"Farel ... jangan pergi, jangan pergi!" Gumaman itu terus terucap, meskipun kedua matanya masih terpejam. Hanya saja air bening itu seolah jadi saksi kalau sebuah kesedihan dialaminya di alam bawah sadarnya. "Andine, Sayang ..." Melda berusaha untuk membuat Andine segera membuka matanya. "Farel!!!" Teriakan itu beriringan dengan bangunnya ia dari tidurnya. Menatap ke sekeliling, mendapati mertuanya yang ada di sampingnya dalam keadaan cemas. Ia segera bangun. "Nak, kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Melda. "Ma, Farel mana? Dia baik-baik aja, kan? Bilang padaku, Ma," ceracaunya langsung sesaat setelah membuka mata. Hatinya cemas. Bagaimana tidak, ia yang tadinya masih berada di depan ruang operasi, tiba-tiba saja kini malah enak-enakan tidur. "Ma ..." Melda tersenyum, kemudian mem

