Kini keduanya dalam perjalanan pulang ke rumah seperti keinginan Farel. Mobil dikemudikan oleh seorang bawahan Farel yang semenjak kejadian itu terus mengawal keduanya. “Ini masih siang dan mataku terasa begitu berat. Sepertinya dokter tadi memberikanku obat tidur,” ceracaunya sambil memejamkan kedua matanya. “Aku yang meminta,” komentar Andine tersenyum. “Astaga! Kamu ini.” “Karena aku tahu kamu nggak akan diam kalau nggak tidur,” ungkap Andine. Ia menarik Farel untuk tidur dengan kedua pahanya sebagai bantalan. “Sekarang tidurlah.” Keren, kan, efeknya. Baru saja rebahan, makhluk tampan dan kadang terkesan menyebalkan ini langsung lenyap seketika memasuki alam tidurnya. Ya, setidaknya dia bisa tenang tanpa harus memikirkan hal lain dulu. Saat melihat wajah tidur ini, semua past

