Pagi itu Flo mengemasi baju-bajunya di almari, tentu saja di temani teh Indah yang akhir-akhir ini masih setia menemaninya. Sebenarnya Flo berniat mengemas bajunya sendiri saat Abangnya tiba-tiba berkata mengenai kepindahannya subuh tadi.
Ya, kata Abangnya jangan khawatir soal tempat tinggal katanya dia ada kenalan teman yang rumahnya dekat dengan kampusnya.
"Mbak udah tau temen yang dimaksud abang itu?" Tanya Flo di sela-selanya melipat baju dari gantungan.
Indah mengangguk. "Iya, dia temen dekatnya Abang kamu kok. Kemarin waktu pengajian sempat datang juga kalau nggak salah."
"Oya? Yang mana sih kok aku nggak tau ya." Flo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu duduk bersila di samping Indah.
"Eh, teh katanya temen dekatnya abang. Emang teteh nggak cemburu." Flo mendekat pada Indah.
"Apa sih kamu itu Flo, aye-aye wae."
"Bukannya gitu, temen juga nggak boleh terlalu deket kan?"
"Kamu sama Ella itu apa?" Tanya Indah.
"Ya bedalah konsepnya, aku sama Ella kan perempuan sesama perempuan. Lah ini?" Flo memperjelas maksudnya. Meman ya kakak iparnya ini kelewat baik atau gimana.
"Yah, itu juga sama konsepnya. Bedanya kakak kamu sama temannya itu lelaki sesama lelaki. Jadi kenapa harus cemburu?" Indah menatap Flo yang kini tengah memasang wajah kagetnnya. Apa tadi katanya lelaki sama lelaki?
Flo mengerjapkan matanya tak percaya. "Jadi maksudnya, ehm... temen."
"Iya, temannya abang mu cowok." Indah memperjelas.
"Kok bisa sih teh."
"Yah itu buktinya bisa. Nggak apa kok kamu tenang aja, dia itu jarang ada di rumah. Orangnya juga baik-baik maksudnya dapat dipercaya gitu. Kami nggak mungkinlah nitipin kamu ke sembarang orang." Indah menepuk bahu Flo menenangkan.
"Kok bisa punya rumah jarang ada di rumah?" Flo sedikit tenang dengan penjelasan Indah tadi, sekarang giliran dia kepo.
"Gimana ya, teteh juga bingung. Kata abang kamu dia itu lebih sering tidur di kantornya gitu. Paling ke rumah seminggu dua kali, jarang deh."
"Oh, begitu." Flo mengangguk-angguk sok paham.
"Ini udah baju kamu?"
"Udah kayaknya, teteh kalo mau ke bawah nggak apa." Flo tersenyum sesaat menyuruh kakak iparnya keluar dengan halus. Tapi senyumya kemali pudar saat pintu kamarnya kembali tertutup rapat.
Flo menarik kursi kayu sampai ke depan balkon, menimbulkan bunyi berdecit antara keramik dan kaki kursi yang bergesekan. Flo duduk, mengangkat kedua kakinya, menjadikan lututnya sadaran untuk dagunya. Beberapa menit berlalu tatapannya masih ke arah luar, entah mengamati jalanan luar yang sepi atau hanya sekdar menatap kosong ke arah depan.
Sesaat kemudian Flo tersadar ia kembali terbawa suasana, air matanya mengalir di pipi dengan lancang. Flo dengan kasar mengusapnya, tapi jika dipikir lagi, ia hanya menangis dua kali, saat di rumah sakit dan saat pemakaman kedua orang tuanya. Tidak ada salahnya kan dia menangis sedikit lagi. Flo bingung, dia bingung kenapa semuanya menjadi berantakan seperti ini. Dalam waktu secepat kilat nasibnya berubah begitu saja. Orang tuanya meninggal, usaha mebel Ayahnya terpaksa di tutup karena berhutang, lalu apalagi ini rumah yang sudah Flo tinggali bertahun-tahun selama hidupnya tiba-tiba akan di jual. Seddangkan dia akan tinggal satu atap dengan orang asing yang sama sekali tidak pernah ia kenal dalam hidupnya.
Masih menetes air matanya, Flo mengabsen satu persatu furniture yang ada di dalam kamarnya. Almari, meja rias kecil, laci, hiasan dinding, dan bahkan kursi ang ia duduki. Flo membekap mulutnya sendiri, bolehkah dia menangi malam ini?
Bagaimana Flo tidak menangis saat kembali mengingat semua kenangan, Almari dan semua benda yan ada di kamarnya adalah buatan khusus Ayahnya untuk putri tercintanya, Flo. Dan Flo mungkin nggak akan bisa membawa serta barang ini, lantas apa Flo akan meninggalkan semua kenangan ini begitu saja? Dalam diam tangsinya, Flo tidak menyadari sosok yang diam-diam masuk ke dalam kamarnya.
Fardan, Kakaknya dalam langkah sunyinya lalu bertekuk lutut untuk dapt memeluk Flo. Usapan lembut dibahu Flo membuat cewewk itu menoleh lalu mendapatii wajah ng kakak yang tersenyum kepadanya.
"Maaf, ya. Tolong pahami Abang kali ini." Kata Fardan.
Flo tersenyum kecil, lalu berdiri dari duduknya. "Terus aku? Siapa yang bakal pahamin aku kali ini?"
"Flo, Maaf tapi Ab-"
"Bukan salah abang nggak usah mnta maaf, aku yang lebay. Keluar ya Bang. Aku pengen sendiri." Mata merah berair itu menatap Fardan dan pintu bergantian.
Fardan mengangguk, lalu menyempatkan menepuk pundak adiknya pelan sebelum akhirnya benar-benar hlang dari kamar Flo.
***
"Mas."
Fardan menoleh ke arah istrinya yang tengah tersenyum kepadanya kali ini. Masih dengan hijab panjangnya Indah mendekat ke arah Fardan, lalu memeluknya.
"Sabar ya. Flo cuma belum bisa terima ini begitu aja." Usapan lembut di punggung Fardan mlenkapi kalimat penenang itu.
Fardan luluh dan berakhir menangis di pundak istrinya, membasahi hijab panjang biru itu. "Aku... aku juga nggak pengen semua berakhir begini, tapi..."
"Sst, iya aku tau. Aku dengar tadi. Flo pasti kuat, ada kamu, ada aku. Kamu juga harusnya kuat soalnya kan ada aku."
Masih dalam momen pelukan hangat itu Fardan bisa sedikit tertawa sebelu akhirnya makin mengeratkan pelukannya. Rasanya lebih tenang, sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
***
Sore itu Flo akan berangkat ke rumah tujuan. Rumah yang katanya milik teman kakaknya itu, yang dalam beberapa waktu akan menjadi tempat berlindung untuknya.
"Kamu nggak ikut?" Fardan bertanya pada Indah yang masih menggandeng tanagn adiknya itu.
"Nggak aku di sini aja jaga rumah. Maaf ya Flo teteh nggak ikut."
Flo hanya tersenyum kecil. "Nggak apa-apa teh, nanti kalau kangen tinggal video call." Ucap Flo.
"Ayo kalau gitu." Ucap Fardan akhirnya.
"Berangkat ya teh." Flo menyalimi tangan kakak iparnya itu, lalu memeluknya.
"hati-hati ya FLo, kalau ada apa-apa jangan sungkan telfon teteh."
Flo hanya mengangguk sambil tersenyum lalu membuka pintu depan mobill dan menutupnya kembali setelah masuk.
Perjalanan itu begitu sunyi, Flo masih merasa bersalah untuk bicara sedangkan Fardan masih fokus kepada arah jalan di depan. Beberapa detik kemudian Fardan berdehem, mungkin sedikit bingung dengan situasi kali ini. Tangannya kemudian dengan perlahan menyalakan radio di mobilnya, baru saja terputar beberapa detik tangan Flo malam mematikannya. Fardan menoleh ke arah adiknya hanya sekitar dua detik, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada jalan di depan.
"Ehm.. Maaaf soal kemarin, aku bingung, aku cuma lagi.."
"Abang yang minta maaf, abang tau ini semua terlau mendadak, tapi Abang benar-benar nggak punya pilihan Flo." Fardan mengutarakannya dengan nada menyesal sedalam-dalamnya.
"Makannya harusnya aku minta maaf, posisi Abang jauh lebih sulit dari posisi ku."
"Kata siapa?" Tanya Fardan.
Flo tidak menjawab, hanya melirik ke ara kakaknya yan masih fokus mengemudi.
"Abang punya teh Indah, yang bisa buat Abang cerita. Kamu? Kenapa susah banget sih mau dengar cerita dari kamu?"
Flo melirik sebentar ke arah Kakaknya, lalu memilih memberikan fokusnya penuh kepada jalanan di depan. Suasana mobil itu juga masih sama, sunyi seperti sebelumnya setelah percakapan singkat tak terjawab itu. Flo juga berkali-kali melihat ke luar jendela, melihat-lihat kembali lingkungan baru yang akan ia tinggali.
Mobil hitam kakaknya itu berbelok ke sebuah rumah, ah sepertinya mereka sudah sampai. Flo membatin dalam hati.
"Ayo." Fardan membuka pintu lalu keluar, masih meninggalkan Flo yang termangu mengamati rumah minimalis itu dari luar.
Suara bagasi yang di buka membuat Flo kembali tersadar dan segera membuka pintu untuk keluar. Rumah minimalis dua tingkat bercat abu-abu itu membuat Flo hampir kembali menangis.
.
.