Di sinilah Flo sekarang, masih berada di ruang tamu dengan kakaknya. Ya hanya dengan kakaknya. Nyatanya mereka masih menunggu kedatangan tuan rumah yang dari lima belas menit yang lalu mengabarkan masih diperjalanan.
"Masih lama ya Bang?" Tanya Flo
"Paling bentar lagi datang." Fardan juga mengatakan itu sekitar lima menit yang lalu saat Flo bertanya.
Flo menghembuskan nafas kesalnya. "Emang teman Abang kerja di mana sih?" Tanya Flo.
"Kafe." Jawab Fardan singkat.
Baru saja Flo akan bertanya lagi, suara mobil di depan pintu membuat mata Flo membesar secara tidak sadar, lalu ia mengintip dari celah jendela di belakangnya. Sepertinya itu pemilik rumah ini.
"Ngintip-ngintip nggak sopan." Tegur Fardan.
Flo manyun, lalu membenarkan posisi duduknya kembali seperti semula.
Suara pintu terbuka dengan sapaan 'Assalamualaikum' membuat Fardan dan Flo berdiri.
"Waalaikumsalam." Jawab Flo dan Abangnya bersamaan.
"Sorry ya Bro, macet banget." Teman cowok abangnya itu menjabat tangan Abangnya lalu berpelukan. Sedangkam dengan Flo cowok itu hanya melirik dan tersenyum kecil, Flo membalas dengan senyuman juga.
"Gue yang sorry ngrepotin." Ucap Fardan.
Melihat dua laki-laki yang saling bertegur sapa sambil ngobrol itu Flo jadi bingung harus bagaimana. Dengan canggung ia kembali duduk setelah si tuan yang punya rumah itu duduk di depannya, lebih menghadap ke Abangnya sih. Keduanya berbincang-bincang panjang lebar kesana kemari, lalu di akhiri dengan Abangnya yang sepertinya mengucapkan kalimat salam perpisahan yang berarti pamit.
"Flo, Abang pulang ya, mungkin dua hari lagi Abang sama teh Indah balik ke Bandung. Masih ngurus barang juga." Fardan mengusap punggung adiknya.
Flo hanya mengangguk. "Kalau mau balik kabarin, Flo mau ketemu teh Indah dulu."
Tiga orang itu akhirnya keluar dari rumah, dan tentu saja hanya Fardan yang pergi dengan mobilnya, menyisakan Flo yang berdiri di depan pintu bersama laki-laki yang punya hak milik atas rumah ini.
"Ayo masuk, Saya antar ke kamar kamu."
Saat Flo mendengar suara laki-laki itu dia hanya mengangguk sambil senyum-senyum canggung. Gimana nggak canggung, baru saja bertemu mungkin dua kali ini, karena kali pertama adalah saat laki-laki ini mengambil jaketnya di kebun belakang di rumahnya saat pengajian. Duh, Flo juga pakai acara lupa nama si pemilik rumah ini, padahal kemarin dia sudah Tanya ke Kakaknya.
Flo mengikuti jejak kaki laki-laki itu sampai kembali ke ruang tamu lagi.
"Nama mu?"
Flo mendongak, lalu dengan cepat menyebutkan namanya "Florista."
"Rendyan Syahputra." Laki-laki yang memperkenalkan diri dengan nama Rendyan Syahputra itu mengukurkan tangan kanannya pada Flo minta dijabat.
Duh, Flo jadi kikuk sendiri, lalu dengan perlahan ia mengulurkan tangan kanannya juga dan menyebutkan namanya kembali.
"Florista Widasena." Kali ini Flo menyebutkan nama lengkapnya.
Rendy tersenyum tipis, sangat tipis. Lalu tangannya mengambil alih satu koper hitam besar milik Flo, sedangkan koper kecil kuning masih berada di samping Flo.
"Saya antar ke kamar, kalau-kalau kamu mau beres-beres sekarang." Kata Rendy lalu berjalan mendahului Flo dengan mendorong koper milik Flo bersamanya.
Flo mengikuti dengan koper kuningnya.
"Kamarnya di lantai satu nggak apa kan?" Tanya Rendy.
"Iya," Jawab Flo menggantung, dia jadi bingung harus memanggil Rendy dengan panggilan apa, kalau Abang sok akrab sekali, tapi kalau panggil nggak pakek embel-embel alias cuma pakai nama bukannya malah nggak sopan?
Rendy melirik Flo yang masih terdiam di depan pintu, mengamati adik temannya yang kelihatan sekali canggungnya. Yah, Rendy maklum sih adik temannya ini cewek, dan sebelumnya nereka juga nggak pernah ketemu atau kenal sama sekali. Dulu pernah bertemu beberapa kali seingat Rendy, tapi cewek itu masih kecil dan mungkin nggak ingat mengenai pertemuan mereka.
"Florista, bentar ini enaknya saya panggil kamu apa?" Tanya Rendy.
"Terserah, bisa Flo, Ris, Rista." Jawab Flo polos-polos bodoh.
Lagi-lagi Rendy tersenyum tipis tanpa ia sadari. "Ok, saya panggil kamu Flo. Saya tau gimana perasaan kamu hari ini, tapi kamu nggak perlu terlalu canggung. Lagi pula saya juga nggak terlalu sering pulang ke rumah. Jadi nggak masalah dan saya nggak keberatan sama sekali kalau ada orang yang numpang tinggal di sini, apalagi kamu adiknya Fardan teman baik saya sejak SMA. Santai aja ya?"
"Hmm, iya Bang... Eh?" Duh, Flo bingung lagi.
"Terserah kamu panggil saya apa, tapi saya kurang terbiasa sama panggilan Abang."
Flo memutar bola matanya mencari panggilan lain yang terpikirakn. "Mas?" Tanya Flo.
"Nice, boleh juga." Rendy lalu masuk ke dalam kamar yang sudah ia sediakan untuk Flo.
Kamar polosan bercat abu-abu dengan tirai warna putih. Nggak ada apa-apa lagi dari kamar ini selain benda yang wajib ada di kamar. Yah, seperti Kasur, Almari, dan satu set meja kursi di pojok ruangan.
"Mungkin kurang bersih, nanti kamu bisa bersihkan sendiri ya? Perabot di sini cuma ada ini, kamu boleh hias atau tambah apa lagi yang kamu pengen. Yang penting jangan ganti warna chat, Oh iya di sini nggak ada kamar mandi jadi kalau mau ke kamar mandi harus keluar." Jelas Rendy
Lagi-lagi Flo hanya mengangguk-angguk sambil masih mengamati bagian kamar yang kosong dan terasa dingin itu.
"Mas Rendy, kalau mau tempel double tip boleh?" Tanya Flo.
"Terserah, yang penting jangan ganti warna catnya." Ucap Rendy seperti final, ia kemudian mendorong koper Flo dekat spring bed itu.
"Saya mau balik kerja, kalau haus atau mau makan ambil makanan atau apa aja yang bisa kamu makan di dapur." Rendy lalu meninggalkan Flo di kamr itu.
Tapi sebelum Rendy benar-benar melangkahkan kakinya keluar dari pintu Flo memanggil namanya.
"Mas Rendy."
"Iya?"
"Makasih ya, udah ijinin aku tinggal di sini." Kata Flo tulus.
"No problem." Hanya itu jawaban dari mulut Rendy, ia lalu segera menutup pintu kamar dan benar-benar pergi dari hadapan Flo.
Flo hanya menatap kosong pada pintu kayu itu, beberapa menit kemudian ia mendengar suara deru mobil yang menandakan cowok itu sudah pergi dari rumahnya sendiri.
Flo menghembuskan nafas lalu bukannya menataa barang ia malah merebahkan dirinya di spring bed yang empuk itu. Ia memandang langit-langit kamar. Matanya hampir saja terpejam, tapi ia kemudian segera bangkit dan membuka kopernya.
"Kalau nggak sekarang nggak bakal kelar." Gimam Flo pada dirinya sendiri.
Ia lalu mulai menata baju dari dalam koper hitam besarnya itu, ia pindahkan pada lemari putih di kamar ini. Ah, kenapa auranya sangat dingin sekali. Lemari putih bersih nggak ada tempelan atau stiker apapun yang menghiasi lemari ini. Seperti baru saja.
Flo dengan ringkas menyusun semua bajunya. Lalu membuka koper kuning miliknya yang hanya berisi buku dan beberapa barang lainnya. Flo menimbang kalau ia keluarkan bukunya nggak mungkin muat, nggak ada rak buku atau meja yang lebih besar di sini. Flo lalu menutup koper kuning miliknya, memilih menyimpan bukunya di dalam koper.
Ya, sepertinya hanya sebatas menata baju ke dalam lemari yang bisa ia lakukan hari ini. Flo lantas keluar dari kamar itu, berniat mencari sapu. Ia berjalan ke arah dapur lalu mengedarkqn pandangan matanya ke arah lain. Dan menemukan sapu beserta peralatan lain yang tertata rapi di bawah tangga dekat dapur. Flo mengambil satu sapu untuk membersihkan kamar masa depannya yang cukup berdebu. Ya kamar masa depan, karena di hari-hari berikutnya Flo akan menghabiskan waktunya di kamar itu.
***
Waktu menunjukkan pukul tiga sore hari, Flo hanya terduduk di kamarnya. Setelah menata barang dan membersihkan kamarnya ini Flo nggak ada kegiatan lain, tadi dia sempat membuka laptopnya untuk submit tugas ke dosennya. Tapi sekarang Flo bingung sendiri dengan kegiatannya.
Flo keluar dari kamar melangkahkan kakinya menuju dapur. Tangannya membuka kulkas lalu meneliti apa yang ada di dalamnya. Air mineral, soda, jus, sosis, sayuran hijau dan dunia persausan.
Cukup lengkap, tapi nggak mungkin kalau Flo mau masak sekarang. Dia nggak tahu letak bumbu dapur yang lain di mana, plus alasan yang nggak bisa di ganggu gugat tapi tidak bisa dibenarkan, ya Flo malas.
Flo melanjutkan ke kepoannya pada rumah ini, keluar dari dapur ia menuju belakang rumah yang ternyata lumayan tertata. Flo kira belakang rumah ini akan ada kolam renang, nyatanya tidak. Hanya rumput hijau dan kolam ikan kecil yang di tengahnya terdapat air mancur. Flo kembali lagi ke dalam, melihat-lihat ruang tengah. Terdapat beberapa foto milik Rendy si tuan rumah yang berhasil menarik perhatian Flo. Mengambil salah satu dari beberapa foto yang terjejer rapi di meja kabinet, Flo memilih foto masa muda cowok itu. Di potret itu Flo mengenali orang lain selain Rendy, ya Abangnya-Fardan-dan dua orang lain dalam potret itu saling merangkul pundak satu sama lain dan tersenyum tiga jari ke arah kamera.
Sepertinya Flo nggak meragukam kedekatan si Rendy dengan Abangnya itu, buktinya ada dua foto Rendy bersama abangnya di meja ini. Ya, sepertinya mereka berdua cukup dekat tentunya. Flo mengalihkan pandangannya ke arah lain dan mendapati foto keluarga milik cowok itu. Figuranya di gantung dan fogura paling besar di antara figura kecil lain. Sebemarnya nggak terlalu besar, masuk ukuran figura sedang, tapi karena figura lain kecil jadi figura temoat foto keluarga ini kelihatan yang oaling besar, apalagi tempatnya di tengah.
Dua orang laki-laki dam sepasang suami istri tentunya Flo tebak sebagai orang tua Rendy. Satu lagi mu gain kalau tidak kakaknya ya adiknya. Ah, kaku sekali foto keluarga ini hanya duduk dan tersenyum ke arah kamera. Flo ingat foto keluarganya tahun lalu sambio pelukan jadikan lebih kelihatan hangat.
"Ngapain kamu?"
Flo menjauh dari tempat berdirinya semula, tentu saja kaget. Di tambah orang yang menanyainya ya siapa lagi kalau bukan Rendy, duh seperti maling yang ketangkap basah saja jadinya.
"Ehm, udah pulang Bang, eh Mas?" Flo mengalihkan topik salah tingkah.
"Hmm, saya nggak butuh pertanyaan Ngomong-ngomong." Rendy menutup pintu rumah dan naik ke tangga.
Flo mengintip Rendy yang hilang di belokan dinding lain sambil merutuki dirinya sendiri. Perasaan dia tidak mendengar suara deru mobil atau pintu dibuka.
"Saya jarang tidur di rumah, kamu kalau malam pintu di kunci. Ini saya kasih kunci cadangan." Rendy memberikan kunci dengan gantungan tali berwarna hitam itu.
Flo menerimanya dalam diam, lalu mengamati cowok di depannya yang membawa tas di tangan kirinya.
"Udah makan?" Tanya Rendy.
Lagi, Flo tidak menjawab dan hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Pesen online aja, kalau ambil pesanan tunggu di depan sana, jangan di depan pintu." Rendy memberi aturan yang mungkin harus di taati Flo.
"Iya ditunggu di depan pintu kok." Jawab Flo.
Rendy mengangkat dua alismya karena jawaban Flo yang sedikit ngegas, tapi cowok itu tak ambil pusing dan menuju pintu keluar rumahnya. Flo dari belakang mengamati kepergian cowok itu, kenapa bisa dia lebih cerewet dari abangnya. Model cerewet tapi jutek, eh gimana ya mau bilang. Intinya cerewet yang nggak di sukai Flo.
***