru yang sedang mengajar didalam.
Tapi Bu Wiwin tidak mengetuk pintu tersebut ia malah menghela nafas, Thalia bingung sebenarnya ada apa dengan Bu Wiwin? Apa ia sakit?
Lalu dengan cepat Bu Wiwin membuka pintu tersebut dan nampaklah penampakan mengerikan dari dalam kelas. Thalia bahkan melotot melihatnya, bayangkan saja ; Lima orang laki - laki didepan kelas menjadi band dadakan dengan alat seadanya seperti ember, sapu, pel, dan kemoceng. Sebagian lagi berkumpul dibelakang sedang war COC. Para perempuan ada yang bergosip, makan, tidur, selfie dan yang paling waras membaca buku.
Dan yang membuat Thalia kaget, mereka semua kaget dengan kehadiran Thalia dan Bu Wiwin sehingga sontak semua pasang mata itu menatap mereka dengan tercengang.
"APA - APAAN KALIAN? DUDUK YANG RAPIH SEMUAAA!!!!!" Bu Wiwin berteriak, membuat semua yang ada disana bergegas kembali ketempat duduknya semula.
Bu Wiwin berjalan memasuki kelas diikuti Thalia dibelakangnya.
"Sungguh pemandangan mengerikan, bisa - bisanya kalian merusuh seperti itu dikelas. SEKARANG PELAJARAN APA?!" Lagi - lagi Bu Wiwin berteriak.
"Seni budaya..." Jawab mereka bersamaan. Ada pula yang menjawab seenaknya kalau sekarang pelajaran Bahasa Korea.
"LALU GURUNYA TIDAK MASUK?"
"Iya.."
"Ada tugas kan?"
"Ada.." koor seluruh kelas dengan kepala yang menunduk.
"Nah apa salahnya kalian diam dibangku masing - masing, kerjakan tugas itu. Ingat kalian ini sudah kelas XI, sudah dewasa bla..bla..bla..." Ceramah Bu Wiwin pun berlangsung lama sekali.
'Duh, ini teh kapan duduknya?' Thalia mengeluh dalam batinnya.
"Nah mengerti semua?" Pertanyaan Bu Wiwin diakhir cermahnya.
"Mengerti.."
"Ya sudah, anak - anak perkenalkan ini murid baru pindahan dari Bandung. Ayo nak perkenalkan namamu." Bu Wiwin melirik kearah Thalia, Thalia pun maju kedepan memperkenalkan diri.
"Hai! Na..nama gue Athalia Zahrana, pindahan dari SMAN 22 BANDUNG. Gue ha..rap kita bisa berteman." Ucap Thalia kikuk, ia menahan malu setengah mati dan berusaha menutupinya dengan senyuman canggung.
"Hai Thalia.."
"Halo Atha.."
"Hai juga.."
Beberapa anak murid menyapa Thalia.
"Yasudah Thalia kamu bisa duduk di bangku yang kosong itu." Bu Wiwin menunjuk kursi kosong disebelah perempuan, yang sepertinya ia kenal.
Setelah Thalia duduk, Bu Wiwin kembali berpesan untuk mengerjakan tugas lalu pamit kembali ke kantornya.
"Hai Thal, kayaknya kita pernah ketemu?" Ucap teman sebangkunya sambil membuka buku paket sejarah.
"Iya ih, elo teh yang nganter gue ke ruang kepsek terus ke TU kan?" Benar saja Thalia mengenalnya, rupanya ia perempuan baik yang mengantarnya ke ruangan kepala sekolah dan ke TU untuk menginput data.
"Nama gue Lina Noviyanti, salken." Lina tersenyum.
"Nama gue mah lo pasti udah tau." Thalia balas tersenyum.
"Gue perhatiin bahasa lo ada bahasa sundanya ya?!" Lina tersenyum manis, ia menopang dagunya dan menatap Thalia dengan tatapan yang penuh dengan rasa penasaran.
Sepertinya Lina tertarik untuk mengenal Thalia lebih jauh.
"Iya namanya juga dari bandung. Ini teh gue lagi belajar, kan tinggal di Jakarta bahasanya juga harus gaul atuh." Thalia mengangkat jari telunjuk dan jempolnya membentuk simbol ceklis yang ia tempelkan didagunya untuk menggambarkan kata gaul.
Lina hanya tertawa melihat gerakan tangan Thalia yang eksfresif menggambarkan ucapan yang keluar dari mulutnya.
Tiba - tiba pintu kelas terbuka sontak para siswa dan sisiwi yang tidak menuruti perkataan Bu Wiwin berpura - pura mengerjakan tugas.
Tapi ternyata yang masuk adalah keempat orang laki - laki dan salah satunya ada yang Thalia kenal.
"Huuuuuu...." sorakan dari siswa dan sisiwi yang kaget karena mengira itu adalah guru.
Sementara itu yang disoraki berjalan anteng ketempat duduknya masing - masing dengan jajanan ditangannya, yang menandakan mereka dari kantin.
Mata Thalia mengerjap beberapa kali ia yakin, kalau salah satu dari empat laki - laki itu adalah 'musuhnya' yang baru resmi tadi pagi.
Karena sangat penasaran, akhirnya Thalia memberanikan diri bertanya pada Lina.
"Lin, lo kenal laki - laki yang baru masuk itu?"
"Yang mana Thal?" Lina celingukan.
"Itu yang dibangku ketiga deket jendela."
"Oh barisan pojok belakang." Thalia mengangguk, karena bangku ketiga adalah bangku kedua dari belakang.
"Itu Rida kalau sebelahnya Dean. Dean itu sahabat kentelnya Rida." Ujar Lina sambil mengaitkan kedua jari telunjuknya, untuk menggambarkan kata 'sahabat kentel'. "Terus yang dua di belakang Ken sama Yoga. Mereka itu satu geng, kemana - kemana suka bareng. Lebih tepatnya ngerusuh bareng." Ujar Lina menjelaskan sambil menunjuk orangnya satu - satu, untung saja jarak bangku mereka dengan bangku Rida jauh yaitu terhalang dua baris intinya sama - sama barisan pinggir, hanya bedanya mereka duduk dibangku kedua dari depan.
"Kenapa nanya? Emangnya kenal?" Tanya lina.
Thalia menggeleng.
"Enggak lah." Ucapnya, walau dalam hati ia terkejut ternyata ia sekelas dengan orang yang menolongnya dan ia juga sekelas dengan orang yang berpredikat 'musuh'nya.
Ternyata dunia sesempit ini.