"Monggo masnya mbaknya." Wanita paruh baya yang tadi membawa ember air meletakkan es teh dan teh hangat itu di meja Flo. Rendy dengan pelan mendorong es teh ke arah Flo, lalu mendekatkan teh hangat ke arah dirinya sendiri. "Matur suwun." Kata Rendy di balas dengan senyuman dan ucapan sama-sama oleh ibu itu. Flo yang melihat interaksi keduanya saja takjub sekali. Rendy ini ngomong bahasa jawabnya sama sekali nggak kaku, kalau bahasa lainnya medok. "Kenapa?" Tanya Rendy, tatapan Flo padanya sangat tidak santai, seperti tatapan menyelidik. "Oh, kaget saja mas Rendy ternyata bisa bahasa Jawa." "Iya, bisa." "Kok bisa mas?" Tuh kan, jiwa kepo Flo tidak bisa di sembunyikan. Rendy menatap Flo lama sambil mengaduk gula di tehnya yang belum terlalu larut. "Ya bisa, saja." "Ha?" Flo hanya m

