Pagi itu Flo berangkat ke kampusnya, sebenarnya kelasnya baru akan di mulai pukul sembilan, tapi Flo malas berangkat jam sembilan cuaca makin panas. Jadi cewek itu memutuskan berangkat pagi dan berencana mampir di perpustakaan kampus.
Dan ya, Flo akhirnya terduduk di salah satu bangku di dalam perpustakaan sambil mendengarkan lagu yang mengalun dari ponselnya yang tentunya ia dengarkan lewat earphone. Tatapannya kosong, kadang matanya mengabsen orang-orang yang berada di perpustakaan, kadang juga hanya melihat dua tangannya yang saling bertaut. Flo mengangkat tangan kirinya, melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah pukul setengah sembilan. Ia pun beranjak dari duduknya dan mematikan lagu di ponselnya. Flo kira ia sudah menghabiskan puluhan lagu sejak dia memutar dari lagu pertama tadi.
Ia keluar dari perpustakaan, memasukkan ponselnya ke dalam tas. Lalu teringat sesuatu saat melihat lembaran di dalam tasnya. Menepuk jidatnya pelan lalu cewek itu berjalan menjauhi perpustakaan. Sepertinya Flo harus keluar sebentar dari gedung kampusnya.
Flo baru ingat kalau dia belum memfotocopy catatan milik Gabriella yang kemarin ia pinjam saat dia ijin di beberapa kelas. Akhirnya Flo terpaksa keluar sebentar dari area kampus untuk memfotocopy catatan milik Gabriella. Karena saat dia lewat tadi koperasi di gedung ini juga belum terlihat tanda-tanda akan buka.
"Flo." Gabriella dari kejauhan memanggil nama Flo sambil sedikit berlari.
"Lo tadi ada kelas atau gimana?"
"Enggak, bukannya nanti jam sembilan ya kelasnya Bu Eren?"
"Iya."
"Lha ini lo mau kemana?" Ella menaikkan alisnya kebingungan, karena arah Flo yang berjalan keluar.
"Oh, keluar bentar gue lupa mau fotocopy catatan lo yang kemarin."
"Temenin?"
"Nggak usah, nanti kalau lo mau masuk kelas duluan cariin gue bangku aja." Flo menepuk pundak Ella lalu berlalu pergi, nggak mau membung waktu dan berakhir dia terlambat masuk kelas.
Untungnya tempat fotocopy itu nggak terlalu ramai, Flo bisa menarik napasnya lega melihat kelenggangan di tempat itu.
"Mas, ini jadi satu kali aja." Flo menyerahkan buku notes milik Ella pada petugas fotocopy itu.
"Tunggu ya mbak."
Flo mengangguk tanpa menjawab, lalu mengambil satu bangku kosong di tempat itu, sekali-kali dia mengecek jam tangannya takut-takut kalau waktu sudah mepet. Tapi nggak mungkin juga karena dia juga baru keluar sebentar dari gedung kampus.
"Mas, jadi dua ini."
Flo mendongak saat ada suara lain di tempat itu, pelanggan lain tentunya.
"Mbak, ini enam ribu ya."
Flo berdiri saat miliknya sudah selesai di fotocopy, ia merogoh tas mencari-cari dompetnya. Lalu mengambil satu lembar uang sepuluh ribu dari dalam dompetnya. Flo megecek hasil fotocopy dan setelah ia rasa tidak ada masalah ia memasukkan ke dalam tasnya kembali bersama buku catatan milik Ella. setelah menerima uang kembalian ia lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan segera.
Flo setengah berlari untuk menuju kelasnya, sebenarnya belum terlambat. Tapi rasanya tenang saja kalau sudah berada di lingkungan dekat kelasnya.
"Mbak... Mbak!"
Flo memperlambat langkahnya lalu menengok ke belakang, mendapati seorang laki-laki yang berlari dengan kepayahan ke arahnya.
"Saya?" Tanya Flo sambill menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.
Cowok itu nggak menjawab, hanya menunduk sambil mengatur nafasnya yang memburu.
"Ini?" Sebuah dompet berwarna coklat yang sangat Flo kenali terulur dari tangan kanan cowok itu.
Flo membelalakan matanya dengan mulut terbuka tentunya, lalu dengan senyum tidak enak ia menerima dompet itu.
"Ya ampun, makasih ya." Flo mengecek isi di dalam dompetnya, dan tidak ada yang hilang. Kartu penduduk, ATM, dan kartu mahasiswa, kartu lain serta uangnya masih aman dalam dompet.
"Sama-sama." Kata cowok itu.
"Saya duluan, sekali lagi terima kasih." Kata Flo pamit.
***
Setelah menyelesaikan tiga kelasnya hari ini Flo berniat pulang dan mengerjakan beberapa tugas makalah yang sebentar lagi sudah waktunya di submit.
"Flo mau pulang sekarang?" Ella tiba-tiba sudah berada di samping Flo yang berjalan lunglai.
"Iyalah."
"Nggak mau makan es krim dulu gue traktir." Ella menggandeng tangan Flo setengah menarik. Flo hanya mengangkat dua alisnya, tertawa kecil dan akhirnya mengangguk.
"Gitu dong. Ayo, hari ini gue bawa mobil lagi."
Flo hanya menurut mengikuti langkah Ella yang menariknya untuk berjalan sedikit lebih cepat. Sebenarnya mereka berdua sering makan es krim atau paling nggak jajan boba sebelum pulang ke rumah. Tapi entah kenapa Ella nggak bosan dengan dua menu itu.
Lokasi makan es krim pun juga nggak jauh dari kampus dan searah dengan arah rumah mereka. Kira-kira tujuh menit, mobil Ella kembali menepi ke sebuah kedai es krim sederhana di pinggir jalan. Keduanya turun dengan Flo yang mencari tempat duduk sedangkan Gabriella berjalan lurus menuju ke arah tempat pemesanan.
Di pojok ruangan dekat AC memang paling syahdu, tempat ini juga tidak terlalu ramai, buktinya Flo bisa memilih tempat mana saja kecuali dua tempat yang memang sudah ada yang menempati. Menunggu Ella yang masih berdiri di dekat kasir Flo mengeluarkan ponselnya dan mendapati sebuah pesan dari kakak iparnya. Pesan singkat yang menanyakan kabarnya.
Flo tersenyum membaca kalimat singkat itu, lalu tangannya membalas pesan dari kakak iparnya itu mengatakan bahwa kabarnya baik-baik saja. Ia lalu memotret sosok Gabriella yang sedang menunggu es krim mereka, untuk ia kirimkan kepada teh Indah. Nggak selang lama Flo kembali menerima balasan pesan yang mengatakan padanya untuk hati-hati dan menjaga kesehatan.
"Siapa?" Ella datang dengan nampan berisi dua es krim beda rasa. Matcha untuknya dan stroberi tentu saja untuk Flo.
"Ha? Teh Indah nanya kabar." Jawab Flo seadanya.
"Eh?" Gabriella tersadar begitu mengingat sesuatu. "Kemarin gimana cerita lo belum kelar?" Tanya Ella.
"Gimana gimana? Ya gitu udah segitu doang." Kata Flo.
"Ih, maksudnya temen Abang lo beneran nggak sering tidur di rumahnya sendiri?" Tanya Gabriella
Ya, Flo memang bercerita tentang dia yang pindah rumah untuk sementara waktu kepada Gabriella, karena pada awalnya Flo malah akan meminta tolong titip beberapa barangnya kepada Ella.
"Iya, kemarin juga dia nggak ada di rumah. Aneh banget kan? Kata teh Indah malah kadang di rumahnya itu cuma dua minggu sekali."
"Orang sibuk kali." Kata Ella
"Kerja di kafe sibuk banget ya sampai malem?"
"Kafe?" Tanya Ella memastikan.
Flo mengangguk "waktu kemarin gue sama Bang Fardan ke rumahnya kata bang Fardan dia masih di kafe waktu datangnya telat."
"Hmm, kafe tempat dia kerja ramai kali." Kata Ella.
Waktu berjalan begitu cepat sampai jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga, Flo menyadari hal itu dan mengajak Ella untuk segera pulang meninggalkan tempat ini. Bukan apa-apa tapi Flo rasanya nggak enak saja main terlalu lama. Dia belum sepenuhnya membereskan kamarnya dan menata barangnya. Karena nyatanya kemarin abangnya mengirim rak buku yang dulu berada dikamarnya untuk dipasang di kamar barunya di rumah Rendy. Kata yang punya rumah tidak apa-apa, Abangnya juga sepertinya sudah ijin sama yang punya rumah. Baik sekali, Flo jadi agak nggak enak.
"Beneran pulang sekarang?" Tanya Ella.
"Iya, buku-buku gue belum beres semua."
"Ya udah deh yuk gue anter sekalian biar tau dimana rumah yang baru sekarang."
Keduanya akhirnya meninggalkan kedai es krim yang nggak terlalu ramai itu.
***
"Oh ini rumahnya." Gabriella mengintip dari kaca jendela mobil sambil menepikan mobilnya.
"Iya, udah tau kan lo sekarang? Udah ya gue masuk sekarang, Sorry ini nggak gue tawarin mampir." Ucap Flo.
"Iya, udah sana masuk lo."
"Thank ya La." Kata FLo sebelum membuka pintu mobil.
Gabriella hanya memandang malas Flo karena lagi-lagi cewek yang sudah dia kenal lama sebagai temannya itu selalu mengucapkan kata 'terimakasih' dalam hal sepele.
"Heem, udah sana." Kata Ella lagi.
Flo akhirnya membuka pintu mobil, keluar lalu menutupnya kembali dan menunggu di depan sambil melambaikan tangan sampai mobil yang di kemudikan Ella menjauh pergi.
Flo membalikkan tubuhnya menuju rumah milik Rendy itu, ia melangkahkan kakinya dari halaman rumah menuju pintu depan. Mata Flo menyipit ketika mengetahui pintu rumah yang sedikit terbuka, jantungnya langsung berdetak tak karuan, lalu otaknya kembali lagi mengingat apakah tadi pagi ia menutup pintu depan dan menguncinya dengan benar. Flo menepuk jidatnya dengan pelan.
"g****k!" keluh Flo pelan. Iya, memang tadi pagi saat akan beragkat ke kampusnya Flo hanya menutup pintu depan tanpa menguncinya. Dengan hati setengah berdebar ia lalu masuk ke dalam rumah dengan tergesa. Matanya mengabsen setiap barang di sudut rumah memastikan kalau nggak ada barang yang hilang. Yang Flo pikirkan hari ini adalah bagaimana kalau ternyata rumah ini kemalingan?
"Kenapa kamu?"
Di tengah kebingungan Flo, Rendy muncul dengan tiba-tiba dari arah dapur membawa gelas berwarna putih di tangan kanannya. Flo memandang ke arah Rendy dengan tatapan kaget sekaligus bingung.
"Kenapa?" Tanya Rendy lagi, saat pertanyaan pertamanya diabaikan
"Eh, nggak apa-apa."
"Ngak apa-apa? wajah mu panik begitu." Kata Rendy, cowok itu lalu berjalan melewati Flo menuju depan tv.
"Remote televisinya ke mana ya?" Tanya Rendy
Flo kembali kaget, takut-takut kalau ternyata memang ada maling yang mengambil remote televisinya, tapi kenapa televisinya masih utuh.
"Oh di sini ternyata."
'Huh' tanpa sadar Flo menghembuskan nafas lega atas remote yang telah berhasil ditemukan.
"Kamu kenapa sih?"
"Saya nggak apa-apa kok Mas." Elak FLo
"Oh, habis ini saya antar untuk belanja bahan makanan."
"Buat apa?" Tanya Flo sedikit bingung
"Kamu."
"Saya?" Tanya Flo memastikan lagi, dia nggak salah dengar kan? Apa maksudnya membeli bahan makanan untuknya.
"Iya, kasihan nggak ada apa-apa di dapur."
"Eh, nggak apa kok mas, nanti saya keluar sendiri bisa." Tolak Flo halus, nggak enak kalau harus merepotkan Rendi lagi, karena menurutnya dia tinggal di rumah cowok ini saja sudah merepotkan. Kalau ada acara di antar ke sana ke sini bukannya tambah merepotkan?
"Saya nggak merasa direpotin, lagi pula kalau nanti saya mau tidur di sini biar bisa masak. Nggak perlu beli." Jelas Rendy seperti bisa membaca pikiran Flo.
Flo mengangguk mengerti setengah tercengan dengan perkataan Rendy "Hari ini?" tanya Flo memastikan.
"Tahun depan." Ucap Rendy sebelum akhirnya menyeruput kopi dalam gelas putihnya itu.
Flo mengetapkan bibirnya sambil mengadu rahang, padahal Flo tanya dengan serius. Tapi jawaban yang diberikan laki-laki yang saat ini masih menggenggam gelas sambil mengganti channel televisi itu sungguh tidak memuaskan.
"Kamu siap-siap, saya tunggu di sini." Kata Rendy lagi, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.
Flo memutar bola mata malas sambil berlalu menuju kamarnya. Ah, padahal niat Flo hari ini adalah membereskan kekacauan di kamarnya. Lihatlah, rak buku, koper berisi buku dan beberapa barang lain yang dikirimkan kakaknya kemarin. Flo belum sempat membereskan, belum sempat juga memasang rak, karena memang dia belum membeli penyangganya.
"Ah, nggak taulah nanti aja." Flo menaruh tasnya, lalu kembali mengikat rambutnya dengan rapi dan mengambil tas selempangnya dari atas meja lalu kembali keluar kamar untuk menemui tuan rumah.
Di depan layar televisi yag masih menayangkan channel yanng sama sebelum Flo pergi tadi, Rendi masih juga memandangi layar televisi.
"betah sekali." ucap Flo, tentu saja hanya di dalam hati, nggak sopan sekali kalau Flo mau ngomong secara langsung di depan rendi.
"Mas Rendi." Panggil Flo, duh sebenarnya FLo juga agak nggak nyaman dengan panggilan 'Mas' seperti ini, karena biasanya kan orang-orang kalau sudah berumah tangga panggil pasangannya pakai sebutan 'Mas'. EH! mikir apa lagi sebenarnya Flo ini, dengan pelan ia menggelengkan kepalanya.
"Oh, udah?" Rendy mematikan televisi lalu mengambil kunci mobilnya. "Ayo." Ajaknya pada Flo.
Keduanya lalu keluar dari dalam rumah, Rendy merogoh saku celananya untuk mengambil kunci rumah. Flo menunggu Rendy di sebelahnya untuk mengunci rumah.
"Flo." Rendy memanggil Flo yang berada di belakangnya.
Flo mendekat "Iya, ada apa mas?"
"Begini caranya ngunci pintu rumah." Ucap Rendy.
Flo meninggikan alisnya, bingung tidak mengerti dengan arah perkataan si tuan rumah.
"Maksudnya?" Tanya Flo
"Maksudnya saya kasih tau caranya, biar kamu ngerti. nanti kalau kamu keluar jadi bisa kunci pintu rumah, nggak seperti tadi pagi." Jelas Rendy.
Flo lagi-lagi mengetapkan rahangnya, tapi kali ini karena perasaan malu plus kesal kepada dirinya sendiri. Akhirnya dengan perlahan Flo mengikuti langkah kaki Rendi.
"Kita naik motor." Kata Rendi, tapi Flo menangkapnya sebagai kalimat tanya.
"Terserah." Kata Flo.
"Saya nggak nawarin, tapi ngasih tau." Kata Rendi.
Flo memalingkan wajahnya ke arah samping sambil memejamkan matanya, ah, kenapa hari ini dia membuat malu dirinya sendiri? Sudah dua kali pula, double kill malunya.
"Tunggu sini." Rendi masuk bagasi rumahnya.
Flo hanya menurut, berdiri menunggu Rendi mengambil kendaraan. Flo lagi-lagi keheranan dengan tindakan Rendy, pasalnya tadi cowok itu jelas-jelas mengatakan kalau ia akan menaiki motor. Tapi sekarang cowok itu malah mengeluarkan mobil dari dalam bagasi rumahnya.
"Nggak jelas banget." Ucap Flo pelan.
"Masuk." Rendy membuka sedikit kaca mobil.
Flo kemudian memutari mobil dan membuka pintu depan, walau begini dia juga tau diri. Nggak sopan kalau duduk di belakang, kesannya Rendy jadi sopirnya.
Akhirnya mobil yang ditumpangi keduanya keluar dari pelataran rumah menuju tempat mereka berbelanja.
"Ehm, Mas Rendy nggak disuruh sama Bang Fardan kan buat nawarin nganterin aku belanja?" Flo bertanya di tengah-tengah perjalanan mereka, dia takut kalau abangnya yang ternyata menyurhnya. Bukan apa-apa Flo rasanya sungkan sekali.
"Kalau iya kenapa?" Rendy balik bertanya.
"Jadi bener bang Fardan yang nyuruh?!"
"Bukan." Jawab Rendy
"Ha? Gimana tadi iya sekarang bukan." Flo lalu menolehkan wajahnya ke arah Rendy mengamati mimik muka datar itu.
"Tadi bercanda, sekarang beneran."
"Yang bener yang mana?" Flo bingung, kenapa orang di sampingnya ini random sekali. Untung baik, tapi satu hal yang Flo syukuri, ternyata teman abangnya yang bernama Rendy ini nggak sekaku yang Flo bayangkan. Padahal waktu ketemu pertama kali Flo kira Rendy bakal jadi orang kaku yang nggak bisa diajak bicara. Yah, walaupun nyatanya kalau diajak bicara sukanya ngomong seupil, tapi Flo juga maklum. Ini juga baru hari kedua mereka bertemu kan? Tapi kalau mereka sudah mau bicara dan mengobrol sebanyak ini bukankah sudah menjadi progress yang bagus?