Menunggu benar-benar terasa begitu lama. Apalagi menunggu penuh rasa cemas seperti ini, membuat hati dan perasaan seolah benar-benar diuji untuk tetap berpikiran positif. Farel berada di dekat kedua orang tuanya, sedang Elina ... entahlah, wanita yang berstatus sebagai mamanya Andine itu, tak tahu di mana keberadaannya. Setelah berdebat dengannya tadi, dia malah pergi. "Aku nggak akan ikhlas jika sesuatu yang buruk menimpa Andine," gumamnya. "Jangan mengatakan itu lagi. Yakinkan hatimu dan perasaanmu kalau Andine akan baik-baik saja. Bagaimana hasilnya, itu bisa saja tercipta dari pemikiran kita sendiri." Farel mengangguk mengiyakan perkataan mamanya. Di saat yang bersamaan, tiba-tiba pintu ruang operasi dibuka dari arah dalam. Menampakkan sosok dokter yang menangani Andine. Segera,

